Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
aku nyonya rumah


__ADS_3

Romo Jalal belum bisa pulang dari kota, karena pria itu harus mengerjakan yang lain.


dan pekerjaannya cukup banyak di kota, jadi Naina yang benar-benar mengambil alih sekarang.


dan wanita tak akan keluar rumah jika kedua anaknya tak ikut, karena baginya meninggalkan anak-anak di rumah sama dengan bunuh diri meski banyak yang menjaga, tapi dia tak sepenuhnya percaya pada semua orang.


seperti siang ini, Naina mengajak semua orang pergi, karena ada beberapa proyek yang ada di desa yang harus di awasi.


jadi dia tak ingin terjadi sesuatu, jadi dia mengajak kedua anaknya yang akhirnya tetap di dalam mobil bersama Agus.


sedang Naina turun bersama Jul untuk memastikan bahwa semua orang bekerja dengan baik.


sekarang ini adalah pekerjaan untuk membuat waduk yang sedang berjalan.


"apa ada yang di butuhkan lagi?" tanya Naina pada mandor yang mengawasi tempat itu.


"tidak ada nyonya, semuanya masih tersedia, dan jika nanti ada kekurangan saya akan bilang," kata mandor itu yang menunduk hormat.


pasalnya dia tau hal itu, karena terbiasa dengan Romo Jalal yang selama ini begitu sangat menakutkan.


Naina memastikan semua berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya.


saat sedang berkeliling di sekitar proyek, tak sengaja salah seorang pekerja melempar batu dan terkena baju Naina karena pekerja itu tak melihat.


"hei kamu buta!! kamu asal lempar saja, bayi itu terkena nyonya muda," teriak mandor proyek.


"maaf nyonya... saya tak melihat, tolong jangan pecat saya," mohon pria itu dengan memohon.


"tidak masalah, anda hanya bekerja, lanjutkan pak, dan semangat ya," kata Naina yang terlihat begitu ramah.


"nyonya baju anda kotor," kata Jul kaget melihat itu.


"ini hanya kotor sedikit saja, tak masalah cak Jul, lagi pula ini bisa di cuci," jawab Naina santai.


saat semua sedang fokus kerja, tiba-tiba ada penjual es bubur kacang ijo yang kebetulan lewat.


"cak Jul tolong berhentikan pedagang itu," kata Naina


"bang berhenti!!" teriak Jul yang mengejutkan Naina karena teriakannya begitu keras.


"pelan cak," kesal Naina.


beruntung penjual itu berhenti, Naina memanggil, Agus dan dua mbok yang menjaga bayinya.


"aku mau es bubur nya ya pak, kalian juga ambil, tapi bisa kan, nanti giliran sama saya memang jika sulit," kata Naina yang tau jika kedua anaknya itu sangat tenang.


"biar saya ambilkan keranjangnya saja nyonya," kata Agus.

__ADS_1


akhirnya Jul memesan es bubur untuk Naina, mbok Siti dan mbok Ijah.


saat kedua anaknya sudah di keranjang bayi, Agus memanggil mandor itu untuk meminta semua pekerja untuk istirahat sebentar untuk menikmati es bubur di cuaca panas itu.


semua pekerja merasa senang, Jul melaporkan apa yang di lakukan oleh Naina.


Naina selesai duluan, saat dia bangkit dan mulai mengajak bayinya bicara.


tak sengaja dia melihat seorang wanita tua yang sedang membawa kayu di punggungnya.


"mbok jaga mereka," kata Naina yang langsung menghampiri wanita itu.


"mbok mau kemana, kok bawa kayu seperti ini?" tanya Naina yang memang berpenampilan sederhana hari ini.


"mau pulang nduk, itu rumah mbah," jawab wanita itu.


mendengar itu Naina pun iba, dia tanpa terduga mengendong kayu itu untuk wanita tua itu.


"nyonya!!" kaget Jul.


tapi naina memberikan kode untuk tetap diam dan makan, akhirnya Naina mengantar wanita tua itu.


dan ternyata rumahnya cukup sederhana meski sudah cukup kokoh, "Mbah tinggal di sini dengan siapa?"


"tinggal sendiri nak, ini kayu mau di jual untuk beli beras," kata wanita tua itu.


"Mbah tidak pernah dapat uang bantuan apapun, pernah di kasih sama Romo sendiri beras satu karung, tapi kemudian ada yang datang minta di kembalikan," kata wanita tua itu.


mendengar itu Naina marah besar, bagaimana bisa, amanah suaminya di ingkari seperti ini.


"tunggu ya Mbah, kalau boleh tau nama Mbah siapa?"


