
Malam itu mobil Arjuna berhenti di depan rumah Naya, Naya pun membuka pintu mobil itu dan keluar lalu melangkah masuk mendekati pintu rumahnya, tangan kanannya merogoh tasnya mengambil kunci rumahnya dan membukanya. Ia pun melangkahkan kakinya masuk dengan memberi salam terlebih dulu, di susul Arjuna yang turut masuk mengikuti Naya di belakangnya.
Ini kali pertama Arjuna masuk kerumah kecil Naya, matanya terus memandang kesegala sudut ruangan itu.
"Ini rumah ku Juna, kau pasti tidak nyaman kan disini?" Ucap Naya.
"Tidak kok rumah ini cukup nyaman untuk ku" Balasnya dengan pandangan masih melihat-lihat ruangan itu.
"Duduk dulu ya? Aku mau membuatkan mu teh" Ucap Naya, Arjuna pun mengangguk ia berjalan pelan menuju kursi sudut yang sudah usang itu, dan menghempaskan bokongnya di kursi itu.
"Aaarrrrhhh" Arjuna beranjak segera
"Apa ini? Keras sekali?" Ia menyentuh permukaan kursi itu yang ternyata sebuah kayu, karena ia menduduki ujung kursi yang menyatu dengan potongan kursi yang lain.
"Bagaimana bisa ini disebut dengan kursi ruang tamu?" Runtuknya lirih, tak lama Naya keluar.
"Juna? Aku harus ke warung dulu, aku lupa ternyata tidak ada apa-apa di dapur ku" Tutur Naya sembari cengengesan.
"Sudah lah sayang tidak usah, aku minum air mineral saja" Tutur Juna.
"Ya...itu pun juga tidak ada, aku kan baru datang ke rumah ini tadi pagi dan belum sempat memasak apapun termaksud air putih" Ucap Naya.
"Hmm kalau begitu kita pulang kerumah kita saja ya? Jangan disini" Ucap Arjuna, Naya pun sedikit murung.
"Kenapa sih? Kau tidak suka rumah ku ya, kau bisa pulang kok, biar aku sendirian disini" Ucap Naya yang tengah menundukkan kepalanya itu karena merasa sedikit kecewa, Arjuna pun kelabakan.
"Ti...tidak kok sayang, bukan itu maksudku, aku betah kok, betah sekali sebulan disini juga aku mau" Tutur Juna sembari menunjukan giginya nyengir dengan sangat terpaksa pastinya.
"Benarkah? Kau mau kita tinggal disini dulu selama satu bulan?" Tanya Naya yang langsung berbinar.
Mata Arjuna seketika melebar.
'Astaga Naya? Aku kan tidak serius mengatakan itu, kenapa kau malah terlihat senang sekali' Arjuna garuk-garuk kepala.
"Juna, kenapa tidak menjawab? Kau benar-benar mau tinggal di sini untuk sementara waktu kan? Demi aku" Ucap Naya sembari menyentuh tangan kanan Arjuna.
"I..iya sih? Tapi?" Arjuna menoleh kearah Naya yang tengah kembali murung.
"Aahhhh iya sayang aku mau dong pasti, mau... Mau" Lanjut Arjuna cepat.
"Kau tidak ikhlas" Ujar Naya lirih, dengan raut wajahnya yang masih terlihat murung.
"Ikhlas sayang, sungguh aku ikhlas sekali ini"
"Kalau begitu kenapa kau tidak senyum" Mendengar kata-kata itu Arjuna langsung menyunggingkan bibirnya.
"Aku senyum ini Naya" Ucapnya dengan bibir tersungging.
"Kurang tuh" Ujar Naya, Arjuna pun melebarkan senyumnya hingga giginya nampak.
"Nih lihat, aku benar-benar senyum kan dengan penuh ke ikhlasan" Tutur Juna yang lantas membuat Naya terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku mau ke warung dulu ya suami ku" Ucap Naya sembari menarik pipi Juna dan melenggang pergi.
Arjuna pun menekan kedua pipinya menormalkan senyumnya itu.
