Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
kamu kalah ternyata


__ADS_3

Naina pun merasakan tepukan lembut di punggungnya, dan Bu Zuli tersenyum ke arahnya.


"jangan pedulikan Lastri, fokus pada suamimu dan kandungan mu, karena ibu mendukung mu," lirih Bu Zuli.


Romo Jalal terpaku melihat istrinya Naina yang masih diam tak ingin mendekat ke arahnya.


Bu Lastri tersenyum menang, karena melihat Naina yang tampak syok dengan kedatangannya.


saat Bu Lastri ingin mendekat dan mengandeng tangan Romo Jalal, tiba-tiba Naina berteriak.


"A.."


mendengar itu, otomatis Romo Jalal lari meninggalkan Bu Lastri yang tak bisa mengandeng tangan suaminya.


"ada apa dek, apa ada yang sakit?" tanya Romo Jalal yang panik bukan main.


"tidak ada, tapi sepertinya dia bergerak dan mengejutkan aku," kata Naina dengan wajah bahagia.


Bu Zuli tersenyum melihat kepintaran dari Naina yang benar-benar bisa memenangkan pertarungan yang batu saja di kibarkan untuk mulai.


"benarkah," kata Romo Jalal antusias.


"karena Romo sudah pulang, ibu pulang ya, tutup Naina ya karena sekarang dia tanggung jawab mu," kata Bu Zuli pada pria itu.


"iya ibu, maaf saya tak melihat anda di sini karena fokus pada Naina," kata Romo Jalal.


"tak masalah, lain kali banyaklah ngobrol mengerti, ayo Fauzan kita pulang," ajak wanita itu.


"ibu!! terima kasih ya," kata Naina saat melihat keduanya akan pulang.


"iya nduk," jawab wanita itu.


tak lupa ikan asap itu juga sudah di taruh di sepeda motor Fauzan, Naina dan Romo Jalal pun pergi menuju ke rumah bagian kiri.


sedang Bu Lastri masih berdiri diam menyaksikan suaminya itu pergi dengan istri mudanya.


"kamu melupakan aku begitu saja kang mas," gumam Bu Lastri dengan marah.


"mbok tum dan mbok Yem, bawa nyonya sepuh ke kamarnya dan pastikan wanita itu tak keluar, itu tugas baru untuk kalian berdua Tomo dan Sugik," perintah Romo Jalal.


"baik Romo," jawab keempatnya.


akhirnya Lastri di bawa ke rumah utama, tapi sesampainya di rumah itu, ternyata semua sudah berubah, ruangan rahasia miliknya sudah di ratakan dengan tanah.

__ADS_1


bahkan semua tanaman yang di pelihara olehnya sendiri sudah di bakar jadi debu dan di padukan jika di kamar itu bebas racun.


mrligat hal itu, Bu Lastri marah karena dia benar-benar tak menyangka jika Romo Jalal bisa melakukan ini padanya.


"kamu keterlaluan mas!!" teriaknya.


sedang di perjalanan menuju rumah, Fauzan nampak diam saja, "kamu sedang memikirkan apa le?"


"ini Bu, aku sedang heran, bagaimana bisa Romo Jalal yang terkenal begitu dingin dan ketus bisa begitu lemah di depan Naina, padahal dulu dengan nyonya Lastri atau nyonya Ningsih tidak seperti itu," tanya Fauzan keheranan.


motor gl max miliknya itu berhenti di depan rumah sederhana milik mereka, "namanya juga cinta, sekeras apapun batu itu, jika sudah ada air yang mengikisnya perlahan pasti lama kelamaan akan lapuk juga,"


"maksudnya?" tanya Fauzan.


"masuk dulu biar ibu ceritakan sedikit rahasia ibu," kata Bu Zuli


Fauzan pun mengikuti ibunya itu masuk kedalam rumah, dia duduk di ruang keluarga.


begitupun Bu Zuli yang datang membawa minuman untuk putranya itu.


"sebenarnya yang menunjukkan Naina pada nyonya Ningsih itu ibu, karena dia bilang ingin membuat suaminya Romo Jalal itu bahagia," kata Bu Zuli yang duduk di depan Fauzan.


