
keesokan harinya di rumah Ndoro Sudarjo, pria itu kaget saat kolam ikan miliknya sudah berubah menjadi kolam pembantaian.
bagaimana tidak seluruh kolam yang berjumlah sepuluh kotak berisi ikan patin siap panen.
tapi berubah dalam semalam menjadi kolam darah dengan mayat yang begitu banyak.
dan anehnya semua ikan patin miliknya juga sudah tak ada di kolam itu.
"Jalal benar-benar berani mengusik diriku, dia benar-benar ingin mati ternyata!" marah pria itu.
sedang Bu Lastri yang melihat hal itu sangat marah, karena ini membuktikan jika suaminya itu sudah tak bisa di kendalikan oleh ayahnya.
"sudah ayah, sekarang aku mau pulang, sudah sampai seperti ini,aku yakin sekarang mereka berdua sedang memadu kasih, dan aku tak mau membusuk di sini sendirian, karena aku harus menyingkirkan wanita itu," marah Bu Lastri.
"tidak boleh kamu harus tetap disini karena aku yang akan membereskannya," kata Ndoro Sudarjo
mendengar itu kedua istri dari pria itu melarangnya tapi tak ada yang di dengarkannya satupun.
Ndoro Sudarjo pun bergegas pergi mengajak semua orang kepercayaannya.
bahkan Danu juga bersiap dengan semua yang dia butuhkan untuk melawan pria yang sudah menjadi suami majikan perempuannya itu.
sedang istri muda Ndoro Sudarjo melihat Bu Lastri, "kenapa selalu saja, setelah mengunjungi mu, pasti ayah marah, dasar anak yang menyulitkan sudah tua tak sadar diri," kata gadis muda itu.
"tutup mulut mu, kamu itu cuma istri yang tak di sayangi," kata Bu Lastri
"kamu yakin, padahal semua orang juga tau, bagaimana pun istri muda akan selalu menang karena mereka masih muda dan cantik, sedang istri pertama yang tua dan tak berguna seperti mu itu layaknya di buang, bahkan kamu tak bisa punya anak, jadi untuk apa di pertahankan," kata gadis itu yang berhasil membuat Bu Lastri murka.
"yang di katakan adik Vega benar, selalu setelah mengunjungi mu, ayah ku pasti seperti ini, kenapa kamu begitu merepotkan, tolonglah sadar diri sedikit, dan jika ada dari kami yang keracunan setelah ini aku pastikan jika itu ulah mu,karena kamu itu wanita paling buruk, saat tak bisa mengendalikan suamimu itu, kamu menyingkirkan wanita yang menjadi musuh mu," kata salah satu wanita lain.
"kalian berdua berani, aku pastikan kalian setelah ini tak akan bisa bertingkah," marah Bu lastri.
"silahkan saja, tapi aku pastikan aku akan jadi sekutu istri muda suamiku untuk membuat mu mati perlahan-lahan," kata keduanya yang kemudian pergi.
"dasar wanita ******, berani-beraninya mereka mengancam diriku, mereka terlalu sombong!!" marah Bu Lastri.
mobil yang membawa Ndoro Sudarjo sampai di rumah besar milik keluarga Rahmat, tapi sayangnya Romo Jalal dan Naina sedang tak ada di rumah.
__ADS_1
"jadi mereka kemana? jika keduanya tak ada di rumah?!"
"mereka sedang menghadiri acara peresmian gedung tuan," kata Nanang yang menyelami pria itu.
Ndoro Sudarjo pun tak curiga dan menyambutnya dengan senang hati, "baiklah kita pergi kesana, dan aku tak mengira jika Jalal benar-benar mengajak mu tinggal di sini,"
"karena ini adalah kebaikan dari Romo," jawab bocah itu.
Ndoro Sudarjo langsung bersiap pergi menuju ke tempat di adakan peresmian yang di hadiri oleh suami dari putrinya itu
tapi saat di perjalanan menuju ke tempat acara, tiba-tiba jantung Ndoro Sudarjo terasa sakit dan perlahan pria itu pun pingsan.
melihat itu Danu langsung melompat ke kursi belakang, "Ndoro Sudarjo, Ndoro..." Panggilnya.
tanpa di duga, perlahan bisa keluar dari mulut Ndoro Sudarjo, dan pria itu di larikan ke rumah sakit.
sedang untuk Romo Jalal dan Naina terlihat begitu serasi saat membagikan sembako pada semua warga yang membutuhkan.
bahkan Naina terlihat begitu cantik, dan dia selalu bermain dan begitu menyukai anak-anak.
