Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
bagaimana bisa terjadi.


__ADS_3

Bu Lastri marah besar karena sepuluh gadis terbaik itu mundur begitu saja.


belum lagi berita yang beredar juga sangat membuatnya marah, bagaimana tidak.


bisa-bisanya mereka tak takut menyebar berita itu, sedang melihat gerak gerik suaminya yang tenang, sudah pasti Romo Jalal membiarkan ini terjadi.


pagi itu, Naina baru bangun dan sedang menikmati udara pagi sambil berjemur di luar rumah, dia merasa jika perutnya semakin nampak meski baru tiga bulan.


saat Naina sedang menyentuh perutnya, mbok Ijah merasa aneh, "ada yang salah nyonya?"


"tidak mbok, hanya saja kok besar ya, padahal seharusnya kan gak Segede ini, apa aku kebanyakan makan ya?"


"ya bukan begitu dong nyonya, mungkin karena nyonya yang terlalu sering makan es krim jadi bayinya gede deh," kata mbok Ijah.


"bisa gitu ya,"


Naina duduk santai sambil menunggu penjual pecel lontong yang kemarin di maksud oleh Alip.


"lontong pecel!!" teriak seorang ibu-ibu.


ternyata benar, wanita itu datang ke tempat Naina untuk menjajakan jualannya.


"mbok suruh masuk ya, kemarin cak Alip meminta ku membantu wanita itu," kata Naina.


"baik nyonya," jawab Naina.


dia pun memanggil penjual itu dan terlihat penjual itu sedang hamil, jadi Naina merasa sangat kasihan karena sedang hamil tapi harus tetap jualan.


"mbak lontong pecelnya satu dong, mbok yang lain panggil dong kita makan bareng," kata Naina.


"baik nyonya,"


semua orang yang bekerja di rumah pun keluar, dan Naina melakukan live siaran sambil makan.


dan dia juga mempromosikan lontong itu, tak lupa di juga meminta pendapat semua orang yang bekerja untuknya.

__ADS_1


"lontongnya enak loh," kata Naina


tiba-tiba ada pertanyaan yang muncul dan ternyata itu adalah Fauzan yang mengunakan nama Reino.


saat Naina sedang membaca komen, dia melihat nama mantan kekasihnya yang ada di sana.


"hai Naina, bagaimana kabar mu?" kata Naina membaca komen itu


"saya baik kakak, dan kok rumahnya bagus?"


"iya ini rumah istirahat, dan karena sedang ingin menyendiri aku tinggal di rumah ini, dan banyak yang tanya mbak suaminya mana? suaminya lagi aku suruh buat cari uang banyak," jawab Naina tertawa.


setelah acara live dia pun memposting foto dan memberikan alamat dari lontong pecel yang tadi di makan.


setelah itu wanita tadi mau pit pulang, saat Naina melihat bocah laki-laki yang menemani ibunya.


"hei dek tunggu, kamu mau bekerja dengan ku, tugas mu tak sulit hanya sedikit berbahaya, tapi aku bisa memberimu imbalan yang pantas," kata Naina yang mengejutkan ibu bocah itu.


"mau nyonya," jawab bocah itu.


"jangan nyonya, dia putra pertama saya, suami saya sudah sakit saya tak ingin anak saya terjadi apa-apa," kata ibu itu


wanita penjual pecel itu sadar sesuatu, terlebih setelah ada desas desus kabar buruk itu.


dia paham kenapa Naina ada di rumah selir ini untuk memastikan keselamatannya.


terlebih kematian Bu Ningsih itu terlalu mengejutkan dan mendadak, "baik nyonya, saya percayakan hidup dan nyawa putra saya pada anda," kata ibu itu,


Naina mengangguk, dia pun meminta bocah itu untuk pergi ke rumah Romo Jalal.


tentunya Naina tak melepaskan bocah itu begitu saja, dia mengikutinya dengan mobil.


bocah itu di tahan di luar gerbang oleh dua penjaga, tapi beruntung Alip dan Sarno keluar dan mengajak bocah itu masuk.


Romo Jalal yang sedang berlatih beladiri dan kekuatan fisik kaget melihat bocah yang tertangkap tangan kemarin lalu.

__ADS_1


"mau apa le?" tanya Romo Jalal.


"saya mau berterima kasih kepada Romo yang sudah membantu kami, dan ini ada titipan untuk kang mas," kata bocah itu memberikan botol jus.


Romo Jalal meminum jus itu tanpa curiga karena tau itu adalah kiriman istri tercintanya Naina.


saat jus tinggal separuh terlihat ada tulisan di botol itu dengan bahasa Inggris.


Romo Jalal tersenyum, dia pun menghabiskan jus itu ternyata mafih ada terusan dari surat itu.


dia mengusap kepala bocah itu, sekarang kamu yang akan jadi orang kepercayaan ku untuk menjaga nyonya muda, spa kamu bersedia tapi kamu harus tau jika menjaganya tak akan mudah,"


"saya siap Romo, untuk membalas semua kebaikan Romo Jalal dan nyonya," jawab bocah itu melakukan janji setia dengan darah.


Romo Jalal tak menyangka akan melihat hal seperti ini, padahal bocah yang Japan hari mencuri.


kini begitu yakin ingin menjadi pelindung untuk Naina dan calon bayinya.


Bu Lastri bersiap pergi untuk kerumah Fauzan karena pria itu yang langsung memilih para gadis.


sesampainya di rumah Fauzan, Bu Lastri langsung menampar pria itu dengan keras.


"bagaimana cara ku bekerja Fauzan, kenapa kamu tidak becus hingga ada berita buruk seperti ini!"


"saya juga tak tau nyonya, mungkin memang benar jika arwah nyonya Ningsih yang tak terima karena Ndoro mau menikah," jawab pria itu menahan sakit di pipinya.


"kamu jangan gila, bagaimana bisa wanita mati itu bisa hidup lagi," jatah Bu Lastri.


"bisa saja jika dia mati dengan tidak wajar, ibu hamil saja bisa mati tak wajar jadi kuntilanak, sedang Bu Ningsih bisa saja gentayangan karena dia di bunuh dengan kejam," saut ibu dari Fauzan.


Bu Lastri tak bisa membantah wanita tua itu, karena ibu Fauzan adalah orang yang dulu membantu ibunya.


"sudahlah, aku tak akan melakukannya lagi, dan biarkan saja aku menjadi satu-satunya istri dari suamiku," kata Bu Lastri.


"kamu begitu peduli pada statusmu itu, aku sekarang bahkan merasa kasihan padamu karena kamu ternyata tak sadar jika suamimu itu lebih menyayangi istri mudanya, karena aku mengenal Jalal dari dia kecil, rumah selir itu banyak kenangan indah dan bahkan rumah itu menyelamatkan dirinya saat terjadi pembantaian keluarga, dan saat sedih rumah itu tujuannya untuk menenangkan diri, dan kamu kira dia membenci istri mudanya, pikiran bodoh," kata ibu Fauzan.

__ADS_1


"ibu..."


mendengar itu Bu Lastri marah besar dan langsung meninggalkan rumah itu untuk meminta jawaban, karena dia tak ingin menjadi wanita bodoh dengan menganggap dirinya satu-satunya.


__ADS_2