Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
kayak bocah


__ADS_3

"Karena racun yang di hirup oleh nyonya muda, itu membuat ada sedikit masalah di saraf kepalanya yang berhubungan dengan memori, tapi dokter bilang jika rutin melakukan perawatan, nyonya bisa kembali normal," kata Jul dengan serius.


Bu Lastri pun terlihat aneh memandang Naina, pasalnya wanita cantik tapi tingkah menggelikan, "wanita tua, hus..." usirnya yang sedang memeluk boneka beruang.


Bahkan dia benar-benar persis seperti anak berusia lima tahun yang tak mengerti apa-apa.


"Naina, kamu ingat saya," tanya Bu Lastri ingin memastikan dengan merebut boneka yang di mainkan oleh Naina.


"Wanita jahat.... kembalikan boneka ku..." tangis Naina dengan sangat keras.


"Siti... wanita jahat itu... hu.. hu... huwa..." kata Naina yang menunjuk Bu Lastri.


"Ternyata dia gila beneran, urus deh Siti, jadi sekarang kita tak perlu persetujuan dari Naina untuk pernikahan itu bukan," kata Bu Lastri.


"Iya nyonya sepuh tapi tolong kembalikan boneka nyonya muda," kata mbok Siti yang mengikuti permainan dari Naina.


"Baiklah, rawat nyonya mu yang bodoh ini, ha-ha-ha-ha," kata Bu Lastri.


Wanita itu pun pergi, dan merasa jika Naina sekarang tak akan jadi masalah baginya.


Jul memastikan jika rombongan dari Bu Lastri sudah pulang, dan Agus juga ikut mengantar hingga keluar.


Setelah itu dia membeli jajanan dan langsung berlari masuk kedalam ruangan rawat dari Naina.


"Apa mereka sudah pergi?" tanya Naina.


"Sudah nyonya, semuanya sudah aman," jawab Agus.


"Baiklah semuanya, kita mulai drama untuk membalas dendam," kata Naina menyeringai lebar.


Dan di saat itulah mereka bertiga baru melihat sosok Naina yang terluka dan kini mulai berontak untuk mempertahankan miliknya.


"Kita pulang nyonya tua?" tanya Jul.


"Tentu saja, tapi aku tak ingin jadi nyonya tua, karena itu hanya milik mbak Ningsih, karena tempat ku adalah nyonya muda," kata Naina yang tersenyum.

__ADS_1


Karena dia akan mulai sangat merepotkan saat sampai di rumah nantinya.


Mobil mereka sudah menunggu di luar rumah sakit, tapi Naina sudah keluar dengan rambut ikat dia dan membawa boneka beruang kesayangannya.


"Silahkan masuk nyonya muda," kata Jul.


"Aina!! bukan nyonya!!" kata Naina yang benar-benar bertingkah seperti bocah.


"Iya Aina, masuk ya," kata mbok Siti.


"Iya Siti,"


Orang kepercayaan dari Bu Lastri pun memastikan jika wanita itu memang mengalami gangguan saraf.


Bahkan dokter juga memastikan hal itu, jadi Naina sudah di coret dari daftar musuh milik Bu Lastri.


Mobil Naina sampai di rumah, saat Romo Jalal dan semua pelayan menyambut kedatangan dari wanita itu.


Tapi Naina turun membuat semua orang kaget, begitupun dengan Romo Jalal


"Ada apa ini..." lirih semua orang yang melihatnya.


"Wah... Siti ini rumah siapa? kok besar sekali... Hua..." kata Naina.


"Dek, kamu kenapa jadi gini?" tanya Romo Jalal.


"Ekh... siapa itu Siti, aku takut..." lirih Naina bersembunyi di balik tubuh mbok Siti.


"Tuan maafkan kami, nyonya tadi sempat kejang dan kemudian dokter mengatakan jika ada saraf yang terluka, jadi sekarang nyonya jadi seperti ini," jelas Jul.


"Apa kamu gila, bagaimana bisa, Naina ini kang mas Jalal kamu tak ingat," kata Romo Jalal yang mendekat ke arah istrinya itu.


"Jul... jahat gak?" tanya Naina takut.


"Tidak Aina, kang mas Jalal baik, Naina bisa percaya padanya,"jawab Jul yang membuat Romo Jalal sangat marah.

__ADS_1


Pasalnya racun itu benar-benar membuatnya kehilangan istrinya yang begitu di cintai.


Sedang Bu Lastri tersenyum di kejauhan menyaksikan hal itu, "bagaimana kang mas, lusa sudah bisa menikah?" tanya Bu Lastri.


"Sekali lagi kamu bertanya begitu, aku akan membuatmu kena hukum lagi, sekarang Naina ikut kang mas ke rumah mu," kata Romo Jalal menariknya ke rumah bagian kiri.


Naina baru melihat bangunan mewah itu sangat bersinar, "uwow... itu rumah Aina Romo," tanya Naina


"Naina, kenapa kamu jadi seperti ini?" kata Romo Jalal yang langsung memeluk tubuh Naina saat di dalam rumah itu.


"Huwa .. jangan nangis Romo ...." kata Naina.


"Diam ya gadis cantik, sekarang kamu istirahat ya biar kang mas pergi dulu," pamit Romo Jalal.


"Tidak boleh Romo, ikut tidur Aina ya," mohon Naina menahan tangan pria itu.


"Tidak bisa Naina?"


"Please...." kata Naina dengan sedih.


"Baiklah, aku akan menemani mu untuk tidur malam ini, tapi aku harus memanggil mbok Siti dan Jul dulu, aku bisa gila jika sendirian di sini," kata Romo Jalal yang membuat Naina ingin tertawa.


Karena dia tak tahan ingin tertawa sebenarnya dari tadi, pasalnya muka Romo Jalal sangat tidak nyaman.


Pasalnya dia pasti tau jika pria itu pasti tak akan tahan berdekatan dengan dirinya apalagi untuk tidur berdua.


Naina menunggu untuk kedatangan suaminya itu, saat Romo Jalal tak kembali Naina tak bangkit dari duduknya.


Meski mbok Siti dan Jul sudah datang, karena Romo Jalal sedang di tahan oleh Bu Lastri.


"Kenapa kang mas ingin ke rumah Naina di bodoh itu, bukankah lebih baik disini, karena aku bisa menemanimu," kata Bu Lastri menggoda suaminya itu.


"Lepaskan Lastri, jangan bikin aku marah kali ini,karna sekarang aku harus fokus pada Naina yang butuh dirimu," kata Romo Jalal.


"Biarkan saja," marah Bu Lastri.

__ADS_1


"Lastri!! minggir!!* bentak Romo Jalal.


__ADS_2