
Siang ini di kantor tengah ramai tentang rencana peluncuran prodak terbaru Jhosan yang sama persis dengan prodak baru milik Dirgantara, hal itu benar-benar membuat Paman Arjuna merasa semakin geram dengan pemilik perusahaan tersebut, ia pun memutuskan untuk mengunjungi Arjuna.
Di kantor pusat...
Arjuna masih belum menyadari masalah baru yang terjadi di kantornya, siang ini ia tengah menelfon Naya untuk menanyakan kegiatannya, dengan suara manja Juna membuat Naya merasa aneh, ya pria dingin itu kini berubah seperti anak TK yang sangat manja padanya.
Kriiiiieeeeeeeettt senyum Juna memudar tatkala melihat wanita rubah yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya, tengah menebar senyum padannya.
"Sayang, aku tutup dulu ya nanti ku sambung lagi" Ucap Juna sembari menutup panggilan telfonnya, dengan senyum sumringah Lifia menutup pintu kantornya dan mendekati Arjuna.
"Selamat siang Tuan Dirgantara ku sayang" Ucap Lifia di hadapan Arjuna.
"Cih... Siapa yang kau panggil sayang, pergi sana! Merusak mood ku saja" Seru Juna yang langsung beralih Fokus pada layar komputernya.
Melihat itu Lifia semakin tertantang ia pun mendekati Arjuna dan memeluknya dari belakang.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" Arjuna terperanjat, saat mendapati sebuah pelukan dari wanita tidak tau diri di belakangnya itu.
"Aku itu merindukan mu Juna" Ucap Lifia masih mempererat pelukannya.
"Kau! Hei lepaskan aku! Aku itu sudah beristri!" Arjuna masih berusaha melepaskan diri dari tangan Lifia yang melingkar di bahunya.
Dengan cepat ia menarik tangan Lifia dan mendorong tubuhnya.
"Dasar wanita tidak tau malu! Enyah kau sana!" Bentak Juna yang sudah naik pitam di buatnya.
"Aku tidak mau, aku mau disini menemani Juna ku" Ucap Lifia yang berniat memeluk Arjuna lagi namun dengan cepat tangan itu di raihnya, Juna pun menyeretnya keluar dari dalam ruangannya dengan kasar.
"Pergi sana dan jangan ganggu aku!" Seru Arjuna,
"Ada apa ini?" Tanya omnya yang baru saja keluar dari dalam lift dan menghampiri keduannya.
"Wanita rubah ini om, Tiba-tiba datang memeluk ku, dasar tidak tau malu"
"Juna, kau kan tau seharusnya kau menikah dengan ku bukan OG rendahan itu"
__ADS_1
"SIAPA YANG KAU SEBUT OG RENDAHAN ITU HAH!!!" Arjuna kesal ia pun mencengkram baju Lifia.
"Sudah hentikan!" Seru om Rudy yang merasa pening, "Lifia! Sebaiknya kau pulang saja, tidak ada gunanya kau melakukan itu pada pria yang sudah menikah, cari lah kebahagiaan mu sendiri jangan usik Arjuna dan Nayaka lagi" Ucap Om Rudy, mendengar itu Lifia membuang muka ia pun melenggang pergi dengan perasaan kesal.
"Haaahhh akhirnya pergi juga dia" Gumam Arjuna sembari menghembuskan nafas, matanya pun beralih pada sebuah iPad yang di sodorkan omnya itu, ia pun meraih iPad itu dan membaca judul Artikel tersebut.
"Ini?" Mata Arjuna membulat.
"Kau baru tau berita ini?" Tanya omnya.
"Astaga, Jhosan benar-benar!" Arjuna mengepalkan tangannya.
Saat mengetahui ide perusahaannya kembali bocor.
"Kau benar-benar harus mencari tau siapa yang sudah menjadi pengkhianatan di perusahaan ini, kalau terus di biarkan perusahaan mu akan benar-benar hancur, sudah dua kali kita gagal peluncuran gara-gara masalah yang sama, kerugiannya sangat tidak sedikit Juna"
Bruuuuuuuuuuuuckkkk keduanya terkejut saat Dodit menyeret dan melempar Farhat kehadapan dua atasannya itu.
"Anda mencari pelakunya Tuan?" Tanya Dodit. "Dialah sang pengkhianat itu" Tutur Dodit yang langsung membuat Arjuna berjongkok dan mencengkram kerah Farhat dengan tatapan tajamnya.
