Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
meronda


__ADS_3

Di sebuah pos ronda..


Juna duduk di bibir sebuah Gazebo ronda dengan menyandar di tiang penyangga itu, jujur saja saat ini ia masih kesal pada Raihan, yang terlihat sengaja sekali mengusik ketenangannya selama tinggal di rumah Naya, dengan bersungut ia terus menggerutu di dalam hati sembari berkali menepuk bagian lengan dan kakinya akibat di gigit nyamuk.


'Harusnya malam ini aku tengah bersenang-senang dengan Naya, cih... Gara-gara pria lucknut itu, aku jadi harus duduk di sini' gumamnya dalam hati sembari melirik ke arah Raihan yang juga duduk dibibir Gazebo itu, berjarak satu meter di sebelahnya.


"Sudah pukul dua belas malam saat kita keliling" Seru Raihan. Membuat yang ada disitu pun beranjak,


"Pak Riki dengan pak Ojik, dan aku bersama Tuan Muda ini" Tutur Raihan membagi tugas.


Keduanya pun mulai berkeliling gang, Raihan masih menyoroti lampu senternya, sedangkan Arjuna hanya mengikuti di belakangnya dengan malas.


"Hei Raihan? Kau pasti sengaja kan mengerjai ku sedari pagi tadi?" Tutur Arjuna.


"Tidak tuh, geer sekali anda?" Jawab Raihan santai masih terus mengawasi area rumah-rumah warga di gang itu.


"Halah aku tau Raihan, kau pasti dendam sekali pada ku kan? Makannya kau mengacaukan kesenangan ku dan Naya" Gumam Arjuna lagi.


"Terserah kau saja lah Tuan, aku kan hanya ingin kau terbiasa dengan kehidupan Naya, selama ini kau hidup Berkelimangan harta kan? Sudah saatnya kau merasakan hidup seperti kami yang berada di kelas menengah ke bawah ini" Ujar Raihan.


"Cih..." Juna tidak bisa berkata apa-apa lagi, berkali-kali ia menguap akibat kantuk yang sudah tak tertahankan itu.


"Hei! Mau sampai jam berapa kita seperti ini? sudah hampir satu jam kita berkeliling, aku sudah mengantuk tahu" Seru Arjuna.


"Kau ini manja sekali sih Tuan muda, tunggu Sampai benar-benar aman lah" Jawab Raihan santai.


"Ini kan sudah aman, sudah pulang saja kau itu sudah menggangu kesenangan orang lain tau" Tutur Juna, Raihan pun menghentikan langkahnya sejenak.


"Tuan lihat rumah kosong itu?" Ucap Raihan tiba-tiba, Juna pun menoleh malas.


"Ada apa dengan rumah kosong itu?" Tanya Arjuna.


"Kau tau tidak, banyak rumor yang beredar di sini kalau rumah itu dulunya tempat pembantaian, penghuni di sini meninggal karena di bunuh perampok" Tutur Raihan, yang seketika itu membuat bulu kuduk Arjuna berdiri.


"Kita sudah terlalu lama di sini, ayo jalan" Ajak Arjuna.


"Tunggu Tuan, menurut rumor yang beredar, katanya suka ada penampakan juga sih, bahkan pedagang keliling yang melintas di sini, sering mendapat panggilan goib" Ujar Raihan.

__ADS_1


"Ka...kau kenapa cerita seperti itu sih, Tiba-tiba aku tersadar kalau di jalan ini hanya ada kita berdua" Tutur Juna.


Juna pun menangkap sesuatu di sebuah pohon yang lumayan besar, seperti sebuah bungkusan besar berwarna putih yang tergantung di sebelah pohon tersebut. Matanya melebar saat menyadari sesuatu itu adalah sebuah penampakan, kakinya yang tiba-tiba Kaku pun membuatnya tidak bisa segera berlari, sedangkan Raihan sudah melangkahkan kakinya.


"Ra... Ra... Rai... Raihan" Juna tergagap dan berusaha memanggil Raihan yang sudah berjalan di depannya.


"Ra... Raihan!" Seru Arjuna lagi membuat Raihan menoleh.


"Apa?"


"Tu...itu...pe... Penampakaaaaaaaannn" Arjuna lari terbirit-birit akibat ketakutan yang teramat membuat Raihan mencari tau apa yang sebenarnya di lihat Arjuna tadi, ia pun mengarahkan senternya kesebuah buntalan putih itu, matanya pun menyipit dan perlahan mulai mendekatinya.


"Pffffffttt bhuahahahaha,dasar penakut, ini kan buah Nangka" Ucap Raihan masih tertawa jenaka saat tau buntalan itu adalah buah Nangka yang di bungkus pemiliknya dengan menggunakan karung berwarna putih.


Juna yang sudah mengambil langkah seribu itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah Naya, dengan nafas yang masih tersengal-sengal ia mengetuk pintu rumah Naya.


"Sayang, sayang buka pintunya" Arjuna membungkuk mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal itu karena ia benar-benar berlari dari jarak 300 meter itu tanpa berhenti.


Tak lama pintu pun terbuka.


"Juna kau kenapa?" Tanya Naya yang bingung Arjuna pun langsung masuk kedalam rumah itu lalu masuk kedalam kamar Naya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sudah jangan di bahas sayang aku mau tidur saja" Tutur Juna yang masih membuat Naya ke bingungan.


Pagi berselang...


Naya terjaga pukul empat pagi, ia menoleh kearah Arjuna yang tengah memeluknya itu, tangan Arjuna masih melingkar di perut Naya membuat senyumnya tersungging.


"Aku baru menyadari, wajahnya terlihat lebih tampan jika sedang tidur" Gumam Naya lirih ia pun mengangkat tangan suaminya itu dan memindahkannya pelan, dengan sangat hati-hati ia pun beranjak dari ranjang itu dan merapikan selimutnya dan menutup tubuh Arjuna hingga sebatas bahunya dan keluar.


Selang satu jam dari Naya, Arjuna pun terjaga, tangannya meraba bagian kasur itu mencari Naya, dengan kepala yang terangkat sedikit ia pun tahu istrinya itu sudah beranjak dari tempat tidur mereka itu.


Dengan kondisi masih sedikit mengantuk ia pun beranjak keluar dari kamar itu. Sembari meregangkan tubuhnya ia pun berjalan ke arah dapur.


"Selamat pagi suami ku" Ucap Naya dengan senyumannya, Arjuna pun tersenyum dan mendekati Naya lalu mengecup pipinya.


"Pagi sekali kau bangun sayang? Kenapa tidak menunggu ku?" Tanya Arjuna.

__ADS_1


"Aku kan harus menyiapkan sarapan pagi, minggu ini kau ke kantor tidak?" Tanya Naya, ia pun menggeleng.


"Aku kalau minggu sebenarnya libur Naya, paling jika ada kerjaan mendadak saja" Ucap Juna.


"Benarkah? Tapi setahu ku selama ini kau tidak pernah libur Juna?" Ucap Naya, Juna pun menggaruk Kepalanya.


"Yaaa, maaf dulu itu aku berbohong, sebenarnya aku bekerja di Kafe, atau pergi ketempat lain, untuk menghindari satu hari bersama mu di rumah Naya" Jawab Juna, Naya pun membulatkan bibirnya, ya tidak heran dulu Juna sangat malas berada di dekatnya.


"Tapi itu dulu kok, saat ini aku malah maunya setiap hari itu hari libur ku" Juna terkekeh begitupun Naya.


"Ya sudah sana mandi dulu, setelah itu kita sarapan" Titah Naya, Arjuna pun mengecup pipi Naya dan melenggang pergi masuk ke dalam bilik kamar mandi itu.


Setelah selesai bebersih dan bersarapan Arjuna dan Naya duduk di teras rumah mungil itu sembari menikmati secangkir teh.


Di dalam ketenangan itu Juna merasa firasatnya tidak enak saat Raihan menghampiri mereka dengan cangkul di tangannya.


"Tuan Arjuna? Ini hari minggu, semua pria harus ikut kerja bakti tanpa terkecuali" Ucap Raihan.


"Hei bedebah! Tidak cukup kau mengajak ku ronda tadi malam, sekarang kau mengajak ku kerja bakti? Aku tidak mau!" Seru Juna.


"Tuan, anda harus ikut ini wajib, kalau tidak anda akan di nobatkan sebagai warga yang tidak taat di sini"


"Masa bodoh apa kata mu, intinya aku tidak mau!" Seru Arjuna.


"Hmmm ya... Ya... Hanya pria sejati yang bersedia kerja bakti tidak seperti diri mu Tuan" Tutur Raihan yanng lantas membuat Arjuna melebarkan bola matanya dan beranjak.


"Apa kata mu? Kau pikir aku bukan pria sejati begitu?" tanya Arjuna.


"Iya apa lagi, itu lah kau buktinya kerja bakti saja tidak mau."


"Hiiiiiiissss bedebah ini! Baiklah... Baiklah aku akan ikut kerja bakti" Arjuna pun berjalan lebih dulu ke arah kanan.


"Hei Tuan kau mau kemana?" Seru Raihan.


"Kerja bakti seperti keinginan mu itu, apa lagi?"


"Kenapa jalan ke arah kanan, kita harusnya ke sebelah kiri" Ujar Raihan,

__ADS_1


"Aku tau, aku juga mau ke kiri kok" Arjuna pun berbelok arah dengan Raihan yang masih terkekeh sedangkan Naya pun hanya menggeleng.


__ADS_2