
bocah itu tersenyum, "apa ibu mantan teman ibu saya, karena yang tau masa lalu ibu hanya para teman padepokan nya, tapi sayang semua orang itu sudah mati?" tanya Nanang.
"apa dia benar-benar masih hidup," tanya mbok Jum
"itu benar, tapi sebaiknya anda diam atau ibu akan melakukan hal yang tak terduga," jawab bocah itu.
mbok Jum tersenyum saja, sedang Naina bangkit dan tiba-tiba melempar sebuah pisau hingga mengenai mata salah satu orang yang ingin menyerang mereka.
sekarang Alip yang langsung membunuh pria itu, dan malam ini semuanya bersih-bersih.
tak hanya itu mereka juga mengirimkan semua mayat itu ke tempat seharusnya pergi.
di rumah mewah keluarga Ndoro Sudarjo, dua istri dari pria itu tak suka saat Bu Lastri pulang.
pasalnya mereka berdua tau bagaimana perangai wanita itu yang selalu tanpa ampun.
karena jika salah sedikit saja maka nyawa mereka yang melayang, jadi mereka berdua akan sebaik mungkin menghindari wanita itu.
"selamat datang ayah," sapa keduanya dengan sopan.
"apa maksudnya kalian berdua cuma menyapa ku, apa tak melihat siapa yang ada di sampingku ini?"tanya Romo Jalal yang sedang berdiri di ambang pintu rumah.
"maafkan kami mbak Lastri, seharusnya kami menyapa mu bersama tadi," kata Tri istri yang baru di nikahi ayah dari Bu Lastri.
"sepertinya dia terlalu antusias menyambut kedatangan suaminya hingga tak sadar tentang adanya diriku di samping mu ayah, jadi lebih baik aku pulang saja dari pada di sini akan mengganggumu dan istri-istri mu ayah," kata Bu Lastri.
"kamu ini ngomong apa, ini rumah mu juga jadi tak usah mengatakan hal yang aneh, sudah masuk ke kamar mu," kata Ndoro Sudarjo
"jangan seperti ini ayah, aku ini seorang istri yang bersuami, apa ayah tak malu anak sudah setua ini masih begitu tak peduli pada ku,ayah jika aku di sini kang mas bisa bermesraan dengan Naina," bantah Bu Lastri.
"tenang saja Lastri itu tak mungkin terjadi," jawab Ndoro Sudarjo dengan yakin.
Terlebih dia dan anak buahnya akan memastikan hal itu, dia belum tau saja jika semua anak buahnya sudah habis di tangan menantunya itu.
__ADS_1
Sedang di rumah Romo Jalal benar benar tak sabar ingin bertemu dengan istri keduanya itu.
Dan mobil yang membawa Naina pun akhirnya datang, Romo Jalal terlihat begitu bahagia menyambut kedatangan dari istrinya itu.
Naina turun dan sudah di sambut oleh suaminya itu, "selamat datang sayang ku,"
"iya kang mas, aku sudah sangat merindukanmu, meski kita berpisah hanya beberapa hari, tapi kenapa aku merasa begitu lama dan itu sangat menyiksa," kata Naina yang memang kali ini benar-benar tak bisa jauh dari suaminya itu.
"Kang mas juga merasakan hal yang sam dek, sekarang kita masuk dulu ya, karena sudah malam kamu harus istirahat dan angin malam tak baik untuk mu yang sedang hamil," kata Romo Jalal.
"iya kang mas," jawab Naina.
Mereka langsung menuju ke dalam rumah, dan Romo Jalal menyuruh anak buahnya membuka rumah yang sudah di tutup itu karena tak ingin istrinya itu tinggal di rumah yang telah di tinggali Bu Lastri.
Tak butuh waktu lama untuk yang lain memindahkan semua barang dari Romo Jalal, ke rumah bagian kiri.
Sedang bagi Fauzan yang baru tau jika Reino ada di penjara karena pria itu ketauan merampok.
Dia tak menyangka jika temannya itu bisa melakukan hal sekejam itu, terlebih dari kabar berita yang dia dengar.
Tapi sayangnya meski dia sudah berhasil pun, semua itu percuma karena pria itu sudah tak bisa meminang Naina karena wanita itu sudah menikahi pria tua kaya.
