
Setelah menyelesaikan sarapan paginya Arjuna pun berangkat ke kantornya, Naya mencium punggung tangan Arjuna membuat Juna tertegun bibirnya sedikit tersungging senang, dan mengecup kening Naya.
"Aku berangkat dulu ya sayang" Tutur Juna, Naya mengangguk, mereka pun melangkah menuju mobil Arjuna, mata Arjuna tertuju pada Raihan yang tengah duduk di depan rumahnya dan mengangkat cangkir kopinya ke arah Arjuna mengisyaratkan kalau ia menawari Arjuna untuk mengopi bersama.
"Cih" Arjuna menatapnya sinis.
"My tetangga? Hati-hati di jalan ya?" Seru Raihan sembari menyeruput kopinya.
"Pengangguran itu?" Runtuknya.
"Juna, sudah jangan di tanggapi kau berangkat saja ya" Ucap Naya yang langsung mendorong tubuh Juna masuk kedalam mobilnya itu.
"Naya? Ingat ya, kau langsung masuk, tutup pintu rumah mu rapat-rapat, aku tidak mau cecunguk itu mendekati mu saat aku tengah bekerja" Tutur Arjuna, Naya pun mengangguk.
"Ya sudah sana berangkat" Perintah Naya lagi, Juna pun menutup kaca mobilnya, ia pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju pelan meninggalkan halaman itu.
Naya menoleh ke arah Raihan yang tengah melambai pada mobil Arjuna, sesaat Raihan menurunkan tangannya dan berdeham saat tau Naya tengah berkacak pinggang dan menatap lurus kearahnya.
Ia pun memalingkan wajahnya sembari menyeruput kopinya itu dengan sesekali matanya melirik ke arah Naya yang masih menghunus nya dengan tatapan tajam itu, membuat Raihan tersedak kopinya.
"Sukurin" Gumam Naya sembari terkekeh ia pun melenggang masuk.
Raihan menghela nafas lega saat Naya sudah masuk kedalam rumahnya.
"Naya jika marah mengerikan juga" Tuturnya lirih.
Di kantor...
"Aarrrrggh... Ya ampun lengan dan pinggang ku kenapa sakit begini ya?" Gumam Juna sembari membuka pintu ruangannya.
"Selamat pagi bos" Seru Rian di belakang Juna.
"Emmm pagi" Jawab Juna sembari duduk ke kursi empuknya dan menyandar, dengan bibir yang terus meringis memijat lengannya.
Melihat keanehan bosnya itu membuat Rian bingung.
"Bos? Anda tidak apa-apa?" Tanya Rian.
"Tidak, sih hanya merasa pinggang dan lengan ini pegal saja" Jawab Juna.
"Memangnya kenapa bos bisa pegal begitu?? Aahhhh Habis main beronde dengan istri bos ya?" Tutur Rian yang lantas menerima lemparan gulungan koran di wajahnya.
"Ma...maaf bos, aku hanya bercanda" Rian meraih gulungan koran itu dan meletakkan nya lagi ke atas meja.
"Sudah tidak usah di bahas, cepat katakan schedule ku apa saja hari ini?" Tanya Juna yang lantas membuat Rian berdeham.
"Okay, pagi ini bos ada pertemuan dengan Tuan Arnold pukul tujuh pagi, siangnya anda ada meeting di area bogor bertemu dengan bos dari perusahaan Padi Mas Jaya, bla bla bla" Rian terus mengoceh, sedangkan Juna hanya membuka berkas dan mempelajarinya.
"Okay cepat siap-siap, selesaikan semua meeting itu dan aku bisa cepat pulang" Tutur Juna.
"Ehhh? Tapi malam anda harus menghadiri acara lauching dari perusahaan Dewantara group"
__ADS_1
"Hiiiiissss, kenapa padat sekali jadwal hari ini? Haaaaahhhh" Juna mendesah.
"Biasanya anda pulang sampai pagi tidak apa-apa kan, bahkan saat anda menjadi pengantin baru anda malah ke Dubai" Ucap Rian
"Itu berbeda dengan sekarang, sudah cepat persiapkan berkasnya kita berangkat ke Arnoldi" Tutur Juna.
"Siap bos!" Ucap Rian tegas.
