
Romo Jalal pun memutuskan pulang malam itu juga, dan besok dia akan sampai di desa saat fajar.
beruntung mereka pergi bertiga, jadi selama perjalanan mereka saling bergantian untuk menyetir mobil.
bahkan tak segan Romo Jalal menyetir untuk kedua pengawalnya karena mereka juga pasti lelah.
pukul setengah empat pagi, mereka berhenti di sebuah rest area untuk mengisi bahan bakar.
dan juga mengisi perut mereka yang keroncongan, "kita beli ayam goreng yuk, aku tiba-tiba ingin makan ayam goreng," ajak Romo Jalal.
Alip dan Sarno yang ikut pun sedikit terkejut, bahkan Joyo dengan polos bertanya pada Romo Jalal.
"itu Romo yakin, Romo kan gak pernah makan yang bertepung seperti itu?" kata Joyo.
Alip menginjak kaki pria itu, "apa sih, kan aku benar," protes Joyo.
"aku memang tak suka, tapi sepertinya enak, ayo masuk," ajak Romo Jalal.
yang pesan ayam goreng adalah Alip, pria itu memesan secara khusus ayam gorengnya.
karena mereka tak ingin terjadi apa-apa pada Romo Jalal, dan butuh waktu lima belas menit untuk pesanan mereka datang.
dan Romo Jalal langsung makan dengan lahap, bahkan ketiga pengawalnya tak pernah melihat Romo seperti ini.
"Romo sakit?" tanya Sarno yang bodoh juga.
"gak, tapi ayamnya enak, mbak mau enam potong lagi ya," kata Romo Jalal.
akhirnya mereka berempat benar-benar makan enak, dan tak lupa mereka bungkus untuk di bagikan kepada para supir yang tadi sedang tidur di truk mereka.
setelah selesai bagi-bagi, Romo Jalal sedang mencoba menghubungi rumah.
dan anehnya malah Naina yang menjawab telpon rumah itu, "Romo jika bisa cepat pulang... aku mohon..." lirih Naina yang terdengar ketakutan.
mendengar itu Romo Jalal kaget, "kita semua cepat pulang, ada sesuatu yang tak beres!!" teriak Romo Jalal.
mobil itu pun di kendarai oleh Sarno yang memang memiliki kecepatan dalam berkendara mobil.
bahkan yang seharusnya masih dua jam lagi, jadi di tempuh dalam waktu satu jam.
saat sampai di rumah, sudah pukul enam pagi, tapi Romo Jalal dan ketiga pengawalnya kaget melihat dua penjaga di depan rumah tumbang.
__ADS_1
"sialan!!" maki Romo Jalal yang bergegas masuk kedalam rumah.
samar dia mendengar suara tangisan bayi, dan saat dia Sudah masuk ke halaman rumah.
Romo Jalal kaget melihat Naina yang menyeret pedang sambil berlumuran darah, itupun wanita itu mengendong dia bayinya.
"Naina!!!" teriak Romo Jalal yang berlari menghampiri istrinya itu.
"anak buah mbak lastri tak terima jika aku menghukum sepupu dan wanita itu di pasung oleh mu... mereka melakukan pemberontakan semalam, dan tolong anak kita..." lirih Naina yang akhirnya tumbang.
Romo Jalal menahan tubuh Naina, "Alip, Sarno sambil den Dirga dan non Dewi cepat," perintah Romo Jalal.
"inggih Romo," jawab keduanya yang mengendong bayi yang baru berusia tiga bula itu.
akhirnya mereka pun membawa mereka ke tempat aman dulu, dan ternyata seluruh pengurus rumah terkena obat bius.
dan setelah pengaruh obat hilang mereka pun kembali normal, karena tujuan utama mereka adalah Naina dan kedua bayinya.
itulah kenapa hanya Naina yang bisa di bilang selamat, karena wanita itu tengah berada di kamar saat obat di sebar.
Romo Jalal yang sedang berada di rumah sakit bersama dua asistennya itu pun masih sedikit terkejut.
bahkan dokter harus memeriksa kondisi dua bayi yang juga takutnya terkena pengaruh obat bius.
"saya minta maaf Romo, karena saya tak bisa menyelamatkan kandungan nyonya yang harus keguguran karena kelelahan dan kondisinya yang lemah," kata dokter.
"apa..." kaget Romo Jalal yang tak tau jika istrinya sedang hamil.
"telpon Jul untuk membereskan semuanya, dan pastikan tangkap semua keturunan Sudarjo, karena aku tak mau melihat keturunan pria itu,"marah Romo Jalal.
