
motor dari Fauzan dan Jul sampai di rumah RT yang menjadi penanggung jawab semua kegiatan di daerah sana.
bukan mereka malas, tapi karena tempat yang cukup jauh, jadi dia menyerahkan semua tugas itu pada RT itu.
rumah ketua RT itu mengejutkan Naina, bagaimana bisa ketua RT itu memiliki rumah yang sangat bagus seperti ini, saat masyarakatnya begitu kesulitan.
seorang pria keluar dan menyambut baik kedatangan Fauzan dan Jul, "wah ada apa ini kok cak Jul dan mas Fauzan datang," kata pria itu yang mengira akan ada bantuan lagi
"kenapa kamu tak membagikan sembako itu, yang jumlahnya tak sedikit, kamu tilep dan membiarkan masyarakat mu yang miskin kelaparan?" kata Jul menatapnya marah.
"hmm.. he-he-he apa maksud cak Jul, itu mana mungkin," kata pria itu yang tak ingin mengaku.
"dan beritahu aku, dimana uang yang kemarin aku sirih kamu bagikan, bukankah seharusnya mereka menerimanya, tapi aku terima laporan jika Semuanya tidak ada yang dapat," kata Fauzan marah.
"itu tidak mungkin, karena saya orang kepercayaan nyonya Lastri, jadi kalian tak berhak untuk mempertanyakan hal itu padaku, ha-ha-ha" kata pria itu yang tertawa mengejek keduanya.
"dasar pria bajingan, aku akan membunuh mu," marah Jul.
"bunuh saja, tapi apa kamu lupa, jika kamu tak bisa melukai ku sebagai orang nyonya sepuh," kata pria itu yang membuat Jul marah dan melempar meja kaca itu hingga hancur.
Naina turun dia membawa rotan yang sekarang menjadi senjata miliknya.
tanpa di duga, Naina langsung menghajar pria itu dengan rotan yang di bawa olehnya.
dan saat itu semua pengawal yang di bawah perintahnya datang, "seret semua keluarga pria ini yang menikmati kemewahan dari harta yang dia curi, kurung di balai desa, dan biarkan jadi pelajaran untuk semua orang kepercayaan dari Romo Jalal," perintah Naina.
"wanita sialan!! siapa kamu berani menginjak ku, aku adalah sepupu jauh dari nyonya sepuh," kata pria itu menantang Naina.
tanpa di duga Naina langsung memukul rotan itu ke wajah pria itu lagi, bahkan sekarang tanpa ampun.
"cak Jul,buat dia cacat," perintah Naina yang langsung di laksanakan oleh Jul.
pria itu mematahkan kaki pria itu dengan sekali putar, pria itu pun berteriak kesakitan di saksikan semua orang dan keluarganya.
"beraninya kamu menyombongkan hubungan keluarga mu itu, asal kamu tau sekarang nyonya sepuh tak memiliki hak apapun di rumah besar Rahmat, bahkan semua perusahaan yang di pegang di ambil alih oleh Romo Jalal, dan aku adalah nyonya rumah yang batu, jadi kamu akan mati di tangan ku, laporkan pada Romo Jalal, di saksikan semua warga RT kosong tujuh yang tak menerima keadilan, aku akan menuntut pria ini untuk hukuman yang pantas, begitupun dengan keluarganya yang bersenang-senang dengan hak orang lain," kata Naina.
semua warga RT kosong tujuh pun langsung merasa senang, sekarang mereka sudah tak kesulitan lagi
terlebih tak ada lagi ancaman, bahkan seorang warga langsung bersujud di kaki Naina, "jangan pak, saya hanya menjalankan tugas Romo, cak Jul dan Agus tolong bagikan sembako, dan untuk jali ini gunakan uang di kartu ini, sebelum Romo pulang, kita tak bisa menyentuh barang bukti, dan tolong bawa warga yang sakit untuk berobat," perintah Naina.
"baik nyonya," jawab Jul.
"hidup nyonya Naina!!"
"hidup!!"
__ADS_1
Hidup nyonya Naina!!"
"hidup!!"
Hidup nyonya Naina!!"
"hidup!!"
Hidup nyonya Naina!!"
"hidup!!"
semua warga sangat senang karena kunjungan naina kali ini mereka semua tertolong.
kini mobil di kemudikan oleh Sutris dan Nanang juga ikut datang memastikan nyonya nya itu selamat.
sesampainya di rumah Naina langsung mandi dan tiba-tiba dia mual, untungnya itu hanya sebentar saja.
mbok Jum datang membawa salep dan juga jamu yang membuat wanita itu pilih dengan sangat cepat.
seperti biasa, mbok Jum menunjukkan jika jamu itu tak beracun.
