Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
meninggalkan rumah Arjuna


__ADS_3

Pagi ini Naya sudah bangun, dengan dirinya yang sudah mengemasi pakaiannya kedalam koper, diam-diam ia meletakan foto pernikahannya dengan Juna di dalam koper itu juga, sesaat ia tertegun ia meraih lagi foto itu dan melihat wajah Arjuna, walau kala itu senyum yang tersungging di bibir Arjuna adalah senyum palsunya namun Naya tetap merasakan itu sebagai momen kebahagiaan mereka yang tidak akan pernah di lupakan oleh Nayaka, setetes air mana terjatuh di atas bingkai itu ibu jari Naya mengusap lembut wajah Juna di foto itu, ia pun mengusap air mata itu cepat dan meletakkannya kembali di dalam koper itu.


"Izinkan aku membawa kenangan ini Tuan" Gumam Naya lirih dengan mata sendunya yang masih mengarah ke foto itu, perlahan ia pun menutup koper tersebut dan beranjak dari tempat tidur itu dan berjalan pelan menyeret kopernya keluar kamar, ia menghela nafas sejenak dan menggerak-gerakkan bola matanya dengan senyum ya yang terus di paksa keluar.


Perlahan ia menyentuh gagang pintu, namun gagang pintu itu sudah bergerak dan pintu pun terbuka, ia berpapasan dengan Arjuna yang juga sedikit terkejut, matanya tertuju pada koper di sebelah Naya berdiri.


"Tuan, Aku pamit ya" Ucap Naya lirih, tanpa menjawab sepatah katapun Arjuna memalingkan wajahnya ia hanya melewati Naya yang masih mematung di pintu itu.


"Sampai bertemu, di persidangan Tuan" Lanjut Naya dengan posisi masih membelakangi Arjuna begitupun Arjuna yang menghentikan langkah kakinya,


Naya pun kembali menyeret kopernya itu keluar kamar mereka dan menutup pintunya. Di sana Arjuna pun kembali menyeret kakinya melangkah lunglai dan berdiri didepan sebuah bingkai foto besar di hadapannya itu.



Cukup lama ia memandangi foto pernikahan mereka berdua, tangannya menyentuh wajah Naya dan mulai mendekati wajahnya lalu mencium potret Naya.


"Hiks" Arjuna terisak, tangannya pun terkepal.


"Kenapa aku harus kehilangan mu disaat aku mulai mencintaimu Naya?" Tuturnya dengan dahi masih menempel di bingkai itu.


Di bawah...


Naya terkejut saat para pelayan sudah berjajar di bawah tangga sembari menangis, ia pun turun dengan di bantu pelayan pria yang langsung meraih tas Naya dan membawakannya masuk kedalam mobil yang akan mengantar Naya pulang kembali ke rumahnya yang dulu.


"Nyonya? Kami di sini sangat menyayangkan Nyonya pergi dari rumah ini" Ucap Claudia kepala pelayan disana.


"Kami tidak akan melupakan kebaikan nyonya, dan dengan harapan besar nyonya bisa kembali ke rumah ini lagi" Lanjutnya sembari menitikkan air mata, Naya pun tidak bisa menahan harunya ia memeluk Claudia.


"Terimakasih bu, telah membantu ku selama ini" Ucap Naya dengan suara seraknya, Claudia pun tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik Nyonya, jika ada waktu senggang aku pasti akan mengunjungi Nyonya" Ucap Claudia.


"Aku akan menunggu mu" Jawab Naya sembari melepaskan pelukannya. Ia pun menoleh ke arah semua pelayan lain.


"Dan kalian juga, jika berkenan main ke rumah sempit ku? Dengan senang hati aku akan membukakan pintu rumah ku untuk kalian, kemari lah" Ucap Naya mereka pun mendekat dan memeluk Naya dengan tangis yang pecah di ruangan itu.


"Nyonya hiks, jangan tinggalkan kami Nyonya" Gumam semua pelayan disana sembari terisak.


"Baik-baik kalian disini ya, aku pergi" Ucap Naya sembari melambaikan tangan pada semuanya.


Ia pun menoleh sejenak ke atas, Arjuna sama sekali tidak keluar walau hanya sekedar mengantarnya sampai di depan rumah, Naya pun tersenyum kecut dan tertunduk ia kembali melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah terbuka pintunya itu.


