Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
buang semua.


__ADS_3

Naina sedang fokus mengerjakan beberapa proyek untuk membantu pertumbuhan desa semakin maju.


ya mereka sedang membahas untuk perluasan akses kesehatan untuk warga, bahkan Naina tak segan untuk mengelontorkan uang yang besar agar warga tak harus keluar desa untuk berobat.


bahkan Romo Jalal sudah menyekolahkan beberapa remaja desa untuk jadi dokter, dan beruntung mereka siap mengabdi di desa setelah lulus kuliah dan memiliki izin praktek mereka sendiri.


Fauzan mengetuk pintu ruangan Romo Jalal untuk mengantarkan kopi dan sedikit camilan.


tok... tok.. tok...


"masuk, ada apa?" tanya Naina yang tak mengalihkan pandangannya dari dokumen.


"ah ini nyonya mau mengantar minuman dan camilan," jawab Fauzan.


mendengar itu, Naina melihat sekilas, "buang semuanya tinggalkan minuman itu, karena kang mas tak boleh makan gorengan terlebih minyak seperti itu," kata Naina dingin.


"tapi ini pesanan dari Romo Jalal," kata Fauzan yang berhasil membuat Naina melihat dirinya.


kemudian wanita itu melihat Romo Jalal, "berikan saja, jika dia mati itu urusannya, sudah aku pergi anak-anak pasti sudah selesai," kata Naina yang bangkit dari kursinya dan langsung pergi setelah mencium pipi Romo Jalal.


"sayang kenapa kamu bilang ketus begitu," kata Romo Jalal pada Naina yang hampir keluar ruangannya.


"kenapa, itu demi kesehatan mu, tapi jika kamu tak peduli tak apa-apa jika kamu mati, aku tinggal cari yang lain," kata Naina berhasil membuat Romo Jalal membanting semua berkas yang ada di tangannya.


"buang semua, dan mulai besok tak usah beli lagi, kaku beli buah saja," perintah Romo Jalal.


"baik Romo," jawab Fauzan yang keluar membawa nampan itu.


sedang Romo Jalal menarik tirai kantornya hingga tertutup dan menarik Naina kedalam pelukannya.


"kamu masih marah, jangan marah sayang, nanti keriput di wajah mu semakin banyak," bisik Romo Jalal.


"terserah saja, kang mas aku melakukan ini bukan demi diriku, tapi tolong pikirkan kedua anak ku yang baru lima tahun itu," kata Raina memohon.


"ah maafkan aku, baiklah kemarin yang terakhir, kamu kan tau jika aku suka sekali dengan gorengan," kata Romo Jalal.


"kita buat begini saja, sekarang jika kang mas ketahuan makan gorengan, hukumannya, tidak boleh menyentuh ku selama tiga hari, jadi jika tiga hari makan gorengan, siap-siap sepuluh hari puasa, mengerti," bisik Naina sambil meremas sesuatu.

__ADS_1


"kamu bakal, baiklah jika seperti itu, aku akan hidup sehat, kan mubazir jika punya istri cantik dan muda tadi sudah tak kuat goyang," saut Romo Jalal yang mendekatkan Naina ke pelukannya.


tanpa terduga dia bocah itu masuk begitu saja, sayang ada tirai hingga keduanya panik dan segera pergi ke sisi lain ruangan.


"ya.... ini tilainya libet Lo..." kata Dewi yang belum bisa mengatakan R.


"bunda ayo pulang.." teriak Dirga yang tak kalah keras.


"baiklah, kalian berdua Salim dulu sama ayah, dan Dewi itu kenapa rambutnya kok acak-acakan."


"tadi dilga nalik balik bunda," jawab bocah perempuan itu.


"Dirga..."


"habis Dirga tidak bisa lihat gambar Bu guru karena rambut Dewi seperti tiang listrik berbulu," kata bocah itu yang membuat Romo Jalal menahan tawa.


"sejak kapan itu tiang listrik punya bulu nak, ya tuhan... kamu makin lucu dan aneh saja," kata Romo Jalal tak bisa diam dan menghentikan tawanya.


"ayah..." protes putrinya.


