
setelah malam mencekam itu, akhirnya keluarga Romo Jalal perlahan-lahan mulai kondusif dan tenang.
pasalnya semua orang sudah mulai bisa tenang, dan untuk Bu Lastri benar di buat tak bisa melihat matahari.
pasalnya rumah bagian kanan itu sudah di renovasi menjadi rumah yang kedap suara, karena Romo Jalal tak ingin wanita itu membuat kegaduhan.
pagi ini Naina sedang berjemur bersama kedua anaknya, kedua bayi itu bahkan mengenakan kacamata hitam.
Romo Jalal baru selesai berolahraga dan menghampiri istri dan anaknya, "aduh mereka modis sekali berjemur hanya dengan kacamata hitam begitu. anak siapa sih," kata Romo Jalal gemas.
Naina melihat suaminya itu, "kang mas kemarilah," panggil Naina.
merasa di panggil oleh istrinya, Romo Jalal mendekati dan betapa terkejutnya dia karena Naina mengecup bibir suaminya itu.
"selamat pagi, karena Jang mas melupakan ku," lirih Naina.
"bagaimana bisa lupa, karena kamu adalah hidup ku, tapi kalau aku mendekatimu, aku selalu tak bisa menahan diri," bisiknya yang mengetikan ciuman di kening wanita itu.
"kang mas sabar ya, nifasnya belum selesai," kata Naina.
Romo Jalal pun memilih pergi karena siang ini dia harus pergi ke kota untuk mengurus perusahaan miliknya.
ya mau bagaimana pun sekarang dia mengurus semuanya sendiri di bantu oleh orang-orang kepercayaannya.
tak hanya itu, saat di luar rumah Romo Jalal mengenakan jas dan itu membuat para wanita yang melihatnya di buat terpesona di buatnya.
terlebih wajah pria itu juga bersih tanpa kumis dan jenggot, dan makin membuatnya nampak muda adalah bentuk tubuh sempurna.
"kenapa aku melihat suamiku seperti artis siapa itu, Marcelino Lefrandt," kata Naina yang membantu suaminya itu mengenakan dasi.
"karena aku takut jika aku tak menjaga penampilan ku, kamu bisa kabur karena punya suami tua," kata Romo Jalal.
"baiklah Romo, tolong jangan jelalatan di luar, karena bagaimanapun kondisi ku juga belum bisa menjaga tubuh ku yang masih gendut dan gembur ini," kata Naina tersenyum.
__ADS_1
"tapi kamu yang paling cantik, terlebih ibu dari Dirga dan Dewi adalah wanita yang paling sempurna bagiku," kata Romo Jalal yang sudah siap.
Naina pun mengantar suaminya itu hingga ke depan, dan ternyata yang ikut adalah Alip,Sarno dan Joyo untuk menemani Romo Jalal.
karena Jul dan yang lain harus tetap menjaga keselamatan dari Naina dan kedua anaknya.
Romo Jalal pun berangkat menuju kota, dan sesampainya di kota besar itu, mereka langsung menuju kantor utama yang mengurus semua perusahaan.
saat pria itu datang sudah banyak para pegawai yang datang untuk melaporkan apa yang selama ini terjadi.
karena kepemilikan sekarang sudah di miliki dan di pegang oleh Romo Jalal dan istri mudanya.
"maaf Romo, kalau saya boleh bertanya dimana nyonya besar,karena biasanya beliau yang mengurus semuanya," tanya salah satu orang.
"memang kenapa, kalian tak percaya dengan kemampuan ku, sebelum dia yang memegang semua perusahaan ku, aku membangun semuanya sendiri, bahkan kalian tak melihat keberhasilan pabrik kecilku yang di pegang istri mudaku, yang bisa mencapai kancah internasional, sedang kalian masih sibuk dengan pasar dalam negri, jika dalam enam bulan tak ada perubahan, aku akan memecat kalian semua, dan mencari orang yang bisa membuat perusahaan ku besar, kalian mengerti, dan jangan kalian kira aku tak tau dengan apa yang kalian lakukan di belakang ku, dan berpikir aku bodoh, jika aku mau aku bisa membunuh kalian saat ini juga, dan membereskan kalian semua, jadi mulailah bekerja dengan jujur, jika tidak kalian pasti akan menyesal seumur hidup kalian," kata Romo Jalal mengancam Semuanya.
