
Naina kini sedang tidur di kamar kedua anaknya, sambil membacakan dongeng untuk keduanya.
kedua balita itu begitu senang melihat gambar yang timbul berupa hewan-hewan.
sedang Romo Jalal berada di kamarnya, pria itu sedang duduk termenung sendirian sekarang.
entahlah dia orang itu sedang memikirkan apa, hingga mereka berada di tempat yang sama tapi seakan sangat jauh.
Naina pun menghapus air matanya yang tak sengaja jatuh, kemudian memeluk kedua anaknya hingga tertidur.
setelah keduanya tidur, Naina bangun dan kini malah menangis lirih.
entahlah dia sendiri bingung dengan hidupnya, kadang dia lelah harus menjalani semua ini.
terlebih suaminya yang selalu memaklumi kelakuan buruk istri pertamanya, padahal Naina sudah berusaha keras untuk pantas berdiri di samping pria itu.
tapi nyatanya semua usahanya seperti sia-sia, dan entah apa yang harus dia lakukan.
tapi sekarang dia tak ingin bodoh, jadi dia melakukan usaha dan jika dia mendapatkan uang dia akan menabungnya.
jadi seandainya dia di tendang dari rumah itu atau memutuskan pergi dia bisa bebas serta punya tabungan yang cukup untuk bertahan hidup.
Romo Jalal pun mencoba melihat istrinya itu yang berada di kamar anak-anaknya
"jangan tidur di sini, jika perlu bicara, kita bicara di kamar saja," kata Romo Jalal.
"tidak ada, aku memang ingin ke kamar, sudah kang mas istirahat saja," kata Naina yang menghapus air matanya.
Romo Jalal tak bisa berkata lagi, melihat istrinya itu bersikap dingin padanya.
Romo Jalal memerintahkan kepada mbok Siti dan mbok Ijah untuk menjaga kedua anaknya yang sudah tertidur.
karena Romo Jalal harus membujuk istrinya itu, atau jika perlu dia harus memaksa wanita itu agar tak marah lagi.
Naina sudah selesai mandi dan mengenakan daster batik yang tak memiliki lengan.
dia akan merebahkan dirinya saat Romo Jalal mendorongnya hingga terlentang di atas ranjang dan mulai mencengkram dagu Naina.
__ADS_1
"berhenti bertingkah Naina, kamu selalu saja berbuat sesuka hati mu,apa kamu lupa jika aku ini suamimu, dan tugas mu sebagai seorang istri itu melayani ku, bukan membuat ku kesal seperti ini," marah Romo Jalal.
"aku harus bagaimana sekarang, jika kamu mau kamu bisa memakai diriku bukan, pakai saja, aku istrimu, lakukan saja aku juga tak akan rusak," kata Naina yang tersenyum.
melihat itu Romo Jalal memukul ranjang tepat di kepala Naina, dia pun marah besar dan menendang kursi meja rias itu hingga membentur lemari.
bahkan suara itu cukup keras hingga keluar kamar, sedang Naina hanya bisa bangkit dan melihat ulah suaminya itu.
"kamu marah hanya aku diamkan, bagaimana dengan ku kang mas, jika memang kamu hanya butuh anak, aku sudah memberikannya, jadi jika kamu tak mencintai ku, tolong lepaskan aku, jadi kamu bisa bersama wanita itu karena aku sudah lelah," kata Naina yang mengungkap isi hatinya.
"Naina!!" teriak Romo Jalal menampar istrinya itu hingga tersungkur di lantai.
Naina pun pingsan, karena kepalanya terbentur lantai, melihat Naina seperti itu.
Romo Jalal panik, "sayang... Naina bangun, tolong buka mata mu," panggilnya.
tapi wanita itu tak kunjung membuka matanya, hingga Romo Jalal membawanya ke rumah sakit
entah merasa khawatir atau apa, tiba-tiba Romo jalal mendapatkan telpon dari Ningsih.
"kenapa suara mas seperti itu, apa mas sakit?" tanya Bu Ningsih.
"tidak, tapi kenapa kamu menelpon ku?" tanya Romo Jalal.
"tenang aku hanya ingin memastikan sesuatu, dan lagi suamiku ada di sampingku, apa mas tak melakukan sesuatu yang melukai Naina, seperti pukulan atau apapun itu?" tanya Ningsih lagi.
