Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
percobaan berhasil


__ADS_3

Naina tak curiga saat masuk kedalam kamar, pasalnya dia tak mencium aroma yang aneh.


Tapi dia penasaran karena sebuah lilin di meja dan di sana juga ada kertas bertuliskan permohonan maaf.


Jadi dia tak membuangnya, dan memilih berganti baju dengan piyama panjang.


Tapi saat dia masih membaca buku yang di tinggalkan oleh Ningsih, perlahan kepalanya pusing, dan terasa dadanya mulai terasa sesak dan Naina mulai batuk.


"Ini kenapa," gumamnya yang merasa kepalanya berputar-putar.


Karena itu dia pun terjatuh pingsan dan Tak sengaja menarik taplak meja hingga terjatuh dan lilin itu membakar kain itu.


Agus dan Joyo kaget melihat ada asap dari dalam kamar Romo, "nyonya muda!!* teriak Agus mengendor pintu tapi tak ada jawaban.


"Kelamaan Gus!!" panik Joyo yang memang punya kewajiban menjaga Naina.


Dia menendang pintu hingga rusak dan kaget melihat asap tebal, "nyonya!!" teriak Joyo.


"Awas Joyo, ini ada racun risin, awas," kata Agus yang mengenali aroma itu.


Keduanya pun sadar jika Naina dalam bahaya, mereka pun peduli setan langsung masuk kedalam kamar


"Nyonya muda," kaget Agus yang melihat Naina pingsan di lantai dan ada api di sampingnya.


Joyo memadamkan api itu dengan air, "bawa keluar cepat, kita bisa keracunan," panik Joyo.


Agus pun tak peduli lagi, dia langsung mengendong Naina, dan Jul yang sedang mengatur pengaman di luar kaget melihat asap tebal dari rumah utama.


Dia langsung lari kedalam dan melihat Agus yang sedang mengendong Naina.


"Ada apa Agus!"


"Tolong nyonya muda mas, sepertinya ada yang ingin meracuninya," kata Agus yang sudah mulai pusing.


Jul pun mengambil tubuh Naina dan menggendongnya, "sialan ... kenapa aroma tubuh nyonya muda tercium seperti bau risin,"


Agus dan Joyo pingsan, karena mereka menghirup asap terlalu banyak.


"Kalian, cepat siapkan mobil, kita ke rumah sakit dan bawa Agus serta Joyo, dan yang lain pastikan lihat dan cari apa ada yang aneh," kata Jul.


"Baik mas!!" jawab semua pengawal itu.

__ADS_1


Akhirnya mobil membawa Naina ke rumah sakit, tapi wajah Naina perlahan memucat.


"Aku mohon nyonya muda bertahanlah...." mohon Jul.


Mobil hitam itu sampai dan membunyikan klakson dengan keras karena ini adalah keadaan darurat.


Di kamarnya, Bu Lastri tersenyum, karena sekarang pasti Naina sudah mati.


Karena racun yang dia berikan pada pelayannya Tini itu bukan racun sembarangan.


Sedang Ajeng ketakutan saat tau apa yang baru terjadi di kamar Naina.


"Mbok Tini, ini bagaimana, aku tak mau mati mbok, karena kamu yang menyuruhku dan kamar nyonya muda kebakaran," kata Ajeng.


"Sudah tenang saja, sekarang duduklah di sini biar aku ambilkan minum ya," kata mbok Tini yang di ikuti oleh Ajeng.


Tapi gadis itu benar-benar polos dan tak curiga sedikitpun, dari belakang mbok Tini membawa tali tambang.


Setelah menyiapkannya, dia memasukkan kepala Ajeng dan langsung menariknya.


Hingga gadis itu pun berontak dan tercekik, dan dalam hitungan menit, akhirnya Ajeng pun mati tergantung.


Tak lupa mbok Tini menaruh sepucuk surat di kantong baju gadis itu.


Naina pun dapat perawatan intensif karena dia yang paling banyak menghirup asap beracun itu.