"kami mengerti Romo," jawab semua orang.
Romo Jalal memeriksa satu persatu berkas yang di tunjukkan, bahkan tanpa segan Romo Jalal mencoret proyek yang menurutnya tak berguna.
bahkan tak segan Romo Jalal mengebrak meja saat salah satu pegawainya tak becus dalam menjelaskan beberapa keuntungan dan kerugian perusahaan.
"Alip panggil tim audit, minta mereka menyelidiki semua aliran dana yang masuk dan keluar dari perusahaan ku," perintah Romo Jalal.
"baik Romo," jawab pria itu
dua kepala perusahaan yang dari tadi kelabakan kini makin menjadi-jadi karena mereka telah bersekongkol untuk penggelapan pajak dan beberapa proyek juga ada yang di tilep habis-habisan.
sedang empat yang lain nampak santai karena mereka bekerja dengan memegang peranan pengabdian.
sedang di desa, Naina juga tak kalah sibuk, karena wanita itu kini sedang melihat semua laporan dari desa.
dengan di temani mbok Siti dan mbok Ijah yang menjaga kedua anaknya.
__ADS_1
dan Jul serta Nanang yang berjaga di sekitarnya, bahkan di luar sudah lebih banyak penjaga yang lain juga.
Fauzan membawa setumpuk berkas untuk di periksa, pasalnya itu adalah pengajuan yang di minta oleh para warga.
"kamu benar-benar tega menyiksaku untuk memeriksa semua proyek ini?" kata Naina.
"ya mau bagaimana lagi nyonya muda, ini tugas mu sebagai pendamping kepala sesepuh di desa ini, jika ada yang tak tau bisa tanyakan padaku," kata Fauzan yang duduk sambil menikmati es teh yang disuguhkan.
"resek nih," kata Naina yang langsung membuka satu persatu berkas itu.
beruntung semua penjelasan di berkas itu sangat mendetail jadi dia tak harus bingung.
meski harus ada beberapa pengajuan yang di tolak karena tak sesuai dengan apa yang fasilitas desa belum memadai.
"ini kenapa ada pengajuan dari ibu-ibu PKK segala," kata Naina kaget.
"lah aku juga tidak tau, entah itu siapa yang mengajukan," kata Fauzan yang membuat Naina malu.
pasalnya dia sendiri yang membuatnya karena ingin meminta dana untuk membelikan batik untuk para ibu-ibu PKK agar bisa buat seragam yang lebih bagus.
dan lagi ingin memanfaatkan tanah kosong sebagai tanah yang bermanfaat karena di gunakan untuk menanam tanaman obat tradisional.
dan hasilnya bisa di gunakan oleh semua warga, dan juga tanaman sayuran juga boleh juga
"aku setuju ya, aku juga yang bertanggung jawab kok, nanti pasti di perbolehkan," kata Naina yang malah bimbang.
tapi dia menaruhnya menunggu suaminya itu, karena dia tak mau semena-mena karena jika masih ada proyek yang lebih baik.
lebih baik mendahulukan proyek-proyek yang bisa membangun desa di bandingkan dengan miliknya.
"kenapa tidak di setujui saja, pasti Romo juga mengizinkan, toh itu untuk kebaikan ibu-ibu," kata Fauzan.
"tidak mau, biar nanti Romo yang menilainya saja," Jawab Naina
__ADS_1
"ternyata kamu tak berubah ya Naina, meski sudah menjadi istri orang berpengaruh," kata Fauzan yang bangga dengan sahabatnya itu.