Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
calon istri untuk Romo


__ADS_3

Sebenarnya ini adalah rencana mbok Jum, gadis yang akan di kenalkan kepada Bu Lastri adalah putri kandungnya yang di titipkan ke rumah saudara jauhnya dari kecil.


Bahkan dia sudah melakukan kongkalikong dengan keluarganya itu agar seakan-akan tak mengenalnya.


Perjalan menuju ke rumah gadis itu cukup jauh bahkan jalanan juga tak baik.


Bahkan mobil sempat terperosok dua kali, "gila ini desa atau apa, kenapa jalanan hancur begini, ah... bikin kesal saja," marah Bu Lastri


"Mohon sabar nyonya sepuh, karena ini memang jalan satu-satunya yang bisa di lewati mob," jawab mbok Jum.


"Aku percaya padamu mbok Jum, tapi ingat jangan sampai kamu menghianati diriku," kata Bu Lastri.


"a nyonya," jawab mbok Jum.


Akhirnya setelah perjuangan keras, mereka sampai di desa yang sangat asri itu.


Mereka pun sampai di sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu yang terlihat sangat kuno.


Ada empat orang yang keluar dari rumah itu, dan mereka segera menyambut kedatangan Bu Lastri.


"Selamat datang nyonya sepuh," salam mereka yang memang mengenal wanita itu.


"Iya, sudah-sudah kita tak ada banyak waktu karena perjalanan yang cukup sulit, sekarang kita lebih baik masuk dan membahas semuanya," kata Bu Lastri.


"Inggeh nyonya sepuh," jawab pria tua itu.


Saat masuk kedalam rumah, ternyata hanya ada empat kursi yang terbuat dari rotan.


Dan sepertinya belum ada listrik di tempat itu, "kalian tau kan apa niat ku datang kesini?"


"Inggeh nyonya sepuh, kami tau karena mbak Jum sudah mengabari," jawab pria itu.


"Suruh keluar gadis itu, aku ingin melihatnya lebih jelas, karena aku tak bisa memilih istri sembarangan untuk suamiku," kata Bu Lastri.


Seorang gadis dengan tubuh yang cukup Mont*k keluar, bahkan kulit gadis itu sangat putih bersih.


Rambut hitam panjang dan lurus, "aku boleh pinjam kamar sebentar, karena ada tes yang harus aku lakukan," tanya Bu Lastri.


"Monggo silahkan Bu," kata keduanya.


Dia memastikan gadis itu masih perawan dan sempurna, setelah itu Bu Lastri pun keluar.

__ADS_1


"Bagus dia lolos, tapi ada satu syarat lagi yang harus di penuhi," kata Bu Lastri.


"Ada apa lagi nyonya?"


"Dia setelah menikah, tidak boleh membangkang kepadaku, dan harus mengikuti semua arahan dan perintah ku, jika dia berani membangkang maka aku akan pastikan dia mati dan kalian tak akan pernah menemukan jasadnya," kata Bu Lastri dingin.


"Baik nyonya kamu mengerti hal itu," jawab kedua orang tua itu.


Bu Lastri mengeluarkan uang satu koper dan memberikannya kepada keluarga itu.


Dan beberapa hari lagi mereka akan datang bersama dengan Romo Jalal untuk melangsungkan pernikahan.


Tapi kemungkinan akan menunggu Naina sehat, karena Romo Jalal tak akan mau meninggalkan istrinya itu.


Tak butuh waktu lama, rombongan dari Bu Lastri pun pergi, mereka pun merasa senang karena mendapatkan uang.


Bahkan mbok Jum memastikan jika hidup mereka akan sangat sejahtera setelah gadis itu menikah dengan Romo Jalal.


Di rumah sakit, Naina masih nyaman bersandar pada dada suaminya itu, entah sejak kapan.


Dia mulai mencintai suaminya itu, hingga sekarang Naina bahkan seperti masih belum ikhlas dengan rencana besar itu.


"Tentu saja tidak Naina, karena bagiku kamu yang utama," jawab Romo Jalal


"Aku tak yakin akan hal itu," jawab Naina yang meragukan suaminya.


Tiba-tiba ponsel Romo Jalal berdering, ternyata itu istri pertamanya.