"tapi bagaimana dengan nyonya sepuh?" tanya Alip.
"aku akan menyiksanya perlahan, agar aku selalu ingat karena ulahnya aku harus kehilangan anak ku," geram Romo Jalal.
Alip pun menjalankan semua perintah Romo Jalal, semua orang yang berhubungan dan memiliki hubungan darah dengan keluarga Sudarjo di ringkus.
enam mayat pria yang menyerang kediaman Romo Jalal di gantung di tempat rapat musyawarah.
sosok RT yang telah berlaku culas pun ketakutan, bagaimana bisa keenam saudaranya mati begitu saja saat ingin balas dendam.
"kenapa semua saudara ku di bawa ke tempat ini, kami tak berhubungan apapun dengannya," kata salah satu orang.
__ADS_1
"tapi anda mengenal keenam pria itu," tanya Jul.
"ya itu adakah putra-putra kami yang semalam pamit untuk main, dan kenapa mereka di bunuh seperti itu," kata pria tua yang sebenar sepupu jauh keluarga Sudarjo.
"karena mereka sudah berani menyusup masuk dan berniat membunuh nyonya muda dan dua anaknya, karena ingin balas dendam, jadi seluruh keluarga Sudarjo dan keturunannya,hari ini akan di dakwa," kata Jul.
setelah ada yang menjaga Naina di rumah sakit,dan dua anaknya, Romo Jalal pun bergegas ke desa untuk menyelesaikan semuanya.
dia datang dengan wajah marah, "kalian tau kenapa di kumpulkan dan ingin di adili di sini sekarang," tanya pria itu yang duduk di kursinya.
"kami tak tau apa-apa Romo, tolong lepaskan kami,itu ulahnya tak ada hubungannya dengan kami," mohon pria sepuh itu.
"kamu tau kan nyawa di balas nyawa jika itu hukum ku, karena ulah putra-putra kalian, aku harus kehilangan pewaris ku, jadi aku mengusir kalian semua dari desa ini, dan jika masih ada yang berani berhubungan dengan keluarga ini, maka aku akan mengusir mereka, dan kalian semua di larang keras menginjakkan kaki ke desa ini, jika tidak di hari kalian datang ke desa ini, maka kepala kalian sebagai bayarannya," perintah Romo Jalal.
mereka pun tak menjawab karena ini adalah bentuk gelas kasihan pria itu, setelah itu mereka pun pergi.
"untuknya yang berani mencuri dan berniat membunuh istri dan anakku, maka hukuman adalah tinggal di hutan belantara selama satu tahun, jika bisa bertahan maka mereka bisa bebas, jika mati itu berarti takdir mereka," perintah Romo Jalal.
"tidak Romo tolong ampuni kami Romo, setidaknya biarkan putra ku bebas dari hukuman ini," mohon pria itu.
"tidak ada yang bisa merubah ucapan ku, dan harta yang di miliki oleh pria ini di sita untuk mengantikan semua uang yang sudah di curi dari yang seharusnya berhak," kata Romo Jalal.
"kamu tidak adil Romo, hanya demi satu wanita kamu membuang wanita yang sudah menemanimu dari awal, kau itu bukan orang suci," kata pria itu yang malah menantang Romo Jalal.
"siapa yang bilang aku orang suci, apa kamu tau apa yang membuatku menghukum Lastri, kamu ingin tau karena dia berkali-kali mencoba membunuh Naina dan anak-anak ku, dan bahkan dia sudah berhasil membunuh Ningsih di hari pernikahan ku karena itu hatinya, apa masih belum puas, dia menyiksa dan mengkambing hitamkan pelayan di rumah besar Rahmat, demi keegoisannya sendiri, apa masih perlu aku mengatakan yang lain lagi, seharusnya aku menghabisi seluruh keluarga Sudarjo dari awal, hanya karena aku ingat bantuannya saja, aku bisa bersikap acuh sampai saat ini, tapi sekarang tidak lagi, kamu harus di hukum, sebelum membawa mereka pergi, patahkan satu kakinya, karena itu pantas," kata Romo Jalal.
"hidup Romo Jalal!!!"
"hidup!!"
Hidup Romo Jalal!!!"
"hidup!!"
Hidup Romo Jalal!!!"
"hidup!!"
Hidup Romo Jalal!!!"
"hidup!!"
__ADS_1
warga terus menggelu-elukan sosok yang sudah hampi tiga puluh tahun ini menjaga desa adat itu.