
Bu Lastri sampai di rumah dengan marah, dia tak suka mendengar ucapan ibu dari Fauzan.
"ada apa Lastri?" tegur Ndoro Sudarjo.
"aku tak suka dengan ucapannya, dia selalu saja membuat ku marah, mantan asisten ibu itu, Bu Zuli itu menyebalkan," terang Bu Lastri.
"kamu baru tau jika dia itu menyebalkan, ayah saja tak menyukainya," kata Ndoro Sudarjo.
"tapi ucapannya itu Membuatku marah,dia mengatakan jika istri muda suamiku itu di rumah selir bukan karena dia itu di benci melainkan sebaliknya," kata Bu Lastri.
"memang aku pernah bilang jika aku membenci Naina, aku hanya bilang jika aku marah padanya," saut Romo Jalal.
"apa... mas ingin membuat ku terluka dengan seburuk ini? kenapa membohongi ku, kamu membuatku merasa jika aku adalah satu-satunya ternyata itu hanya impian ku saja, kamu begitu menyebalkan mas!" terbaik Bu Lastri.
"jangan berulah Lastri, ingat kenapa.aku seperti ini,kamu tau jika Ningsih itu rekan kerja terbaik ku, tapi kamu dengan seenaknya saja membunuhnya, bahkan di pelayan yang layani dia pun kamu bunuh, kamu ini manusia atau hewan," marah Romo Jalal.
"Jalal ingat siapa fotoku, beraninya kamu meninggikan suara mu pada putriku," marah Ndoro Sudarjo.
"kenapa, anda marah, inilah putri yang anda banggakan, jika dia menikahi pria selain diriku, aku jamin tak akan ada yang mau, jika aku tak punya hutang Budi, aku pun tak ingin menikahinya," kata Romo Jalal tegas.
"kamu sudah berani menantang ku ya Jalal, aku ingin lihat bisa spa kamu tanpa Lastri, sekarang kemasi barang mu Lastri, kamu harus ikut ayah, dan biarkan saja pria busuk ini, dasar tak tau malu," kata Ndoro Sudarjo.
"ayah jangan seperti ini, jangan memaksaku ayah," panik bu Lastri.
pasalnya jika dia pergi dari rumah itu sksn membuat suaminya makin dekat dengan Naina dan dia tak ingin itu terjadi.
tapi Ndoro Sudarjo memastikan hal itu tak akan terjadi karena dia menaruh beberapa orang kepercayaannya.
__ADS_1
Bu Lastri di tarik pergi dengan paksa, ada dua pria yang terlihat menunduk pada pria itu.
keduanya pun kemudian berlagak biasa, tapi sayangnya mereka tak lepas dari pengawasan bocah yang sekarang menjadi pengawal setia dari Romo Jalal.
bahkan dua pelayan itu juga mengikuti Bu Lastri yang di paksa pulang.
Romo Jalal awalnya ingin langsung menemui Naina karena dia akhirnya bebas, tapi langkahnya di hadang oleh Nanang.
"ada apa Nang?"
bocah itu belum bicara tapi hanya mengeleng, pasalnya dia tau dua orang suruhan pria tua tadi ada di belakang Romo Jalal.
Romo Jalal pun mengerti sesuatu, tentu saja dia sadar tentang kebiasaan dari mertuanya yang sering menempatkan orang di sekitarnya.
"ada di kedua sayap sekarang!" teriak Nanang.
Romo Jalal tak mengira jika bocah dua belas tahun ini mengerti cara bermain.
"kita harus pergi," kata Romo Jalal
"tidak boleh, karena Romo bisa membahayakan nyawa nyonya, karena di rumah selir sekarang pasti sudah ada orang juga," kata Jul yang mengerti sesuatu.
"tapi aku tak akan tenang jika membiarkan Naina di sana," kata Romo Jalal.
"biarkan saya yang jalan, karena itu lebih aman," jawab Alip yang mengajak Nanang.
"baiklah, pastikan dia aman untuk malam ini, Jul dan Sarno bereskan semua anak buah pria tua itu," perintah Romo Jalal.
__ADS_1
"baik Romo," jawab keduanya.
akhirnya malam panjang itu menjadi ajang bersih-bersih desa dari seluruh orang Ndoro Sudarjo.
Jul dan Sarno benar-benar tanpa ampun, mereka menebas dan mematahkan leher semua orang itu dengan mudah.
tak hanya itu, saat Alip sampai di rumah selir, dia menyadari ada enam orang yang sedang mengawasi.
"ada enam burung Nang, kamu harus ingat itu," kata Alip yang masuk ke tempat itu.
"bukan enam tapi sepuluh," jawab Nanang yang memang memiliki pendengaran yang sangat peka.
ternyata yang empat sudah masuk dan menahan nyonya muda, dan itu membuat Alip kaget.
"sialan, kita kecolongan," marah Alip yang tak sabar.
"tentu saja tidak, karena aku bukan wanita bodoh yang akan diam diri tanpa menyiapkan apapun," kata Naina yang membuat empat orang itu mati dengan Jatim beracun berkata mbok Jum yang memberikan pada Naina.
"bagus di luar ada enam," kata Alip.
tanpa di duga Nanang menghampiri mayat pria itu dan mengambil jarum beracun itu, "apa ini sama dengan bisa ular?" tanya bocah itu.
"kamu bisa keracunan!!" kaget mbok Jum.
mereka semua kaget saat Nanang menjilat jarum beracun itu, tapi bocah itu nampak santai dan tak terlihat ada gejala yang aneh.
"kamu bocah beracun anak dari Yuyun?" tanya mbok Jum
__ADS_1