"kenapa kamu bertanya seperti itu, apa aku bisa melakukannya?'' tanya Romo Jalal berusaha berbohong
"tentu saja, saat mas marah, kebiasaan buruk mu akan melempar atau melayangkan sesuatu pada seseorang di depanmu, dan jika kamu melakukan itu, selamat mas kamu sudah merusak satu orang wanita yang begitu berharga di samping mu," kata Ningsih.
"apa maksud mu?"
"tak usah berbohong mas, kamu belum menghukum mbak Lastri karena dia istri pertama mu, atau karena dia cinta pertama mu, itu urusan mu, tapi tolong jangan lukai Naina mas, dia itu sudah banyak berkorban untuk mu, membantu mu, bahkan usaha mu sekarang makin besar juga berkat dia, hargailah sedikit mas,"
"kenapa kamu ikut campur Ningsih,"
"karena aku yang memilihkan dia untuk mu, kamu tau berapa kali dia hampir di bunuh oleh istri pertama mu itu, berkali-kali, karena terus gagal gantilah sasarannya padaku," kata Bu Ningsih kesal.
__ADS_1
"cukup aku tak mau dengar," kata Romo Jalal
"mas harus dengar, jika mas melukainya, aku jamin dia akan lari darimu, karena kekasihnya itu masih mengharapkannya, dan asal kamu tau jika Naina itu pasti akan jadi rebutan suatu saat nanti jika dia sendiri, karena kebodohan mu itu, jika tak percaya buktikan saja ucapan ku," kata Ningsih.
"aku tak akan melepaskannya!!" bentak Romo Jalal yang mengejutkan para pengawalnya.
"kalau begitu berhenti membuatnya sedih, dia terus menangis dan bertanya apa dia seburuk itu, hingga kamu terus memilih mbak Lastri di banding dia, buka matamu mas!! dia itu lebih segalanya di banding istri pertama mu yang berdarah dingin sialan itu!!" marah Bu Ningsih yang langsung menutup telpon.
Romo Jalal tak menyangka akan mendengar suara teriakan Bu Ningsih sekarang.
padahal dulu wanita itu tak akan pernah berani meninggikan suaranya pada dirinya.
"saya setuju dengan ucapan nyonya Ningsih, Romo keterlaluan karena terus melukai nyonya muda, apa Romo tau apa yang terus dia hadapi saat menghadapi mu, bahkan dia pernah harus melihat sosok Bu Lastri yang hampir membunuhnya, hanya karena Romo ingin dia belajar kuat, tapi cara itu terlalu berbahaya, karena jika dia tak berani melawan nyonya muda dan kedua anak ku bisa mati konyol," kata Jul membuka suara.
"sudah berani kamu mengajariku hah, kamu merasa menjadi pahlawan," kata Romo Jalal mencengkram erat dagu Jul.
"tidak Romo, saya hanya mengatakan apa yang seharusnya," kata pria itu.
"saya setuju dengan cak Jul Romo, kami selalu melihat nyonya muda kesulitan, terlebih menghadapi orang-orang nyonya sepuh yang kadang hampir selalu menghinanya,bahkan ada beberapa orang yang mengatakan ingin meniduri nyonya muda jika dia kurang puas dengan Romo," kata Agus yang memang sama menjadi pengawal untuk Naina.
"apa kamu bilang... siapa yang berani mengatakan hal itu," marah Romo Jalal.
"dia Hardi Fadhillah seorang pria yang menjadi adik angkat nyonya sepuh, apa Romo bisa melakukan sesuatu, bukankah Romo pernah berjanji tak akan membiarkan pria itu terluka oleh orang Romo," kata Agus makin berani.
"kamu menantang ku Gus," marah Romo Jalal.
"tidak, saya hanya meminta keadilan dari suami wanita yang di hina harga dirinya, yang kami tak bisa lakukan karena terikat sumpah setia," kata Jul menyahut.
"sialan!!" maki Romo Jalal menonjok tembok rumah sakit.
ternyata itu terbuat dari triplek dan akhirnya benda itu berlubang karena pukulannya.
saat dia melihat apa yang terjadi dia marah besar, karena dokter sialan itu ingin melecehkan istrinya.
Romo Jalal masuk dan langsung mengorok leher pria itu begitu saja, dia menatap kasihan pada Naina.
"kenapa kamu malah harus seperti ini, di saat aku di sekitar mu," lirihnya menutup tubuh bagian atas istrinya itu dengan jaket yang dia kenakan.
__ADS_1