Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
kisah harus selesai.


__ADS_3

Reino hari ini sudah bebas dari penjara karena jaminan yang di berikan oleh keluarganya.


bahkan tak hanya itu, dia melangkah dengan yakin dan mengakhiri segalanya yang berhubungan dengan gadis bernama Naina.


"maafkan aku Naina, kita harus berakhir karena aku harus maju dalam hidup ku, dan lagi juga sudah bersama dengan suamimu," gumam Reino merobek foto dan membuang gelang dan yang lain juga.


"ayo pulang Reino," panggil sosok ayah pemuda itu.


Fauzan sebenarnya datang dan dia menyaksikan semuanya, dia tak menyangka apa yang di katakan oleh ibunya benar-benar terjadi.


karena pemuda itu tak mungkin bisa selamanya menentang orang tuannya, padahal dia sudah pergi dari rumah tapi akhirnya tetap kembali ke rumah itu juga.


"ku kira kamu itu bisa setegar karang, nyatanya cangkang saja yang terlihat kuat, tapi dalamnya lemah," gumam Fauzan yang memilih membeli peralatan kantor sesuai perintah Romo Jalal


setelah membeli segalanya, dia memutuskan untuk pulang, dan kaget saat melihat ada Naina di kantor desa.


"aduh kamu mengejutkan ku, ada apa ini ketua PKK desa di sini, bukankah tak ada kegiatan PKK kan?" tanya Fauzan.


"gak ada, cuma mau bagi-bagi jus jeruk buatan warga, jika berkenan bisa pesan loh karena ini juga di jual," kata Naina.


Fauzan tersenyum, "ku kira kamu yang jualan karena butuh uang," ledek pemuda itu.


"idih... kenapa aku butuh uang karena aku bisa menghabiskan uang suamiku itu lebih mudah, sudah aku mau pulang dan nitip itu untuk ibu ya," kata Naina yang ternyata di antar oleh tiga pengawalnya.


Fauzan kaget melihat satu krat, minuman rasa jeruk itu, "dasar kamu ini Naina," gumamnya.


Romo Jalal pun tak cemburu karena Fauzan dan keluarganya sudah seperti keluarganya juga.


terlebih setelah mendengar cerita Naina jika Fauzan yang selalu menjadi pelindung gadis itu selama di sekolah


mobil yang membawa Naina sampai di rumah besar keluarga Rahmat, tapi pandangan Naina menangkap sosok yang tak asing baginya.


"berhenti," perintah Naina yang membuat Agus kaget


"ada apa nyonya muda?"


Naina turun dari mobil di ikuti oleh ketiga pengawalnya, dia berjalan dan mendekati seseorang yang tengah khawatir dan terlihat kebingungan.

__ADS_1


Naina ingin langsung memeluknya, tapi ingat apa yang di lakukan oleh pria itu padanya, membuat Naina menahan dirinya.


"bapak mau apa sayang kesini?" tanya Naina dengan suara gemetaran.


pasalnya dia melihat orang tuanya itu tampak lebih kurus dari biasanya, dan pria tua sudah tampak sepuh dari usianya.


"Naina... pulang lah jika bisa, ibu mu merindukan mu," kata bapak Naina dengan suara lirih.


"bapak kita masuk dulu," ajak Naina.


"tidak bisa Naina, ibu mu di rumah sendirian," jawab pria itu yang berjalan menjauh


"kalau begitu izinkan aku mengantar bapak," kata Naina yang merasa kasihan.


"itu akan merepotkan, dan aku tau meminta mu pulang saja itu adalah dosa besar karena suamimu sedang tak ada di rumah," kata bapak Naina.


"aku yakin jika kang mas akan mengizinkan dan tak akan marah, lagi pula aku akan bawa pengawal," jawab Naina


pria itu pun akhirnya masuk kedalam mobil dan Sarno keluar dengan mobil lain untuk menjaga Naina.


terlebih Jul dan Alip sedang fokus menjaga Romo Jalal yang sedang bekerja.


Romo Jalal tentu mengizinkan terlebih istrinya itu banyak membawa pengawal untuk perlindungan.


dua mobil mewah itu masuk ke dalam desa Naina di besarkan, semua orang berdiri menyambut kedatangan dari wanita itu.


saat dia turun ternyata bertepatan dengan mobil dari keluarga Reino yang datang dan pemuda itu juga turun.


