Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
Raihan untuk Naya


__ADS_3

Hari ini kinara sangat sibuk mengurus restoran terlebih di jam makan siang seperti ini, tempatnya yang strategis dengan lokasi yang dekat dengan beberapa gedung perkantoran membuat Restoran Kirana semakin naik daun.


"Sinta tolong atar nona ini ke mejanya ya?" Ucap Kinara pada seorang pelayan, sesaat matanya tertuju pada Arjuna yang baru saja tiba di hadapannya.


"Juna?" Gumamnya, ia pun mengajak Juna masuk ke ruangannya, di saat yang bersamaan sebuah mobil berhenti di trotoar depan restoran milik Kinara itu, sesaat kaca mobil itu terbuka seorang wanita melepaskan kaca matanya.


"Kinara? Jadi benar dia sudah kembali, Tapi Juna? Untuk apa dia menemui Kinara? Cih, susah payah aku membuat Naya dan Arjuna bercerai sekarang saingan terberat ku malah sudah kembali, apa harus aku menghasut neneknya itu, agar Kinara di tarik lagi ke Amsterdam?" Ia pun menutup kaca mobilnya dan kembali melajukan mobilnya.


Seseorang menelfonnya, membuat Lifia menggerutu sebal, dengan berat hati ia menerima panggilan telfon dari kakaknya itu.


"Ya kak jo? Apa?" Sapa Lifia.


"Kau ini bagaimana sih? Kau dima? Kakak datang tidak di sambut" Tutur Jhonatan.


"Cih... Baru ingat kalau kau memiliki adik di Indonesia? Bukannya kau sibuk dengan istri siri mu itu ya??" Tutur Lifia.


"Kau ini kenapa sih, sepertinya kau masih tidak suka dengannya?" Tanya Jhonatan.


"Sudah lah tidak usah membahas wanita itu, ada apa datang ke Indonesia? Selama bertahun-tahun kau menetap disana masih ingat jalan pulang juga ternyata?" Ucap Lifia ketus.


"Nanti saja kita bahas di rumah, aku ingin kau pulang sekarang juga ya, kakak tunggu" Ucap pria berusia 43 tahun itu sembari menutup sambungan teleponnya. Lifia pun mendengus sebal dan membalik arah laju mobilnya kembali menuju rumahnya.


Ya kakaknya itu sangat misterius baginya, ia saja tidak pernah menebak isi fikiran nya.


Disisi lain.


Kinara masih mengamati Arjuna yang hanya memandangi layar ponselnya, sembari mengusapnya.


"Kau ini sebenarnya mau apa sih kemari Juna?" Tanya Kinara membuat Juna mengangkat kepalanya menoleh ke Kinara.


"Aku hanya ingin menenangkan fikiran ku" Tuturnya.


"Ya sudah jika kau hanya ingin melamun aku akan keluar mengurus para pegawai ku" Ucap kinara sambil beranjak namun dengan cepat Juna menariknya hingga kinara terjatuh dan duduk di pangkuannya.


"Ka..kau apa yang kau lakukan sih? Aku kan jadi terjatuh" Tanya Kinara gugup.


"Iya maafkan aku kinar" Ucap Juna. Kinara pun beranjak dan berdiri.


"Ya sudah, katakan pada ku, kau itu mau apa kemari?" Tanya Kinara yang kembali duduk di sebelah Juna.


"Besok sidang perceraian ku dan Naya" Tuturnya.


"Aku tau itu Juna"


"Aku masih belum bisa melepasnya" Ucap Juna.


"Apa kau sudah mencoba meyakinkannya lagi?" Tanya Kinara ia pun menggeleng.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau disini? Harusnya kau temani dia?"


"Aku tidak bisa Kinara, dia meminta waktu untuk bertemu temannya hari ini, aku sempat khawatir bahwa dia akan menemui Raihan" Tutur Juna.


"Siapa Raihan?" Tanya Kinara.


