
kejadian semalam membuat mereka seolah menabuh sebuah gong yang menandakan di mulainya suatu perang Dingin diantara keduanya. Baik Arjuna maupun Nayaka keduanya nampak membisu, walau Naya masih melakukan kewajibannya namun ia sama sekali tidak berucap apapun begitupun Arjuna, sekilas mata Arjuna memang sesekali melirik kearah Naya yang tengah menunduk sembari menikmati sarapan paginya tanpa keluar sepatah katapun, sampai-sampai Arjuna tidak tahan dengan kondisi seperti ini, ia pun beranjak meraih gelas itu dan meminumnya lalu meraih tasnya dan melenggang pergi tanpa berpamitan pada Naya,
Sekilas Arjuna kembali menoleh kearah Naya, menanti respon Naya.
Sedangkan Naya masih melahap sarapannya tanpa menoleh sedikitpun kearah Arjuna, membuat Arjuna mengepalkan tangannya dan melenggang pergi.
Setelah memastikan Arjuna sudah pergi kedua tangan Naya turun perlahan di pangkuannya sembari saling meremas, bahunya mulai bergetar, karena mengingat kejadian semalam membuatnya merasa semakin takut pada Arjuna, takut kalau dia akan melakukannya lagi padanya.
Sejujurnya ia mungkin tidak akan mempermasalahkan itu jika Arjuna benar-benar ingin melakukannya atas dasar cinta bukan hanya karena dia menganggapnya sebagai wanita yang tidak punya harga diri, terlebih saat mengingat Arjuna yang memiliki wanita lain di belakangnya.
Naya menyentuh tangannya yang merah karena cengkraman Arjuna benar-benar kuat, perlahan ia mendorong kursinya dan mulai beranjak dan kembali masuk kedalam kamarnya.
Di dalam kamarnya ia melihat ponsel Arjuna tergeletak di atas ranjangnya.
"Ponsel Tuan Arjuna tertinggal?" Gumamnya lirih. Tak lama ponselnya menyala ada panggilan telfon dari kinara, membuat Naya menyentuh dadanya, ia sama sekali tidak berani menerima panggilan itu membuatnya memutuskan untuk diam saja, tak lama sebuah pesan singkat masuk.
(Juna? Aku menunggu mu di sebuah taman kota di dekat Kantor mu...)
Naya lebarkan matanya.
"Tuan? Sungguh Munafik nya dirimu, kau sendiri yang mendua tapi kau yang justru menyiksa ku? Menuduh ku, dan bahkan menghina ku" Gumam Naya, air matanya menetes.
"Tidak, aku tidak mencintai Tuan Arjuna, itu tidak mungkin kan?" Gumam Naya masih terisak, ia benar-benar tidak menyangka akan merasakan ini.
Tok... Tok... Tok... Naya menyeka air matanya dan beranjak keluar kamar itu.
Ia mendapati seorang pelayan berdiri di depannya.
"Maaf nyonya, Tuan Arjuna tadi menelfon bahwa ponselnya tertinggal, ia ingin saya mengambilnya di kamar" Ucap pelayan tersebut.
"Tunggu sebentar ya?" Ucap Naya, ia pun berjalan meraih ponsel itu dan kembali menemui pelayan tersebut dan menyerahkannya.
"Siapa yang akan mengantarnya?" tanya Naya.
"Sopir pribadi Nyonya" Jawabnya yang di balas dengan anggukan Naya.
"Kalau begitu saya permisi Nyonya" Ucap Pelayan tersebut sembari membungkuk, Naya pun mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamarnya
Di kantor Arjuna.
Tok.. Tok... Tok...
__ADS_1
"Permisi Tuan, ini ponsel Anda" ucap Rian, Arjuna pun meraih ponselnya, ia melihat layarnya sudah banyak panggilan telfon dari Kinara ia pun menelfon ya balik.
"Kinara? Apa kau masih di sana? Maaf ya ponsel ku tadi tertinggal" Ucap Arjuna.
"Iya, tidak apa aku sudah kembali ke resto ku" Balas Kinara, "emm Juna? Apa kita bisa bertemu?" Tanya Kinar.
"Maaf Kinar, saat ini fikiran ku sangat ruwet, sepertinya aku tidak bisa" Jawab Arjuna, entah mengapa ia mulai tidak semangat bertemu dengan Kinara.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Kinara.