Naina pun mengalihkan pandangannya dan melihat rumah yang sudah tampak megah milik keluarganya.


tapi rumah itu nampak begitu sepi, saat Naina masuk ke dalam rumah terdengar suara lemah dari seseorang.


"bagaimana pak apa Naina bisa pulang..." kata ibu dari Naina.


melihat putri kecilnya sudah berdiri di depan matanya, wanita itu lari sebisanya dan langsung memeluk Naina.


"anak ibu pulang... anak ibu... ibu mimpi buruk terus menerus, ibu mimpi kamu terluka bersimbah darah, ibu sedih karena tak bisa menemui mu nduk..." tangis wanita itu.

__ADS_1


"ibu jangan berpikiran buruk, bagaimana Naina bisa berlumuran darah, karena Naina harus sehat karena sedang hamil dan sebentar lagi ibu dan bapak akan jadi mbah," kata Naina dengan sedih.


"syukurlah... ibu sangat merindukan mu,"


"Naina juga, dimana adik-adik Bu? biasanya mereka sudah berlarian kemana-mana," kata Naina yang memang tak nampak kedua adiknya.


"mbak Naina, aku di sini," panggil seorang bocah yang datang dengan mengunakan penyangga di kedua lengannya.


"Nino apa yang terjadi dek," tanya Naina sedih melihat adiknya itu.


"kita bahas di dalam ya nduk," kata bapak Naina yang tak ingin putrinya stres karena dia sedang hamil.


"aku yang membuatnya cacat, karena dia berani mengambil jambu air milik ku, dan bapak ku yang bodoh itu juga telah menghancurkan semua tanaman para petani lain dan harus menggantinya," kata ayah Reino dengan sombong.


"tidak ada laporan masuk ke desa tentang hal itu, atau jangan-jangan kalian mengambil inisiatif untuk melakukan hukuman tanpa bertanya kepada Romo Jalal, wah lancang sekali... apa kalian bisa menunjukkan jika itu kesalahan bapak ku," tanya Naina.


"sudah nduk, jangan melakukan ini, kamu sedang hamil bapak mohon," kata pria itu.


"tidak pak, aku tak mau keluarga kita terus di tindas, karena kelakuan putra mereka yang memilih jalan itu bukan aku yang memintanya, tapi pilihannya sendiri, tapi kenapa keluarga ku harus menanggung semuanya!!" kata Naina


"hei jangan mentang-mentang sudah jadi istri orang berkuasa kamu sok ya, lihat Reino ini gadis yang kamu bela itu," kata ayah Reino dengan sombong.


"kamu ingin tau kesombongan seorang nyonya muda, biar aku tunjukkan, Sarno!!! bereskan mereka semua dan semua orang yang berani mengusik keluarga ku dan buatlah cacat orang yang berani mengusik adikku," kata Naina dengan wajah penuh amarah.


"siap nyonya muda!!" jawab Sarno yang memimpin semua orang untuk membalas penghinaan terhadap keluarga Naina.


"tunggu Nanang, kamu tetap di sini, karena tugas mu bukan mengikuti Sarno,"


"tapi tugas saya melindungi nama baik nyonya," kata bocah dua belas tahun itu.


"kalau begitu ikut aku," kata Naina yang berjalan di antara kerusuhan yang terjadi.


dia mendekat ke rumah keluarga Reino yang memang di kenal sebagai rumah orang kaya.


Reino yang sedang mencoba menyelamatkan ayahnya berjalan menghampiri Naina, "suruh preman mu untuk menyingkir sialan!!" maki Reino.


plak... plak...

__ADS_1


"kita selesaikan semuanya sekarang, sekali lagi ayah mu yang bermulut busuk itu tak bisa menjaga lisannya, aku akan menunjukkan apa yang bisa anak buahku lakukan, dan tentu semua orang harus menghormati keluarga ku yang sekarang adalah mertua dari Romo Jalal," kata Naina tegas.


Reino kaget melihat sosok wanita angkuh di depannya, kekayaan telah merubah gadis baik dan sopan itu.


__ADS_2