Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
jelaskan kang mas


__ADS_3

Keesokan harinya, Naina merasa tak nafsu makan atau pun minum, dia masih syok dengan apa yang semalam dia dengar.


Jul dan mbok Siti merasa tak enak karena mereka berdua membicarakan hal sensitif hingga membuat Naina marah.


Mobil Romo Jalal sampai di rumah sakit karena ingin menjengguk istrinya itu.


Dia sudah dengan susah payah keluar dari rumah karena bu Lastri yang terus menghalanginya.


Bagaimana tidak, setelah bangun tadi pagi, Bu Lastri langsung mengikuti Romo Jalal kemanapun pria itu pergi.


"Kenapa kamu mengikuti ku, aku mau bekerja," kesal Romo Jalal.


"Jangan lah begitu kang mas, aku hanya ingin bersama mu seperti dulu, kenapa kamu sekarang begitu dingin padaku," kata Bu Lastri yang memohon.


"Bukan begitu Lastri, kamu juga tau pekerjaan ku banyak, tak mungkin aku hanya menemanimu seharian di rumah, krnspa kamu sekarang tak bisa di bilangin sih," kata Romo Jalal mulai kesal.


"Kenapa kang mas marah, kang mas itu seperti ingin mendepak diriku, aku selalu jadi yang nomor sekian," kata Bu Lastri.


"Terserah diri mu Lastri, aku merasa kecewa, karena aku tau jika pelayan mu itu menaburi sarapan dengan sesuatu bukan, kamu tak berubah Lastri," kata Romo Jalal.


"Iya aku yang menyuruh hal itu, karena aku ingin kang mas duduk diam di rumah, aku tak ingin kang mas pergi," jawab Lastri.


"Kamu keterlaluan Lastri, aku kecewa dengan ku, tapi jika itu yang jamu inginkan, aku akan melakukannya, tapi aku tidak ingin diam di rumah dengan mu, melainkan dengan Tini, dia pelayan yang kau percaya bukan," kata Romo Jalal yang memberikan kode.


"Apa? kang mas kamu tak boleh melakukan itu, itu berzina," marah Bu Lastri menahan tangan suaminya.


"Memang kenapa, dia itu budak rumah ini jadi aku bisa melakukan apapun terserah diriku bukan," jawab Romo Jalal.


Bu Lastri tak percaya dengan apa yang di dengarnya, tapi belum juga dia bereaksi Agus dan Sarno sudah menyeret pelayan Bu Lastri dan memasukkan kedalam kamar.


Romo Jalal pun masuk ke dalam kamar dan membuat Bu Lastri marah besar.


Sedang di dalam kamar, mbok Tini yang memang berusia tiga puluhan tahun merasa senang karena Romo Jalal mau menidurinya.


Di luar kamar, Alip dan Agus berjaga untuk menahan Bu Lastri agar tak bisa masuk.

__ADS_1


Sedang Romo Jalal duduk di sofa dengan dingin menatap wanita yang sedang melepaskan bajunya dengan tak tau malunya.


Suit...


Dua orang masuk kedalam kamar dan meringkus mbok Tini, "kamu yang membuat Ajeng jadi kambing hitam bukan. sekarang jawab siapa yang menyuruh mu," tanya Romo Jalal.


"Anda tentu tau siapa yang menyuruh ku Romo, itu nyonya Lastri karena dia tak ingin melihat nyonya Naina bisa hamil dan bernafas, jika nyonya Ningsih di racun perlahan, tapi nyonya Lastri tak ingin melakukan itu pada nyonya Naina karena anda terlalu menyayanginya, jadi jika ingin melindungi nyonya Naina, anda harus meninggalkan dia," jawab mbok Tini yang mengatakan semuanya.


"Ternyata mengorek informasi dari mu itu mudah ya," kata Romo Jalal menyeringai.


Dia sudah merekam semuanya, dan memberikan kode untuk kedua pria itu memuaskan mbok Tini.


