
Naina hanya tersenyum mendengar ucapan temannya itu, dia pun kini masuk kedalam rumah untuk mengambil beberapa amplop yang di titipkan oleh suaminya sebelum pria berangkat ke kota.
"apa ini nyonya?" tanya Fauzan yang melihat banyak nama di amplop itu.
"itu bonus untuk semua pegawai kantor Desa, pasalnya kerja kalian tahun ini sangat baik, dan kang mas bilang tolong di pertahankan, dan ini tolong berikan pada warga sesuai nama yang tertera," kata Naina.
"baik nyonya," jawab Fauzan yang memang sudah tau kebiasaan ini.
dia pun sebenarnya ingin membahas sesuatu, tapi sepertinya tak tepat karena ada beberapa orang yang sangat di percaya oleh Romo Jalal.
tiba-tiba saat mereka masih membahas beberapa pekerjaan, terdengar suara teriakan yang sangat keras.
"lindungi nyonya," kata Jul yang bukan melihat ada apa, malah memerintah semua mendekat.
bahkan Fauzan mengeluarkan golok yang dia bawa, "ada apa, kenapa kalian bukannya melihat malah kini mengerumuni diriku?" bingung Naina yang memang tak mengerti apapun.
suara gemerincing rantai terdengar, ternyata benar itu Bu Lastri yang datang dengan membawa sebuah kepala.
"lihat siapa yang ingin menemui..." katanya menunjukkan sosok wanita yang di cintai Fauzan.
"Kikan!!!" teriak Fauzan yang ingin mendekati wanita itu.
"berhenti memikirkan hal gila Fauzan, kamu bisa mati, aku lupa jika ini tanggal lima belas dan aku belum memberikan obat untuk nyonya besar," kata Jul.
"aduh gara-gara kamu mas Jul, sekarang kita semua dalam bahaya besar, kamu kan tau jika nyonya bisa melakukan apapun saat kondisinya seperti ini," kata mbok Siti yang memeluk Dirga.
karena dia bertanggung jawab pada bocah itu, dan ajan sebisa mungkin untuk melindunginya, karena dia tak ingin terjadi apa-apa dengan dua bocah itu.
tapi tanpa di duga Dirga mengunakan jarum miliknya dan membuat wanita itu pingsan.
akhirnya Jul memeriksa kondisi dari nyonya sepuh itu, dan saat di ketahui jika wanita itu membaik.
"kita bawa dia kembali ke kamarnya, Nanang tetap jaga disini," perintah Jul.
"siap cak," jawab bocah itu.
Jul mengendong Bu Lastri dan membawanya ke rumah miliknya itu, ternyata itu bukan Kikan melainkan mbok Inah yang menjaga wanita itu.
"ya Tuhan, ini ibu Kikan, apa yang harus aku katakan padanya," gumam Fauzan.
"Agus tolong selesaikan semua masalah ini seperti biasa, kamu mengerti," perintah Naina yang menang tak tau bagaimana biasa Romo Jalal membereskannya.
"tebang Fauzan, meski aku tak mengerti cara kerja di rumah ini, aku yakin jika mereka bisa menyelesaikan semua dengan cara yang tepat," kata Naina.
"aku percaya itu, tapi bagaimana Jul kali ini begitu ceroboh, itu seperti bukan dirinya," kata Fauzan yang mereka aneh.
"tak usah di pikirkan seperti itu, karena kamu tak akan pernah bisa mengerti bagaimana bicara kerjanya, cukup ikuti itu akan membuat mu tetap menjaga hidup mu," kata Naina yang membuat Fauzan merasa kasihan.
__ADS_1
bagaimana tidak gadis yang ceria kini seperti burung yang di kurung dalam sangkar emas.
meski sangat mewah tapi burung itu butuh kebebasan untuk terbang, "mbok Ten, tolong ambilkan aku mie ayam yang tadi aku minta buat, dan Fauzan kamu mau, sekalian nunggu cak Jul kembali," tawar Naina.
"sepertinya aku harus langsung pergi, karena urusan ku sudah selesai sekarang," kata pria itu yang ingin segera pergi.
meski dia tau jika Romo Jalal itu kejam, tapi baru kali ini dia melihat semua dari dekat.
terlebih saat ini tak ada pria itu di rumah, dan membiarkan Naina yang baru saja melahirkan melihat kekejaman itu.
tapi setelah kepergian dari Fauzan, Naina mengambil kepala dari mbok Inah.
dia membawanya ke rumah yang di gunakan untuk mengurung wanita itu, dan tak terduga itu membuat Jul kaget.
"nyonya kenapa di sini, kondisi nyonya sepuh belum sehat," kata Jul terkejut.
tanpa bicara Naina mengambil golok milik Jul, "sudah cukup kamu membuat ku terus ketakutan, sekarang tidak lagi, aku akan memberi mu pilihan tetap bersikap menurut atau aku akan menunjukkan jika aku jika bisa kejam," kata Naina dengan tatapan marah besar.
emosi wanita itu sudah terlalu tak bisa di tahan lagi, karena dia tak ingin ada yang bisa melukai kedua anaknya lagi.
"kamu tak akan berani melakukan itu," kata Bu Lastri tertawa mengejek Naina.
"aku memang tak bisa melukaimu dengan golok ini, tapi aku bisa mengunakan alat perang lain," kata Naina yang mengambil sebuah batang rotan.
