Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
terlalu khawatir


__ADS_3

Naina masih di ICU karena kondisinya yang sangat buruk, sedang Bu Lastri sudah di izinkan pulang dengan catatan tidak boleh stres.


"Jul, kamu jaga di sini dendam orang mu, aku benar-tidaknya tak bisa percaya siapapun sekarang," kata Romo Jalal.


"Baik Romo, saya akan jaga di sini, Sarno pastikan keselamatan Romo, dan pastikan tidak ada yang menyakitinya," kata Jul.


"Baik mas," jawab Sarno.


Jul tau jika ini ada uang tak beres, dan dia tak bisa menyelidiki kasus ini karena keselamatan Naina itu yang utama.


Romo Jalal mengajak Bu Lastri untuk pulang, sesampainya di rumah mbok Jum dan mbok Tini yang menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang nyonya sepuh," kata Keduanya dengan sangat bahagia.


Sedang mbok Siti dan mbok Ijah terlihat masih sedih dan khawatir, Agus juga nampak sedih.


Melihat hal itu, Romo Jalal pun menghampiri mereka semua, "jangan sedih seperti ini, tolong tetap berdoa untuk kesembuhan Naina, karena dia sangat butuh itu sekarang,"


"Iya Romo," jawab mereka semua.


"Mbok Jum, mbok Tini ajak nyonya sepuh istirahat, ingat jangan biarkan dia lelah," kata Romo Jalal.


"Baik Romo," jawab mereka berdua.


"Tunggu dulu kang mas, bukankah sebaiknya jika kang mas ikut aku istirahat, karena kang mas beberapa hari ini juga sangat sibuk," kata Bu Lastri.


"Kamu duluan, aku masih banyak pekerjaan," jawab Romo Jalal.


"Kang mas boleh aku tinggal di rumah utama, aku tak ingin tinggal di rumah samping kanan lagi, itu seperti kenangan buruk untuk ku," kata Bu Lastri memohon.


Romo Jalal menghela nafas, dia tak mungkin menolaknya karena bagaimanapun Bu Lastri juga istrinya.


"Mbok Siti dan mbok Ijah, keluarkan barang nyonya muda dari rumah utama, dan bawa ke rumah bagian kiri," perintah Romo Jalal.

__ADS_1


Mendengar itu semua orang kaget, pasalnya rumah bagian kiri itu berarti sama saja menjadikan Naina selir.


Dulu Bu Ningsih memang sering bersama tapi tidak saat malam hari, dan sekarang Naina harus merasakan hal itu.


"Kenapa masih diam, lakukan," kata Romo Jalal yang memang sudah lelah.


Bu Lastri merasa senang, kegilaannya yang terakhir kali memang benar-benar mengubah suaminya itu.


Dan sekarang dia tinggal menunggu Naina mati perlahan, dan dia lah yang akan jadi pemenangnya.


Agus, Joyo, Sarno, dan Alip di minta ikut ke ruang kerja Romo Jalal, mereka pun hanya mengiyakan.


Sesampainya di ruang kerja itu, "kalian berempat cepat renovasi rumah bagian kiri menjadi lebih luas dan mewah, karena aku tak ingin saat istriku sadar dia akan mengingat kejadian buruk itu lagi," perintah Romo Jalal.


"Tapi Romo itu akan membutuhkan waktu yang lama," kata Sarno.


"Lakukan saja dengan banyak pekerja, pastikan semuanya selesai dengan cepat dan baik, dan bagaimana hasil penyelidikan mu Alip," tanya Romo Jalal.


Ternyata yang di katakan pria itu benar, gaya tulisan dan cara tanda tangan berbeda.


Itu sudah jelas jika pelayang yang bunuh diri itu hanya kambing hitam, "cari dan pastikan tak ada yang tau tentang ini, jika aku tau siapa yang mencelakai istriku Naina, aku akan pastikan dia akan tau hukumannya," kata Romo Jalal


"Baik Romo," jawab mereka berempati.


Dan siang itu semua bahan bangunan datang dan juga semua tukang di panggil.


Karena Sarno dan Joyo bertugas menunjukkan desain yang di buat oleh Romo Jalal.


Bu Lastri yang sedang duduk santai di rumah utama tiba-tiba kesal karena mendengar suara berisik dari bagian kiri.


"Ada apa di luar mbok Jum? kenapa begitu berisik, saya mau istirahat saja tidak bisa," tanya Bu Lastri yang mulai marah.


"Menjawab nyonya sepuh, ada renovasi besar-besaran di rumah bagian kiri nyonya,seperti perintah Romo untuk membuatnya lebih luas dan besar lagi," jawab mbok Jum.

__ADS_1


"Dasar kang mas, ku kira dia akan membuang Naina, ternyata dia mengizinkan ku tinggal di sini tapi malah membuatkan rumah yang lebih indah untuk wanita itu, baiklah aku akan membuatnya tau konsekuensinya, kamu sendiri yang membuatku harus seperti ini," kata Bu Lastri tak terima.


Romo Jalal tau jika ini akan memancing kemarahan dari istri pertamanya.


Tapi dia punya sesuatu yang akan mengalihkan perhatian dari istrinya itu.


Yaitu pernikahannya, dan dia bahkan sengaja memilih beberapa wanita yang lebih muda dari Naina.


Sudah pasti Bu Lastri akan segera fokus untuk menggagalkan hal itu dan akan lupa dengan Naina.


Romo Jalal masuk ke rumah utama di temani Alip, pria itu akan jadi tangan kanan Romo selama Jul berjaga di rumah sakit bersama Mbok Siti.


"Ada apa kang. mas memanggilku, apa ada yang ingin di bicarakan?" tanya Bu Lastri yang sudah berdandan sangat berbeda dari biasanya.


"Aku membawa sepuluh orang gadis yang akan jadi istriku karena Ningsih sudah mati, aku ingin bertanya padamu,gadis mana yang cocok karena Naina juga akan lama di rumah sakit," kata Romo Jalal menjejer foto para gadis cantik di meja.


"Apa kang mas... menikah lagi, Ningsih baru saja mati, Naina masih di rumah sakit dan kang mas mau menikah lagi, ini keterlaluan kang mas," marah Bu Lastri.


"Kenapa kamu marah, kamu sekarang adalah istri utama Karena tinggal di rumah utama, aku tidak boleh mencari selir lagi, kamu tau benar jika aku melakukan ini karen ingin punya banyak anak Lastri, ingat kita belum memiliki anak satupun, paham!!" marah Romo Jalal.


"Tapi tunggulah sampai Naina sadar dan sehat, tak baik saat istri mu sakit kamu bersenang-senang," kata Bu Lastri yang mencoba membujuk suaminya itu.


"Aku tak peduli, jika kamu tak bisa memilih, maka biar aku yang pilih sendiri, gampang kan," jawab Romo Jalal


Bu Lastri nampak begitu marah, sedang di ruang sakit, mbok Siti sedang menyeka tubuh Naina.


"Nyonya muda, sadar lah nya, kasihan Romo Jalal setiap hari terus termenung memikirkan kesehatan nyonya, di tambah lagi dengan tingkah nyonya sepuh Lastri," kata mbok Siti.


"Siti... jaga bicaramu," kata Jul mengingatkan.


"Maaf ya mas, habis aku tak bisa melihat nyonya muda seperti ini, baru juga jadi istri Romo dia sudah mengalami hal buruk ini," kata mbok Siti.


"Ini masih mending Siti, kamu tak ingat bagaimana nasib nyonya tua Ningsih dulu, yang lebih tragis setelah satu bulan menikah dengan Romo," kata Jul yang tak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


__ADS_2