
setelah para pria itu pergi mereka bertiga pun masih santai saja menikmati kopi panas dan juga singkong panas yang baru matang.
tapi tak lama terdengar suara gonggongan anjing, mereka bertiga kini sudah mulai bersiap dengan golok milik masing-masing.
ternyata ada yang sedang berburu bajing di amalan hari, itu membuat takut saja.
Jul berjaga di bagian belakang bersama Agus, sedang di dekat jendela kamar anak-anak ada Nanang.
ya bocah itu terus selalu berada di sekitar dua balita itu, entahlah Jul merasa jika mereka benar-benar harus menjaga villa itu dengan sangat ketat hari ini.
setelah memastikan semua aman, mereka bisa tidur dengan lelap, meskipun sudah hampir pagi.
keesokan harinya, tiba-tiba terdengar suara orang mengumumkan bahwa ada warga yang meninggal dunia karena gantung diri.
Romo Jalal dan Sarno serta ags sudah berangkat ke desa untuk memastikan.
semua warga mundur saat melihat sosok Romo Jalal datang, "bagaimana bisa di desa yang begitu baik ada orang yang gantung diri, sebenarnya ada apa?"
"kamu juga tak tau Romo, setahu kami pak Udin ini orang yang jarang memiliki masalah Romo, tapi beberapa hari ini ada masalah dengan seseorang dari luar desa," kata pak polo desa itu.
"siapa itu," tanya Romo Jalal.
"saya juga tak tau, tapi yang saya dengar orang-orang itu datang untuk bertanya tentang pertanggung jawaban, dan rencananya hari ini ada sidang di desa," jawab pria itu.
Romo Jalal mulai mengerti, dia memerintahkan Sarno untuk mencari tau sebenarnya apa yang terjadi.
akhirnya mayat pria itu di turunkan dari pohon jambu air itu, dan akan segera di makamkan di halaman rumah.
karena di desa itu tak di izinkan jika seseorang mati bunuh diri di makamkan di makam umum desa.
jadilah mereka semua menuju ke rumah pria itu, dan di rumah ternyata ada hal yang juga tak kalah mengejutkan.
yaitu pembunuhan seluruh keluarga pak Udin, bahkan kondisi isteindan anak perempuannya yang masih berusia lima belas tahun itu sangat buruk.
Romo Jalal pun mundur, dia tak menyangka siapa pria yang berani berulah sekejam ini.
ternyata Sarno dengan mudah menyelidiki semuanya, dan itu adalah orang suruhan dari Hardi.
__ADS_1
ternyata pria bajingan itu menyuruh beberapa orangnya untuk datang dan membawa putri pak Udin untuk menjadi selirnya.
dan yang menjadi kebodohan dari para eksekutor itu adalah, mereka tak tau jika bos mereka sudah mati.
jadi Romo Jalal meminta anak buahnya menyelesaikan segalanya, jika tidak itu bisa merepotkan nantinya.
Sarno mengajak Joyo dan Nanang untuk bersiap dan bocah itu harus mulai menjadi pengawal yang hebat
tentu saja dengan kemampuan Nanang kelima pria itu mati dengan tepat.
dan mereka mengikat batu untuk membuat jasad-jasad itu tetap di dalam air.
melihat Nanang sekarang yang sudah bisa berkerja sendiri, dan juga lebih tepat sasaran di banding yang lain.
di tambah bocah itu mengetahui racun dan penawarnya, yang semakin menambah hal positif yang bisa di gunakan.
🍄🍄🍄🍄🍄
liburan selesai tanpa terasa oleh mereka semua, dan kini semua kembali ke kegiatan dan kehidupan sehari-hari mereka.
meski terus terjadi riak-riak kecil itu tak mungkin bisa mengoyangkan kebahagiaan itu.
kecuali hari ini saat Naina membuka nomor telepon yang di berikan oleh Reino padanya saat menghadiri acara reuni semalam.