Bu Lastri menertawakan Naina yang malah memilih benda tak berguna seperti itu.
tanpa di duga, Naina langsung menyerang Bu Lastri dengan rotan yang ada di tangannya.
Bu Lastri pun tak menyangka jika wanita yang selama ini terlihat ketakutan kini sudah berani menunjukkan taringnya.
Bu Lastri mengambil tongkat kayu yang di pegang oleh Agus, tapi dengan cepat Naina memukul tangan Bu Lastri hingga wanita itu melepaskan tongkatnya.
"ambilkan aku air dingin," perintah Naina.
"tapi untuk apa?" tanya Jul.
"aku bilang ambilkan!!" bentak Naina.
dia sudah tak mau di injak oleh Bu Lastri, memang dia harus menghormati orang yang lebih tua.
tapi dia merasa jika semua itu tak berguna di rumah ini, karena yang tua tak bisa menghargai yang muda.
jadi untuk apa Naina harus bersikap sopan dan menundukkan kepalanya, terlebih berkali-kali Romo Jalal menyuruhnya untuk bersikap pemberani bukan penakut.
Agus datang dengan air dingin itu, kemudia Naina menyiramkan air itu kepada Bu Lastri
"biar anda bisa sadar, sekali lagi bersikap dan berpikir bisa menggertak ku, maka aku akan membalas mu lebih dari yang tak bisa jau bayangkan, mengerti... jika kamu masih punya otak, gunakan dan pikirkanlah," kata Naina yang kemudian pergi.
__ADS_1
"karena mbok Inah sudah mati, mbok tum dan mbok seh, cepat bantu nyonya sepuh berganti baju dan obat lukanya dengan salep, setelah itu berikan susu kunyit agar mempercepat kondisinya pulih," kata Naina.
kedua pelayan itu seakan tak mendengarkan dirinya, hanya dia membisu, "lakukan, atau kalian juga ingin kena hajar, ingat baik-baik aku di sini tetap nyonya rumah, jadi jangan bertingkah di depan ku," kata Naina.
"baik nyonya muda, kamu mengerti," kata Keduanya ketakutan.
bagaimana tidak, nyonya tang selama ini selalu terlihat baik, nyatanya kini sudah di ubah oleh Romo Jalal menjadi tak berperasaan juga.
Naina pun masuk kedalam kamarnya, dan melihat dua anaknya sedang bermain dengan dua pengasuhnya.
dia pun memutuskan untuk ke kamar mandi, dan mulai menyalakan shower.
dia mencuci tangannya dan mulai menggosok dirinya dan tangannya, "tangan jahat, tangan jahat, argh...." teriak Naina yang menangis dalam guyuran shower itu.
dia tak menyangka harus bersikap begitu bengis sekarang, karena bisa di katakan jika itu semua perintah suaminya yang tak ingin melihat istrinya lemah.
sedang Bu Lastri juga seperti orang syok, bagaimana tidak dia terkejut dengan apa yang baru saja dia alami.
di benar-benar terpukul telak setelah mendapatkan pukulan dari tangan Naina.
selama ini di rumah ini hanya dia yang boleh bersikap kasar setelah suaminya, tapi sekarang bahkan Romo Jalal membuat istri mudanya itu menjadi penguasa rumah.
"tidak!! aku masih nyonya sepuh rumah ini!! tak boleh wanita liar itu merebut tempat ku disini!!" teriak Bu Lastri yang mengejutkan dia orang yang membantunya.
sedang Jul melaporkan semua yang terjadi, Romo Jalal yang mendapatkan laporan itu hanya bisa tertawa saja.
"akhirnya dia mulai pantas jadi nyonya rumah besar keluarga Rahmat," kata Romo Jalal yang menutup telponnya.
Jul juga tak ambil pusing karena baginya siapapun wanita yang berada di samping Romo Jalal adalah orang yang harus dia lindungi.
terlebih ada dua bayi sekarang ini, yang bahkan menjadi prioritas utama dari keluarga Rahmat.
karena keduanya adalah pewaris sah dari keluarga itu, maka akan banyak musuh yang akan datang ingin membunuh mereka
itulah kenapa ibu dari kedua bayi itu harus kuat dan tak boleh lemah sedikit pun.
itulah kenapa semua ini di lakukan, untuk pertama-tama dia harus kuat melawan ancaman yang berada di sekitarnya.
itu adalah Bu Lastri, orang yang paling tak suka jika tempatnya di ambil seseorang.
terlebih jika dia merasa sudah tersingkir, maka dia bisa melakukan apapun untuk merebut tempatnya kembali.
Fauzan menjalankan semua tugas yang di berikan oleh Naina, dan dai mendapatkan telpon jika mayat dari mbok Inah sudah di pulangkan.
setelah selesai, dia langsung lari ke ruang kekasihnya itu, tapi yang dia lihat malah hal yang menyakitkan, bagaimana tidak dia melihat Kikan, gadis yang begitu dia cintai malah menangis di pelukan seorang pria, itu pun di depan semua orang, Fauzan pun mengutuk dan melempar cincin pertunangannya dengan Kikan, "dasar wanita murahan," makinya.
gadis itu kaget, tapi dia tak peduli toh Fauzan itu cuma masyarakat miskin, sedang pria yang memeluknya itu seorang pemilik perkebunan yang sangat luas.
__ADS_1