"Ini buktinya Tuan" Dodit menyerahkan ponsel Farhat pada Om Rudy, yang saat itu melihat semua bukti transferan, pesan singkat dan panggilan telfon dari Jhonatan.
"Astaga! Lihat Ini Juna, dia benar-benar mendapatkan bayaran yang sangat besar dari Jhonatan" Arjuna pun menoleh ke arah layar ponsel Farhat, lalu kembali menatap tajam kearah nya. Dan melayangkan sebuah pukulan di wajahnya. Buuuuuaaackkk Farhat pun tersungkur, seketika darah segar keluar dari hidupnya.
"Sini, akan ku bunuh kau!" Seru Arjuna yang lantas kembali mendekati Farhat namun di tahan oleh omnya. Sedangkan Farhat sudah menutupi wajahnya dengan lengannya.
"Katakan padaku? Kenapa kau tiba-tiba melakukan itu?" Tanya Om Rudy.
"Sa...saya, terpaksa Tuan" Farhat menangis ketakutan.
Dengan itu Dodit pun menjelaskan masalahnya tentang perjanjian Farhat dengan Bos Jhosan itu.
"Brengsek! Jika kau takut masuk penjara karena kau melakukan tabrak lari! Kali ini kau benar-benar akan merasakan ketakutan yang sesungguhnya karena akulah yang akan membuatmu benar-benar menetap di dalam sel, ikut aku!" Arjuna menarik kerah bagian belakang Farhat dan menyeretnya dengan paksa.
"Juna, hentikan!" Seru om Rudy yang lantas menepis tangan Arjuna.
__ADS_1
"Biarkan security yang membawanya" Ucap Om Rudy yang lantas memanggil security itu.
"Tuan Ku mohon jangan penjarakan aku Tuan" Farhat memohon.
"Minta maaf kata mu? Milyaran rupiah ku keluarkan percuma, dan kau hanya minta maaf? Berdebah sialan!" Buuuck... Buuuck Arjuna menendang Farhat dengan sangat brutal membuat Dodit menahannya.
"Tuan jangan lakukan itu Tuan, sudah biarkan dia menerima hukumannya dalam bui" Ucap Dodit, tak lama dua orang security membawa Farhat keluar.
"Tuan... Ampuni saya Tuan, saya bersalah, mohon maafkan saya Tuan—" Seru Farhat yang sudah masuk kedalam lift itu.
Melihat masalahnya telah selesai Dodit pun membungkuk dan berniat kembali ke mejanya.
"Dodit tunggu sebentar" Seru Arjuna, Dodit pun menghentikan langkahnya.
"Kau? Katakan apa saja yang kau inginkan, aku akan memberikan mu hadiah" Ucap Arjuna.
"Hadiah? untuk apa?" Tanya Dodit.
"Sebagai tanda terimakasih dari perusahaan" Jawab Juna sembari memegang bahu Dodit.
"Saya tidak butuh itu Tuan, kecuali satu" Ucap Dodit.
"Apa itu?"
"Tolong buat Raihan kembali bekerja disini, selebihnya saya tidak meminta apapun lagi" Ucap Dodit yang kembali membungkuk dan melenggang pergi.
Arjuna pun mengingat sesuatu, pria di hadapannya ini adalah teman Raihan yang sering ia lihat di rumah Raihan.
Om Rudy menepuk bahu Arjuna "Raihan termaksud pegawai terbaik disini, kau harus mempertimbangkan itu Juna" Tutur omnya itu yang lantas pergi kembali ke kantornya.
"Benar juga, sampai saat ini ia masih menganggur" Gumam Arjuna ia pun kembali masuk ke dalam ruangannya.
Di rumah Naya.
Sore itu Naya tengah menyirami tanaman di depan rumahnya, tak lama motor Raihan berhenti di depan rumahnya, seorang wanita paruh baya yang membonceng di belakang Raihan menatap sinis ke arah Naya.
'Wanita itu!" Runtuknya dalam hati, Naya yang berusaha tersenyum pada ibunya Raihan itu pun tertunduk, tatapan ibunya Raihan benar-benar menakutkan.
__ADS_1
Sudah lama tidak bertemu namun ia masih terlihat membenci Naya, terlebih saat mengingat Putranya itu di di pecat oleh suaminya Naya, membuatnya semakin geram.
'Kau lihat saja nanti apa yang akan ku lakukan pada mu wanita sialan!' runtuknya dalam hati ia pun lantas memalingkan wajahnya dan masuk kedalam rumahnya, Naya yang merasa takut pun berusaha menghela nafas panjang.