Juna pun melakukan aktivasi pekerjaannya dengan perasaan lebih semangat dan tenang, setelah mendapatkan cintanya kembali kini ia merasa lebih hidup dari hari-hari sebelumnya, ia pun mendapat banyak pujian dari para koleganya, dan pamannya pastinya yang merasa bangga pada Arjuna yang telah mengembalikan performanya sebagai seorang pemimpin.
Pukul 21:41 Naya duduk di depan meja rias nya dengan sedikit memoles wajahnya ia terlihat sangat cantik dengan pakaian terbaiknya yang menurutnya akan mendapat perhatian dari suaminya itu, bibir Naya tersungging ia pun menyentuh dadanya.
"Kenapa aku berdebar sekali?" Gumamnya lirih, tak lama mobil Juna berhenti di depan rumah Naya, Naya yang mendengar itu pun bergegas keluar.
Baru saja Arjuna hendak mengetuk pintu itu Naya sudah membukakannya, dan seketika itu juga Arjuna terpesona oleh penampilan Nayaka yang menurutnya sangat cantik.
"Sayang, kau cantik sekali" Gumam Juna yang lantas membuat Naya tersipu malu, ia pun meraih tas Juna dan mengecup punggung tangannya.
"Selamat datang suami ku, ayo kita masuk" Ucap Naya membuat Arjuna tidak bisa berhenti memandangi wajah cantik istrinya itu.
"Kau mandi dulu ya, nanti kita makan malam bersama" Tuturnya, Juna pun mengangguk pelan dengan pandangan masih tertuju pada Naya.
Ya malam itu mereka makan malam bersama, Juna benar-benar lahap menikmati masakan Sederhana rumahan yang tersuguh di atas mejanya.
"Kau benar-benar pandai memasak sayang, sungguh ini enak sekali" Ucap Juna, Naya pun tersenyum ia mulai menikmati kesederhanaan ini.
Bahkan kini ia mulai betah berada di rumah Naya, walau sempit namun daerah tempat Naya tinggal merupakan pinggiran kota jadi suasana masi sunyi, dan belum padat akan penduduk, sehingga membuatnya sedikit merasa damai.
Setelah makan malam Naya mencuci piring kotor itu sedangkan Juna merebahkan tubuhnya di ranjang Naya, tak lama Naya pun masuk, ia melihat suaminya terlihat sangat lelah, perlahan ia mendekati Arjuna dan menyentuh kaki Arjuna berniat memijat nya,
"Apa yang sedang kau lakukan sayang?" Tanya Juna.
"Aku sedang memijat kaki mu" Ucap Naya.
"Hei, jangan kau juga pasti lelah kan, sini lebih baik tiduran di sebelah ku, aku ingin tidur di sini ya? Aku janji tidak akan macam-macam, besok kan minggu kita datangi saja kyai untuk menikah kan kita lagi" tutur Juna.
"Sebenarnya jika kita melakukan sekarang tidak apa-apa kok" Ucap Naya lirih masih dengan tangan yang terus bekerja memijat kaki Arjuna, mendengar itu Arjuna pun langsung beranjak duduk dan menyilang kan kedua kakinya.
"Masa?" Tanya Arjuna cepat.
"I...iya, anu? kata warga kampung NT ini yang memberitahu kan ku selama masih masa iddah ku kita tetap bisa bersenggama walau kau sudah menjatuhkan talak pada ku" Ucap Naya.
"Lalu apa ada peraturan lain lagi?" Tanya Arjuna sembari memegangi kedua bahu Naya.
"Katanya, kau hanya tinggal mengatakan ingin rujuk pada ku, kita sudah sah lagi" Sraaaaakk Arjuna menarik tubuh Naya cepat dan merebahkannya di atas ranjang itu membuat Naya kejut, dengan menatap gugup ia benar-benar merasa panas dingin saat tangan Arjuna mulai membelai rambut Naya lembut dengan tatapannya yang sangat dalam.
Gleeeeeekk Naya menelan ludah saat Arjuna sudah berada di atasnya.
"Istri ku, mulai malam ini aku ingin rujuk dengan mu sudi kah kau melayani ku seutuhnya?" Tanya Arjuna tulus.
"I...iya suami ku, aku... Aku bersedia" Ucap Naya, Arjuna pun tersenyum ia mulai melepas atasannya.