"Raihan adalah pria yang menyukai Naya, aku takut saat aku melepas Naya, dia akan semakin dekat dengan istri ku? Dan kalau mereka benar-benar saling mencintai lalu setelahnya menikah bagaimana? Aku tidak akan sanggup menerimanya" Ujar Arjuna.


"Aku sudah berusaha membuatnya bahagia, namun tetap saja pendiriannya masih kekeh, aku kesal Kinar, aku ingin marah padannya, namun aku sudah berjanji pada diri ku sendiri untuk tidak memarahi Naya lagi, terlebih? Sekarang om Rudy tau tentang pernikahan kontrak ini, aku yang memberitahukan kenyataan itu padannya dan ia marah besar pada ku" Tutur Juna.


"Juna? Kau harus kuat, setelah perceraian mu itu? Bukan berarti perjuangan mu selesai Juna kau masih bisa terus mendekati Naya dari awal lagi, berusaha lah terus mendekati nya" Tutur Kinara.


Juna pun memeluk tubuh Kinara melepas kesedihannya. Tangan kinara perlahan terangkat ia menepuk-nepuk bahu Juna berusaha menenangkannya.


"Kenapa aku harus terus seperti ini kinara? Apa salahnya jika aku ingin mencintai seorang gadis?" Gumam Juna dengan suara seraknya.


"Aku tidak ingin bercerai dari Naya Kinar, aku tidak mau" Gumam Juna terus, kinara pun menitikkan air matanya, dengan pandangan lurus menatap ke depan.


Di tempat lain Naya masih mengaduk minumannya sembari melamun, ia terus mengingat momen indah bersama Juna akhir-akhir ini, Juna benar-benar menunjukkan perubahannya membuatnya semakin ragu untuk tetap bercerai dengan Arjuna, dan perasaannya pada Arjuna pun semakin dalam.


Tak..tak...tak... Wina mengetuk-ngetuk jarinya kemeja di dekat gelas Naya.


"Naya? Mau sampai kapan kau melamun seperti itu?" Seru Wina sehingga membuyarkan lamunan Naya.


"Emm?" Ia pun mengusap air matanya yang menetes tiba-tiba.


"Tidak ada apa-apa kok" Tutur Naya sembari menyedot minumannya.


"Jangan bohong, apakah kau sedang ada masalah dengan suami mu?" Tanya Wina


"Ti.. Tidak kok, aku?" Naya semakin Berkaca-kaca.


"Naya?" Panggil Wina


"Besok? Hari perceraian ku dan suami ku" Ucap Naya lirih ia pun tertunduk dengan tangisannya yang pecah setelah sedari tadi tertampung, Wina pun membuka mulutnya lebar-lebar.


"Ba...bagaimana bisa? Pernikahan kalian masih seumur jagung Naya? Apa yang terjadi" Tanya Wina bingung.


"Di antara kami memang sudah tidak ada kecocokan Win"


"Tunggu... Tunggu bohong sekali? Aku melihat suami mu sangat menyayangi mu Naya, terlihat dari akun sosial medianya banyak sekali foto mu, dengan caption yang menurut ku sangat romantis" Tutur Wina, yang diam-diam sering stalking akun sosial media Arjuna, yang menurutnya selalu bikin bawa perasaan dan iri saat melihat kemesraan Naya dan Arjuna.


"Kau tidak tau masalah yang sebenarnya terjadi antara kami Wina" Jawab Naya.


"Masalah? Tolong jelaskan,aku tidak mengerti" Wina masih bingung, pasalnya hubungan mereka baik-baik saja, namun tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba mereka akan bercerai.


"Aku susah menjelaskannya pada mu, intinya itu masalah pribadi ku dan Juna" Wina menghela nafas.

__ADS_1


"Baiklah aku mengerti Naya, sekarang aku bertanya pada mu? Apa kau masih mencintai suami mu?" Tanya Wina, Naya pun menaikan kepalanya menatap Wina.


