Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah

Istri Ketiga, Sang Juragan Tanah
amarah seorang nyonya muda


__ADS_3

Reino ingin menyentuh Naina dengan membalas tamparan itu, tapi sebuah tangan menghentikan tangan Reino.


itu adalah Joyo yang langsung menendang pemuda itu hingga berlutut di depan Naina.


"jangan pernah berani mengangkat kepala bahkan berani ingin menyakiti nyonya muda," kata joyo.


"atau kami bisa membunuh mu tanpa luka, dengan racun itu sangat mudah," bisik Nanang yang sudah memegang leher Reino.


mendengar itu Naina hanya tersenyum, semua warga yang sudah dapat pelajaran pun sudah memohon ampun, bahkan ibu dari Reino juga.


"sekarang ini yang kalian terima karena berani bersikap sombong dan melupakan jika ada hukum mutlak yang di terapkan, dan Sarno selidiki apa yang terjadi tentang sawah semua orang, dan pastikan aku tau aia yang terjadi, dan setelah itu kita temukan solusinya," kata Naina yang kemudian pergi.


sedang Reino masih berlutut di sana melihat sosok Naina yang selalu tersenyum lembut dan punya sopan santun.


ternyata bersikap kasar seperti ini, bahkan wanita itu mengejutkan semua orang.


karena bisa melawan dan membela keluarganya, Naina melihat keluarganya yang sedang berdiri di teras rumahnya.


"Agus tolong minta suami ku datang kesini," kata Naina.


"baik nyonya muda," jawab Agus yang langsung menghubungi Romo Jalal.


Romo Jalal yang sedang ada di kantornya untuk melihat beberapa infrastruktur yang harus di perbaiki


seperti jalan, sekolah dan beberapa tempat lumbung pangan.


tentu saja dia tak segan mengelontorkan dana besar untuk membangun desa, karena bagaimanapun dia harus memajukan desanya.


Jul menjawab telpon dari Agus, "ya Gus ada apa?"


"mas Jul tolong bilang pada Romo untuk datang ke rumah orang tua nyonya muda, karena di desa ini sangat kacau, semua orang berani melakukan hukum tanpa memberitahu Romo, dan hanya karena hasutan satu orang mereka semua membuat keluarga nyonya kesulitan," kata Agus.


"bilang pada istriku, aku akan segera datang," jawab Romo Jalal yang tadi merebut ponsel Jul karena mendengar pria itu memanggil nama Agus.


"baik Romo," jawab Agus.


"kita berangkat ke rumah mertua ku," kata Romo Jalal dengan marah

__ADS_1


Naina sedang duduk dan terus memeluk ibunya, dia merasa sedih karena keluarganya mengalami kesulitan selama dia tidak ada.


yang parah adalah tak ada satu pun yang memberinya informasi yang terjadi di sana.


Joyo dan Nanang datang membawa makanan yang di minta oleh Naina, karena wanita itu tak ingin orang tuanya repot.


"kita makan dulu ya Bu, Nino dan bapak, apa kita harus menunggu Niko dulu?" tanya Naina.


"tidak usah kamu bisa makan dulu nduk," jawab bapak Naina.


tapi saat Naina baru meminum teh yang di buatkan oleh ibunya, suara mobil dari Romo Jalal berhenti di rumah keluarga Naina.


semua orang sudah gemetar melihat sosok petinggi dan juga orang yang selalu menjadi pengadilan di desa datang.


Romo Jalal langsung berlari masuk kedalam rumah mertuanya, dan bapak Naina serta ibu pun langsung bangkit menyambut orang yang di anggap terus di desa itu.


"selamat sore pak, sebenarnya ada apa ini pak?" tanya Romo Jalal.


pria itu melihat istrinya yang masih duduk diam dengan wajah masam, Romo Jalal tersenyum melihatnya.


tanpa di duga Naina malah memalingkan wajahnya dan dia terlihat menghapus air matanya.


Romo Jalal mendekati dan menepuk bahu istrinya itu dan itu langsung membuat Naina menangis dan memeluk pinggang suaminya itu.


