
Di pagi akhir pekan itu Dodit mengunjungi Raihan yang tengah duduk di depan rumahnya, ia menggeleng heran menatap sahabatnya itu yang terus melamun.
"Raihan!" Seru Dodit membuat Rai terperanjat kaget.
"Kau ini apa-apaan sih? Memanggil orang seperti penagih hutang seperti itu" ucap Raihan kesal, Dodit pun duduk di sebelahnya.
"Kau mau sampai kapan seperti ini? Kenapa kau tak berusaha mencari kerja sih??"
"Aku belum ingin mencari kerja" Tuturnya
"Kenapa?? Kau kan laki-laki? Mau sampai kapan terus meratapi Nayaka?? Aku sebenarnya tidak menyalahkan Naya namun kebodohan mu membuat Arjuna akhirnya memecat mu" Seru Dodit yang dengan cepat membuat Raihan membungkam mulut Dodit.
"Kau ini? Kalau ibu ku dengar bagaimana?" Bisik Raihan, namun semua telah terlambat ibunya itu sudah mendengar kata-kata Dodit tadi membuatnya mengepalkan tangannya ia pun berjalan kembali kedapur dengan perasaan kesal pada Naya.
Disisi lain Dodit meminta maaf, dan Raihan pun melepas bungkaman nya itu.
"Makannya jika berbicara di fikir dulu?" Tuturnya.
"Iya maaf aku keceplosan, habis kau membuat ku geregetan rasanya"
"Aku tau aku salah Dodit, aku percaya, secepatnya aku akan mendapatkan pekerjaan baru, dan membebaskan Naya dari penjara Arjuna" Ucap Raihan
"Penjara Arjuna maksudnya?" Dodit tidak mengerti.
"Naya itu tidak benar-benar menikah dengan Arjuna Do, mereka hanya nikah kontrak" Kata Raihan membuat Dodit menghela nafas lalu menyentuh kening Raihan itu yang dengan cepat di tepisnya.
"Kau ini apa-apaan sih?" Seru Raihan.
"benar-benar sakit seperti kau memang butuh psikiater" Ucap Dodit.
"Hey! Memang siapa yang punya gangguan kejiwaan hah? Raihan kesal.
"Habis kau bilang seperti itu, lagi pula orang seperti Arjuna masa iya mau melakukan itu, kau itu yang ada-ada saja Raihan, kekeh Dodit sembari menggeleng pelan.
" Ya sudah jika kau tidak percaya, yang pasti itu faktanya" Tutur Raihan meyakinkan.
"Haahhh terserah kau saja lah" Jawab Dodit malas.
__ADS_1
***
Beberapa bulan setelahnya...
Saat Arjuna baru saja pulang dari kantornya, Naya yang tengah menenteng jas Arjuna merasakan ada getaran di saku jas Arjuna ia meraih dan melihat ponsel itu menyala dan terdapat nama Kinara di sana tak lama pintu kamar mandi itu terbuka dengan cepat Naya menyerahkan ponsel itu pada Arjuna.
"Nona Kinara menelfon mu Tuan" Ucap Naya, membuat Arjuna mematung perlahan ia meraih ponsel itu lalu membawanya ke ruang ganti dan menerima panggilan telfon itu disana, Naya yang hanya terduduk di atas ranjang Arjuna sembari memegangi jasnya itu menunggu Arjuna keluar, ia melihat penampilan Arjuna yang seperti akan pergi lagi.
"Naya? Aku ada urusan sebentar" Ucap Arjuna padanya.
"Iya Tuan" Jawab Naya singkat sembari menyunggingkan bibirnya yang tengah tersenyum getir, ia tau Arjuna pasti akan bertemu dengan wanita itu.
Dengan cepat Arjuna melenggang pergi menuju rumah Kinara.
Di rumah Kinara...
Seorang pelayan sudah membukakan pintu untuk Arjuna dan menunjukan bahwa Kinara sudah menunggunya di sebuah Rooftop, Arjuna pun melangkahkan kakinya menuju Rooftop yang di tunjuk Pelayan itu. Ia melihat Kinara tengah berdiri di tepi Rooftop itu sembari memegang segelas anggur di tangannya.
"Kinara?" Panggil Juna, ia pun menoleh sedikit.
"Kemari lah Dear? Kau biasanya langsung memeluk ku?" Tanya kinara sembari menoleh kembali kedepan dan menenggak minuman itu. Perlahan langkah Arjuna berayun mendekatinya dan berdiri disebelahnya.
