Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
cemburuan


__ADS_3

Naina kini bersiap pergi dengan membawa beberapa pengawal dan dua pelayannya ini juga tak ketinggalan.


mereka berenam berangkat mengunakan mobil yang di kemudikan oleh Jul, tentunya Jul sudah memberitahu tentang perjalanan mereka pada Romo Jalal.


sedang di rumah utama, Romo Jalal menaruh kembali ponselnya, "ada apa kang mas," tanya Bu Lastri


"tak apa-apa hanya Jul, oh ya nanti siang aku harus ke kantor desa, kamu tak masalah kan di rumah sendirian?"


"tak masalah, tapi apa aku boleh bertemu dengan Naina, aku ingin berbincang dengannya," kata Bu Lastri dengan memohon.


"sepertinya tidak bisa, setelah apa yang kamu lakukan, Naina tak akan sekuat itu untuk bisa menerima kunjungan mu untuk saat ini, terlebih dia juga tidak boleh stres oleh dokter," kata Romo Jalal.


"begitu rupanya, baiklah aku akan menunggunya agar dia siap bertemu dengan ku," kata Bu Lastri tanpa sedih.


tapi melihat gerakan tangan wanita itu yang mengepal, Romo Jalal sadar jika Bu Lastri pasti ingin melakukan sesuatu yang membuat wanita itu tak ada jalan lain.


selain dia di hukum, dia juga tak boleh sembarangan menemui Naina karena keselamatan Naina dan calon anaknya sangat utama.


setelah sarapan Romo Jalal mengambil semua barang yang di butuhkan untuk rapat perbaikan jalan.


dia pun pergi ke kantor desa bersama Alip dan Sarno, sedang di pasar, Naina terlihat sangat senang karena wanita itu tak pernah ke pasar cukup lama.


mereka berkeliling untuk melihat apa yang di jual, tak lupa mereka membeli asam Jawa terlebih dahulu.


setelah itu mereka ke area daging sapi, Naina membeli daging sapi sebanyak tiga kilo untuk membuat rendang dan tak lupa dia juga membeli bumbu rendangnya juga.


dan saat melewati pedagang ayam kampung, Naina pun juga membeli sepuluh ekor untuk makan satu keluarga.


"nyonya terlalu banyak," kata mbok Siti.


"memang yang kerja di rumah ada berapa orang kok mbok bilang banyak, nanti buat di bagi-bagi tau," kata Naina mengeleng pelan.


setelah semua selesai di beli, tentu juga ada buah dan sayur juga, mereka pun memutuskan pulang.


tapi sebelum pulang mereka semua berhenti di sebuah penjual es tung-tung.


"aku mau pak, tiga ribu saja ya, yang lain juga ambil," kata Naina.


"iya nyonya,"


tapi saat es sudah jadi, Naina nampak sedih dan tanpa sadar menangis.


mbok Siti bingung dengan apa yang terjadi, pasalnya Naina menangis tanpa sebab.


"ada apa nyonya?".


"aku mau makan es krimnya di suapi kang mas, tapi dia tak di sini," jawab Naina memeluk mbok Siti.


para pengawal yang mengawal di buat bingung, memang bisa wanita hamil seperti ini.

__ADS_1


tiba-tiba nangis, tiba-tiba lapar, dan tiba-tiba tertawa tak jelas.


"sudah nyonya, nanti kalau Ndoro pulang, nanti bisa minta di suapi sepuasnya, jadi sekarang mbok suami dulu ya es krimnya," kata mbok Siti.


"mbok bohong, kang mas jadwalnya sama mbak Lastri, jadi kita pulang yuk," kata Naina yang masih berusaha untuk diam


ya mau bagaimana lagi, karena hormon wanita hamil sangat tak menentu, jadi Naina sangat sulit di tebak.


di dalam mobil dia juga terus diam, Jul yang tak tahan langsung memutar mobilnya menuju ke kantor balai desa.


"kenapa kesini Jul?"


"sudah turun dulu, biar nyonya mendapatkan keinginannya, takutnya jika dia tak mendapatkan keinginannya nanti anaknya ileran," kata Jul


akhirnya mereka pun masuk kedalam ruangan kerja Romo Jalal, dan pria itu sedang rapat.


tapi beruntung belum sempat pergi, jika tidak akan repot karena akan sulit mencari keberadaan pria itu.


"ada apa Jul?" tanya Romo Jalal.


"saya mau mengantar nyonya-"


"loh Jul di sini, padahal aku datang mau mengantar kue, karena tadi tak ada orang jadi aku memutuskan untuk datang," kata Bu Lastri yang nekat keluar dari rumah.