Romo Jalal masuk kedalam kamar dan mengejutkan Naina, hingga wanita itu menjatuhkan nomor ponsel itu.
"kang mas ini bikin kaget, kenapa ada yang di butuhkan, bukankah kang mas harus ke desa bersama anak-anak," kata Naina yang terdengar dingin.
"kamu masih marah," tanya Romo Jalal.
"siapa yang bisa marah pada Romo Jalal, apa aku gila," jawab Naina dengan cara dingin.
"kamu masih marah,"
"menurut kang mas, kamu dari dulu cuma janji-janji tanpa ada aksi, dan beruntung aku hanya memiliki kedua anakku, karena jika aku bisa melahirkan lagi, mungkin aku yang akan mati saat melahirkan," kata Naina.
"apa yang kamu katakan, aku tak akan melakukan itu, tapi itu nomor siapa yang dari tadi kamu coba sembunyikan," kata Romo Jalal.
__ADS_1
"tidak ada, hanya nomor ponsel tenan lama," jawab Naina.
"aku percaya padamu Naina, tapi tolong jangan lupa hal itu, jika sekali saja kamu menghianati ku, maka aku akan memusnahkan seluruh keluarga mu," kata Romo Jalal mengancam istrinya itu.
Romo Jalal akhirnya pergi, sedang Naina membakar nomor ponsel itu, "aku juga tak ingin melukai mu,karena bagiku, kamu adalah satu-satunya cinta dalam hidupku,"
tanpa Naina sadari Tomo Jalal belum beranjak pergi dari luar kamar, dia tersenyum senang karena istrinya itu benar-benar sudah cinta mati padanya.
"ayah ayo berangkat, bunda mana?" tanya Dirga yang sial untuk ikut jelas Play grup yang ada di balai desa.
"bunda disini, ayo kita berangkat, dan kenapa ayah mengunakan baju seperti itu, aish... kamu ingin menggoda para pegawai di kantor desa yang masih muda," kata Naina.
"apa yang kamu bicarakan, kamu ini aneh, di kantor desa mana ada pegawai muda, yang ada cuma Fauzan dan Mike yang berumur Lina puluh lima tahun yang sering berurusan dengan ku, ya sudah aku ambil kemeja, kalian tunggu di mobil," perintah Romo Jalal
mereka semua berjala ke mobil, dari rumah bagian kanan, Bu Lastri yang kini semakin lemah karena usia dan kesehatannya semakin menurun pun merasa marah.
bagaimana tidak mereka berdua ini sama-sama istri tapi kenapa terlihat perbedaannya sangat ketara, Naina yang hidup nyaman dan cantik serta di sayangi oleh Romo Jalal.
sedang dia istri tua malah di buah seperti barang rusak yang tak di butuhkan.
itulah kenapa wanita itu terus menerus mencoba menyingkirkan ketiga orang itu.
tapi selalu gagal karena Jul dan yang lain selalu sangat melindungi ketiganya.
mobil Alphard itu masuk kedalam kawasan balai desa, Dirga dan Dewi langsung lari ke kelas.
Naina mengandeng lengan suaminya dan mengikuti suaminya itu ke dalam kantor karena ada sedikit berkas yang harus di selesaikan.
sedang mbok Ijah dan Nanang menjaga dua anak itu agar tak mendapatkan masalah saat orang tuanya bekerja.
Naina nampak serius membaca setiap poin dalam surat perjanjian yang di kirim ke desa untuk memajukan ekonomi kreatif.
tapi beberapa poin di coret oleh Naina karena yak sesuai dengan visi misi dari Romo Jalal.
bahkan dia ingat betul bagaimana kedatangan para investor ini yang ingin mempengaruhi warga agar tak percaya pada Romo Jalal lagi.
tapi nyatanya Romo Jalal tetap menjadi kepala desa yang di hormati warga desa, dan mereka pun mengusir para investor itu, karena merasa jika desa mereka baik-baik saja.
__ADS_1