"Le, apa kamu yakin akan mengunjungi teman mu itu? Aku merasa kamu harus hati-hati terlebih, Lastri sedang dalam kondisi mental yang tak stabil," kata Bu Zuli .
"Itu tak masala bu, karena niat fauzan hanya ingin mengunjungi Reino, bagaimana pun aku dan dia ini sahabat dari kami SD," jawab Fauzan.
"Yawes, terserah saja jika itu yang kamu yakini, tapi selalu waspada ya le," kata bu Zuli.
Malam ini semua berakhir tanpa di sadari oleh Ndoro Sudarjo jika besok sudah ada hadiah yang akan membuatnya kaget, karena hampir separuh orang kepercayaan-nya mati.
Romo Jalal bangun dari dari tidurnya pagi ini dengan suasana yang begitu inginkan.
Yaitu melihat wajah cantik Naina yang masih memejamkan matanya karena semua yang terjadi semalam cukup membuatnya kelelahan.
__ADS_1
Terlebih dengan kondisinya yang sedang hamil muda, Naina membuka matanya dan mendengar sapaan yang dia rindukan.
"Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu apa nyenyak, aku harap kamar ini cukup membuatmu nyaman," tanya Romo Jalal.
"iya kang mas, tidurku sangat nyenyak, karena ada kamu di samping ku, mencium aroma tubuh mu saja, bisa membuatku sangat nyaman."
"baiklah, kalau begitu sekarang kita mandi ya,karena kita punya kegiatan yang yang harus kita hadiri sebagai kepala desa dan ketua pkk yang baru,"
"iya kang mas, dan lagi aku juga sudah menyelesaikan semua yang di butuhkan untuk bisa mengambil semua kepimpinan dari mbak Lastri atas perusahaan yang selama ini tak berkembang."
"Kamu memang pintar, sudah serahkan saa ke pengacara baru yang aku tunjuk karena itu lebih baik sayang, dan ingat kamu jangan lelah'" pesan Romo Jalal.
"Baik kang mas, aku akan mengikuti keinginan mu suamiku,"
Selesai bersiap keduanya langsung duduk di meja makan untuk menikmati sarapan sebelum aktifitas hari ini.
Fauzan sudah bersiap untuk berangkat menuju lapas kelas dua A, tak lupa ibunya membuatkan masakan yang bisa di simpan lama.
Bukan masalah apa, karena bu zuli juga sudah menganggap Reino seperti putranya sendiri.
"Ingat ya le, jangan membahas apapun yang bisa menyinggungnya, terlebih masalah Naina, karena dia sekarang sudah bahagia bersama dengan suaminya, mengerti dan kamu tau benar jika tak baik untuk mengusik ketenangan dari Romo Jalal,"
"inggeh ibu, ibu sudah mengatakannya berkali-kali dan membuatku ingat hal itu, terlebih aku juga bisa seperti sekarang karena berkat bantuan dari Romo Jalal," jawab fauzan.
"baiklah jika kamu sudah mengerti,"
Fauzan pun akhirnya bisa berangkat ketempat temannya itu, dan sesampainya di penjara dia hampir tak mengenali Reino yang sekarang memiliki tubuh yang sempurna.
"apa kabar bung, akhirnya kamu menjenguk ku di sini, ada kabar apa? Apa dia sudah bahagia?" tanya Reino.
"kamu benar, seharusnya sekarang kamu menera tawaran orang tuamu, setidaknya jika kamu ingin merebutnya, kamu harus lebih sukses dari suaminya yang punya banyak usaha di seluruh kota."
"kamu tenang saja, karena aku tak menolak tawaran orang tuaku sekarang, jadi kebebasan ku tinggal menunggu hari," jawab Reino yang tersenyum.
__ADS_1
"baguslah kalau begitu, ini ada titipan dari ibu yang tak ingin putranya kurus selama di penjara, jadi makanlah semua yang ku bawa adalah kesukaan mu," kata Fauzan yang mengeluarkan semua bawaannya.
"tolong sampaikan pada ibu, terima kasihbsudah ingat anaknya yang buruk ini," kata Reino merasa senang karena bu Zuli masih sangat memerdulikannya.