Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
tetap istriku


__ADS_3

Bu Lastri kaget dengan reaksi suaminya itu, pasalnya Romo Jalal kali ini benar-benar marah dengan ulahnya.


"Kang mas, aku juga istrimu, kenapa hanya terus fokus pada Naina, dia itu sudah tak beres dan otaknya sudah rusak," marah Bu Lastri.


"Meski begitu, dia tetap istriku!! jadi jangan bertingkah atau aku akan lupa jika kamu juga istriku!!" bentak Romo Jalal


Mendengar hal itu, Bu Lastri sangat sakit hati, tapi dia tak bisa melakukan apapun karena itu menyakiti dirinya.


Romo Jalal pun memutuskan untuk ke rumah bagian kiri, dan itu sangat melukai Bu Lastri karena meski Naina sudah tak waras.


Wanita itu tetap menjadi kesayangan suaminya, "ini terakhir kali Naina, jika aku berhasil membujuk kang mas menikah, aku akan pastikan jika dia akan meninggalkan dirimu," kata Bu Lastri geram dan marah.


Tapi juga percuma menyakiti wanita bodoh dan tak sempurna secara mental seperti Naina itu.


Romo Jalal pun sampai di rumah bagian kiri, dan melihat Naina sedang bermain di lantai.


"Apa yang kalian lakukan, kenapa membiarkan istriku min di lantai,bangun Naina," kata Romo Jalal.


"Kenapa Romo, Romo jahat katanya cuma sebentar tadi lama..." kata Naina yang merajuk


"Maafkan aku ya, ada sedikit hambatan saat akan aku kesini," kata Romo Jalal yang tak bisa mengatakan apa yang terjadi.


"Oke, sekarang Romo bantu Naina untuk cuci kaki dan tidur ya, Naina mau tidur di peluk sama Romo,"


"Baiklah ayo kita bersiap tidur," jawab Romo Jalal.


Mereka pun bersiap untuk pergi ke kamar mandi dan masuk kedalam kamar.


Naina terkagum dengan kamar yang baru di bangun ini, bahkan dia tak menyangka kamar miliknya akan jadi begitu besar dan luas.


Bahkan ranjang saja berukuran sangat besar, tak hanya itu kamar mandi juga cukup mewah.


"Sekarang tidur ya Naina," kata Romo Jalal yang menemani wanita itu.


Naina pun mendekat dan langsung memeluk tubuh pria itu, padahal Romo Jalal sedang berusaha keras untuk menahan dirinya.


Dia tak mau kan jika di tuduh memperkosa istrinya sendiri yang sedang sakit.


Tapi berbeda dengan Romo Jalal, Naina yang merasakan benda keras pun malah makin mendekati suaminya.


Romo Jalal pun akhirnya ingin pergi tapi di tahan oleh Naina, "jangan pergi..."


"Naina, kang mas kebelet pipis," bisik Romo Jalal.


"Naina ikut..." katanya memohon dan seolah tak mau di tinggalkan oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Jangan Naina, ini bahaya karena nanti ada ular yang bisa gigit loh," kata Romo Jalal.


"Mana!! Naina mau lihat," kata wanita itu dengan semangat.


Bahkan itu membuat Romo Jalal frustasi, tapi dia juga tak bisa melakukan apapun lagi dan hanya bisa pasrah.


Sedang dengan usil wanita itu ingin mengerjai suaminya itu yang di pastikan akan bingung.


Bukan karena apa, tapi karena dia tak bisa menolak semua keinginan Naina.


Dan mereka sampai di kamar mandi, saat Romo Jalal sedang pipis, Naina dengan sengaja bermain di bawah shower.


Otomatis dia pun basah dan yang membuat Romo Jalal makin terkejut adalah karena di balik baju tidurnya.


Ternyata Naina tak mengenakan pakaian dalam, dan itu pun nyeplak semuanya.


"Apa yang kamu lakukan, kamu bisa sakit," kata Romo Jalal kaget yang langsung mematikan pancuran shower itu.


"Ih kok di matikan sih hujannya, jarang ada hujan aku mau main dulu," kata Naina mulai kesal dan memukul dada Romo Jalal


Akhirnya Romo Jalal memeluk pinggang Naina dengan erat, dan kemudian menyalakan shower.


