
Naina dan Jul sampai di pabrik, semua orang memberikan dalam hormat pada keduanya.
terlebih semalam semua pegawai habis di bentak oleh Jul karena berani mendiamkan saja semua hal yang terjadi.
Naina maduk kedalam kantornya, dan Jul duduk di meja khusus miliknya yang ada di depan ruangan kepala pimpinan.
sedang di rumah para bocah itu sedang cukup jail hari ini, bagaimana tidak, mereka sekarang sedang bermain dengan ayam di luar rumah.
karena semua sedang di luar, jadi tugas Ina dan Yulia di pindahkan untuk menjaga kedua bocah itu.
"ini kenapa kita malah menjaga dua tuan kecil ini, bukankah tugas kita memasak," kata Ina kesal
"sudah sabar saja, den Dirga jangan di tarik begitu bulunya, kasihan dong ayamnya kesakitan," kata Yulia yang menangkap bocah itu yang dari tadi terus berlarian.
"aduh mbok Yulia ini kenapa, biasanya mbok Siti tak pernah melarang ku!" teriak dan berontak.
mendapati hal seperti itu, Yulia tak ingin jika Dirga jadi pria yang akan tak tau rasa kasihan.
"iya maaf ya tuan muda, bagaimana jika tuan muda kecil menjadi ayam terus bulunya di cabut paksa, apa tidak sakit," kata Yulia memberikan sedikit gambaran.
"ya sakit, tapi mereka cuma hewan,"
"meskipun hewan juga bisa merasakan sakit dan sedih, mereka juga punya hak untuk hidup dan di sayangi, jadi kalau main yang baik ya," kata Yulia dengan lembut.
"baiklah kalau begitu," kata bocah itu yang kini berjalan mengambil kelinci dan mengambilnya.
karena berat badan kelinci itu cukup besar hingga kesulitan, "ada apa kok Aden kecil ambil kelinci ini?" tanya Yulia.
"aku mau mamam ini," kata Dirga.
"siap den," jawab Yulia.
Yulia mengambil dua ekor kelinci yang memang ada sekitar dua puluh ekor itu.
"mbok Ijah, ini bisa di makan? karena Aden kecil mau makan ini?" tanya Yulia.
"bisa, ambil saja minta seseorang membunuhnya," kata mbok Ijah yang baru saja pijat dan sekarang tubuhnya terasa lebih segar.
"aku bisa membunuhnya sendiri, ayo den mau lihat," tanya Yulia yang mengajak bocah itu ke area belakang.
mbok Ijah kaget mendengar itu, dan Ina karena penasaran dia juga ikut ke belakang rumah.
ternyata benar-benar tidak terduga, Yulia yang tadi mengajarkan tentang rasa kasih sayang.
kini malah mengajarkan cara membunuh kelinci, dan Dirga memperhatikan dengan seksama.
__ADS_1
"ingat ya den, meski kita bisa membunuh hewan seperti ini, tapi tak boleh membunuh tanpa alasan, seperti hari ini kita membunuh kelinci ini karena ingin makan, mengerti," kata Yulia.
"siap mbok," jawab bocah itu.
setelah di bunuh, kemudian di kuliti begitu saja, dan kemudian langsung di bawa ke dapur.
Dirga terus memperhatikan bagaimana Yulia memasak di dapur, sedang Dewi juga ikut ke dapur.
"aku mau makan ini!!" kata bocah perempuan itu.
"baiklah nona muda, mau di masak apa ini ikan patin nya untuk makan siang?" tanya Ina.
"mau di masak yang kuning dengan cabai satu ya," kata bocah itu.
"oh maksudnya di masak pepes tidak pedas ya, siap deh, mau belajar juga?" tanya Ina.
gadis itu mengangguk, jadi Ina mengikat rambut gadis kecil itu agar tak ada yang jatuh kemakanan nanti.
mereka semua masak bersama, daging kelinci sudah di presto hingga lembut.
jadi sekarang tinggal di bakar dengan bumbu kecap sesuai keinginan Dirga.
setelah membantu masak, keduanya pun makan didapur dengan sangat senang, bahkan Dirga terus makan dengan lahap.
mbok Siti merasa tak suka melihat Yulia dan Ina yang begitu mudah dekat dengan kedua anak majikannya.
setelah makan, Ina dan Yulia yang langsung memandikan keduanya, setelah itu mereka mengajak keduanya untuk tidur siang.
Naina dan Romo Jalal pulang dari pabrik dan kantor desa, keduanya kaget saat masuk kedalam kamar malah melihat Ina dan Yulia.
akhirnya keduanya di minta keluar oleh Naina, "kenapa kalian yang jaga anak-anak, mana mbok Ijah dan mbok Siti?"
