Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
mengasihani


__ADS_3

Fauzan tak menyangka akan melihat semua ini, pasalnya dia menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab untuk membuat luka pada Naina.


bagaimana tidak, dia sekarang menyediakan sepuluh gadis cantik untuk di pilih oleh istri pertama suami temannya itu.


Fauzan hanya menunggu di luar saat Bu Lastri melakukan wawancara dengan para gadis-gadis itu.


Fauzan menghela nafas saja, "seandainya bisa aku akan menghubungi Reino agar dia membawa mu pergi," batin pria itu


bagaimana tidak dijadikan istri ketiga saja sudah membuat nakba sedih, tapi ini dia harus menghadapi wanita lain lagi


tapi Fauzan merasa penasaran kenapa Bu lastri mencari istri lain, padahal Naina baru juga masuk keluarga itu bahkan belum ada enam bulan.


"mas Adji, aku boleh tanya gak, kok gak kelihatan nyonya muda, bukankah harusnya kalau pilih istri harus kedua nyonya yang turun tangan ya," tanya Fauzan


"loh mas Fauzan tidak tau ya, nyonya muda sudah di bawa ke rumah selir, jadi Romo minta ini untuk jadi istri yang bisa melahirkan anak," kata pengawal itu.


"apa..." kaget Fauzan.


semua orang di desa tau jika sudah di rumah selir itu berarti sudah tak ada harapan untuk di cintai.


bahkan bisa-bisa akan mati tanpa cinta di sana, tapi dia tak menyangka gadis yang selalu di panggil di cantik itu bisa mengalami hal buruk itu.


padahal Naina itu adalah salah satu wanita yang sangat cantik dulu, di tambah memiliki kebaikan sifat dan tutur kata.


mbok tum dan mbok ji mencatat beberapa gadis yang sudah cocok untuk Romo Jalal, Bu Lastri memilih dua gadis yang lebih daripada Naina dari segi kecantikan dan bisa di atur.


"besok minta dua gadis ini datang ke rumah besar Rahmat, karna aku akan melakukan tes terakhir," perintah Bu Lastri.


"inggeh nyonya," jawab keduanya.


Bu Lastri keluar rumah Fauzan, dan dia melemparkan segepok uang pada pemuda itu.


"terima kasih sudah menolong, ternyata pekerjaan mu sangat baik," kata Bu Lastri yang bergegas pergi.


"terima kasih nyonya sepuh," jawab Fauzan.

__ADS_1


mobil mewah itu sudah meninggalkan kediamannya dan Fauzan bergegas masuk dan meminta para gadis pulang.


"apa aku harus menghubungi Reino, karena pria itu masih gila karena di tinggal nikah oleh Naina," bingung Fauzan.


dia pun segera menelpon temannya itu, tap sayang nomor milik Reino tak bisa di hubungi.


ya Fauzan tidak tau jika Reino saat ini sudah berada di penjara kelas dua di salah satu kota.


Reino masuk penjara karena dia merampok dan membunuh orang yang rumahnya di rampok, tapi sayangnya polisi tak bisa menemukan hasil rampokan pria itu.


Reino pun tetap tutup mulut mau bagaimana pun di siksa, jadilah semua harta yang di rampoknya itu aman.


toh menjalani dua tahun penjara itu tak lama, karena sepupunya berhasil membela dirinya saat sidang.


dia akan melanjutkan hidupnya nanti, dan sekarang dia harus fokus membentuk tubuh dan menjadi kuat.


Fauzan pun merasa frustasi, bagaimana tidak, teman sekolah yang selalu baik kini menderita.


dia pun ingin sekali menemui Naina untuk bertanya tentang apa yang terjadi, tapi dia tau ajan sangat sulit masuk ke rumah itu.


bahkan di kebun itu di bebas liarkan beberapa luwak yang sengaja di pelihara oleh Romo Jalal.


"bagaimana usaha mu Jalal, aku dengar kopi milik mu di ekspor ke luar negri," tanya Ndoro Sudarjo.


"semua itu berkat kegigihan dan kerja keras, hingga bisa tembus ke pasar internasional," jawab Romo Jalal.


