
Naina hanya diam saja di tempatnya duduk tanpa terpengaruh sedikitpun, Bu Lastri merasa aneh dengan sikap wanita itu.
"kamu menyesal karna sekarang telah di buang, bagaimana pun aku tetap jadi pemenangnya," kata Bu Lastri dengan bahagia.
bahkan wanita itu tertawa melihat Naina yang sekarang sangat menyedihkan, "setidaknya aku bisa pergi dan tak harus mati konyol seperti mbak Ningsih," saut Naina.
"kamu memang tidak mati, tapi kamu akan jadi olok-olokan warga karena semua orang juga tau, jika sudah di buang di rumah selir, tak mungkin kang mas akan menemui mu lagi," jelas Bu Lastri
"kamu bisa bangga pada hal itu mbak Lastri, tapi kamu lupa jika setelah aku pergi kang mas akan menikahi dua gadis lain untuk dirinya, dan yang paling penting kamu pasti akan tersingkir karena para gadis itu akan menjadi kesayangan karena bisa melahirkan anak, ingat itu..." kata Naina tersenyum mengejek sosok Bu Lastri.
akhirnya semua barang Naina sudah beres, Agus dan Joyo sudah datang membawanya untuk segera berangkat malam ini.
dan rumah itu yang baru di bangun pun ditutup dengan papan kayu, "sekarang tidak ada lagi yang boleh menginjak rumah ini,"
Naina pun tersenyum dan pergi bersama dengan Agus,Joyo,bok Siti dan mbok Ijah.
mereka keluar untuk menyelamatkan diri, karena sedetik saja mereka lebih lama dan Bu Lastri tau jika dia hamil.
pasti akan ada masalah besar karena wanita itu akan melakukan apapun untuk menyingkirkan semua halangan di depannya.
Romo Jalal menyaksikan kepergian istrinya itu, dan keinginan Naina terwujud bisa hidup di luar rumah mewah yang seperti penjara berbahaya itu.
mobil yang membawa Naina pun segera sampai di sebuah rumah yang ada di ujung desa.
rumah yang terlihat sangat luas itu, memiliki bangunan pendopo di depannya.
bahkan bangunan rumah terlihat begitu klasik dan sangat mewah dengan banyaknya ukiran kayu yang menghiasinya.
"rumah ini sangat bagus, kenapa di sebut rumah buangan?" tanya Naina yang masuk kedalam rumah tang teras begitu adem itu.
"karena ini adalah rumah peninggalan ibuku saat beliau hamil diriku, dan berkat rumah ini, aku satu-satunya anak yang selamat dari pembantaian sadis yang di lakukan saudara tiri Romo ku dulu," jawab Romo Jalal yang sudah datang ke rumah selir itu.
"kang mas," kata Naina yang langsung memeluk tubuh Romo Jalal
__ADS_1
"aku sudah merindukan mu bahkan saat kamu baru keluar dari rumah Rahmat beberapa menit," katanya dengan menghadiahkan kecupan di kening Naina.
"kang mas berlebihan, tapi kang mas kesini apa mbak Lastri tak curiga," tanya Naina.
"tentu saja tidak, aku memilih untuk tidur di kamar dan ku pastikan tak ada yang bis masuk kedalam kamar," kata Romo Jalal.
"baiklah kang mas, sekarang mau bagaimana, tak mungkin kan jika kang mas menginap disini? semua bisa berantakan," jawab Naina.
"kita bicara di dalam," kata Romo Jalal.
pria itu terlihat sangat gagah, bahkan Naina baru fokus memandanginya kali ini, dan dia menyentuh beberapa berkas luka.
"apa ini kang mas,"
"itu adalah bukti kejamnya ayah ku, dan penderitaan ku berakhir saat aku berhasil menyingkirkan semua musuh ku, tapi tidak dengan satu orang," kata Romo Jalal.
"siapa?"
"pak Sudarjo, seorang pria dengan kekejaman tiada ampun, yang tak segan membunuh istri kesayangannya yang sedang hamil tua, hanya karena tak sengaja menumpahkan air panas dan melukai putri kesayangannya,"
"iya, dan berkat bantuan pria itu aku berhasil menyingkirkan semua orang yang membantai keluargaku, tapi syaratnya adalah, aku harus menikahi putri kesayangannya itu," kata Romo Jalal.
"apa pria itu masih hidup kang mas?"
"masih sayang, meski umurnya tak muda lagi, tapi kaki tangannya yang perlu kita waspadai, jika kamu menganggap Lastri kejam, maka pria tua itu sepuluh kali lipat kejam daripada putrinya," jawab Romo Jalal.
Naina tertegun, jika Lastri bisa membunuh musuhnya, bagaimana dengan pria tua itu saat tau dia hamil anak menantunya.
"lusa mungkin aku tak akan bisa datang karena dia akan berkunjung, dan sebisa mungkin jangan keluar dari rumah ini selama seminggu kedepan, mengerti istriku yang cantik," kata Romo Jalal yang mencium rambut Naina.
mendengar itu, Naina memberikan ciuman mesra untuk suaminya itu, dan mereka pun melakukan olahraga panas untuk terakhir kalinya.
setelah itu Romo Jalal pamit pergi, dan Naina memilih merebahkan dirinya untuk beristirahat.
__ADS_1
keesokan harinya, Bu Lastri telah menyiapkan semua masakan, dan Romo Jalal seperti biasa, memasukan makanan itu aman dengan cara di cicipi dulu eh orang lain di depannya.
"kang mas tak percaya padaku?" kata Bu Lastri merasa harga dirinya terluka.
"bagaimana bisa percaya, kamu bisa melukai Ningsih yang selalu baik padaku, apalagi aku yang sering melukai mu," kata Romo Jalal.
"itu berbeda kang mas,"
"apa bedanya, oh ya kamu harus mencari gadis apa sudah ada yang tersedia, atau aku harus minta bantuan seseorang," tanya Romo Jalal.
"kenapa begitu buru-buru, kang mas kita baru saja bersama lagi, tapi kang mas sepertinya tak sabar mau punya yang baru," kata Bu Lastri.
"bukan begitu Lastri, aku hanya tak mau keturunan dari keluarga Rahmat berakhir di tangan ku, kamu tau benar apa yang terjadi pada keluarga ku ini," kata Romo Jalal.
"baiklah kang mas, aku akan mencarikannya," jawab Bu Lastri yang terpaksa.
Naina sedang berjemur pagi ini, karena tubuhnya sudah lama tidak terkena sinar matahari.
setelah itu dia melihat ada penjual pentol goreng pikulan, melihat itu Naina pun bergegas pergi untuk membelinya.
entahlah kenapa dia tiba-tiba ingin makan pentol kanji itu, terlebih jika membayangkan rasa sausnya yang ya sangat enak.
"beli dua puluh ribu ya bang," kata Naina yang duduk di samping penjual itu.
"iya neng,tapi kok gak pernah lihat neng ya, baru di rumah ini, karena setahuku rumah ini kosong neng," kata penjual itu.
"iya bang, saya kerja di sini jadi pelayan dan jaga rumah, ya maklum butuh uang untuk bertahan hidup," kata Naina tertawa karena membohongi penjual pentol itu.
"masak iya, tapi kok wajahnya mirip dengan nyonya muda istri Romo Jalal ya, kemarin saya lihat pas acara PKK desa, tapi sayangnya saya lihatnya kurang jelas," kata pedagang itu.
"ya lain kali coba kenalan sama ibunya, pasti mukanya beda loh," jawab Naina.
mbok Ijah panik karena tak menemukan Naina, saat dia keluar rumah, dia pun menghela nafas karena melihat nyonya mudanya itu sedang jajan
__ADS_1
"mau juga bi, sini," panggil Naina.
"tidak usah deh," jawab wanita itu.