
Beberapa hari berselang...
"Ruri, kau dengar tidak rumor tentang Nyonya dan Tuan akan bercerai" Ucap Jidah, yang sedikit membuat Ruri tercengang
"Hey jangan asal bicara, kalau salah bagaimana?" Ucap Rury si kepala koki di dapur itu.
"Tapi menurut desas desus para pelayanan disini? Mereka memahami kalau Tuan dan Nyonya sudah tidak tidur dalam satu kamar lagi, itu sama saja dengan mereka yang tengah pisah ranjang kan?" Tuturnya.
"Siapa yang tengah pisah ranjang?" Seru seseorang dari belakang mereka, membuat keduanya terperanjat kaget dan menunduk saat mengetahui kalau itu adalah Rudy pamannya Arjuna.
"Hey kalian jawab!" Serunya.
"Ma...maafkan kami Tuan, sebenarnya teman saya ini sedang membicarakan drama di televisi" Jawab Ruri berbohong.
"I...ya Tuan" Jawab Jidah.
"Kau berkata sungguh-sungguh kan?" Tanya Rudy
"Iya Tuan kami tidak berbohong" Ucap Mereka kompak.
"Ya sudah kalau begitu, lanjutkan pekerjaan kalian" Ucapnya yang langsung melenggang pergi.
Ruri menatap kearah Jidah sembari membulatkan bola matanya.
"Aku sudah bilang pada mu, Hati-hati saat berbicara disini" Serunya
"Maaf Ruri, aku tidak tau kalau ada Tuan Rudy di sana"
"Sudah lah lanjutkan pekerjaannya" Lanjut Ruri yang lantas kembali mengeringkan piring-piring yang basah itu.
Disisi lain Rudy yang tengah menanti Nayaka dan Arjuna di bawah pun tertegun, pasalnya kemarin ia bertemu dengan pengacara Juna di salah satu mini market depan kantor pengadilan agama.
'Apa mungkin? Yang para koki itu bicarakan benar kalau Arjuna dan Naya akan bercerai? Tapi apa alasannya' tuturnya sembari menatap ke arah bingkai foto pernikahan Naya dan Juna yang besar itu.
"Om? Kau datang?" Tanya Arjuna yang tengah berjalan turun dengan jas lengkapnya yang di dampingi oleh Naya, mereka pun menyalami tangan omnya.
__ADS_1
"Iya, sebenarnya om ingin berbicara tentang perusahaan, hari ini kita berangkat bersama ya?" Ucap omnya itu yang lantas melenggang pergi, Juna menatap bingung.
"Naya, aku berangkat dulu ya? Maaf aku tidak bisa sarapan, sepertinya om Rudy ingin berbicara serius" Ucap Juna yang di balas dengan anggukan kepala Naya.
Di dalam mobil keduanya hanya diam, Juna merasa kikuk dengan omnya itu, raut wajahnya terlihat sedikit kesal tapi entah apa penyebabnya.
Di sebuah restoran....
"Kita sarapan dulu, kau belum sarapan kan?" Ucap omnya itu sembari membuka pintu mobilnya, Juna pun terpaku perlahan ia mulai membuka pintu mobil itu.
'Kenapa om membawa ku ke sini?' tuturnya yang langsung turun dari mobil itu dan mengikuti langkah omnya.
Di dalam resto itu Juna sedikit tegang, saat omnya mulai membuka-buka berkas perusahaan dan meletakkannya di meja satu persatu dengan sedikit membanting.
"Juna? Jelaskan pada om?? Kau ini sedang ada masalah apa?" Tanyanya serius.
"Ma...maksudnya?" Tanya Juna bingung.
"Ginerja mu menurun Juna, bahkan data cabang saja banyak yang tidak sama dengan data pusat, aku bahkan menerima keluhan kau yang sering absen dari meeting penting mu, dan ini? Hal yang bikin om benar-benar kecewa" Om Rudy melempar koran kepada Juna.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Juna tidak mengerti.
"Juna, sangat sulit mencari ide itu, mungkin kah ada seseorang yang menjual ide itu pada perusahaan nya? Aku mau tanya pada mu siapa yang memegang kendali DIVISI PPC ( PRODUCTION PLANNING CONTROL )" Tanya omnya itu.
Juna berfikir keras sebelum itu, Devisi itu dipegang oleh Raihan dan timnya, namun Raihan sudah keluar beberapa bulan yang lalu, tidak mungkin jika Raihan menjual planning produk milik perusahaan pada perusahaan lain.