"bukan karena Lastri yang mengelolanya hingga bisa sesukses ini semua perusahaan mu?" tanya Ndoro Sudarjo yang tau jika sebagian usaha milik menantunya itu di kelola putrinya.


"sayangnya yang tembus ke kancah internasional itu adalah kopi buatan pabrik kecil yang di kelola Ningsih dan sekarang di lanjutkan ke istri ketiga ku, dan untuk perusahaan yang di pegang Lastri, itu hanya bisa di pasar domestik saja," kata Romo Jalal dengan tenang.


seekor luwak naik ke pundak Tomo Jalal dan dengan santainya dia tak bergerak.


"karena kopi yang di ekspor itu adalah kopi luwak yang sangat istimewa karena semua pohon kopi melalui perawatan khusus, bahkan hewan luwaknya kami kembang biakan sendiri," jawab Romo Jalal.


"kenapa kamu terdengar pilih kasih ya, padahal kamu tau jika aku tak menyukai hal seperti itu," kata Ndoro Sudarjo.

__ADS_1


"maafkan kelancangan saya ayah mertua, tapi ini adalah usaha yang di rintis oleh Ningsih dari awal, jadi anda tak bisa bilang jika saya pilih kasih, jika anda ingin saya tidak pilih kasih, saya akan menarik kekuasaan putri anda di dua pabrik besar milik ku, dan memberikannya pada Naina, seperti itu bukan baru bisa di sebut adil," kata Romo Jalal.


"ya bukan seperti itu, sudah jangan di bahas lagi, sekarang tunjukkan berapa hektar sawah yang kamu miliki," kata Ndoro Sudarjo yang penasaran dengan sawah milik menantunya itu.


karena dia tau jika Lastri akan sangat kaya dengan mewarisi semua harta romo Jalal saat pria itu mati nantinya.


karena umur manusia tidak ada yang tau sampai kapan, mereka berjalan menyusuri jalan desa.


saat melewati perkampungan penduduk, mereka di sapa dengan sopan oleh warga desa.


Romo Jalal dan Ndoro Sudarjo terlihat sangat santai hati ini, terlebih cuaca juga tak terlalu panas.


saat melewati kebun singkong keduanya melihat ada seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun di seret oleh anak buah Romo Jalal.


"hei kenapa kamu menariknya seperti ini? kenapa?" tegur Tomo Jalal.


"dia baru saja selesai mencuri singkong di kebun Romo, dia awalnya ingin kabur tapi saya berhasil menangkapnya, karena bukan hanya kali ini Romo, tapi sudah berkali-kali," jawab penjaga kebun singkong.


"kenapa kamu mencuri, kakuntau bukan kalau aku sangat benci pencuri," kata Romo Jalal.


"maafkan saya Romo, bapak saya sedang sakit, ibu saya sedang hamil tua dan sudah kepayahan untuk bekerja, adik saya lapar dan terus menangis, terpaksa saya mencuri singkong ini, maaf Romo karena ibu pulang malam, saya memang mencuri tapi baru dua kali ini," terang bocah itu ketakutan.


Alip mengerti kode dari Romo Jalal, "lepaskan, biar aku yang mengantarkannya pulang,"


"baik mas Alip," jawab pengawas itu.


"ini terakhir kali, jika ada lagi kejadian lain, kepala mu yang jadi penebusannya," kata Romo Jalal yang kembali jalan menuju ke area perkebunan dan persawahan.


mereka berdua berdiri dan melihat hamparan luas sawah yang saat ini sedang di tanam kedelai dan jagung.


tapi ada beberapa buruh yang bekerja di kebun jeruk membawa jeruk yang matang ke rumah selir.


"Sarno, itu jeruk mau di bawa kemana?"


"lapor Romo, nyonya muda memutuskan mengolah jeruk-jeruk itu menjadi sirup dan pupuk untuk kesuburan tanah," jawab Sarno.

__ADS_1


"ternyata selir mu itu juga pintar ya," kata Ndoro Sudarjo.


__ADS_2