"Aaahhhh sebulan disini? Yang benar saja??" Ia pun berjalan masuk ke dalam ruangan tengah di sana terdapat ruangan sempit dan sebuah televisi tabung ukuran 14 inch.
"Ini gudang barang bekas ya? Kok di sini sih, mana sempit sekali" Tuturnya, ia pun kembali menyibak tirai usang dan membukanya,
"Apa ini? Gudang lagi? Ah tidak sepertinya ini dapurnya" Ia melihat ada beberapa wajan berpantat hitam tercantel di dinding, dan juga sebuah kompor, dan meja makan sederhana.
"Aku tinggal disini selama sebulan? Astaga, aku tidak yakin aku akan betah disini" Tuturnya sembari berkacak pinggang, ia pun menoleh kearah pintu saat tau Naya sudah kembali, Naya pun menyibak gordennya.
"Juna, kau sedang apa di sini?" Tanya Naya.
"Aku sedang melihat-lihat istana 'buruk rupa' ini sayang" Ia menyebutkan buruk rupa itu di dalam hati, Naya pun tersenyum.
"Ohh... Ya sudah aku mau memasak mie instan dulu ya buat makan malam kita" Ujar Naya.
"Makan malam? Aaahhh Iya aku lupa kita belum makan malam, kalau begitu kita ke restoran saja yuk" Ajak Arjuna.
"Eiittsss aku tidak mau makan di restoran, aku sudah lama tidak makan mie instan makannya aku ingin makan ini pakai telor dan sawi hijau" Ujar Naya.
"Naya? Makan malam pakai mie instan itu tidak sehat, perut kita bisa buncit nantinya, kita makan malam di luar saja ya?" Bujuk Arjuna.
"Aku tidak memaksa mu kok, jika kau tidak mau? kau bisa makan di luar sendirian" Tutur Naya sembari memanyunkan bibirnya.
'Naya? Kau itu pasti tengah sengaja menyiksaku sekarang kan?' runtuknya dalam hati, ia pun tersenyum.
"Kalau begitu? Aku mau mandi sayang, dan? Astaga?" Arjuna menepuk jidatnya
"Kenapa?" Tanya Naya.
"Aku tidak membawa baju ganti" Ucap Arjuna.
"Benar juga, lalu bagaimana?" Tanya Naya.
"Tidak apa, aku akan menelfon ibu Claudia untuk mengemas pakaian ku dan membawanya kemari" Ujar Arjuna Naya pun tersenyum.
"Ya sudah mana kamar mandinya?" Tanya Arjuna lagi, Naya pun menunjuk ke arah pintu berwarna biru di sudut dapur itu.
"Itu?" Tanya Juna, Naya pun mengangguk, sedangkan Juna berjalan mendekati pintu itu.
'Ini kamar mandi? Atau bilik telfon umum? Sempit sekali' gumamnya saat dirinya mulai masuk kedalam kamar mandi ia pun menutup pintu itu dan mulai membuka atasannya, sesaat matanya melebar saat melihat sesuatu berjalan mendekati kakinya.
"Aaassshhh apa itu?" Dia berteriak dan naik kelantai kloset jongkok.
"Pergi...pergi kau!" Seru Arjuna sembari menyirami mahluk kecil berwarna coklat mengkilap itu, namun bukannya pergi mahluk itu malah justru mengeluarkan sayapnya dan mulai terbang kearahnya.
"Aaaaaaaarrrrhhhhhhh" Juna berteriak, membuat Naya terkejut ia pun segera mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Juna ada apa?"
__ADS_1
Braaaaaakkkkk Arjuna membuka pintu itu cepat dan bersembunyi di balik tubuh Naya.
"Singkirkan mahluk menjijikkan itu Naya!" Teriaknya, Naya pun masuk kedalam kamar mandi itu ia melihat seekor kecoa membuat Naya terkekeh-kekeh.
"Itu hanya kecoa Juna" Tutur Naya.
"Terserah intinya aku benci mahluk itu! Dia tadi menempel di rambutku hiiiiiissssss gelinya" Seru Juna masih bergidik geli. Naya pun menghela nafas dan membasmi mahluk itu lalu memegangi sungut kecoa itu, dan menyodorkan nya ke arah Arjuna.