Sedang Agus dan Joyo sudah sadar karena mereka tak mengalami hal yang menghawatirkan.


Jul memerintahkan seseorang untuk mengabari Romo Jalal tentang apa yang terjadi.


Karena Jul tak bisa mempercayakan keselamatan Naina pada orang lain karena di rumah saja ada kejadian seperti ini.


Sarno kaget melihat bawahan Jul datang, "ada apa?"


"Ketiwasan, nyonya muda masuk rumah sakit keracunan," kata pemuda itu.


Sarno langsung masuk kedalam kamar hingga mengejutkan Romo Jalal.


"Ada apa Sarno?" tanya pria itu yang sedang menyuapi Bu Lastri makan.


"Ngapunten Romo, ada berita buruk, nyonya muda berada di ICU karena keracunan," kata Sarno yang membuat Romo Jalal bangkit dari kursinya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia keracunan, padahal di rumah begitu banyak penjaga dan pelayan," marah Romo Jalal.


"Saya juga tidak tau Romo, No jelaskan pada Romo," kata Sarno.


"Ngapunten Romo, tadi ada kebakaran di kamar nyonya muda, dan saat mas Agus dan mas Joyo masuk dengan paksa, ternyata tercium aroma racun risin biji jarak, dan mereka sudah menemukan nyonya muda tergletak di lantai," terang pemuda bernama Nono.


"Bagaimana bisa, di rumah kita tidak ada tanaman jarak, sialan... siapa yang ingin mencelakai istriku," marah Romo Jalal.


Dia pun menoleh dan melihat ke arah Bu Lastri, wanita itu hanya terlihat biasa tanpa ada rasa terkejut.


Romo Jalal pun langsung lari menuju ke ruang ICU, di ikuti oleh Nono.


Sedang Sarno kaget melihat Bu Lastri yang bangkit dari ranjangnya, "oke drama besar terjadi, Sarno kamu mau tetap diam atau mengambilkan aku kursi roda,"


"Iya nyonya sepuh," jawab Sarno.


Pria itu membawa kursi roda dan Bu Lastri pun duduk dengan santai, "tapi nyonya sepuh, kondisi anda juga tak baik,"


"Kata siapa, kondisiku sangat baik sekarang, aku khawatir pada istri muda suamiku, cepat bantu aku melihatnya," kata Bu Lastri.


Sarno tak bisa membantah dan langsung mendorong kursi itu di ikuti oleh rekannya yang bertugas malam itu.


Terlihat Romo Jalal dan Jul sedang membahas sesuatu, Romo Jalal tak mengira dalam hitungan hari.


Kedua istrinya di serang dengan racun, tapi beruntung karena Naina di tolong tepat waktu jadi nyawanya masih bisa di selamatkan.


"Apa ini ulah mu lagi Lastri," marah Romo Jalal.


"Bagaimana mungkin Jang mas, aku berada di sini bersama mu, dan kamu menuduhku, aku sakit hati kang mas," kata Bu Lastri yang langsung menangis sedih.


"Tapi hanya kamu yang bisa mengunakan dan mengetahui bagaimana membuat racun," marah pria itu.


"Aku bersumpah kang mas, bukan aku... aku tau jika kang mas mencintai istri muda mu, tapi bukan selamanya aku yang mencelakai istrimu itu," kata Bu Lastri.


Romo Jalal pun memeluknya, "maafkan aku... seharusnya aku tak menyalahkan mu seperti ini," kata Romo Jalal.


Bu Lastri pun tersenyum menyeringai dalam tangisnya, dan jasad Ajeng juga di temukan.


Karena itu Jul memilih pulang untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.


Dan di jasad itu di temukan surat yang menyatakan kekecewaan gadis itu karena Romo menikahi wanita lain.

__ADS_1


Padahal Ajeng sudah memohon pada Lastri dan Ningsih agar menjadikannya istri ketiga, tapi karena di tolak oleh keduanya dia pun kecewa.


Jadi dia merencanakan semua ini, dan berusaha menghabisi Naina dan rencananya berhasil.


__ADS_2