"Tidak, tidak ada kok, aku hanya sedang banyak pekerjaan saja ucap Arjuna"
"Begitu ya? Okay tidak apa Juna, aku mengerti kok" Ucap Kinara yang lantas menutup ponselnya.
"Maafkan aku kinara, hati ku mulai tidak tenang, aku merasa bersalah menjalin hubungan ini di belakang Naya" Gumamnya lirih, ia pun mengambil berkasnya dan berjalan keluar guna mengunjungi salah satu kantor cabangnya.
Disisi lain...
Kinara menatap lurus kearah jendela.
"Aku tau satu hal dari Arjuna? Ia bukan pria yang mudah jatuh cinta pada seorang gadis, namun sepertinya perempuan bernama Nayaka itu sudah berhasil mencuri hati seorang Arjuna Dirgantara" Gumamnya lirih bibirnya pun tersungging miris.
****
Hari-hari melelahkan sudah di lalui Arjuna, ia pun kembali menuju kantornya dengan perasaan penat, ia pun menyandar di kursinya dengan fikiran penuh dengan Naya.
"Naya masih marah tidak ya?" Gumamnya, ia mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi Naya namun saat itu juga ia urung, dan memutuskan untuk mengirim pesan pada Naya.
(Naya? Kau sudah makan?) tak tak tak Juna menghapusnya.
(Naya? Aku ingin minta maaf) tak tak tak Juna kembali menghapusnya.
(Naya? Malam ini mau kencan dengan ku? Kita nonton yuk)
Arjuna melebarkan bola matanya.
"Aku ini sedang apa sih?" Tak tak tak ia kembali menghapusnya, dan meletakan kembali ponselnya ke meja.
"Aaaarrrgggghhh apa yang terjadi pada ku?" Gumamnya sembari menatap kearah langit-langit.
"Naya? Semoga saja nanti kau sudah tidak marah dengan ku" Gumamnya lagi.
__ADS_1
Sore menjelang...
Arjuna menghubungi asistennya untuk menghadap ke kantornya.
"Tuan Anda memanggil saya?" tanya Rian yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Iya? Sore ini tidak ada schedule kan?" Tanya Arjuna.
"Tidak Tuan, tapi mungkin besok Anda harus ke Singapura" Ucap Rian
"Berapa hari?" Tanyanya
"Hanya tiga hari Tuan"
"Aarrrgggghhh lama sekali, apa tidak bisa hanya sehari saja?" tanya Arjuna
"Tiga hari itu termaksud sebentar Tuan" Ucap Rian sembari menatap aneh kearah bosnya itu.
"Tidak, kau tidak mengerti Rian, tiga hari itu termaksud lama untuk ku" Gumam Arjuna yang tengah menyandarkan dagunya di atas meja.
"Yah mau bagaimana lagi Tuan, itu sudah tugas Anda" Ucap Rian sembari garuk-garuk kepala.
"Aku pasti akan merindukan Naya ku, belum lagi kalau si keparat itu tiba-tiba menghampiri Naya" Gumamnya lirih, Rian pun menutup mulutnya menahan tawa, baru kali ini ia melihat bosnya seperti itu, pantas saja akhir-akhir ini bosnya sering pulang cepat, Arjuna beranjak cepat dan melihat kearah jam nya.
"Sepuluh, sembilan, delapan" Juna terus berhitung seperti orang tidak waras dengan pandangan menatap kearah jam tangannya.
"Tiga, dua, satu yeeeeaaaaaahhhh waktunya pulang" Seru Arjuna semangat sembari beranjak membuat Rian tersentak.
"Bos? Anda benar-benar ingin pulang?" Tahan Rian.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Lalu pekerjaan ini?" Tanya Rian
"Kau bisa mengirim laporan ke email ku kan? Aku akan menyelesaikannya di rumah ku tercinta, okay, bay!" Seru Arjuna semangat...
"Ohhhh sungguh aku sangat merindukan rumah ku" Seru Arjuna sembari bersenandung menyusuri lorong kantornya.
Rian yang mematung itu mulai mendesah.
"Apa-apaan itu? Benarkah dia Arjuna Dirgantara bos ku?? Jangan-jangan bukan" Gumam Rian sembari geleng-geleng kepala.
__ADS_1