"sudah sayang, sudah ku katakan kamu sedang hamil tak baik jika terus sedih seperti ini,"


"mereka menghakimi orang tua ku tanpa tau masalahnya, dan melangkahi ku sebagai kepala desa, dan lagi hanya memungut jambu air yang jatuh ke tanah satu buah, adikku harus mengalami patah tulang di kakinya," kata Naina.


"beraninya mereka melakukan itu, mereka lupa jika ucapan ku adalah hukum di desa ini," kata Romo Jalal marah besar


Sarno datang dengan membawa gelas kaleng pestisida yang digunakan semua orang kecuali tiga sawah yang memang tak terdampak.


"nyonya muda, saya sudah menemukan penyebabnya tanaman semua mati."lapor Sarno yang membawa bukti itu.


bekas botol itu membuat Romo Jalal semakin marah setelah tau, karena dari awal dia melarang warga mengunakan pestisida karena bisa menghancurkan tanah dan merusak lingkungan.


"Jul kumpulkan semua warga, kita buat persidangan mendadak," perintah Romo Jalal.

__ADS_1


warga kaget mendengar suara lonceng panggilan di balai dusun, dan saat semua orang berbondong-bondong datang.


mereka kaget melihat sudah ada Romo Jalal dan Naina yang duduk menunggu para warga datang.


sedang untuk Reino mulai merasakan panas dingin di area lehernya, karena sentuhan kecil dari Nanang.


ya sekarang Nanang mengunakan jarum agar tak mengotori tangannya untuk meracuni seseorang.


Sarno melempar semua botol bekas pestisida itu di depan semua warga, dan semua orang yang kaget melihat hal itu.


"aku memanggil pak Duwan pak Nardi dan pak Ilham, untuk jadi saksi dengan membawa barang bukti," kata Sarno


kedua orang itu datang dengan membawa dia botol yang nafih tertutup rapat.


"dari semua sawah yang ada di desa ini, hanya sawah dari ketiga orang ini yang tak mengalami mati, karena mereka tak memakai pestisida ini, dan fitnah kepada pak Nardi di layangkan oleh pemberi pestisida ini untuk menjatuhkannya, karena tak suka melihat sawah milik pak Nardi memiliki hasil panen yang melimpah sebelumnya," kata Sarno yang membungkam mulut semua orang yang kini makin ketakutan.


"dan kalian dengan lancang melakukan hakim sendiri, kalian lupa di sini ucapan ku adalah hukum, dan siapa pun yang berani melawan ku mereka bisa di hukum berat, bukan karena dia mertua ku, kalian merasa takut karena aku tak akan adil," kata Romo Jalal.


"sebagai bukti aku akan melakukan hukum di depan kalian, panggil Nino yang telah mencuri jambu air milik keluarga pak Setiawan, dan panggil pak Setiawan," perintah Romo Jalal.


"karena Nino mengambil jambu air tanpa bilang, dia akan di cambuk rotan sesuai dengan jambu yang di ambilnya, dan sebagai keluarganya yang telah bertindak dengan sembrono, Naina Jalaludin Rahmat akan di hukum cambuk sebanyak lima kali karena bertindak mendahului Romo Jalal," perintah pria itu mengejutkan semua orang.


mereka tak menyangka jika Romo Jalal tak bersikap lembut meski itu pada istrinya.


pak Setiawan merasa sangat senang melihat itu, bagaimana tidak bocah itu juga dapat hukuman.


bahkan Naina pun kini di cambuk dengan keras, meski dia sudah tersungkur di pukulan ke dua, tapi Romo Jalal menahan dirinya untuk tidak membantu istrinya itu.


karena ini pelajaran untuk semuanya,jika hukumnya tak memihak pada siapapun.


akhirnya lima cambukan itu di berikan, dan Romo Jalal langsung memakaikan jas milikinya untuk menutup punggung istrinya yang terluka.


"aku keberatan," kata Naina yang menahan rasa kesakitan akibat pukulan itu.


"apa Naina..."


"aku keberatan!!" suara lantang Naina yang bangkit dengan sisa tenaga yang di milikinya.

__ADS_1


__ADS_2