
Bu Lastri sedang mengetuk kayu yang memasung kakinya, tuk... tuk... tuk..
"Nyonya sepuh, ini sarapan anda," kata mbok Jum yang selama ini melayani wanita itu.
"Kenapa kamu di izinkan masuk, apa dia sudah mulai memaafkan aku?" tanya Bu Lastri yang melihat pelayan setianya itu.
"Saya tidak tau nyonya sepuh, tapi Romo memang tak melarang kami melayani nyonya, tapi kami tidak bisa mendekati nyonya muda sejauh satu setengah meter," jawab mbok Jum.
"Kenapa!!" teriak Bu Lastri yang marah tiba-tiba dan membuat pelayannya itu ketakutan.
"Karena tuan tidak ingin nyonya sepuh melukai nyonya muda, terlebih setelah apa yang terjadi," kata mbok Jum ketakutan.
"Ha-ha-ha-ha... semakin kang mas melindungi wanita itu, maka aku akan memiliki rasa ingin membunuhnya, sepertinya Ningsih butuh teman," kata Bu Lastri.
Sedang di ruang makan, Naina tersedak saat makan dan itu membuat Romo Jalal panik.
"Pelan Naina, kenapa kamu buru-buru seperti ini," tegurnya sambil memberikan minum.
"Iya kang mas," jawab Naina.
Dia merasa seperti ada yang menyumpahinya, setelah selesai makan Naina bersiap ikut suaminya pergi untuk acara desa.
"Kang mas, kok cuma kita bukankah seharusnya istri pertama mas juga harus ikut?" tanya Naina yang merasa aneh.
Terlebih selama tinggal di rumah mewah ini, dia belum melihat istri pertama suaminya itu sama sekali.
"Tidak usah di cari, dia sedang ada di luar kota untuk melakukan pekerjaan," jawab Romo Jalal.
"Apa kang mas tak khawatir?"
"Naina! berhenti bertanya, dan sekarang kamu mau ikut atau harus aku kunci di kamar lagi!" bentak pria itu yang tak suka dengan semua pertanyaan yang terlontar dari istri mudanya.
Naina pun menunduk karena dia tak mengira jika suaminya akan marah.
__ADS_1
"Maaf kang mas," jawab Naina.
Mobil dari Romo Jalal pun berangkat menuju ke tempat acara, bahkan rombongan mobil itu terdiri dari beberapa mobil.
Sesampainya di lapangan, Fauzan dan beberapa petugas dari desa langsung menyambut Romo Jalal.
Semua orang berbaris menyapa pria itu, dan mereka tidak menyangka jika Romo akan membawa istri barunya ke acara resmi.
Ya semua juga tau jika wanita yang selama ini mendampingi Romo Jalal, nyonya Ningsih sudah berpulang beberapa hari lalu.
Sedang Naina mengikuti suaminya saja, tapi dia juga menyelami ibu-ibu yang juga ikut menyambut kedatangan mereka.
"Aduh adiknya ganteng banget Bu, ini usianya berapa bisa sehat begini," kata Naina ramah sambil menoel pipi bocah laki-laki itu.
"Baru sembilan bulan Bu, dan dia ini memang minum ASI sangat baik," kata ibu anak itu.
Tanpa di duga balita itu malah ingin di gendong oleh Naina, "mau ikut kamu, baiklah sini biar saya gendong ya," kata Naina yang memberikan tas miliknya pada Joyo.
Dia pun mengendong balita itu dengan senang hati, beberapa anak langsung mendekat dan menyapa Naina.
Bahkan hal itu membuat Romo Jalal tak menyangka jika Naina begitu mudah berbaur dengan warga desa.
Memang benar keputusannya mengajak istrinya itu, karena jika Bu Lastri itu akan sangat sulit karena sosoknya yang begitu dominan jarang bisa menyatu dengan masyarakat.
"Istriku sudah dulu, kita sudah di tunggu," panggil Romo Jalal.
"Iya kang mas," jas Naina mengembalikan balita itu.