"iya kang mas," jawab Naina yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan suaminya.
seperti biasa mereka berdua makan sepiring berdua, tapi dengan berbagai makanan yang ada.
Naina tentu membantu para pedagang itu dengan mempromosikan semua jenis makanan.
pukul tiga sore akhirnya kegiatan mereka selesai, dan mereka memutuskan untuk pulang.
tapi saat di perjalanan menuju rumah, Romo Jalal mendapatkan pesan dari istri pertamanya.
"iya Lastri, ada apa kamu menelpon ku, bukankah ayah mu itu tak mengizinkan mu menghubungiku lagi," kata Romo Jalal.
"kang mas, ayah ku masuk rumah sakit dia mengalami keracunan," kata Bu Lastri yang menangis.
mendengar itu, Romo Jalal langsung memerintahkan Jul yang memang sedang menyetir, "kita ke rumah sakit Airlangga Jul," kata Romo Jalal.
"berhenti di sini Jul, aku tak ingin ikut karena skuntak mau mati konyol saat di rumah sakit, jadi biar Jang mas pergi sendiri," kata Naina
__ADS_1
"tapi Naina, kenapa kamu bertindak seperti ini, tolonglah bagaimana pun dia itu ayah dari Lastri yang masih sah menjadi istriku," kata Romo Jalal.
"karena suamiku tak akan bisa menjamin keselamatan ku di sana, jadi lebih baik aku pulang dan menikmati waktu ku dengan tidur," jawab Naina yang benar-benar turun dari mobil.
melihat itu Romo Jalal ikut turun dan mencegah istrinya itu, karena Naina ingin pulang dengan berjalan kaki.
"apa maksud perkataan mu, kita baru saja bersama Naina, tapi sikap mu ini tak pantas," tegur Romo Jalal
"tak pantas, jika kang mas bisa jadi diriku kang mas akan melakukan hal yang sama, dia tidak di hukum berat meski sudah membunuh mbak Ningsih yang sudah menemani kang mas bertahun-tahun, sedang bagaimana jika dia membunuh ku yang baru bersama Jang mas beberapa bulan, pasti akan mudah di maafkan, aku butuh bukti kang mas, bukan hanya ucapan," kata Naina yang meninggalkan Romo Jalal yang masih diam
tanpa di sengaja Fauzan lewat dengan motor miliknya karena memang dia baru menjenguk Reino.
"Fauzan!!" panggil Naina.
"loh Naina, kamu kenapa jalan kaki, itu Romo kenapa seperti itu, kalian bertengkar ya," kata Fauzan yang merasa tak enak.
"sudahlah, bisa antar aku pulang, aku sedang tak ingin berdebat, ayolah demi pertemanan kita," mohon Naina yang benar-benar tak ingin bersama suaminya saat ini.
Fauzan mengeleng pelan, terlebih dia tau jika Romo Jalal bisa membunuhnya sekarang juga, karena pria itu sangat menyayangi Naina.
"aku mohon...."
"tapi aku tak enak dengan suami mu," kata pria itu.
mendengar jawaban itu membuat Naina tak suka, Jul ingin menghampiri Naina tapi Romo Jalal menghalanginya.
"tidak usah, Fauzan tolong antar istri ku itu pulang dan satu mobil akan mengikuti kalian, dan aku harap saat aku pulang kamu sudah mulai tenang," kata Romo Jalal yang menyentuh kepala Naina.
tapi wanita itu memalingkan wajahnya dan menghapus air mata, dan langsung duduk di jok sepeda motor milik Fauzan kemudian membawanya pergi.
"aduh... kamu bikin aku sengsara saja Naina," kata Fauzan yang tak enak dengan Romo Jalal.
"kenapa kamu begitu cerewet juga, dulu bahkan kita sering berboncengan seperti ini,"
"tapi itu sebelum kamu jadi istri dari orang paling di segani di wilayah ini," kata Fauzan yang mengantar Naina ke rumah.
ternyata di rumah keluarga Rahmat, sudah ada Bu Zuli yang datang ingin menjenguk dan bertemu Naina.
__ADS_1