"saya yang meminta tolong nyonya, saya merasa tidak sanggup lagi mengejar kedua Aden yang lari-lari saat main, jadi bisa saya tukar tempat saja," mohon mbok Ijah
"baiklah, tapi apa mereka bisa dipercaya?" tanya Naina yang tak ingin kedua anaknya salah asuhan.
"tidak nyonya, mereka tadi mengajak mereka main di dapur," kata mbok Siti.
"maaf saya menyela, karena kami tidak mengajaknya main ke dapur, tapi kami belajar untuk memasak, dan mengenalkan semua bahan yang ada di dapur, saya juga menjelaskan tentang membunuh hewan untuk di konsumsi dan hewan peliharaan, dan itu juga di lakukan boleh Ina, terlebih nona kecil juga sangat tertarik dengan berbagai bau yang dia cium dari bumbu dapur, dan sangat suka di ajari memasak," kata Yulia yang tak ingin di salahkan.
"baiklah, sekarang kalian yang menjaga anak-anak, dan untuk mu mbok Siti, seharusnya kamu lebih perhatian pada semua bawahan mu, atau kamu mau libur dulu selama seminggu, aku izinkan," kata Romo Jalal.
"terima kasih atas kebaikan Romo Jalal," jawab wanita itu yang langsung mengiyakan tanpa membantah.
Jul tak menyangka jika Yulia bisa membalas ucapan yang menyudutkan dirinya, bahkan saat Ina sudah terlihat takut, tidak dengan istrinya.
__ADS_1
"ngomong-ngomong apa kelincinya masih ada," tanya Naina.
"masih nyonya, dan saya sudah menyisihkan sebagian untuk Romo dan nyonya, Monggo biar saya siapkan, mbak titip anak-anak ya," kata Yulia.
"siap," jawab Ina.
dia pun segera menyiapkan makan siang di bantu mbok Ijah, dan tak butuh waktu lama semua tertata.
Romo Jalal benar-benar tak menyangka jika istri dari anak buah kepercayaannya itu sangat cekatan persis seperti suaminya.
setelah selesai makan, Naina mengizinkan semuanya istirahat siang ini, karena dia ingin tidur bersama anak-anak.
dan dia sendiri dan Romo Jalal yang akan menjaga mereka, jadi Jul mengajak istrinya itu pulang dan menikmati makan siang bersama.
setelah itu tentu saja menikmati waktu bersama istrinya, dan siang itu benar-benar membuat kedua tak keluar rumah, bahkan ponsel di matikan dan membuat seolah tak ada orang di rumah.
Mbok Siti sebenarnya ingin meminta tolong pada Jul untuk mengantarnya pulang, tapi melihat rumah dan ponselnya yang tak bis Adi hubungi membuat mbok Siti meminta tolong pada yang lain.
Jul akhir sekarang seperti temannya yang lain, karena dia benar-benar bisa menikmati hidup.
tak terasa hari berganti bulan, kini kandungan dari Naina juga sudah sangat besar.
dan hari perkiraan lahir juga sudah tinggal menghitung hari, tapi Romo Jalal malah makin sibuk di kegiatan desa.
Yulia dan Ina menemani wanita itu yang sedang santai sambil mengawasi anaknya bermain.
tanpa terduga tak sengaja Dirga melempar bola basket ke arah Naina, tapi untung Yulia berhasil mencegahnya melukai Naina.
tapi karena terkejut, tiba-tiba ada air ketuban yang mengalir begitu saja, itu mengejutkan Yulia dan Ina.
"nyonya!!" kata mereka panik
keduanya pun langsung menghubungi semua orang, tapi Naina tak sanggup lagi, jadi mereka melakukan pertolongan sambil menunggu bidan.
tapi karena dia pernah melakukan operasi sesar, jadi dia terpaksa harus melahirkan sesar lagi.
jadi dia di bawa ke rumah sakit terdekat, dan beruntung bayi bisa diselamatkan begitupun dengan ibu.
Romo Jalal yang mendengar tentang kelahiran putra ketiganya pun segera ke rumah sakit.
sesampainya di sana ternyata bayinya itu cukup besar, dan akhirnya keluarga mereka semakin besar.
Romo Jalal tak menyangka akan jadi ayah dari tiga orang anak, karena dulu meski memiliki dua wanita di sisinya.tapi tetap saja menjadi ayah seperti mustahil untuknya.
beruntung sekarang semua impian yang nampak mustahil itu dapat di wujudkan oleh istri yang paling dia cintai.
__ADS_1
Naina yang memberikan kebahagiaan pada dirinyalah di usia yang sudah sangat matang.