Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
makan malam bersama


__ADS_3

Bu Lastri keluar dengan kawalan ketat, terlihat Naina sedang melihat para pelayan membakar sate daging, ayam dan ayam bakar di bantu beberapa pengawal.


belum lagi ada yang sedang membuat santan patin asap, itu akan sebagai teman makan dan sudah di pastikan akan ada rasa yang mantap


"Semuanya sudah kumpul kan, kalau begitu mbak Lastri dan kang mas silahkan duluan, ah atau gini boleh saya yang melayani," kata Naina yang berusaha untuk bersikap baik.


"tidak usah duduk saja biar aku yang mengambilkan untuk kalian berdua," kata Romo Jalal.


Naina pun tersenyum dan mengiyakan saja, sedang Bu Lastri merasa aneh dengan sikap Romo Jalal yang kadang baik kadang jahat.


pria itu memiliki temperamen yang berubah-ubah, sedang Naina nampak santai saja.


"kamu tak takut aku membunuh mu?" tanya Bu Lastri.


"silahkan saja, tapi jika mbak ingin lihat suami mbak gila ya, lakukan..."


Bu Lastri langsung terdiam, itu hebat karena Romo Jalal benar-benar sangat mencintai istri mudanya itu.


pria itu datang dengan dua piring yang terlihat begitu penuh, "aku mau sate daging lagi dong, tapi bakarnya sedikit gosong ya, tolong...."


"inggeh nyonya," jawab mbok Siti.


"kang mas mau bikin kami seperti sapi, kenapa ambil makannya banyak sekali," kata Bu Lastri.


tanpa bicara Naina pun mengambil makanan itu dan menyuapi Romo Jalal.


"kamu..."


"lakukan saja mbak, ini namanya kita berbagi cinta, mungkin memang sedikit banyak di piring itu karena uang mas tak mengambil makanan untuk beliau," jawab Naina yang kini makan sate daging sambil menggerakkan kepalanya.


Bu Lastri mengikuti cara Naina, dan saat mencicipi ayam bakar Bu Lastri tak bisa berkata-kata karena rasanya sangat enak.


Romo Jalal benar-benar di buat kenyang oleh dua istrinya, dan semua pengawal juga makan secara bergiliran.


setelah acara selesai, mereka pun beristirahat di rumah tempat tinggal masing-masing.


sedang di tempat lain, Naina sudah tertidur pulas karena kenyang belum lagi dia minta di simpankan sate daging untuk sarapan besok.


Romo Jalal sudah selesai mengerjakan semua tugasnya, dia pun datang ke rumah utama karena masih jadwalnya bersama Bu Lastri.


wanita itu juga sudah nyenyak tidur, dan sepertinya perlahan Bu Lastri bisa berubah menjadi semakin baik.

__ADS_1


tak terasa hari tingkepan dari Naina pun tiba, jadi mereka mengadakan acara tingkepan dengan cukup meriah.


bahkan Romo Jalal mengadakan acara pesta dua hari, bagaimana pun ini adalah tingkep anak pertamanya.


Naina sebenarnya sangat mudah lelah akhir-akhir ini karena perutnya yang semakin besar, dan Romo Jalal tak mengizinkan untuk USG.


karena dia takut kejadian Bu Ningsih dulu terulang, jadi dengan bantuan dari dukun bayi.


semua bisa di bilang baik, meski tidak sepenuhnya tak percaya dokter, hanya saja memang tak mau USG.


setelah acara panjang itu, perut Naina makin terlihat besar, dan dia nampak kesulitan, hari berganti dan Bu Lastri kini sudah semakin tenang.


tapi hukumannya baru berjalan dua bulan, jadi masih ada empat bulan lagi.


Naina pun perutnya semakin besar dan hati persalinan semakin dekat, dan disanalah Romo Jalal kini berada di dekat Naina.


ya sudah sepuluh hari ini dia tak menemui Bu Lastri karena fokus menjaga Naina yang semakin dekat dengan hari persalinan.


seperti pagi ini, Naina sedang berjalan di area yang biasa di gunakan untuk pertemuan bersama warga, karena dia di minta terus bergerak oleh dokter.


"sayang, kamu minum dulu," kata Romo Jalal yang mrligat Naina seperti menahan sakit.


