
Di dalam kamar Arjuna Naya menutup pintunya, ia melihat Arjuna tengah sibuk dengan laptopnya, ia masih takut Arjuna akan memarahinya lagi, namun sepertinya tidak ia pun merebahkan tubuhnya di kursi panjangnya dan menutup tubuhnya dengan selimut, perlahan matanya mulai terpejam.
Disisi lain mata Arjuna melirik kearah Naya dan memastikan wanita itu sudah tertidur.
"Haaahh Juna? Bukannya berusaha memperbaiki hubungan kau malah semakin memperparahnya" Gumamnya sangat lirih, ia pun menggeleng pelan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Esok paginya...
Setelah selesai bebersih dan mengenakan kemejanya Juna berseru memanggil Naya, dengan ragu Naya menunggu di depan pintu ruang ganti tersebut.
"Ada apa Tuan" Tanya Naya.
"Masuk lah dan bantu aku" Serunya.
"Kau sudah mengenakan pakai mu kan Tuan?" Tanya Naya.
"Iya! Ku bilang cepat sini masuk" Seru Arjuna, membuat Naya menghela nafas ia pun membuka pintu ruangan ganti itu dan mendapati Arjuna tengah berdiri di depan Cermin.
__ADS_1
"Pakaikan dasi ku" Ucap Arjuna membuat Naya tercengang.
"Bu.. Bukannya Anda biasa memakainya sendiri Tuan?" Tanya Naya.
"Kau ingin menentang ku? Aku bilang pakaikan ini?" Tanya Arjuna membuat Naya mendesah dan mendekati Arjuna dengan dasi di tangannya ia sangat gugup saat mengalungkan dasi itu dan mulai memasangnya.
Dengan tangan gemetaran, ia masih terus berusaha membuat simpul disana, yang semakin membuat Naya gugup itu justru pandangan Arjuna yang terus menatapnya dalam-dalam bahkan tanpa berkedip sedikit pun.
"Naya? Apa kau masih marah pada ku?" Tanya Arjuna membuat Naya terdiam dengan tangan masih berusaha memasangkan dasi itu walau berkali-kali gagal dan membuatnya mengulanginya lagi.
"Naya?"
"Aku tau aku tidak ada hak atas mu Naya? Tapi bagiku Walaupun pernikahan kita hanya pernikahan kontrak setidaknya kau harus tetap menghargai itu" Tutur Arjuna, mendengar itu Naya tiba-tiba merasa geram.
"Memangnya siapa disini yang tidak menghargai itu Tuan?" Tanya Naya datar "Aku? Atau dirimu?" Ucap Naya sembari mendorong dasi itu keatas saat simpul itu berhasil terbentuk, dan dengan pandangan lurus menghunus ke mata Arjuna, sedangkan Arjuna menatapnya tak mengerti, sehingga membuat Arjuna meraih kedua tangan Naya yang berada di dadanya itu.
"Apa maksud mu?" Tanya Arjuna, membuat Naya tersenyum sinis.
__ADS_1
"Apa harus aku menyebutkan nama Kinara Tuan?" Ucap Naya yang lantas membuat Arjuna melebarkan kedua bola matanya.
"Kau, kau tau dari mana nama itu?"
"Saat kau mengigau menyebut namanya? Saat aku menemukan fotonya di meja kerja mu, saat kau menelfon ya setiap malam di loteng saat aku tengah tertidur, dan?" Naya berhenti sejenak.
"Saat kau menciumnya dengan sadar di sebuah parkiran di depan resto" Deeeeeeeggg Arjuna tercengang, saat Naya tau semua itu.
"Na.. Naya? Aku?" Arjuna tergagap, kini seakan semua kesalahan itu berbalik kepada nya sehingga membuatnya tidak bisa berkata apapun, dengan cepat senyum Naya tersungging.
"Anda Tidak perlu menjelaskan Tuan, aku tidak akan kesal karena itu kok, seperti yang kau bilang? Kau ataupun aku tidak akan pernah saling jatuh cinta kan? Jadi aku tidak akan melarang mu jika kau ingin menjalin hubungan dengan Nona Kinara, toh kurang dari tiga bulan lagi kita akan bercerai?? Jadi tenang saja, aku tidak akan mempersulit perceraian kita Tuan, kita tetap bisa bercerai Baik-baik dan kau?" Ucapan Naya terhenti, sembari meraih jas dan tas Arjuna lalu kembali menatap ke arah Arjuna.
"Masih bisa berhubungan dengan Nona Kirana dengan tenang" Ucap Naya yang lantas melenggang keluar dengan tas dan Jas Arjuna di tangannya.
Arjuna masih mematung, ia benar-benar tidak tau harus apa? Saat tau kalau Nayaka mengetahui hubungannya dengan kinara di belakangnya.
Di sisi Lain Naya menghela nafas ia tidak percaya dirinya bisa mengatakan itu pada Arjuna, bahkan sampai membuat mulut besarnya itu bungkam.
__ADS_1
Ya Naya memang harus melakukan itu bagaimana pun juga Arjuna lah yang telah memancingnya untuk mengatakan hal itu, namun ia lega terlebih saat melihat ekspresi Arjuna yang terlihat pucat itu, benar ia harus mengesampingkan semuanya saat ini, perceraian itu harus tetap terjadi, antara dirinya dan Arjuna harus benar-benar berpisah, Naya pun kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju ruang makan sembari menunggu Arjuna turun.