"saya dengar nyonya melakukan hal hebat,"
"saya dengar anda juga membantu seorang wanita tua mengendong kayu, biarkan saya melihat punggung anda apa ada luka atau tidak," tanya mbok Jum.
Naina pun dengan senang hati menunjukkan punggungnya, ternyata hanya lecet karena duri sepertinya.
mbok Jum mengoleskan salep karena tak ingin ada bekas luka di punggung indah Naina.
karena wanita itu adalah orang yang sangat berharga bagi Romo Jalal.
setelah mengobati Naina, mbok Jum pun kembali ke kamarnya yang sama dengan mbok Ijah dan mbok Siti.
dan kini Naina duduk melihat kedua anaknya yang tertidur dengan tenang, dan di kota Romo Jalal yang menerimanya laporan buruk seperti itu pun marah besar.
tapi dia tak menyangka jika sebagian sudah di bereskan oleh istrinya itu.
Romo Jalal pun memutuskan untuk menghubungi istrinya itu, melihat ponselnya yang menerima panggilan.
Naina pun langsung mengarahkan ponselnya ke arah dirinya yang sedang main dengan dua anaknya.
"halo kang mas, anak-anak itu ayah telpon," kata Naina yang mengajak dia anaknya ngobrol.
"kenapa kamu mengenakan kain seperti itu saat suamimu ini tak di rumah," kata Romo Jalal.
__ADS_1
"maaf kang mas, punggung ku sedikit terluka, jadi kata mbok Jum harus di biarkan seperti ini dulu, jika tidak akan sangat lama sembuhnya," jawab Naina
"baiklah sayang, jika besok semuanya beres, aku akan segera pulang karena aku sangat merindukan mu, entahlah sepertinya aku benar-benar merindukan mu dan anak-anak," kata Romo Jalal.
"iya kang mas, kami akan menunggu kepulangan mu," jawab Naina.
di rumah, Fauzan sedang berpikir keras, bagaimana bisa Naina berubah sedrastis itu.
"ada apa le, kenapa berpikirnya sampai itu kening mengkerut begitu," kata Bu Yuni.
"iya Bu, aku tak menyangka jika Naina sekarang sangat berubah, bahkan sekarang dia persis seperti Romo Jalal, tanpa ampun," jawab Fauzan.
"kenapa kamu memikirkan hal seperti itu le, sekarang setiap orang harus mengubah dirinya seperti keadaan di sekitarnya, karena menurut ibu itu juga yang di lakukan oleh Naina,"
"iya Bu, ya sudah aku mau mandi terus ke balai desa lagi, karena gara-gara RT bajingan itu menambah pekerjaan saja, seandainya Romo di desa, sudah gabis tuh orang," kata Fauzan.
"ya sudah tak usah marah, nanti ibu buatkan makanan untuk mu dan yang lain, sudah mandi dulu sana," perintah ibunya.
Fauzan pun mengangguk dan bergegas pergi mandi, sedang di rumah Naina meminta para pelayan membuatkan gorengan, agar bisa di nikmati oleh para pria yang menjaga para pendosa itu.
setelah itu dia pun beristirahat, dan dia memilih untuk menidurkan kedua anaknya di ranjang.
karena dia sangat merindukan Romo Jalal yang juga begitu sibuk hingga belum bisa pulang.
malam itu, Romo Jalal membereskannya, semua pekerja yang terbengkalai kini sudah beres.
dia pun meminta beberapa orang kepercayaannya untuk datang ke desa, jika memang ada keadaan yang mendesak.
"baiklah rapat saya akhirnya, selamat malam," kata Romo ****** yang bersiap untuk pulang
tapi seorang pria menghentikan pria itu, dia adalah orang yang ingin membuat proyek pembangkit listrik tenaga matahari.
karena Romo Jalal menolaknya, sekarang pria itu datang untuk memberikan penawaran menarik lain.
"Romo Jalal tolong setujui proyek itu, karena ini yang akan di untungkan adalah Romo," kata pria itu.
"aku selalu melihat sebab akibat dalam berbisnis, proyek mu kurang matang, lebih baik selesaikan semua dulu," perintah Romo Jalal.
"tolong lah Romo, kalau begitu tetap tunggu di kota untuk dua hati, saya akan mendatangkan proyek ini, dan saya sudah sediakan villa dan juga para wanita, tidak untuk Romo Jalal saja, tapi untuk semua asisten pribadi anda juga," kata pria itu tersenyum penuh arti.
"kamu ingin menyogok ku dengan wanita kotor, sayangnya tak semua wanita bisa naik ke ranjang ku, karena itu harus ada kriteria khusus, dan yang paling penting aku tak menyentuh wanita yang bukan istriku," kata Romo Jalal.
dia pun langsung pergi meninggalkan pria itu, "Alip, coret pria itu dari daftar kerjasama kita,"
"baik Romo," jawabnya.
__ADS_1