Dan kini dia kembali mengikuti suaminya itu untuk berbaris bersama dengan jajaran tamu.
Ternyata hari ini ada peresmian sebuah sekolah gratis yang awalnya di gagas oleh Bu Ningsih.
Tapi karena beliau meninggal beberapa hari lalu, jadi nama Bu Ningsih diabadikan dalam nama sekolah dasar itu.
__ADS_1
"Untuk sambutan akan di berikan oleh Romo Jalal, waktu dan tempat saya persilahkan," kata MC.
Pria itu naik ke atas panggung, dan berdiri di mimbar, tapi tanpa di duga Nina ikut bangkit dan mendekati suaminya.
"Kang mas, ini pidato yang seharusnya di ucapkan oleh Mbak Ningsih, akan lebih baik jika kang mas membacanya," kata Naina.
Romo Jalal membacanya sekilas, dan dia tak tahan untuk bisa membaca pidato itu.
"Mohon maaf semuanya, biar istri saya yang akan memberikan sambutan mewakili saya dan Ningsih, silahkan Naina," kata Romo Jalal yang nampak mengusap air matanya.
Naina pun berdiri di mimbar, tapi menghela nafasnya sebelum memulai membacakan isi pidato itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shaloom, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, saya berdiri di sini mewakili ibu Ningsih Hartati Rahmat, istri kedua dari Romo Jalaluddin Rahmat, mengucapkan selamat atas berdirinya sekolah yang menjadi impian beliau, beliau selalu ingin melihat setiap anak mendapatkan pendidikan yang pantas, semua biaya di gratiskan, semua akan di berikan yang terbaik, dan selain ucapan terima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa, terima kasih kepada suamiku yang telah mewujudkan impian ini,aku ingat benar saat kita duduk berdua di teras rumah malam hujan yang turun tanpa henti, aku memberanikan diri untuk mengutarakan keinginan ku, Romo... panggilan yang selalu membuatnya sedikit kesal karena aku yang menyebut nama itu, aku meminta sebuah sekolah gratis dan tanpa berpikir Romo Jalal langsung mengiyakan, terima kasih suamiku, telah mewujudkan impian terakhirku, dan aku berharap suatu saat nanti aku bisa mati dalam pelukan mu dan tetap menjadi istrimu, maaf karena aku bukan istri yang terbaik untuk mu," kata Naina yang menghapus air matanya.
"Terima kasih kang mas Jalaluddin, terima kasih... aku sudah sangat bahagia sekarang," tambah Naina yang membuat suasana begitu hening.
Bahkan banyak yang meneteskan air mata, begitu pun dengan Romo Jalal yang tak bisa menutupi kesedihannya.
Naina berjalan perlahan dan menghampiri suaminya itu, "mbak Ningsih tak membenci kang mas, dia hanya tak ingin mas fokus Padanya saat aku datang nantinya," kata Naina.
Mendengar itu, Naina pun mendapatkan pelukan suaminya itu, sedang di kejauhan Naina seakan melihat ada seseorang yang tersenyum.
Akhirnya siang itu acara peresmian di laksanakan, dan Naina yang menginginkan Bu Ningsih untuk mengurus sekolah itu.
Selama acara Naina terus berbincang dengan para ibu dan anak-anak.
Dari kejauhan Fauzan melihat tawa Naina, "jaga pandangan mu Fauzan, ingat Romo tak suka jika ada orang yang ingin merebut apa yang sudah menjadi miliknya," kata Jul mengingatkan.
"Tentu saja, aku hanya melihat teman ku saja, aku dan dia itu lulusan dari sekolah yang sama, jadi jangan memikirkan hal aneh di kepala mu itu," jawab Fauzan.
"Zan! kemarilah," panggil Romo Jalal.
"Iya Romo," jawab Fauzan yang sudah pergi menemui pria itu.
__ADS_1
Sedang Jul mengawasi cara Joyo dan Agus melindungi nyonya muda mereka itu.
Karena keselamatan wanita itu menjadi prioritas saat ini, terlebih setelah kejadian buruk itu.