Mereka berdua pun menikmati guyuran shower berdua, dan kali ini Romo Jalal tak menyia-nyiakan hal itu.


Dia pun menikmati malam ini dengan Naina di bawah guyuran shower.


Bagaimana bisa Naina menikmati setiap sentuhannya dan tak berontak sedikitpun.


Bahkan dia tadi sempat melakukan pukulan karena terbawa kebiasaan, tapi Naina tampak santai.


"Naina kenapa kamu tak teriak saat aku melakukannya," tanya Romo Jalal.


"Kenapa berontak,Romo orang baik dan itu tadi enak loh, tapi kaki Naina lemas," jawab wanita itu tanpa dosa.


Romo Jalal pun mengaruk kepalanya dengan bingung, bagaimana tidak dia sepertinya salah bicara.


"Tapi kamu tak boleh melakukannya dengan orang lain, hanya boleh dengan Romo," kata Romo Jalal.


"Kenapa, bukankah Agus juga baik, dan kalau Naina mau, harus cari Romo?" tanya Naina.


"Itu benar, ah... ini pembicaraan apa sih," kata Romo Jalal pusing.


Setelah rambut panjang Naina kering, mereka berdua pun mulai merebahkan diri untuk tidur.


Keesokan harinya, Romo Jalal bangun bersama Naina yang sudah cantik dengan rambut di kepang satu.

__ADS_1


Bu Lastri merasa tak suka, karena meski Naina bodoh dia tetap mendapatkan perhatian dari suaminya.


"Hari ini aku ada pekerjaan penting di luar kota, jadi Lastri jangan ganggu Naina karena dia sudah orang yang menjaganya," kata Romo Jalal mengingatkan.


"Aku juga tak ingin, lagi pula aku punya kegiatan lain, yaitu menyiapkan pernikahan mu kang mas," kata Bu Lastri.


"Apa... Romo mau menikah, terus Naina nanti sana siapa ... tidak boleh menikah .." kata Naina yang mulai menangis dan memeluk Romo Jalal.


Bahkan wanita itu memeluknya di depan semua orang, melihat hal itu Bu Lastri marah karena Naina tak punya sopan santun.


"Naina jaga sikap mu!!" bentak Bu Lastri.


"Tidak mau, wanita jahat pergi dari Naina," tangis Naina yang masih terdengar keras.


"Tidak apa-apa Naina, Romo tak akan menikah dan hanya akan bersama Naina," kata Romo Jalal


"Janji Romo?" tanya Naina memastikan dengan memberikan jari kelingkingnya.


"Janji sayang,"


"Oke," jawab Naina.


Pria itu kini sudah berangkat kerja, dan sekarang Naina pun harus mulai membalaskan dendam pada Bu Lastri.


Karena wanita itu sudah sangat keterlaluan padanya, bahkan entah berapa nyawa orang yang sudah melayang di tangannya.


Naina berjalan dengan membawa boneka beruang miliknya, dan tatapan wanita itu kini berubah.


Dia mengambil pedang yang selama ini di gunakan untuk pajangan di rumah utama.


Naina masuk dengan menyeret pedang itu, "Jum... Jum..." panggilnya.


Mbok Jum yang mendengar ada yang memanggilnya pun menoleh, dia kaget melihat Naina yang sedang berjalan menyeret pedang.


"Jum... main yuk, kita main potong-potong yuk, aku bawa pisaunya, ayo main..." panggil Naina dengan tatapan tajam.


"Nyonya sepuh tolong aku!!" teriak mbok Jum yang langsung lari ke arah Bu Lastri yang sedang di ruang tamu di pendopo.


Naina pun bergegas menaruh pedang itu kembali, mbok Siti dan mbok Ijah yang membersihkan semuanya.


"Tolong nyonya sepuh, nyonya Naina sudah gila, dia mau memotong ku, dia di rumah utama!!" teriak mbok Jum ketakutan.


"Apa yang kamu katakan, kamu gila ya!" bentak Bu Lastri.


"Beneran nyonya, saya tidak bohong jika nyonya Naina di rumah utama sedang ingin membunuh ku," kata mbok Jum.

__ADS_1


Mendengar itu, Bu Lastri pun meninggalkan kegiatannya melihat brukat dan melihat Naina.


__ADS_2