
Pagi berselang ia berdiri di sebuah balkon sembari menatap lurus ke depan.... Ia terus melamun tentang apa yang akan terjadi hari ini, sungguh firasatnya sangat tidak enak, terlebih saat Jhonatan mengajaknya untuk bertemu secara tiba-tiba, dan beranggapan bahwa Jhonatan sudah mengetahui rencananya itu dan kini ia tengah berusaha membalikkan keadaannya.
"Juna? Kau belum bersiap?" Tanya Naya yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Arjuna.
"Ahh iya, sebentar lagi sayang" Jawab Arjuna.
"Juna? Kapan kita akan kembali ke Indonesia? Aku sudah jenuh di hotel ini" Tanya Nayaka,
"Sabar ya sayang mudah-mudahan besok semua kegiatan ku sudah selesai dan kita bisa kembali" Jawab Arjuna sembari mengusap kepala Naya, dengan senyumannya Naya pun mengangguk.
Menjelang siang Juna pun bersiap ia mengenakan kemejanya sembari menatap ke arah cermin mengaitkan satu demi satu kancing bajunya itu ke lubang nya, dengan bantuan Naya yang mengenakan dasi pada suaminya itu Juna pun tersenyum lalu mengecup kening istrinya itu.
"Aku berangkat dulu ya, kau jaga diri mu baik-baik sayang, dan jangan kemana-mana di sini saja ya" Ucap Arjuna yang lantas di iyakan,
Saat itu juga Arjuna pun melangkah keluar menyusuri lorong hotel dan masuk kedalam Lift itu.
Di lobby hotel tiga anak buahnya itu sudah bersiap menunggunya.
"Untuk kali ini kita jangan lengah, aku yakin Jhonatan sudah mengetahui rencana kita, jadi sebisa mungkin kita lebih berhati-hati lagi" Titah Arjuna yang di balas dengan anggukan kepala mereka dan mulai melangkah keluar menuju tempat yang sudah di siapkan oleh Jhonatan sebagai tempat pertemuannya.
Arjuna menggunakan mobilnya sendiri sedangkan tiga anak buahnya berada di mobil yang berbeda mengikuti Arjuna dari belakang.
Di depan sebuah gedung kosong Arjuna menghentikan laju mobilnya, ia pun keluar sejenak, Dari mobil itu.
"Apa ini tidak salah? Dia memintaku datang ke tempat seperti ini?" Gumam Arjuna.
Tak lama ponselnya bergetar, ia pun meraihnya dan membaca isi pesan singkat dari Jhonatan itu.
__ADS_1
(Tidak usah ragu Tuan Dirga, kau sudah datang ke lokasi yang benar, datanglah ke atap gedung, aku sudah menunggu mu di sini)
"Sudah ku duga, undangan ini adalah sebuah jebakan, aku harus hati-hati" Gumam Arjuna yang mulai melangkah maju di depan gedung itu ia mulai melangkahkan kakinya masuk walau sedikit takut ia tetap percaya pada Bawahannya itu yang juga sudah tiba di area gedung kosong tersebut.
Perlahan ia terus melangkah maju menaiki satu demi satu anak tangga yang terlihat sudah tidak begitu kokoh lagi membuatnya lebih berhati-hati lagi dalam melangkah, setelah berusaha keras menaiki satu demi satu gedung itu ia pun sampai pada puncaknya.
Dan di sana ia sudah melihat sosok Jhonatan tengah berdiri membelakangi nya.
"Tuan Jhonatan?" Panggilnya,
Mendengar suara Arjuna Jhonatan pun menyeringai ia menoleh sedikit "Ohhh... Sudah datang rupanya?" Gumamnya ia pun membalik badannya, dengan pistol ditangannya sesaat membuat Juna terkejut.
"Kenapa kau membawa senjata api?" Tanya Juna datar.
"Yaaaahhh untuk berjaga-jaga saja, karena meeting kita ini sepertinya tidak bersaing dalam hal tender ataupun proyek Tuan Dirga" Tutur Jhonatan.
"Tidak usah membodohi ku Tuan Dirga? Kau, sengaja menyuruh anak buah mu untuk mengulik semua hal tentang ku itu untuk apa Tuan? Dan sepertinya kau sangat menginginkan Almira ku" Tanya Juna.
"Asal anda tau Tuan, Almira itu adalah ibu mertuaku, kau tengah menyandera nya kan? Aku hanya ingin membawanya kembali bertemu dengan istri ku karena dia anak kandungnya" Ucap Juna berusaha tenang walau sebuah pistol masih menghunus ke arahnya.