Dan membuat kamar itu berantakan, dan Romo Jalal memilih untuk menunggu di kamar mandi.


Tentunya dia mengunakan headphone agar tak mendengar suara-suara aneh itu.


Setelah satu setengah jam, akhirnya Romo keluar dan terlihat rambut pria itu sedikit basah.


"Kang mas jahat!! kenapa kamu tak ada puasnya," kata Bu Lastri yang marah dan memukuli dada Romo Jalal.


Pria itu pergi bersama Agus dan Alip, sedang Bu Lastri yang marang langsung masuk kedalam kamar itu.


Dia sendiri kaget melihat kekacauan yang terjadi di kamar, dan di ambang dia melihat mbok Tini tak berdaya di ranjang dengan semua bekas itu.


Bu Lastri mengambil parang di dapur dan langsung menggoroknya di tempat.


Bahkan Bu Lastri tak segan untuk mencincang tubuh mbok Tini karena berani bermimpi menjadi istri suaminya.


"Awas kamu kang mas!!" teriaknya marah.


Di rumah sakit mbok Siti masih berusaha membujuk Naina untuk makan.


"Nyonya tolong makan dulu, nanti nyonya bisa sakit," kata mbok Siti.


"Tidak mau, lebih baik aku mati, kenapa aku harus hidup dengan pria tukang kawin seperti itu!!" marah Naina yang berontak.

__ADS_1


Tanpa di duga, Romo Jalal masuk kedalam ruangan Naina. "Naina kami sudah sadar, sayang..."kata Romo Jalal yang bergegas mendekati istrinya itu.


"Tidak kang mas, pergi... aku benci kamu, kenapa tak cukup dengan diriku hingga kamu ingin menikah lagi huh!!" marah Naina.


"Apa yang kamu katakan," bingung Romo Jalal.


"Maaf Romo, semalam saya tak sengaja keceplosan dengan ide yang kita bahas, tapi nyonya malah salah paham," kata Jul


"Apa semalam, berarti istriku sadar dari semalam dan kalian tak memberi tahu diriku," marah Romo Jalal.


"Aku yang suruh, aku tak mau di sini lagi, aku mau pergi...." tangis Naina.


"Kalian pergilah," kata Romo Jalal mengusir mereka semua.


Romo Jalal langsung naik ke atas ranjang dan memeluk istrimu itu, perlahan-lahan Naina pun tak berontak lagi.


"Sudah... kita bisa bicara, atau kamu masih mau marah," tanya Romo Jalal.


"Aku tak mau ada wanita lain, aku tak mau di singkirkan oleh istri tua mu mas..." tangis Naina.


"Itu masalahnya mainan, jika aku tak menikah lagi,maka kamu akan terus menjadi incaran dari Lastri, bahkan dia yang melakukan ini padamu, aku tak bisa menyingkirkan dirinya atau menceraikan dia, karena aku terikat janji dengan leluhur kami," kata Romo Jalal.


"Apa ... dan aku harus terus hidup di rumah yang seperti neraka itu," tanya Naina.


"Maaf, karena ini harus terjadi, jadi tolong mengertilah," kata Romo Jalal.


Bu Lastri di rumah mulai meminta tolong pada semua orang untuk mencarikan gadis yang akan di nikahkan kepada suaminya.


Tapi ada satu syarat yang harus di lakukan saat ingin jadi nyonya rumah itu, yaitu agar mematuhi semua ucapannya.


Jika tidak maka dia bisa dengan mudah mendepaknya keluar dan atau menghukumnya mati.


Mbok Jum menunjukkan sebuah foto yang sangat membuatnya tertarik.


Pasalnya wanita itu masih muda dan mbok Jum bilang jika gadis itu mudah di atur, itu seakan jadi nilai plus di mata Bu Lastri.

__ADS_1


"Baiklah mbok Jum, antar aku untuk menemui gadis ini, dan semoga apa yang kamu katakan itu benar ya," kata Bu Lastri.


__ADS_2