Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
aku mencintai dirinya


__ADS_3

sebenarnya Naina sudah sadar dari tadi, dan dia hampir saja berontak tadi, tapi beruntung sebelum dokter mesum itu di lecehkan.


suaminya itu sudah menolongnya, dan sekarang Naina memeluk leher suaminya itu erat, "aku lebih baik mati saja saat mereka menatapku dengan tatapan mata menjijikan itu," bisik Naina.


"tidak..." geram Romo Jalal.


bahkan pria itu sekarang mengeratkan pelukan di tubuh istrinya itu.


mereka pun memutuskan untuk pulang saja, dan memanggil dokter pribadi.


selama di rumah Naina hanya diam saja, dan dokter mengatakan jika Naina ini stres dan banyak pikiran.


jadi Romo Jalal harus mengajak istrinya itu liburan karena jika tidak, yang di takutkan kondisi Naina akan semakin buruk.


setelah dokter pergi dan memberikan obat untuk Naina agar bisa tidur dengan lelap.


Romo Jalal pun mengajak Jul, Agus dan Sarno menuju ke tempat yang bahkan tak mereka ketahui.


"Romo bukankah ini rumah Hardi, kenapa kita di sini?" tanya Agus.


"kamu bilang dia menghina istriku bukan, maka aku akan membuatnya menerima hukumannya," kata Romo Jalal.


mereka bertiga hanya saling pandang saja, mereka tak yakin jika pria itu bisa melakukannya.


tapi Romo Jalal keluar dengan membawa golok tajam yang selalu menemaninya selama ini.


mereka bertiga pun ikut melakukan hal yang sama, membawa golok yang biasa mereka gunakan untuk menyelesaikan para musuh.


Romo Jalal nomor satu, para pengawal dari pria itu menghalangi pun langsung di tegas habis.


melihat hal itu, Jul, Agus dan Sarno langsung melakukan hal yang sama, karena mereka menerima perintah dari kode yang di kirimkan oleh Romo Jalal.


setelah semua beres, kini mereka berempat masuk kedalam rumah, Hardi bangun karena ada pergerakan yang mencurigakan.


"siapa kalian berani masuk kedalam rumah ku, mau mati!!" teriaknya dengan keras.

__ADS_1


Romo Jalal membuka kupluk yang dia gunakan, Hardi tersenyum melihat kakak iparnya itu.


"wah kedatangan yang yang menyenangkan, ada apa kakak ipar ku, kamu tak mungkin datang ingin melakukan sesuatu padaku bukan, terlebih kamu sudah terikat janji loh," kata Hardi percaya diri


"jika kamu tau aku terikat janji dengan Ndoro Sudarjo, kenapa kamu mengunakannya untuk menghina istriku," kata Romo Jalal.


"ayolah kakak ipar itu hanya bercandaan, jika istri mu mau aku juga tak-"


sring....


kepala pria itu terpental karena golok milik Romo Jalal memenggal kepala Hardi.


"kamu mati... bereskan semuanya, karena ada orang yang harus tau posisimu sekarang," perintah Romo Jalal.


akhirnya kepala empat orang sudah di bawa, dan mereka memerintahkan semua anak buah untuk mengubur jasad mereka semua di rumah itu.


dan tak hanya itu, mereka juga mematikan tak akan ada yang curiga setelahnya karna Alip adalah orang yang paling pintar menyelesaikan hal seperti ini.


Bu Lastri sedang menikmati apel yang di kirimkan oleh pelayannya, pasalnya dia menerima laporan jika Romo Jalal dan Naina sedang bertengkar hebat.


itu semakin membuatnya senang, karena Romo Jalal akhirnya melukai Naina saat marah.


"jangan harap, aku ingin memberi mu hadiah sedikit, nikmatilah!!" kata Romo Jalal yang melempar empat kepala itu ke pangkuan Bu Lastri.


wanita itu terkejut bukan main, pasalnya wanita itu mengambil salah satu kepala dan langsung berteriak histeris.


"Hardi!!" teriaknya melihat adik angkatnya sudah terpenggal karena suaminya sendiri.


"kamu jahat kang mas, kamu membunuh Hardi, padahal kamu sudah punya janji pada ayah ku untuk melindungi dia, tapi kamu menghianatinya!!" teriak Bu Lastri.


"memang itu urusan ku, karena aku punya janji itu, tak berarti aku terus memaafkan kegilaan pria itu, sekarang ini akibatnya," kata Romo Jalal yang langsung pergi.


pria itu membiarkan Bu Lastri menangis histeris menangisi kepergian adiknya itu.


sedang Romo Jalal bersiap untuk mengajak Naina dan anaknya untuk pergi ke tempat liburan.

__ADS_1


terlebih mereka berdua belum pernah liburan bersama setelah kelahiran dua anak mereka.


Naina bangun dan merasa dirinya sangat ringan, tapi dia menoleh dan melihat suaminya itu masih terlelap.


dia pun turun perlahan untuk melihat dua anaknya apa sudah bangun, tapi melihat keributan di luar membuatnya sedikit aneh karena suaminya itu tak terganggu.


"loh nyonya cepat ganti baju atau mandi, kita mau jalan-jalan," kata mbok Siti.


"tapi suami saya masih tidur Mbok," jawab Naina.


"ya maklum saja nyonya, kan semalam Romo Jalal tak tidur dan langsung membereskan pria yang ingin membuat anda puas itu," kata Jul.


"apa? bagaimana bisa itu tak mungkin karena kang mas sudah berjanji pada keluarga Sudarjo bukan?"


"lihat sendiri, bagaimana wanita ini menggila karena melihat semua kepala keluarga terakhirnya di penggal oleh Romo Jalal," kata mbok Jum tersenyum puas.


Naina tak percaya, dan dia berlari masuk kedalam kamar malah menabrak tubuh suaminya yang sudah berdiri di depannya.


"Jul bawa anak-anak dan yang lain duluan, nanti biar aku pergi dengan Alip dan Joyo," perintah Romo Jalal.


"baik Romo," jawab Jul.


Naina melihat suaminya itu dengan tatapan tak percaya, "apa? kenapa bisa seperti itu?"


"karena pria itu berani menghina istriku, jadi aku tak segan untuk membuatnya menemui Tuhan bukan," kata Romo Jalal


Naina pun memeluknya erat, "sudah kita harus berangkat," kata pria itu


"kemana?"


"pergi ke suatu tempat, sudah kita pergi tapi sebelum itu maafkan aku yang sekarang membuat mu terluka seperti ini,pasti sangat sakit ya," kata Romo Jalal.


"itu juga karena diriku juga yang terlalu menantang kang mas," jawab Naina.


mereka berdua pun mandi bersama, dan hanya mandi, tak hanya itu mereka segera menyusul karena takut jika dua bocah itu menangis bisa repot.

__ADS_1


perjalanan mereka tak lama kok karena hanya ke rumah villa di daerah perbukitan itu.


saat sampai dua bocah itu sangat senang karena bisa berlarian di sana, terlebih suasana sejuk itu tak membuat keduanya terganggu.


__ADS_2