Disisi lain... Kepala Arjuna terangkat


"Bodohnya aku? Kenapa aku tidak menahan Naya?" Arjuna pun mengusap Air matanya cepat, ia segera berlari keluar kamarnya dan turun.


"Naya?" Semua pelayan menoleh kearah Arjuna yang tengah berlari turun dan keluar mengejar mobil yang sudah keluar dari Pagar besar itu.


"Istri ku? Naya" Gumam Arjuna dengan air mata yang menderas di pipinya, saat itu juga Sebuah mobil berhenti di dekatnya, Kinara pun keluar dari mobil itu dan berjongkok di depan Arjuna.


"Juna, bangun lah jangan seperti ini"


"Naya sudah pergi, Naya ku" Arjuna terus mengerang sembari memukul-mukul Aspal, dengan Cepat Kinara memeluknya.


"Juna tenangkan dirimu, kau jangan seperti ini Juna" Kinara ikut menangis.


"Aaaaaarrrrrrrgggghhh aku mau Naya ku kembali...! Aku mau Naya, Kinar suruh dia kembali, NAYAAAAAAAAA!" Arjuna tidak terkendali membuat Kinara terus memeluknya dan berusaha menenangkan Arjuna yang terus berteriak sembari menangis.


'Juna? Kau dulu tidak seperti ini saat aku pergi, mungkinkah cinta mu pada Naya lebih besar dari pada cinta mu pada ku dulu??' Gumam Kinara dalam hati yang masih berusaha menahan tubuh Arjuna di dalam pelukannya.

__ADS_1


Tangannya menepuk-nepuk punggung Arjuna yang bergetar hebat karena menangis.


Di depan rumah Naya...


Mobil mewah itu berhenti di depan rumahnya yang sudah terlihat bersih, Raihan membukakan pintu mobil itu dengan senyum tersungging di bibirnya ia mengulurkan tangannya pada Naya yang masih terpaku.


Perlahan Naya meraih tangan itu dan keluar dari dalam mobil mewah milik Arjuna itu.


"Selamat datang kembali ke rumah mu Naya?" Ucap Raihan, di sana pun sudah ada Dodit yang berdiri di sebelah Raihan.


"Nyonya, barang-barang nyonya sudah saya masukan ke dalam rumah, karena persidangan di mulai pukul satu siang, nanti saya akan datang kembali menjemput Nyonya" Ucap Supir itu.


"Emmm tidak usah pak, aku yang akan mengantar Naya ke gedung pengadilan agama" Tutur Raihan.


"Tapi Tuan, ini atas perintah Tuan Arjuna" Ucap Supir itu.


"Sudah Raihan tidak apa-apa, baik Pak anda bisa kembali dulu" Ucap Naya, supir itu pun membungkuk dan kembali masuk ke dalam mobilnya lalu pergi.


Naya menghela nafas, dan perlahan masuk ke dalam rumahnya itu dengan mengucapkan salam, matanya kembali berkaca-kaca menatap ke seluruh penjuru ruangan tamu yang sempit itu, namun sudah tertata rapi, Naya pun menoleh ke belakang.


"Apa kalian yang merapikan rumah ku?" tanya Naya.


"Iya atas paksaan si budak cinta mu ini" Tutur Dodit yang langsung di injak kakinya oleh Raihan membuat Dodit mengaduh dan membulatkan matanya ke arah Raihan, Naya pun tersenyum.


"Terimakasih Dodit, Raihan" Ucap Naya yang kembali menitikkan air mata.


"Naya, kau harus bisa berusaha terbiasa dengan semua ini lagi ya? Dan melupakan penjara Arjuna itu" Tutur Raihan, Naya pun hanya termangu dan kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya. Ia terdiam sejenak di depan pintu kamarnya.


'Ranjang ku? Selama ini aku merindukan mu tapi kenapa saat ini aku malah ingin tidur di kursi panjang itu?' gumamnya dalam hati sembari tersenyum kecut ia pun kembali melangkah masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Disisi lain Dodit menyikut Raihan, membuat Raihan menatap kearahnya.


"Lebih baik kita keluar saja, dan beri dia waktu untuk sendiri" Ucap Dodit lirih, Raihan pun mengangguk dan mengikuti Dodit yang tengah melangkah ke luar lalu menutup pintunya.


__ADS_2