
Naina terlihat sangat senang setelah acara berakhir, bahkan di mobil gadis itu terus tersenyum lebar.
"Kamu menyukai anak-anak," tanya Romo Jalal.
"Iya kang mas, mereka begitu lucu dan menggemaskan, kita seperti punya kertas yang masih bersih dan polos, dan kita yang akan menulis di kertas itu, dan menjadikan apa yang kita inginkan baik buruknya," kata Naina.
"Bagaimana dengan memiliki anak sendiri, kamu tau benar kenapa aku menikahimu, tentu saja aku ingin punya keturunan," kata Romo Jalal yang langsung membuat senyum Naina lenyap.
"Saya tau kang mas," jawab Naina.
Mobil yang membawa mereka pun sampai di rumah, dan terlihat para pelayan sudah menunggu kedua majikan mereka.
Mbok Siti dan mbok Ijah langsung mengekor di belakang Naina, "istirahat Naina, dan jangan pergi kemana pun," perintah Romo Jalal.
"Baik kang mas," jawab Naina.
Sedang untuk Romo Jalal menuju ke ruang kerjanya di ikuti semua anak buah kepercayaannya dan juga tangan kanannya.
Seorang mbok datang ingin menemui Romo Jalal dengan membawa sesuatu.
Pelayan itu datang dengan potongan rambut yang terdapat darah, "Romo, ngapunten sebelumnya, nyonya sepuh mengirimkan ini pada Romo," kata pelayan itu gemetar memegang nampan itu.
Romo Jalal yang baru selesai berganti baju pun menoleh, dia melihat benda di nampan itu dengan marah.
"Apa yang kalian lakukan sebenarnya, kenapa sampai dia melakukan itu!!" marah Romo Jalal
Dia langsung lari secepat dia bisa, di ikuti semua orang, dan dia membuka pintu kamar milik Bu Lastri dan menemukan istrinya itu terbaring di lantai dengan darah yang cukup banyak.
"Kamu gila Lastri, apa yang kamu lakukan," kata Romo Jalal yang dengan cepat membuka gembok pasung yang mengikat Bu Lastri.
"Lebih baik aku menyusul Ningrum untuk meminta maaf, karena kecemburuan ku aku melakukannya..." lirih Bu Lastri.
"Jangan bodoh, setelah kehilangan Ningsih aku tak ingin kehilangan mu," kata Romo Jalal yang mengendong Bu Lastri.
Naina keluar dari kamarnya karena mendengar suara ribut, dia berlari ke depan dan betapa terkejutnya dia melihat suaminya itu.
Karena Romo Jalal berjalan dengan cepat sambil mengendong seorang wanita yang sudah bersimbah darah.
Bahkan tak ada penjelasan atau perkataan dari pria itu sedikitpun, dan dia melewati Naina begitu saja.
__ADS_1
"Itu..."
"Nyonya sepuh nyonya, kata pelayan yang tau, nyonya sepuh berusaha menghabisi dirinya sendiri," bisik mbok Ijah.
Naina tiba-tiba terduduk lemas, "nyonya muda!!" teriak mbok Siti dan mbok Ijah.
"Nyonya kenapa?" tanya mbok Siti.
"Tidak apa-apa Mbok, tolong bantu saya berdiri," kata Naina.
Di dalam mobil Romo Jalal pun berusaha untuk membuat Bu Lastri tetap sadar.
Bagaimana pun wanita itu adalah istri pertamanya dan orang yang sangat berjasa dalam membuatnya menjadi seperti sekarang ini.
Meski dia bukan suami yang sempurna,tapi dia tetap setia dan tak pernah berniat meninggalkan Romo Jalal.
Sesampainya di rumah sakit, Bu Lastri langsung mendapatkan perawatan intensif.
Dia sebenarnya hanya pura-pura kondisinya parah, nyatanya dia tau benar apa yang dia lakukan.
"Apa lagi yang kamu lakukan bude," tanya dokter yang merawat Bu Lastri, yang sebenarnya adalah keponakan wanita itu.
"Tapi aku dengar kemarin Bu Ningsih sudah mati, memang pakde nikah lagi?" tanya pemuda itu yang sedang menjahit luka Bu Lastri tanpa memberikan anastesi.