__ADS_1
"Bersiaplah untuk menuju surga ku sayang" Tutur Arjuna membuat Naya semakin gugup.
Perlahan wajah Arjuna mulai turun, hendak mencium bibir Naya,
Deegg... Deegg.. Deegg...
'Malam ini aku akan menanggalkan mahkota ku' tutur Naya dalam hati, matanya mulai terpejam saat bibir Arjuna sudah hampir mendarat.
Tookk tokk tokkk keduanya pun terperanjat kaget.
"Ada tamu?" Tanya Arjuna.
"Sebentar aku cek dulu ya" Ucap Naya, yang langsung beranjak, Juna pun meremas kepalanya.
"Haaahhh tanggung sekali sih, kenapa harus ada tamu segala?" Runtuknya ia pun meraih kaosnya dan mengenakannya lagi lalu menyusul Naya keluar.
Saat Naya membuka pintu di luar sudah ada tiga orang termaksud Raihan.
"Emm maaf Raihan dan bapak-bapak ada apa ya?" Tanya Naya.
"Begini Naya, berhubung kelompok ronda kita kurang satu orang, kami ingin mengajak Tuan Muda Arjuna untuk gabung ke tim kami" Tutur Raihan, Arjuna yang sudah berada di belakang tubuh Naya pun membulatkan Matanya.
"A... Apa? Ronda?" Ucap Juna tidak percaya.
"Benar Tuan, maaf pak Udin hari ini tidak bisa ikut ronda dia sedang sakit, nah karena grup kami kurang satu orang dan mas Raihan ini menyarankan untuk mengajak Anda, soalnya mas Raihan bilang Anda ingin aktif di kampung ini selama tinggal disini" Ucap salah satu bapak-bapak itu, mata Arjuna pun menatap tajam ke arah Raihan,
"Raihan kau?" Arjuna sedikit kesal, tapi ia masih berusaha menahannya.
"Benar, Tuan tadi bilang sendiri ingin ikut ronda kan? Nah mumpung malam ini ada kesempatan" Tutur Raihan.
"Iya tapi?"
"Naya? Kau masih ada sarung milik ayah mu kan? Bisa tolong ambilkan?" Seru Raihan, dengan ragu Naya pun masuk kedalam rumahnya dan meraih sarung milik ayahnya itu, dan memberikannya pada Raihan, Raihan pun menerimanya dan mengalungkan sarung itu pada Arjuna, tangan Arjuna terkepal dengan tatapan tajam menghunus ke arahnya.
"Bedebah, apa yang kau lakukan hah" Bisik Arjuna dengan bibir yang tengah memaksa senyum.
"Ini kan sebagai contoh baik untuk warga sini Tuan, walau anda orang kaya Anda masih bersedia mengikuti kegiatan kampung ini" tutur Raihan, "bukan begitu bapak-bapak? Jarang-jarang ada bos besar meronda kan?" Tutur Raihan sembari menoleh ke belakang.
"Hehe iya benar mas Raihan, kita kagum sekali pada Tuan Arjuna Dirgantara ini benar-benar sangat berjiwa sosial sekali mau gabung bersama kita" Tutur salah satu dari mereka yang di iyakan oleh yang lainnya.
Kepala Raihan pun kembali menoleh kearah Arjuna, dan meletakan senter ke telapak tangan Arjuna.
"Nah Tuan Muda, ayo kita meronda bersama, Anda pasti akan sangat menikmati acara malam ini Tuan" Tutur Raihan sembari tersenyum jail.
'Sial! Dia benar-benar mengerjai ku' Gumam Arjuna dalam hati, ia pun menghela nafas 'sabar Juna'
"Juna, kau yakin akan ikut Ronda" Ucap Naya.
'Sebenarnya tidak Naya, aku ingin bertempur dengan mu hiks hiks' Gumam Juna dalam hati.
"Iya sayang, tidak apa-apa kok, demi para warga dan kutu kupret ini aku akan ikut ronda malam ini" Ucap Arjuna, Raihan pun terkekeh.
__ADS_1
"Kalau begitu ayooo Tuan, mesra-mesraannya nanti lagi ya, kita ronda dulu" Ajak Raihan sembari menyeret tangan Arjuna yang masih terus menatap ke arah Nayaka.
Naya pun melambai ke arah suaminya itu dan menghela nafas lalu kembali masuk ke dalam rumahnya.