"Mbah Sadaten, dulu saya pernah bekerja di perkebunan milik Romo saat ibunya yang menjalankan," kata wanita itu.


Naina langsung menelpon Fauzan, "datang ke proyek waduk sekarang, karena kami dalam masalah besar," suara Naina dengan marah.


Fauzan kaget mendengar suara Naina yang terdengar sangat marah, bahkan Naina kembali ke mobil dan mengambil sembako yang tadi sempat dia beli.


"nyonya kenapa di bawa keluar?" tanya Agus.


"menurut mu apa, aku tak ingin ada yang berani menghina suamiku,karena keteledoran anak buahnya," geram Naina.


mendengar itu Jul menahan Naina, "tolong jelaskan nyonya, jangan seperti ini,kami juga perlu tau apa yang terjadi," tanya pria itu.


"ada seorang wanita tua yang rumahnya tak jauh dari sini,dia tak pernah dapat bantuan apapun, mulai dari sembako atau uang, uangnya kemana kamu tilep, atau orang mu yang melakukannya,tapi yang pasti tak ada yang boleh menghina suami karena tak adil," kata Naina.


"tunggu nyonya anda harus mengatakan ini ada Romo Jalal dulu,"

__ADS_1


"kenapa aku juga nyonya rumah, kekuasaan ku sama dengan beliau, dan sekarang aku minta kamu menuruti ku,mau apa kamu," kata Naina yang mengunakan kekuasaan yang dia miliki.


"baik nyonya muda," jawab Jul yang langsung patuh.


dia pun membawa sembako itu menuju rumah wanita tua itu, dan memastikannya lagi apa ucapan nyonya mudanya itu benar.


Agus pun gemetar melihat keberanian dari Naina, pasalnya dia tak menyangka wanita yang dia jaga ternyata punya sisi yang begitu tegas.


"apa kalian ada yang ingin mengadu," kata Naina yang kebetulan sedang mencari apa yang tidak benar.


"sejujurnya nyonya, kami juga tak mendapatkan jatah sembako yang pernah di rancang oleh Romo Jalal, padahal Romo bilang jika semua orang yang bekerja di bawahnya akan mendapatkan itu," kata salah satu pria.


"rumah mu dan sebutkan nama mu,"


"saya Rusdi, tinggal di dekat mbok Sadaten yang mendapatkan bantuan rumah persis dari Romo Jalal," jawab pria itu memohon.


Fauzan datang dan melihat sosok Naina, Agus mengeleng pelan pada pria itu.


Fauzan tak mengerti apa yang terjadi, kenapa Agus membuat ekspresi seperti itu.


"nyonya ada apa meminta ku kemari?" tanya Fauzan bingung.


pasalnya dia sudah membagikan uang pada semua orang, dan untuk apa dia di panggil sekarang.


"apa kamu memberinya uang, dia termasuk dalam golongan warga miskin, aku sudah meminta mu untuk membagikannya, kenapa masih ada warga yang tak menerima bantuan," kata Naina tegas.


"tapi aku sudah menitipkan uang itu pada RT kosong tujuh," jawab Fauzan jujur


"kamu tidak menganggap ucapan ku, aku bilang kemarin bagikan sendiri bukan di titipkan!!" bentak Naina.


"maafkan aku nyonya, karena kemarin aku buru-buru karena ibu kekasih ku mati," kata Fauzan.


"kamu kita aku tak tau, sekarang menjadi tanggung jawab mu kenapa warga miskin di RT sini tidak mendapatkan uang dan sembako, jawab Fauzan... atau aku akan melakukan apa yang tak pernah kamu kira sebelumnya,"


"ngapunten nyonya, sepertinya ini memang keteledoran kami dan mas Fauzan memang salah, tapi yang patut di salahkan adalah RT kosong tujuh yang bertanggung jawab," kata Jul yang baru datang.


"wah hebat sekali, anak buah Romo Jalal sangat banyak, hanya di suruh membagikan sembako, kalian percayakan pada RT, padahal perintah sudah jelas berikan langsung, sekarang aku tak mau tau, buat RT itu mengembalikan semuanya, jika tidak kembalikan dengan nyawa keluarganya," kata Naina yang langsung pergi meninggalkan tempat itu


semua orang yang ada di sana kaget, Naina yang baru saja begitu sopan dan baik, kini berubah seratus delapan puluh derajat.


"mampus... sekarang bagaimana cak Jul," kata Fauzan bingung.


"lakukan saja perintah nyonya, jika tidak kepala kita taruhannya," jawab jul.


"kita ke rumah RT itu," kata Naina.


Jul berangkat bersama dengan Fauzan yang baru kali ini melihat Naina sedingin dan sekejam itu.

__ADS_1


__ADS_2