Pasalnya Bu Lastri memiliki sedikit keanehan yaitu tak pernah bisa merasakan sakit, meski dia terluka parah.
"Apa kamu tak dengar jika pakde mu itu menikah lagi, dan karena aku marah dengan Ningsih yang membujuk pakde mu, aku membunuhnya, dan setelah itu kamu pasti tau apa yang bude dapatkan," jawab Bu Lastri.
"Bude ini, untung ini luka tak parah, tapi setelah ini apa pakde akan luluh,"
"Pasti lah, bagaimana pun dia menyayangi istri barunya atau pun Ningsih, tapi bude adalah orang pertama yang bersama dengannya," kata Bu Lastri dengan percaya diri.
Akhirnya semua luka sayatan di tangan wanita itu sudah di jahit rapi, dan Bu Lastri pun mengedipkan matanya dan mulai pura-pura lemah.
Pemuda itu mengeleng pelan,dia memang satu-satunya orang yang tau kondisi dari Bu Lastri.
"Bagiamana kondisi bude mu Nugi?" tanya Romo Jalal.
"Syukurlah pakde membawanya tepat waktu, tadi aku sudah memberikan transfusi darah serta obat, dan sekarang mungkin bude akan di pindah ruang rawat, tapi pakde sebisa mungkin tolong jaga emosi dari bude ya, pakde tau benar bagaimana kondisinya," kata Nugi.
__ADS_1
"Baiklah Nugi, pakde akan mengingat apa yang kamu katakan," kata Romo Jalal.
Nugi mengangguk dan kemudian pergi, dalam perjalannya meninggalkan Romo Jalal.
Pemuda itu menyeringai kejam, "selamat menikmati kebohongan bude, dasar pakde bodoh," gumam Nugi.
Romo Jalal pun mengikuti suster yang membawa Bu Lastri menuju ke area ruang rawat.
Jul membagi beberapa shift untuk berjaga di rumah sakit, bagaimana pun mereka tak boleh lengah sedikit pun.
Naina di rumah hanya mendengar kabar dari para pelayan yang mendapatkan kabar dari Jul dan pengawal Romo Jalal lainnya.
Naina tak menyangka jika akan melihat hati ini, kematian dari Bu Ningsih yang mendadak, serta perbuatan Bu Lastri.
Seperti memberikannya ketakutan tersendiri padanya, Nina sedang duduk di kursi yang kapan hari dia duduki.
Dia menyandarkan kepalanya di sandaran tangan kursi itu, "kenapa aku harus terjebak di sini," gumamnya.
Mbok Tini lewat dan dia membawa sebuah lilin aroma, melihat sosok dari istri muda Romo Jalal yang sedang di luar.
Pun menjalankan aksinya, tentu itu berkat suruhan dari Bu Lastri, tentu saja dia tak akan mengotori tangannya.
"Ajeng, kemarilah..." panggil mbok Tini.
"Iya mbok ada apa?" tanya gadis muda yang baru beberapa hari bekerja di rumah itu.
"Tolong antar ini ke kamar Romo dan nyonya muda, kemudian nyalakan sebelum pergi, karena ini lilin aroma terapi yang di kirim oleh Romo," kata mbok Tini.
"Tapi kenapa menyuruh ku, bukankah yang menjadi pelayan nyonya muda itu mbok Siti dan mbok Ijah," bantah gadis itu.
"Wes Tah Ajeng, cepat lakukan atau kamu mau aku bilang pada Romo jika kamu tak melakukan hal yang di suruh oleh," kata mbok Tini menakut-nakuti.
"Iya mbok," kata Ajeng yang tak ingin di pecat karena gaji di rumah keluarga Rahmat ini sangat besar.
Dia pun mengikuti perintah dari mbok Tini, tapi karena tak ada orang dia leluasa masuk.
Setelah meletakkan lilin di atas meja, dia pun menyalakan lilin itu dan kemudian pergi.
"Nyonya, ini sudah semakin malam, sebaiknya nyonya muda istirahat," bujuk mbok Ijah.
__ADS_1
"iya mbok," jawab Naina.