"Permainan apa lagi ini Tuan Dirgantara, kau masih ingin berusaha membohongi ku rupanya, dengan mengangkat drama menyedihkan yang kau karang di hadapan ku lalu berharap aku luluh dengan itu, cih....! Tidak semudah itu aku bisa mempercayainya Tuan muda" Ucap Jo sembari tersenyum sinis.
"Terserah apa kata mu, yang pasti aku ingin bernegosiasi dengan mu, agar kau mau membebaskan ibu mertuaku itu" Ucap Juna.
"Negosiasi? Hahaha Negosiasi kau bilang? Arjuna Dirgantara dia itu istri ku, aku tidak mungkin menyerahkan nya pada mu, kecuali?" Jhonatan tersenyum nakal "kau mau melakukan barter dengan istri mu itu" Lanjutnya setengah berbisik.
"Brengsek!" Buuuaaaaakkkk Arjuna menendang tangan Jhonatan membuat Pistol itu terpental lalu dengan gerakan memutar ia melakukan back kick sehingga Membuat Jhonatan terpental ke belakang.
__ADS_1
Ia pun melangkah dan menginjak dada Jhonatan dengan satu kakinya. "Aku sudah berusaha berbicara baik-baik dengan mu Tuan Jo tapi anda menantang ku" Tutur Arjuna dengan tatapan tajamnya, Jhonatan pun menyeringai.
Tak lama beberapa orang suruhan Jhonatan pun keluar, "kau mungkin bisa melakukan ini pada ku, namun? Setelahnya kau akan menyesali perbuatan mu ini Tuan Dirga, dan katakan lah selamat tinggal pada istri cantik mu itu" Ucap Jhonatan sembari terkekeh-kekeh.
"Manusia licik" Gumamnya yang lantas mengangkat kakinya dan berjalan mendekati beberapa orang yang sudah berjalan menghampiri, dengan mengambil balok kayu di dekatnya Juna pun berlari dan mulai memukuli satu persatu pria-pria itu, tak lama Dodit dan yang lain datang turut membantu pertarungan yang tak imbang itu.
Dodit melihat Raihan menjadi sasaran lima orang sekaligus dan terlihat kewalahan sehingga membuatnya menendang satu persatu di antara mereka dan mengulurkan tangan pada Raihan yang tengah tersungkur itu.
"Kau tidak apa sob?" Tanya Dodit.
"Aku tidak?" Sesaat ia melihat seorang pria mengangkat balok kayu tinggi-tinggi di belakang Dodit "Dodit di be?" Belum sempat Raihan berteriak Dodit sudah menyadarinya ia pun bergeser dan menendang bagian pinggang pria itu hingga tersungkur.
"Fiuuuhhh Nyaris saja" Matanya pun tertuju pada Rian yang sedang di pukuli beberapa orang di sana.
"Ck..." Dodit mengecak sesaat ia pun berlari dan menendang satu persatu dari orang-orang yang tengah memukuli Rian itu.
Dooooooorrr sesaat suara dentuman pistol terdengar sehingga membuat semua yang ada di sana pun terdiam, dengan Juna yang lantas menoleh ke arah pusat suara tembakan itu di lepaskan ia pun terkejut setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat, begitu pun Jhonatan.
"Li... Lifia?" Gumam Jhonatan saat mendapati adiknya itu bersama beberapa polisi tengah berdiri di depan mereka dengan tatapan bengis mengarah kepada Jhonatan.
Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi karena polisi-polisi itu mengejar dan menangkapi orang suruhan Jhonatan satu persatu, bahkan Jhonatan sekali pun, kini polisi telah membekuknya dengan kedua tangannya yang di borgol ke belakang.
Tatapannya pun terhunus pada Lifia yang tengah menatapnya bengis.
"Lifia? Apa yang terjadi, KENAPA KAU MEMANGGIL POLISI, DAN MENANGKAP KU!!" Pekik Jhonatan yang langsung mendapat tamparan keras dari dari Lifia yang tengah menangis itu. Sehingga membuat Jhonatan membulatkan bola matanya.
"Seharusnya, kau sudah di penjara sedari dulu PEMBUNUH!" Seru Lifia.
__ADS_1
"A... Apa?" Gumam Jhonatan lirih, ia masih bingung kenapa Lifia tiba-tiba berbicara seperti itu di hadapannya.