
Malam itu Naya tengah membaca bukunya di sebuah kursi panjang di sudut ruangan kamar yang besar itu, sesekali matanya melirik kearah jam di dinding, sudah pukul sepuluh malam namun Juna belum juga pulang, fikirannya terus tertuju pada Kinara, mungkinkan suaminya itu menemui kinara?, Naya tertunduk.
'Biar saja? Kalau memang Tuan Arjuna menemui Kinara, memang masalahnya apa?' gumam Naya dalam hati.
Cklaaakkk krieeeeeet pintu itu terbuka, membuat Naya tersenyum senang, dan berdiri menyambutnya.
"Selamat da?" Ia terkejut melihat wajah memar Arjuna, membuatnya segera mendekati Arjuna.
"Kau kenapa Tuan?" tanya Naya khawatir.
"Aku tidak apa-apa" Jawab Arjuna, ia pun duduk di atas ranjangnya dan merebahkan tubuhnya, melihat itu Naya langsung saja mengambil wadah berisi air dingin dan handuk untuk membersihkan luka Arjuna dan sebuah kotak P3K, ia pun duduk di sebelah Arjuna.
"Duduk lah dulu Tuan, aku akan mengompres luka mu" Ucap Naya,
"Aku tidak apa-apa Naya" Gumam Arjuna yang malah memejamkan matanya,
"tidak apa, apanya? Kau itu terluka, ayolah Tuan bangun dulu biar ku obati"
"Aku bilang tidak apa-apa, berarti ya tidak apa-apa" Seru Arjuna sembari menutupi wajahnya dengan lengannya itu, tidak ada pilihan lain untuk Naya selain menurunkan tubuhnya memindahkan lengan Arjuna yang menutupi wajahnya itu.
"Apa yang?" Arjuna tertegun melihat wajah Naya yang sangat dekat itu.
Naya mengusap luka Arjuna pelan
"Aahhsss, pelan Naya itu sakit" Arjuna meringis.
"Saat berkelahi saja kau tidak merasakan sakit kan??" Tutur Naya masih serius, membuat Arjuna bungkam.
"Maaf, memangnya Anda habis berkelahi dengan siapa? Sampai seperti ini" Tanya Naya.
"Siapa yang berkelahi? Aku tadi jatuh dari tangga" Jawab Arjuna berbohong.
"Kalau berbohong itu? Seharusnya lebih logis Tuan agar aku bisa percaya" Hunus Naya membuat Arjuna berdeham.
"Memangnya jika aku berkelahi dengan seseorang kau tidak marah?" Tanya Arjuna
__ADS_1
"Tuan? Kapan aku berani marah dengan mu? Di bentak saja aku sudah tergagap" Tutur Naya membuat Arjuna sedikit terkekeh, mata Arjuna masih terus memandangi nya, tentu saja tatapan itu mengarah ke bibir Naya yang membuatnya lantas menelan ludah.
'Sial, bibirnya manis sekali membuat ku tidak tahan, akal sehat ku tolong cegah diriku untuk tidak melakukan hal konyol apapun' runtuknya dalam hati, Arjuna pun beranjak membuat Naya terkejut. Ia berdeham dan mengibaskan bajunya di bagian dada.
"Kenapa tiba-tiba panas sekali" Gumamnya, Naya merasa aneh AC di kamar ini sangat dingin kenapa bisa Arjuna kepanasan?
"Anda mau minum Tuan?" tanya Naya.
"Emmm... Iya" Jawabnya gugup, Naya pun beranjak mengambil air minum untuk Arjuna.
"Aku bisa mati jika jantung ku terus berdebar secepat ini" Runtuknya lirih, ia pun berdeham saat Naya sudah kembali dengan segelas air dingin di tangannya.
"Ini Tuan" Ucap Naya sembari menyerahkan air mineral itu, dengan cepat Arjuna meraihnya dan menenggak minuman itu sampai habis.
"Kau haus sekali ya Tuan" Tanya Naya yang lantas meraih gelas kosong itu dan meletakkannya di atas meja, ia pun membuka kotak P3K itu mengambil kapas dan obat merah.
"Tuan, tahan sedikit ya? Aku akan memberikan obat pada luka mu itu" Ucap Naya, sedangkan Arjuna masih terus diam menahan rasa gugupnya itu.
Naya pun mulai menempelkan obat itu pada luka Juna yang membuatnya sesekali meringis. Deegg deeegg
'Aarrrggghhh jantung ini kenapa semakin membuat keringat dingin ku keluar sih, mana dia terlihat manis sekali malam ini' gerutu Arjuna.
"Aku... Aku sudah pelan-pelan Tuan, Anda ini kenapa sih, berlebihan sekali"
"Apa! Kau bilang apa tadi?" Seru Arjuna
"Ti... tidak Tuan, maaf habis sedari tadi kau mengeluh sakit, padahal aku sudah pelan-pelan" Tutur Naya.
'Yang sakit bukan luka ku namun hati ku Naya, kau memberi perhatian seperti ini tapi kau menolak ku' runtuk Arjuna.
"Sudah hentikan itu, luka ini pasti cepat sembuh kok" Arjuna menepis pelan tangan Naya membuat Naya menghentikannya.
"Ya sudah biar langsung ku beri plester saja" Ucap Naya yang lantas membereskan kota itu lalu meraih plester nya, kepala Arjuna turun ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Naya membuat Naya terkejut. dengan menyilang kan kedua tangannya di dada Arjuna memejamkan matanya.
"Pakaikan plester itu cepat" Perintah Arjuna dengan bibir sedikit tersungging.
__ADS_1
"Tu...tuan?"
"Kenapa kau tidak mau?" Tutur Arjuna, membuat tangan Naya gemetaran.
'Masalahnya rambutmu menyentuh kulit ku, membuat ku sedikit merasakan geli' tutur Naya dalam hati, saat ini ia tengah memakai dress sebatas lutut dan saat ia duduk roknya itu sedikit terangkat.
"Kenapa lama sekali? Cepat pakai kan ini perintah Tuan mu lho" Ucap Juna dengan nada yang menyebalkan itu.
Perlahan Naya pun memasang plester itu di pelipisnya dengan sedikit tertunduk, saat itu juga mata Arjuna terbuka membuat Naya tercengang karena kedua mata itu saling bertemu.
Keduanya lantas saling memalingkan wajah.
"Panas sekali" Ucap mereka bebarengan tanpa sadar, keduanya pun saling melebarkan matanya. Naya yang gugup reflek menggeser duduknya sehingga membuat kepala Arjuna terjatuh dari pangkuannya.
"Aarrhhh Naya kau ini!" Arjuna terkejut kerena hal itu membuatnya hampir terjatuh ke lantai.
"Ma... Maaf Tuan" Aku tidak sengaja.
"Kalau aku jatuh bagaimana? Terus kepala ku terbentur, gegar otak? Kau mau tanggungjawab?" Seru Arjuna.
'Berlebihan sekali sih kau ini Tuan benar-benar deh' runtuk Naya dalam hati.
"Maaf, Tuan aku? Aku reflek"
"Aahhh sudah lah" