
Minggu pagi yang cerah Arjuna menyantap sarapannya dengan dengan tenang bersama Naya, sekilas Naya menyadari sesuatu kalau suaminya itu tidak memakai cincinya.
'Baru saja aku memutuskan untuk tetap bercerai dengannya? Dia sudah melepas cincin pernikahannya' Gumam Naya dalam hati, ya pagi itu Arjuna terlihat dingin seperti biasanya, walau memang ia biasa melihat sikap dingin Arjuna selama ini namun tidak untuk pagi itu.
Setelah perlakuan manis Arjuna kemarin sekarang ia sudah berubah dingin lagi, apa hanya segitu perjuangan pria di hadapannya itu? Sama sekali tidak berusaha untuk mencoba menunjukan perjuangan lebih pada Naya.
Sraaaaaggg, Arjuna memundurkan kursinya membuat Naya menoleh ke arahnya.
"Kau sudah selesai makan?" tanya Naya.
"Iya" Jawab Juna singkat ia pun melenggang menaiki anak tangga.
Di sana ia berpapasan dengan kepala pelayan yang tengah membungkuk padanya.
"Bagaimana? Apa cincin ku ketemu?" tanya Arjuna.
"Belum Tuan, sedari tadi kami masih terus mencarinya namun tetap belum ketemu" Tuturnya membuat Arjuna mendesah
"Bagaimana ini, pokoknya usahakan cincin itu harus ketemu aku tidak mau tau" Perintah Arjuna,
"Baik Tuan" Jawab kepala pelayan tersebut sembari membungkuk, ia pun kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar guna mengambil jaket dan kunci mobil sportnya.
Saat tangannya ingin membuka pintunya, pintu kamar itu justru sudah terbuka lebih dulu dan membuat membuatnya terkejut saat berpapasan dengan Naya.
"Tuan Anda mau pergi?" tanya Naya.
"Iya, hari ini? Aku harus menemui pengacara ku" ucap Arjuna ia pun langsung melenggang pergi.
Arjuna berusaha keras menahan rasanya, ia tidak ingin Naya merasa tidak Nyaman dengan sikapnya itu, ia hanya ingin mengambil hati Naya tanpa memaksakan.
Disisi lain Naya terus menatap ke arah Arjuna yang terus melenggang tanpa menatapnya, ya itulah Arjuna yang ia kenal pria dingin yang sama sekali tidak akan pernah menoleh kebelakang. Naya pun tersenyum kecut lalu menutup pintu kamar itu.
***
Di rumah pengacaranya..
"Silahkan di minum Tuan Dirga" Ucap Robby sang pengacara pribadinya.
"Terimakasih Tuan Robby" Ia pun menyeruput teh hangat yang terhidang di hadapannya.
"Tuan? Saya benar-benar tidak mengerti kenapa anda tiba-tiba anda meminta saya untuk mengurus perceraian Anda dengan Nyonya Naya? Sedangkan pernikahan Anda saja baru menginjak satu tahun" Ucap Robby tak mengerti.
__ADS_1
Arjuna tersenyum kecut ia pun meletakan cangkir teh itu ke meja,
"Setiap pasangan pasti memiliki masalah yang tidak bisa di jelaskan Tuan Robby, dan masalah yang kami hadapi itu sangat sulit untuk di selesaikan, itu yang memutuskan kami untuk hidup masing-masing" Ucap Arjuna.
"Tuan? Maaf Sebelum itu saya ingin bertanya pada Anda? Apa anda sudah tidak mencintai Nyonya Nayaka?" tanya Robby yang seketika membuat Arjuna berkaca-kaca.
"Aku sangat mencintainya" Jawab Arjuna langsung, membuat Robby tersenyum.
"Kalau begitu sebaiknya anda urungkan niat anda untuk bercerai Tuan, dan peluklah istri anda perbaiki semuanya" Ucap Robby berusaha memediasi Arjuna agar mau mengurungkan niatnya.
"Andai masalahnya bisa semudah itu ku perbaiki pasti sudah ku lakukan Tuan Robby" Tutur Arjuna sembari terkekeh miris, disisi lain Robby malah justru mengerutkan keningnya.
"Kenapa Tuan Dirga? Apa seberat itu masalah Anda?" tanya Robby.
"Hmmm... Lebih baik kau urus saja Tuan Robby, karena saya sedang tidak ingin membahas masalah ku lebih dalam" tutur Arjuna, yang lantas membuat Robby mengerti.
"Baiklah Tuan Dirga" Tuturnya, "Tapi Tuan? Apa Anda sudah berbicara hal ini dengan Tuan Rudy?" Tanyanya, Arjuna menjawab dengan menggeleng pelan.
"Belum?" Robby menggaruk keningnya.
"Biarkan saja dulu Tuan Robby, nanti aku akan berbicara pelan-pelan padanya" Ucap Arjuna yang lantas berpamitan pada Robby.