"ibu tapi kenapa, ibu kan tau jika Naina itu kekasih Reino, bahkan keduanya saling mencintai," kata Fauzan.


ya Bu Zuli yang menunjukkan Naina, dan setelah itu dia menjelaskan sifat baik gadis itu.


itulah kenapa Bu Ningsih begitu jatuh cinta saat melihat Naina untuk pertama kalinya.


dan saat Romo Jalal menolak permintaan bu Ningsih, di situlah Bu Zuli yang bertindak.


"kenapa tak menerima keinginan istrimu yang ingin melihat mu bahagia dengan memiliki anak, gadis ini sangat baik Romo," kata Bu Zuli.


"tapi saya sudah cukup hidup seperti ini, aku tak butuh hal itu lagi," kata Romo Jalal.


"tapi kang mas, jangan buat nama keluarga mu terputus begitu saja," kata Bu Ningsih membujuk Romo Jalal.


"itu benar Romo, ingat bagaimana ibu mu berjuang menyembunyikan mu agar tak ketahuan oleh musuh saat malam naas itu," kata Bu Zuli yang berhasil meluluhkan hati pria itu.


dan itu membuat Fauzan kehilangan kata-kata, karena ternyata semua sudah di atur.


"aku takut jika Reino mengetahui ini ibu,karena nyawa ibu bisa dalam bahaya," kata Fauzan.


"itu tak mungkin Fauzan, karena Reino sekarang akan sibuk dengan istri dan usaha miliknya, dan jika di masa depan ibu sudah tak ada, dan kamu mengalami dilema ingat ini, jangan gunakan otak ku tapi hatimu,meski itu akan sulit dan tak masuk akal, mengerti," kata Bu Zuli.

__ADS_1


"ibu ini bilang apa,kenapa ibu akan pergi, umur ibu akan panjang dan melihat ku bahagia dengan keluarga ku, dan bermain dengan anak-anak ku,"kata Fauzan yang langsung memeluk ibunya itu.


"sebelum itu, cari kekasih dahulu, bagaimana bisa kamu menikah jika tak memiliki kekasih," kata Bu Zuli tertawa geli.


"ah ibu..."


di rumah Naina, Romo Jalal sedang menikmati masakan istrinya yang tadi belajar dari Bu Zuli.


"sayang aku boleh tanya?"


"silahkan kang mas?"


"kenapa kamu bisa begitu dekat Bu Zuli, padahal yang aku tau wanita itu cukup galak," kata Romo Jalal


"memang kang mas, tapi aku mulai dekat saat mulai bersekolah dari SMP dan sering kerja kelompok di rumah Fauzan yang sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri," jawab Naina.


"begitu rupanya, kalian teman baik ternyata,"


"sahabat dari SMP hingga sekarang, karena dia yang selalu melindungi ku saat ada yang mengangguk dulu," jawab Naina jujur.


"apa kamu tak pernah menyimpan rasa untuknya, ku lihat dia cukup tampan?"


"tentu saja tidak, aku dan Fauzan hanya murni hubungan pertemanan kang mas," jawab Naina langsung.


Romo Jalal tersenyum karena itu sebuah kejujuran, "tapi apa kamu pernah punya kekasih di sekolah dulu,"


Naina berhenti saat mendengar pertanyaan dari suaminya itu, "ada tapi dia bilang saat kita akan menikah, bahkan hilang begitu saja tanpa kabar, tapi itu tak penting yang terpenting sekarang aku mencintai mu," kata Naina yang tampak berusaha meyakinkan Romo Jalal.


"jika dia datang, apa yang akan kamu lakukan?"


"aku akan bilang, aku sudah bahagia sekarang, aku punya suami yang begitu aku cintai dan anak-anak yang banyak," kata Naina dengan yakin


"apa? memang mau punya anak banyak berapa?"


"aku mau punya enam, tidak sepuluh jika bisa, agar rumah ini ramai," jawab Naina yang mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu.


"nyonya maruk nih," lirih mbok Siti.


"biarin, selama kang mas masih kuat kan gak masalah," jawab Naina.


"tentu sayang, berarti kita harus tancap gas setelah kamu lahiran ya," kata Romo Jalal.


"siap bos," jawab Naina yang membuat pria itu tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2