"tidak dulu kang mas, ayo anak-anak ibu keluar yuk, ibu sudah tak sabar untuk bertemu kalian," kata Naina.


"sepertinya aku tak kuat lagi kang mas, ayo kita pergi yuk," kata Naina tersenyum.


Romo Jalal langsung mengendong Naina dan berangkat ke rumah sakit, Bu Lastri pun mendapatkan kabar dari para pelayannya.


"pantau terus, pastikan tak akan ada yang kalian lewatkan,"kata Bu Lastri.


sesampainya di rumah sakit, ternyata Naina sudah bukaan empat, dan kemudian tak lama air ketuban pecah dan Naina merasa jika perutnya mulas.


"saya tunggu di luar ya dokter," kata Romo Jalal.


"jangan, aku ingin di temani oleh kang mas," mohon Naina yang terus menggenggam tangan suaminya itu.


"baiklah," jawab Romo Jalal yang mengenggam tangan istrinya.


setelah itu kemudian anak pertama mereka berdua lahir, seorang putra yang sangat tampan.


"selamat Romo, anak pertamanya laki-laki," kata dokter yang memberikan bayi itu pada perawat

__ADS_1


"dokter, ahh...." kata Naina yang mengejan lagi.


ternyata bayi kedua lahir dan langsung menangis kencang, "Alhamdulillah agak kedua lahir dengan selamat juga," kata dokter yang terlihat begitu senang.


pasalnya jarang ibu yang melahirkan kedua anak kembar dengan bobot normal dan sehat.


bahkan kedua ari-ari juga keluar dengan sendiri tanpa harus ada tindakan dari dokter.


Romo Jalal tak menyangka akan mendapatkan dua penerus sekaligus.


kedua bayi itu tampak sehat dan merah, bahkan wajah keduanya sangat mirip seperti dirinya.


"aduh kenapa kalian membawa muka Romo," katanya dengan meneteskan air mata.


dia pun memerintahkan Jul dan yang lain untuk membagikan uang pada warga desa sebagai bentuk syukur atas kelahiran kedua anaknya.


"apa kang mas sudah mempunyai nama untuk mereka," tanya Naina yang sedang menyusui kedua anaknya bersamaan.


"Mahesa Dirga Jalaluddin Rahmat dan Dewi Maheswari Rahmat," jawab pria itu yang mengendong putrinya yang terlihat kurang kenyang.


akhirnya di putuskan untuk membantu asi dengan susu formula karena asi dari Naina tak cukup untuk kedua anaknya.


Bu Lastri yang menerima kabar tentang kelahiran di kembar pun tak menyangka hal itu.


"tidak!!! sekarang aku akan benar-benar di tendang dari rumah ini! tidak bisa aku harus membunuh kedua bayi itu," kata Bu Lastri yang tak ingin di buang eh suaminya.


jadi dia memikirkan cara jahat untuk bisa menyentuh bayi itu, tapi sayangnya niatnya itu tak mudah.


karena Naina memilih tinggal di rumah orang tuanya setelah pulang dari rumah sakit, hingga bayinya lebih besar baru akan di ajak pulang ke ruang keluarga Rahmat.


Romo Jalal pun tak keberatan karena di ruang orang tuanya Naina bisa mencoba menjadi ibu yang lebih baik.


"kenapa kamu akhir-akhir ini tak bisa mengendalikan kemarahan mu, itu snaagt menganggu," kata Romo Jalal menegur Bu Lastri.


"kang mas tanya, aku yakin kang mas bisa tau kenapa aku seperti ini," saut Bu Lastri.


"seharusnya kamu senang karena aku memiliki penerus bukan malah marah-marah tak jelas begini," kata Romo Jalal.


"aku bahagia,hanya ada Naina saja aku bisa di anak tirikan, sekarang di tambah dua anak lagi, bisa-bisa aku di buang oleh mu," katanya Lastri yang marah.


"terserah padamu, aku sudah bersikap seadil mungkin, tapi jika kamu terus seperti ini,jangan salahkan aku jika benar-benar melakukannya," kata Romo Jalal yang langsung pergi.

__ADS_1


"kang mas mau kemana!!"


"aku muak dengan semua ocehan ku itu Lastri, cukup aku bisa gila jika terus di rumah," kata Romo Jalal yang memilih untuk bekerja.


__ADS_2