Setelah menghubungi kinara ia pun melajukan mobilnya menuju restoran,
saat di parkiran restoran milik kinara itu ia terpaku sejenak awalnya ia ragu, padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bertemu lagi dengan Kinara.
Namun saat ini yang mengerti kondisi yang sesungguhnya hanyalah Kinara, dan saat ini ia benar-benar membutuhkan teman bercerita.
Tok tok tok
Kinara membuka pintu kantor nya.
"Juna kau?" Arjuna menunduk dengan kepalanya yang menyandar di bahu Kinara membuatnya bingung dengan Arjuna.
"Ada apa?" tanya Kinara "ayo masuklah dulu" Lanjutnya yang lantas membuat Arjuna mengangkat kepalanya dan berjalan masuk lalu terduduk lunglai di sofa.
"Juna? Ada apa?" Tanya Kinara lagi yang masih bingung dengan apa yang terjadi pada Juna.
"Naya menolak ku" Ucapnya pelan,
"Ba...bagaimana bisa?" Tanya Kinara.
__ADS_1
"Aku sudah meyakinkannya, namun ia tetap bersikukuh untuk bercerai dengan ku"
"Juna? Kau masih punya waktu untuk mengambil hatinya"
"Aku tidak tau kinara, besok berkas kami sudah mulai di bawa ke pengadilan, aku sudah pasrah dengan itu" Arjuna menelungkup kan kedua telapak tangannya dan mendekatkan nya ke bibirnya sembari tertunduk ia menangis, membuat tangan Kinara terangkat dan mengusap bahu Arjuna.
Tanpa berucap apapun kinara masih berusaha menguatkan Arjuna agar mampu menghadapi masalahnya itu.
Ya walau itu juga membuat Kinara merasa sakit, karena harus menenangkan pria yang masih berada di hatinya itu yang tengah menangisi wanita lain.
Setelah lama Kinara mendengarkan Arjuna ia pun mengantar Arjuna sampai di luar restonya saat Arjuna memutuskan untuk pulang.
"Masuklah Kinara, dan Terimakasih telah mendengarkan keluh kesah ku" Ucap Arjuna, kinara pun tersenyum dan lantas membalik badannya untuk masuk. Dengan Arjuna yang mulai melangkah menuju parkiran mobilnya.
Namun baru saja beberapa langkah ia sudah berhenti saat mendapati Raihan ada di depannya.
"Bagus sekali? Menyandra seorang wanita di rumah mu, sedangkan kau sendiri memiliki kekasih di belakangnya" Tutur Raihan yang masih menahan emosinya.
"Apa maksud mu?" Tanya Arjuna.
"Kau pria tidak punya malu Tuan Arjuna, lebih baik tidak usah kau tunggu sampai kontrak Naya habis, ceraikan saja Naya sekarang juga dan bebaskan dia dari sangkar mu itu" Tuturnya yang seketika itu membuat Arjuna menatapnya tajam.
"Kau pasti kaget karena aku tau semuanya Tuan? Rendahnya dirimu sampai berlaku seperti itu pada Naya" Tangan Raihan terkepal ia benar-benar ingin menghajar pria di depannya, Arjuna pun terkekeh sinis.
"Pria menyedihkan seperti mu tau apa? Aku tau kau menyukai Naya sejak dulu kan? Tapi? Lihat dirimu itu, Apa kau bisa membahagiakan Naya sedangkan kau itu hanya seorang pengangguran rendahan" Ucap Arjuna dengan tatapan menghina, membuat Raihan mencengkram kerah Arjuna.
"Aku memang bukan orang kaya seperti mu, tapi aku tau memperlakukan wanita dengan baik, jadi bebaskan Naya sekarang juga Tuan Arjuna Dirgantara" Raihan menatap tajam.
"Cih... Cecunguk ini, memangnya kalau aku tidak mau kau bisa apa? Dengarkan aku baik-baik Raihan, sepertinya aku akan memperpanjang Kontrak Naya, terlebih?" Arjuna mendekatkan bibirnya di dekat telinga Raihan.
"Aku sudah mencicipi tubuh Naya yang sangat nikmat untuk ku hujami setiap malam" Bisiknya membuat Raihan melebarkan matanya.
"Bangs*t!!" Buuuuuuuuuck Raihan menghajar Arjuna secara membabi buta.
"Mati saja kau pria Laknat!!" Raihan benar-benar naik pitam ia terus menghajar wajah Arjuna hingga darah segar mengalir di pipis dan bibirnya yang robek itu. Arjuna pun menendang perut Raihan sehingga membuat Raihan sedikit terpental dan tersungkur ke aspal, ia pun beranjak lalu mendekati Raihan dan menginjak dadanya, menahan Raihan agar tidak bangun.
"Dengar mahluk rendahan, kau jangan pernah bermimpi untuk bisa bersama Naya? Karena aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi" Tuturnya sebelum akhirnya ia melenggang pergi.
Raihan meringis sembari memegangi perutnya, tendangan Arjuna itu sangat keras membuatnya tidak bisa langsung bangun.
__ADS_1