Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
dilihat Ndoro Sudarjo


__ADS_3

Naina benar-benar menyukai pentol kanji goreng itu, bahkan wanita itu makan sambil menggoyangkan kakinya.


bahkan dia sudah habis lima tusuk yang cukup banyak, "aduh neng, tolong hentikan makan itu, ingat anda sedang kurang baik," kata mbok Siti.


"maaf tapi ini sangat enak, ini bersih kok ya paklek ya," kata Naina memastikan pada di penjual.


"iya mbak, ini sangat bersih," kata penjual itu.


setelah menerima pentol itu, kini Naina memberikan uang lima puluh ribu, "ambil kembaliannya paklek, sudah ayo masuk," kata Naina.


tapi sebelum itu dia melihat ada penjual es potong, "aku mau itu!!"


mbok Siti pun meminta mbok Ijah mengejar Naina, tapi sebuah mobil lewat saat rombongan kambing sedang lewat.


"ada apa kamu berhenti Danu," kata seorang pria yang terlihat tetap sehat meski berusia sepuh.


"maaf Ndoro, ada pengembala kambing yang menghalangi jalan, tunggu sebentar biar saya minta pengembala itu minggir," kata pria itu turun.


sedang pria itu melihat ke arah luar kaca mobil dan melihat sosok Naina yang sedang begitu senang mengambil es potong itu, bahkan gadis itu di kejar seorang wanita.


bahkan senyum Naina menarik pria sepuh itu, "dia sangat cantik, bahkan tubuhnya begitu sempurna," gumam Ndoro Sudarjo,"


akhirnya wanita itu di tarik pergi, dan mobil pria itu juga pergi menuju ke rumah milik menantu dan putrinya.


pasalnya dia baru tau jika menantunya itu menikah untuk ketiga kalinya.


dan sekarang dia butuh penjelasan, terlebih hukuman yang di berikan Romo Jalal pada Bu Lastri karena kematian dari Bu Ningsih.


mobil berwarna merah itu masuk ke kawasan rumah besar keluarga Rahmat, terlihat Romo Jalal dan putrinya sudah berdiri menyambutnya.


pria itu turun dengan angkuh, dan Tomo Jalal kali ini tidak menundukkan kepalanya, melainkan menyapa dengan menegakkan kepalanya.


"selamat datang di rumah keluarga Rahmat," kata Romo Jalal.


"kamu sekarang tak mau menundukkan kepala mu Jalal," kata pria itu melihat menantunya.

__ADS_1


"karena sekarang saya bukan orang yang bisa di intimidasi," jawab Romo Jalal yang harus kuat karena dia punya orang yang harus dia lindungi.


"itu bagus, bagaimana kabar kalian?" tanya Ndoro Sudarjo.


"Jami semua baik, Monggo silahkan masuk, ajak ayah mu masuk dek," kata Romo Jalal.


"iya kang mas, apa kabar ayah?"


"ayah baik, tapi kemana istri ketiga mu itu Jalal, aku dengar kamu menikah lagi, sebelum Ningsih mati," tanya Ndoro Sudarjo.


"dia sudah saya pindah ke rumah khusus selir, dan sekarang putri anda menjadi satu-satunya, tapi jika anda bisa menunggu, mungkin anda bisa menghadiri pernikahan ku yang selanjutnya, karena aku butuh penerus keluarga, dan aku tak mau mati tua sendirian," kata Romo Jalal.


"kamu benar-benar tak berubah, silahkan saja menikah berkali-kali, tapi ingatlah sumpah mu pada ku," kata Ndoro Sudarjo.


"aku pastikan itu pada ayah mertua," jawab Romo Jalal.


mereka bertiga pun masuk di ikuti Jul dan Danu selaku tangan kanan Ndoro Sudarjo.


"bagaimana perjalanan ayah kesini, pasti sangat menganggu ya karena jalan berlumpur," kata Bu Lastri.


"melihatnya di mana ayah, dan berhentilah memikirkan wanita seperti ini," kata Bu Lastri yang sudah punya dua ibu tiri yang masih bertahan di samping ayahnya itu


"aku tadi melihatnya di ujung desa, tapi aku hanya bilang bukan ingin menikah lagi, lagi pula istriku masih tiga di rumah," kata Ndoro Sudarjo.


Bu Lastri tak menyangka, jika akan jadi seperti ibunya, punya suami yang suka menikah berkali-kali seperti ini.


tapi bedanya adalah jika dulu ibu dari Bu Lastri hanya diam saja, maka Bu Lastri mewarisi sikap dari ayahnya.


jadi dia memilih berontak dan menyingkirkan semua halangan yang ada di jalannya.


terlebih orang yang tidak mau mengikuti keinginan dari dirinya, seperti hal nya Ningsih yang memutuskan menikahkan suami mereka dengan Naina jadi hukuman yang pantas adalah mati.


sedang Romo Jalal sedang sangat marah karena mendengar jawaban dari mertuanya itu.


pasalnya satu-satunya rumah di ujung desa adalah rumah selir tempat Naina.

__ADS_1


ini juga salahnya sendiri, dia tak menyangka jika mertuanya akan datang saat ini dan bukan besok pagi.


"kenapa kamu diam begitu Jalal, apa ada sesuatu yang menganggu mu?" tanya Ndoro Sudarjo.


"tidak ayah mertua, hanya saja aku ingat ada beberapa pekerjaan yang harus segera selesai, tapi itu bisa nanti, apa ayah ingin jalan-jalan mrligat kebun di belakang rumah," kata Romo Jalal.


"tentu dan tap sebelum itu, aku penasaran kenapa sekarang Lastri ada di rumah utama, biasanya dia tinggal di rumah kanan,"


"karena sekarang ini miliknya dan rumah kanan akan di gunakan untuk istri baru nanti," jawab Romo Jalal.


"dan rumah kirimi yang di tinggalkan oleh Ningsih?"


"itu tidak di buka lagi, karena selalu meninggalkan kenangan buruk," jawab Romo Jalal.


Ndoro Sudarjo mengangguk dan bangkit, kini mereka berdua mulai berjalan-jalan di belakang rumah.


dua pelayan baru yang melayani Bu Lastri adalah orang batu, tapi memang sudah lama kerja di rumah keluarga Rahmat.


"ada apa mbok tum?" tanya Bu Lastri.


"saya hanya ingin lapor nyonya sepuh, sepuluh gadis yang kemarin anda pilih sudah siap di kediaman polo, dan siap di wawancarai," kata mbok tum.


"baiklah, kita pergi sekarang," kata Bu Lastri yang tak ingin membuang waktu.


sedang di rumah Fauzan dia tak menyangka akan melihat begitu banyak wanita yang akan di pilih oleh nyonya sepuh dari keluarga Rahmat.


semua gadis muda itu tak sabar karena jika mereka bisa masuk kedalam keluarga Romo Jalal.


kehidupan mereka akan berubah, dari awalnya yang serba kekurangan bisa jadi kaya raya seperti halnya Naina yang berasal dari desa tetangga.


Fauzan hanya bisa menunggu kedatangan dari istri Romo Jalal, dan dia langsung menyambutnya dengan sopan.


"selamat datang nyonya sepuh," kata pria itu.


"iya Fauzan, bagaimana dengan pengaturannya, aku harap kamu bisa mengatasi segalanya ya," kata Bu Lastri.

__ADS_1


"sesuai permintaan anda nyonya sepuh," jawab Fauzan formal.


__ADS_2