
"dia memang yang terbaik dan tak bisa diam," kata Romo Jalal yang tak suka mendengar pria tua itu penasaran dengan istri tersayangnya itu.
"sudahlah, ayo kembali ke rumah mu, karena sepertinya Lastri juga sudah pulang," kata Ndoro Sudarjo.
mereka pun jalan bersama menuju ke rumah besar, saat di jalan beberapa kali Romo Jalal membantu warga.
bukan hanya membantu lewat perbuatan, di juga membeli beberapa dagangan yang di jual.
meski tidak secara langsung memberikan uang, tapi itu lebih bermakna karena hal dari jualan mereka.
sedang beberapa pedagang juga terlihat begitu laris, yang masuk ke dalam review yang di buat olehnya dan Naina saat ada kegiatan PKK
jadi sana saja mereka sudah membantu pedagang kecil di desa, dan itu sangat berarti.
sesampainya di rumah, Bu Lastri langsung memeluk suaminya dengan sangat senang.
"wah ada apa ini Lastri, kamu terlihat begitu bahagia?" tanya Ndoro Sudarjo.
"iya ayah, karena saya baru saja mendapatkan gadis yang akan di jodohkan dengan kang mas, itu juga adalah gadis pilihan dari yang terbaik dan terbaik," jawab Bu Lastri semangat.
tapi reaksi dingin dari Romo Jalal seperti jika dia tak suka, "kok kamu sepertinya tak suka begitu Jalal?"
"bukan tak suka ayah mertua hanya terkejut saja karena Lastri memilihnya dengan sangat cepat," jawab Romo Jalal.
"sesuai dengan permintaan mu," jawab Bu Lastri.
tentu saja Naina langsung tau jika Bu Lastri sudah memilih wanita untuk suaminya.
dia pun mulai merencanakan sesuatu untuk menggagalkan segalanya.
terlebih dia tak ingin suaminya itu menikah lagi, Naina yang sedang duduk santai di teras sambil memikirkan sesuatu.
dia pun menerima tiga nama, dan mereka bertiga akan mendapatkan hadiah besar malam ini
sedang di rumah Romo Jalal, ternyata Ndoro Sudarjo menginap dan itu membuat Romo Jalal sangat sesak.
bahkan dia harus menyiapkan obat tidur agar Bu Lastri tak berulah saat malam hari.
jadi dia bisa istirahat dan memastikan besok punya tenaga lebih untuk melakukan kegiatan lain dan pekerjaan yang sudah menunggu.
sedang Alip kasih menunggu kejujuran dari bocah yang di ikuti ya, karena dia ingin lihat ibu hamil yang di lihat oleh bocah itu.
karena dia sudah memastikan jika bapak dan adiknya memang sesuai dengan apa yang dia katakan.
__ADS_1
"anda tak pulang cak, sepertinya ibu akan pulang telat," kata anak itu.
"tak masalah, kamu tau benar bagaimana Romo bertindak jadi jangan mengurusi ku," kata Alip
akhirnya sosok wanita yang di tunggu pun pulang dan tenyata benar, wanita itu sedang hamil dan ternyata wanita itu sedang berjualan.
"anda berjualan apa?" tanya Alip yang sedari tadi menikmati rokok miliknya.
"saya jualan pecel lontong pak, tapi kenapa pengawal romo di sini, apa putra saya ketahuan mencuri lagi, ya Allah ke sudah ibu bilang jangan mencuri lagi, kamu ini kenapa sulit sekali," marah wanita itu.
"tidak masalah Bu, besok tolong bawa dagangan anda ke rumah selir, tau kan yang rumah di ujung desa, anda kesana dan bilang pada nyonya muda, apa yang anda butuhkan, saya pastikan nyonya akan menolong anda," kata Alip yang bangkit dari duduknya.
"ya tuan," jawab wanita itu.
dan Alip menerima perintah untuk mrligat kondisi Naina dan seluruh orang yang ada di rumah selir.
saat sampai di rumah itu, dia kaget melihat begitu banyak wanita berkebaya sama tapi dengan penampilan yang mengerikan.
"kalian semua mau apa, dan di mana nyonya muda?" tanya Alip.
"aku di sini, aku mau melakukan hal gila, sudah diamlah karena malam ini aku akan meminta maaf pada arwah mbak Ningsih karena aku tak mau kang mas menikah lagi, jadi lebih baik bantu kami," kata Naina.
"ya Tuhan nyonya, baiklah aku bantu tapi besok bantu seorang ibu penjual lontong pecel yang sedang hamil ya," kata Alip
"itu gampang, sudah bantu kami," kata Naina.
mereka benar-benar melakukan hal yang mengerikan karena dia tak ingin Romo Jalal menikah lagi.
akhirnya malam itu banyak warga yang ketakutan, karena kelompok Naina ini tak tanggung dalam mengerjai para keluarga calon istri suaminya.
di salah satu rumah, sosok berkebaya biru yang sering di gunakan Ningsih saat menghadiri acara resmi atau bertemu dengan warga.
dia duduk sambil menyisir rambut panjang lurus yang kusut, dan terdengar menembangkan sebuah lagi.
"Lingsir wengi
Sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang
Ngerindhu ati
Kawitane
__ADS_1
Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane
Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta
Kadung lara
Sambat sambat sapa
Rina wengi
Sing tak puji ojo lali
Janjine muga bisa tak ugemi...." suara itu membangunkan semua orang di dalam rumah.
"anda siapa... tanya ayah gadis yang terpilih itu.
sosok itu menoleh dengan wajah hancur, "sopo seng wani ngepel bojoku.... balek o... atau mati..." tangis wanita itu.
"Bu Ningsih..." lirih istri pria itu ketakutan.
"tolong balek no bojoku... aku sepi dewean, Melu aku ya... ha-ha-ha-ha!!" tawa wanita itu yang tiba-tiba lari dan mencekik leher ayah wanita itu.
"mati... mati... mati!!!" teriaknya sambil muntah darah.
"tidak... mohon nyonya... jangan bunuh bapak saya, saya akan mundur karena saya tak mau mati, dan tolong jangan ganggu keluarga saya," tangis gadis itu.
tiba-tiba lampu mati dan sosok itu menghilang, mereka semua di liputi ketakutan terlebih di depan rumah di gantung ayam cemani tanpa kepala,dan kepercayaan di desa itu.
jika ada rumah tang telah di kutuk maka akan ada ayam cemani buntung yang di gantung seperti itu.
Bu Lastri sangat marah saat pagi hari mendapat kabar jika semua gadis yang mau menikah.
ternyata mengundurkan diri, bahkan ada yang langsung seperti jadi orang gila.
akhirnya perlahan isu pun muncul jika mereka di datangi Bu Ningsih yang tak terima dengan keinginan pernikahan dari Romo Jalal lagi.
dan bahkan ada bola panas liar yang mengatakan, jika Bu Ningsih tak tenang karena mati di tangan Bu Lastri.
__ADS_1
terlebih itu bisa di buktikan dengan pindahnya Naina yang notabene istri pilihan dari Bu Ningsih ke rumah selir.
Romo Jalal tak menghentikan bola panas itu karena semua itu benar,dan itu membuat tak ada yang mau mencalonkan diri lagi.