"Jang mas itu anaknya sudah hampir nangis," protes Naina yang melihat Dewi sudah berkaca-kaca.


"ayah.... jahat...." tangis bocah perempuan itu.


"ah maaf, Gara-gara tiang listrik berbulu..." kata Romo Jalal yang mengendong putrinya itu.


"Dirga juga main gendong!!" teriak Dirga.


"hadeh repot ini, ayah ini kuat gak ya, karena bobot kalian ini amazing tau," kata Romo Jalal yang mencoba berdiri tapi malah terduduk.


alhasil mereka semua malah tertawa, "sudah nanti ayah sakit, ayo kita beli es krim, tapi ayah yang belikan, ingat satu orang satu rasa," kata Naina.


"siap bunda," jawab keduanya.


tanpa di duga saat akan pergi Romo Jalal malah mengendong Naina, "padahal aku bisa mengendong ibu mereka loh,"


"hentikan kita lanjutkan nantinya," bisik Naina tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"sesuai perintah nyonya Naina," kata Romo Jalal yang menurunkan istrinya itu.


mereka semua pun pergi ke minimarket terdekat, meski minimarket itu milik keluarga Romo Jalal.


mereka jika belanja pun tetap membayar, dan Naina selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mengambil secukupnya.


sedang di tempat lain, Fauzan membagikan pisang goreng itu pada orang kantor.


"sepertinya Romo sekarang ke ih manusiawi ya di banding beberapa tahun lalu," kata Gofur yang juga orang pemerintahan desa.


"ya bagaimana tidak manusiawi,jika di sisinya ada singa wanita begitu, kamu kira Naina itu masih gadis lugu teman kita sekolah, kamu salah besar, dia itu sekarang seorang pengusaha dan juga seorang ibu dari seorang anak yang memiliki tikar kepintaran tinggi, belum lagi dia itu juga istri kesayangannya Romo Jalal," kata Fauzan yang makan pisang goreng yang di beli dari kedua Rika.


"tapi bagaimana kabar nyonya sepuh, dia sudah tak pernah keluar, setelah Romo Jalal menghabisi seluruh keluarganya," kata Gofur.


tanpa di duga Fauzan langsung memasukan makanan itu ke mulut pria itu.


"jangan sembarangan ngomong, jika kamu masih ingin hidup," tegurnya


mereka semua mengangguk, setelah dari minimarket, mereka semua pulang ke rumah.


dan anak-anak sedang makan es krim dengan di awasi semua pengawal.


tiba-tiba Bu Lastri keluar dari rumah bagian kanan, karena memang sudah di Izinkan oleh Romo Jalal jika hanya sekedar untuk berjemur.


wanita itu menatap kedua bocah yang sedang bermain dan makan es krim itu sambil mengucapkan sesuatu.


tapi beruntung Jul langsung menarik tirai untuk melindungi kedua anak itu dari mata jahat wanita tua itu.


"biadab... aku akan menyumpahi mu agar segera mati..." lirihnya.


tanpa di duga Naina berjalan dengan badan dan kepala yang tegak untuk menghadapi wanita itu.


"kenapa tidak kamu saja yang mati, percuma kamu hidup juga tak ada yang mengasihani mu kecuali iaea pelayan yang di bayar, jika aku dan anak-anak ku yang ingin kau buat mati, maka bersiaplah kamu melihat Romo Jalal itu gila dan mengenaskan, jadi sebelum mengatakan hal jahat pikirkan dulu dengan otak kecil mu itu,"


"kamu berani menggertak ku!" suara Bu Lastri.


"kau yang terus menginjak ku, sekarang aku tak takut padamu, karena aku sekarang sudah bisa melawan, menjadi wanita kuat untuk suami dan anak-anak ku, jadi jangan mengusik keluarga ku, jika kamu mau mati tinggal mati saja kenapa harus tunggu Tuhan datang sendiri menjemput mu, ah.. itu mustahil sepertinya karena kamu orang jahat, bagaimana jika minta setan yang menarik mu ke neraka sekarang," kata Naina yang langsung meninggalkan wanita itu yang tak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2