"Tunggu dulu Naina," kata Romo Jalal yang bangkit dan Naina memilih pergi ke kamar mandi karena tak baik jika dia mendengar percakapan antara mereka.


Tapi tanpa di duga, Romo Jalal menahannya, dan meminta Naina tetap di sisinya.


"Halo Lastri, ada apa?" tanya Romo Jalal yang langsung to the poin.


"Bisakah jika aku telpon basa basi dulu, jangan terlalu dingin seperti itu," kata Bu Lastri dengan nada suara jengkel.


"Sudah kamu mau apa, kamu tau benar jika aku sangat sibuk, aku sedang bekerja," kata Romo Jalal.


"Benarkah, sudahlah aku cuma mau bilang, aku sudah menemukan wanita yang pas untuk jadi istri kang mas, kalian bisa menikah saat Naina sudah keluar dari rumah sakit," kata Bu Lastri.


"Tapi aku harus tau dia siapa, dan Naina juga harus setuju, karena jika tanpa persetujuan darinya aku juga tak akan menikah lagi," kata Romo Jalal.

__ADS_1


"Mas aneh, memang Naina sudah sadar hingga bisa memberikan persetujuannya, dia itu koma kang mas," kata Bu Lastri yang belum mengetahui kabar berita.


"Terserah, selama Naina belum memberikan persetujuan nya aku tak akan menikah," kata Romo Jalal yang mematikan telponnya.


Naina langsung naik ke pangkuan Romo Jalal, "Naina hentikan, kamu masih sakit, dan kamu tau benar jika aku tak mungkin bisa melakukannya, karena kondisi mu baru saja pulih," kata Romo Jalal.


"Aku sepertinya mengerti keinginan kang mas, tapi ingat jika aku di ganggu mungkin aku juga akan bisa gigit seperti singa yang di ganggu tidurnya," bisik Naina.


"Aku bersumpah akan selalu menjadikan mu wanita ku yang utama, sekarang biarkan suamiku ini pergi, dan kemungkinan Lastri akan menemui mu," kata Romo Jalal.


"Tidak masalah, asal dia datang tak membawa racun ke sini dan aku mohon untuk Jul tetap menjaga ku selama di sini," kata Naina.


"Tanpa kamu memohon nya pun, aku akan tetap menaruhnya di dekat mu, agar aku merasa tenang jika kamu itu aman," jawab Romo Jalal.


"Baiklah kang mas, selamat bekerja," kata Naina.


Romo Jalal pun pamit bersama Joyo dan Sarno serta Alip, sedang mbok Siti, Jul dan Agus tetap berjaga di rumah sakit.


Benar saja, pukul enam sore, Bu Lastri datang ke rumah sakit bersama pelayan dan pengawalnya.


Kemungkinan wanita itu tak sempat pulang dan langsung memutuskan datang ke rumah sakit setelah mendengar jawaban Romo Jalal.


Karena Bu Lastri tak ingin rencananya memiliki pion besar terganggu.


"Minggir aku ingin melihat kondisi Naina," kata Bu Lastri dingin pada Jul dan Agus.


"Maaf nyonya sepuh, silahkan tinggalkan tas, ponsel dan jam tangan anda serta perhiasan di luar ruangan, sesuai permintaan dari Romo Jalal," kata Jul dingin.


Karena dia tau Jul orang kepercayaan suaminya,jadi dia tak bisa menolaknya.


Dia pun melepaskan semua yang di minta oleh Jul, begitupun dengan mbok Jum.


Setelah melihat wanita itu aman, Jul mengikuti mereka berdua masuk kedalam ruang rawat.


Bu Lastri kaget melihat Naina sedang makan di suapi mbok Siti, tapi wanita itu bertingkah seperti anak kecil.


"Aduh nyonya jangan di mainin makanannya, kok di sembur-sembur sih," kata mbok Siti.


"Siti jelek, ha-ha-ha-ha, Siti jelek, cak Jul datang yey... bawa siapa, kenapa mukanya serem gitu! hiiii...." kata Naina bertingkah laku aneh.


"Dia kenapa? otaknya geser?" bingung bu Lastri.

__ADS_1


__ADS_2