"Terlihat jelas kau masih mencintai Arjuna Naya"


"Tapi aku tidak bisa membatalkannya lagi, karena besok sidang putusan perceraian kami" Ucap Naya


"Hei, tidak ada yang tidak mungkin Naya sekarang kau telfon suami mu dan bilang kau ingin membatalkan perceraian itu" Bujuk Wina.


"Aku tidak bisa Wina"


"Kenapa tidak bisa kau hanya perlu menelfonnya, bilang padanya kalau kau masih mencintainya" Tutur Wina, Naya masih membisu.


"Apa kau ingin benar-benar menyesal seumur hidup atas keputusan mu itu?" tanya Wina, Naya pun menggeleng cepat, ia segera meraih ponselnya namun seketika matanya melebar


"Astaga, baterai ponsel ku habis" Ucap Naya, Wina pun menyodorkan ponselnya.


"Telfon dia pakai ponsel ku, dan suruh dia menjemput mu sekarang" Ucap Wina, Naya pun mengusap air matanya cepat lalu meraih ponsel itu.


Ia mulai Menekan-nekan angka di layar ponsel itu, dan mulai menghubunginya.


"Tidak diangkat" Tutur Naya.


"Coba lagi" Tambahnya, Naya pun mencoba menelfonnya lagi hingga tiga kali, akhirnya panggilan telfon itu pun di Terima dari sebrang.


"Hallo?" Mata Naya melebar, ia menelfon ke nomor Juna namun yang ia dengar suara Kinara.


"I... Iya hallo?" Jawab Naya berusaha tenang.


"mohon maaf, Tuan Arjuna tengah berada di toilet, anda bisa menghubungi nya lagi nanti" Ucap Kinara ramah dari sebrang.


"Iya, Terimakasih Nona" Jawab Naya ia pun mematikan ponselnya.


"Bagaimana?" Tanya Wina, Naya tidak menjawab pertanyaan Wina, ia hanya menyerahkan ponsel itu dan beranjak bangun.


"Naya kau mau kemana?" Tanya Wina kebingungan.


"Aku? Aku harus pulang Wina, dan terimakasih untuk waktu mu" Naya berusaha tersenyum ia pun berjalan keluar, suara Wina yang sedari tadi memanggilnya pun tak di gubris nya, disaat langit sudah mulai gelap ia pun berjalan lunglai menyusuri trotoar.


Ia mengusap bahunya sendiri berjalan dengan pandangan kosong lurus kedepan.


'Apa ini? Kau mempermainkan perasaan ku Tuan?' Gumam Naya dalam hati, zraaaaaaaaassss hujan tiba-tiba turun membuat semua orang berlarian mencari tempat berteduh namun tidak dengan Naya yang malah justru mematung di sana tanpa berbuat apa-apa.


"Tuan Arjuna? Kenapa aku harus mencintai pria seperti mu? Pria yang tidak pernah bisa memegang janji mu Tuan? Hiks" Naya berjongkok memeluk lututnya sembari menangis di bawah hujaman air hujan, seorang pria datang dengan payung di tangannya dan berdiri di hadapannya, Naya mendongak.


"Raihan?" Naya semakin terisak tanpa sadar ia langsung beranjak dan memeluk Raihan, hatinya sangat sakit karena permainan tarik ulur Arjuna yang membuatnya mulai lelah.


Satu tangan Raihan membalas pelukan Naya, dan mengusap punggungnya didalam satu payung yang menahan air hujan itu, Raihan tidak tau apa yang terjadi ia baru saja keluar dari salah satu mini market di sana lalu melihat Naya berjalan melewati mini market tersebut sehingga membuatnya langsung membuka pintu mini market itu namun tidak lama hujan turun membuatnya kembali masuk dan membeli payung di sana dan langsung menghampiri Naya.

__ADS_1


Disaat yang sama, mobil Arjuna berhenti mendadak, tangannya terkepal dengan sorot matanya membidik tajam menangkap pemandangan tidak mengenakan di hadapannya itu.


__ADS_2