"kamu sedang di hukum," kata Romo Jalal menggertakkan giginya.


"sudah ku katakan tak usah kesini, kita pulang cak Jul," kata Naina yang sedari tadi bersembunyi di ruangan Fauzan karena malu.


melihat temannya itu, Fauzan ingin mengejarnya tapi dia takut akan menimbulkan omongan yang tak benar.


Naina masuk kedalam mobil, dan Jul pun hanya menunduk memberi hormat dan pergi.


Romo Jalal pun memijat keningnya, sudah di pastikan Jul juga marah karena hal ini, karena pria itu meski tak banyak bicara.


tapi Jul tak akan bersikap tidak sopan seperti itu, tapi karena ulah dari Bu Lastri.


kini semuanya makin runyam, belum lagi Naina yang sepertinya kecewa sangat.


"kang mas ini," kata Bu Lastri.


"pulang dan hukuman mu jadi setengah tahun, dan jika ada yang membiarkan kamu keluar lagi apapun alasannya, aku akan mengalami kepalanya," kata Romo Jalal dingin.


bahkan pria itu tak mengambil kue yang di bawa Bu Lastri sebagai bentuk kekecewaannya, dia tak menyangka hanya karena dia memberinya waktu.


itu membuat wanita itu berulah seperti itu, padahal Romo Jalal sudah dengan jelas memberikan peringatan.


Naina pun terus terisak di mobil, dan saat sampai di rumah itu membuat panik semua orang, karena Romo Jalal sudah memberikan peringatan.


agar semua tak membuat Naina sedih, atau tanpa terkecuali akan mendapatkan hukuman berat.

__ADS_1


"nyonya tolong jangan menangis, itu bayinya ikut sedih, ini mbok juga ikut nangis, huwa..." tangis mbok Siti.


"lah si mbok."


"aku mau berhenti tapi mau makan mie ayam mbok," kata Naina yang merasa lapar.


"hah..." kaget ketiga pria yang menjaga wanita itu.


"baiklah mbok buatkan sebentar, tapi jangan minta tuan yang suapi, biar mbok atau Ijah yang suapi ya," kata mbok Siti memastikan.


"baiklah," jawab Naina yang perlahan mulai tenang.


kini dia tidur dengan posisi miring karena kondisinya yang sudah cukup sulit bergerak.


sedang para pelayan di bawah pengawasan Joyo dan Nanang, memasak rendang daging dan ayam bakar.


karena nanti siang akan di jadikan sebagai lauk makan bersama sesuai arahan dari Naina yang ingin makan bersama semua orang.


sedang mobil bu Lastri pulang, dan wanita itu nampak marah dan ingin melabrak madunya.


tapi sayang ada pengawal lain yang menghadangnya agar tak bisa masuk ke rumah bagian kiri.


"maaf nyonya sepuh, anda tak di izinkan masuk sesuai perintah dari Romo,"


"memang kenapa, kalian ini lancang sekali karena berani menghalangiku," kata Bu Lastri.


"tolong jangan mencari masalah, kondisi nyonya muda sedang tak baik, jadi tolong nyonya bisa mengerti,"


"dasar manja," kata Bu Lastri yang langsung pergi.


dia tak menyangka jika dia akan di halangi seperti ini, sedang tak butuh waktu lama dia kembali ke kamarnya.


dan yang mengejutkan adalah Bu Lastri di kunci oleh Jul karena dia tak ingin ada masalah lagi.


sore hari, semua masakan usai, bahkan nasi gurih juga, dan kondisi emosional dari Naina juga sudah membaik.


Romo Jalal pulang dan langsung menuju ke kamar Naina untuk bersih-bersih dan ganti, tapi saat ingin memeluk Naina, wanita itu menahan tubuh suaminya itu.


"jangan sentuh aku, aku tak mau kamu menyentuhku, karena kamu suami mbak Lastri," kata Naina yang langsung sedih.


"kamu kenapa, tapi juga kenapa," kata Romo Jalal yang berhasil meringkus istrinya itu dan bisa memeluk Naina.


bahkan pria itu mencium kening dan pipi istrinya dan perlahan Naina memeluk Romo Jalal erat.


"aku cuma mau minta di suapi es krim, karena aku merindukan mu kang mas, tapi... tapi.. tapi..."


"iya maafkan aku, sekarang aku disini ya sayang, jangan sedih, aku dengar kamu mengadakan acara makan bersama, apa semua di undang?"


''iya kang mas, termasuk mbak Lastri tapi cak Jul dan cak Sarno yang harus menjaganya, dan tentu saja Nanang untuk menjaga ku," kata Naina.

__ADS_1


__ADS_2