"Juna?" Panggil omnya itu.
"Emmm, untuk saat ini ketua tim di gantikan oleh Farhat hanya saja? Yang mengetahui detail tentang produk baru itu adalah mantan ketua devisi yang dulu"
"Siapa dia?"
"Raihan, tapi om? Aku tidak yakin, karena selama ini Raihan selalu sukses mendongkrak penjualan dengan ide-ide produknya, ia tidak mungkin menjual ide perusahaan kita ke perusahaan lain" Tutur Arjuna.
"Kalau begitu kita panggil Raihan hari ini, dan tanyakan padanya" Ucap Omnya itu.
__ADS_1
"Dan lagi? Ada yang ingin om bicarakan padamu tentang kau dan istri mu" Ucap om Rudy dengan tatapan serius.
"Apa benar? Kau akan bercerai dengan Naya?" Tanya omnya yang seketika itu membuat Arjuna mematung.
"Ada apa Juna? Apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan mu? Om lihat hubungan kalian baik-baik saja" Tanya omnya itu, namun Arjuna tetap membisu ia hanya tertunduk dengan kedua tangannya memegangi cangkir kopi di hadapannya itu.
"Juna, katakan saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Om hanya menyayangkan keputusan kalian, terlebih pernikahan kalian baru menginjak satu tahun" Arjuna bingung ingin menjelaskannya dari mana? Yang pasti ia tidak bisa terus membohongi omnya itu.
"Om? Aku ingin memberi tahu suatu rahasia yang selama ini ku sembunyikan" Ucap Arjuna lirih.
"Rahasia?" Tanya omnya itu dengan kening yang berkerut, omnya mulai mengatupkan jari jemarinya di atas meja.
"Iya om, tentang pernikahan ku dan Naya, yang sebenarnya bukan pernikahan sungguhan" Tutur Arjuna, kedua mata omnya itu membulat.
"Bukan pernikahan sungguhan? Maksud mu?"
"Aku?" Arjuna tertahan ia benar-benar takut omnya itu akan marah padanya.
"Telah melakukan sebuah pernikahan kontrak dengan Naya" Deeeeeeegg om Rudy menarik tubuhnya ke belakang, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang keponakannya itu bilang.
"Kau bercanda Arjuna" Tutur omnya itu.
"Tidak om, aku serius, aku memaksa Naya untuk menikah dengan ku selama satu tahun demi bisa terlepas dari perjodohan ku dengan Lifia, karena pada saat itu aku tengah menunggu Kinara om"
"Kinara? Maksud mu Kinara Agata putri dari keluarga Delisa?" Tanya nya, Arjuna mengangguk pelan. Plaaaaaaaaakkkkkk om Rudy menampar pipi Arjuna keras ia berdiri sembari berkacak pinggang.
"Kau benar-benar gila Arjuna! Bisa-bisanya mempermainkan suatu pernikahan, mengorbankan perasaan wanita lain demi mendapatkan wanita incaran mu? Astaga Arjuna, pria macam apa kau ini?" Om Rudy meremas kepalanya dan kembali duduk.
"Aku menyesali itu om, aku sudah memutuskan hubungan ku dengan Kinara, dan mencoba berbaikan dengan Naya namun? Dia menolak ku,aku menyadari itu semua karena kesalahan ku padanya, karena aku tak hanya berselingkuh di belakang Naya aku juga menyiksanya selama ini" Mendengar itu tangan omnya kembali terangkat hendak menampar Arjuna lagi.
"Aku menyesalinya om, aku menyesalinya" Air mata Arjuna menetes, membuat tangan omnya itu turun perlahan, ia pun mendekati keponakan satu-satunya itu dengan sedikit membungkuk dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Setelah seperti ini kau baru menyesal? Bedebah macam apa kau ini Juna?? Kalau om tau seperti ini kenyataannya? Om pun setuju kau bercerai dengan Naya, lebih baik dia hidup bebas dari pada hidup dengan pria seperti mu" Tutur omnya itu dengan perasaan kesal sembari melenggang pergi meninggalkan Juna yang masih tertunduk itu.
'Aku tau itu om, itu yang membuatku berusaha keras untuk membuatnya bisa luluh, namun sepertinya luka hati Naya sangat dalam, sehingga detik ini saja dia belum memaafkan ku padahal dua hari lagi adalah sidang putusannya' gumamnya dalam hati ia memijat keningnya itu.
__ADS_1