Tangan Kinar menyentuh wajah Arjuna dengan gerakan turun dan berhenti di dadanya, ia memastikan masih adalah getaran di dada Arjuna saat ada di dekatnya, Kinara tertawa sinis.
"Sudah tidak ada" Gumamnya lirih.
"Apanya?" Tanya Arjuna bingung.
"Bukan apa-apa Dear" Ucap Kinar yang mendongakkan kepalanya meraih wajah Arjuna lalu berusaha mendekati bibir Juna, tinggal sedikit lagi bibir itu saling bersentuhan namun Kinara menghentikan aksinya.
"Kau sudah tidak mencintai ku Juna?" Ucap Kinara tiba-tiba membuat Arjuna terpaku. Ia pun melepaskan wajah itu dan berjalan menuju sebuah bangku lalu duduk di sana meninggalkan Arjuna yang masih tidak mengerti.
"Aku tau, inilah yang aku takutkan dari mu Juna" Ucap Kinara sembari menunduk, Juna pun mendekati Kinara.
"Aku benar-benar tidak mengerti maksud mu Kinara?" Ucap Arjuna.
"Kau mencintai istri mu kan?" Tanya Kinara.
__ADS_1
"Aku?" Arjuna terdiam sejenak.
"Maafkan aku kinara" Lanjutnya, Kinara pun tersenyum getir, lalu menyentuh wajah Arjuna.
"Aku tau itu Juna, aku tidak apa-apa jika kau ingin serius padanya" Ucap Kinara dengan air mata yang menetes.
"Aku sudah tau ini akan terjadi, jadi aku sudah mempersiapkan hati ku untuk menerima itu Juna" Ucap kinara, mata Arjuna yang mulai basah itu menatapnya dengan pandangan merasa bersalah, ia tidak seharusnya seperti ini namun hatinya benar-benar tidak bisa di bohongi lagi kalau dia mulai mencintai Nayaka.
"Maafkan aku Kinara, aku yang mengundangmu kembali namun aku juga yang melepaskan mu" Ucap Arjuna.
"Hei, aku sudah bilang pada mu Juna semua bukan salah mu, tapi aku" Ucap Kinara sembari tersenyum, "mana sini ponsel mu" Ucap Kinara sembari menengadahkan tangannya.
"Untuk apa?" tanya Juna.
"Berikan saja sini" Pinta Kinar, Juna pun menyerahkannya dengan Kinar yang lantas meraihnya, ia pun mengetik sesuatu pada ponsel Arjuna lalu mengirim pesan pada Naya.
"Lihat ini" Kinara menunjukan pesan singkat yang di kirimnya untuk Naya.
(Naya, bersiaplah sebentar lagi aku akan menjemput mu dan mengajak mu ke suatu tempat) Arjuna melebarkan bola matanya.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Arjuna, tiiiiing pesan itu di balas
(Iya Tuan, aku akan bersiap-siap) balasan singkat dari Naya.
"Ini masih jam delapan malam, ajak Naya ke pantai sana, dan nyatakan perasaan mu" Ucap Kinara.
"Ta...tapi apa dia akan menerima ku?" tanya Arjuna.
"Juna? Aku yakin dia akan menerima mu, dan batalkan surat kontrak itu"
"Tapi?"
"Kau ingin benar-benar bercerai dengannya ya?" Tanya Kinara, Arjuna pun tersenyum ia lantas memeluk Kinar, sesaat mata Kinara berkaca-kaca.
"Terimakasih kinara, terimakasih untuk semuanya" Ucap Arjuna senang, sedangkan Kinara sedang berusaha keras menahan air matanya agar tidak tumpah dari sudut matanya itu.
"I... Iya Juna, se...sekarang cepat lah pergi dan jemput istri mu" titah Kinara, Arjuna pun melepas pelukannya lalu beranjak pergi dengan perasaan dengan.
__ADS_1
Kinara menggeleng dengan bibir tersungging senang, namun dengan cepat senyum itu berubah menjadi tangisnya. Ia menyentuh dadanya.
"Tidak apa-apa Kinara, kau sudah melakukannya dengan benar, Arjuna memang harus kembali pada istrinya, harus" Kinara terisak sebagai tanda bahwa ia benar-benar sudah kehilangan Arjuna seutuhnya, raga beserta hatinya.