"Aaarrrrhhh buang itu! Buang cepat, buang Naya! Hiiiiii" Seru Arjuna, Naya pun tertawa, ia membawa mahluk itu keluar, sedangkan Arjuna kembali masuk ke dalam kamar mandi itu.
"Haduh, perut sampai sakit, hmmm coba ku lihat seberapa betah Tuan Muda itu tinggal di sini" Kekeh Naya sembari menepuk-nepuk telapak tangannya setelah membuang kecoa itu.
Setelah Arjuna selesai mandi mereka makan malam bersama di meja makan sederhana itu, ya awalnya Arjuna mengendus makanan itu, mungkin yang ada di fikiran Arjuna makanan itu sangat tidak sehat dan tidak higienis, namun setelah mencicipi nya sedikit ia malah justru menyukai mie instan itu dan memakannya dengan lahap.
"Tidak ku sangka mie instan itu sangat enak" Ujar Juna, matanya masih tertuju pada mie instan di mangkuk Naya.
"Ada apa? Apa kau mau lagi?" Tanya Naya.
"Sebenarnya iya" Jawab Juna, Naya pun mendorong mangkuknya.
"Kau mau memakan punya ku?" Tanya Naya,
"Memangnya kau sudah kenyang?" Tanya Juna.
"Aku kan memakannya menggunakan nasi, dan hanya ku ambil sebagian saja, jika kau mau, kau bisa menghabiskannya aku sudah kenyang kok" Ujar Naya, Juna pun tersenyum dan meraih mangkuk mie itu dan kembali memakannya dengan lahap.
'Benar-benar kau ini seperti seekor anak kucing yang manis Tuan' gumam Naya dalam hati masih terus mengamati Arjuna yang tengah melahap mie instan itu.
Malam berselang Arjuna tidur di kamar Ayahnya Naya, berkali-kali ia membuka matanya karena banyaknya nyamuk membuatnya tidak bisa tidur.
Disisi lain Naya pun membuka pintu kamar itu, dan duduk di sebelah Arjuna ia pun meraih kaki Arjuna membuat Arjuna terkejut.
"Kau mau apa?" Tanya Arjuna.
"Aku ingin mengoleskan lotion anti nyamuk" Ucap Naya yang lantas mengusap kaki Arjuna, disana pipi Arjuna merona, ia benar-benar menyadari kalau Naya memang sosok wanita yang sangat perhatian, tangan Naya beralih mengusap tangan Arjuna, setalah selesai Naya pun beranjak, sedangkan tangan Arjuna menahannya.
"Kenapa aku tidak bisa tidur dengan mu sih?" Tanya Arjuna.
"Kita kan belum menikah lagi, jadi harus tidur secara terpisah" Ujar Naya, Arjuna pun menarik tangan Naya sehingga membuat Naya terjatuh diatas dada Arjuna.
"Waktu itu saja kita tidur dalam satu ranjang kan? Walau aku tau kau setelahnya pindah" Tutur Juna.
"Waktu itu kau belum mencintai ku, beda dengan sekarang, aku takut kau tidak bisa menahan hasrat mu Juna" Ucap Naya, Juna pun tersenyum.
"Hasrat ya?" Gumamnya mata mereka pun saling bertemu Arjuna menarik pelan kepala Nayaka hendak menciumnya namun seketika di tahan oleh Naya.
"Bersabarlah, kalau sudah waktunya, aku pasti akan melayani mu sayang" Ucap Naya sembari tersenyum, Juna pun ikut tersenyum, dan mengangguk dan melonggarkan tangannya itu, dengan Naya yang langsung beranjak.
"Selamat malam istri ku" Ucap Juna,
"Selamat malam juga suami ku" Jawab Naya, ia pun melangkah keluar dari kamar itu dan menutupnya. Di balik pintu pipi Naya merona, ia menyentuh dadanya yang sedari tadi berdebar, dengan sudut matanya yang basah ia bersyukur karena malam ini ia masih sah sebagai istri Arjuna di mata negara, walau ia harus menikah lagi namun setidaknya Juna masih berada disisinya.
__ADS_1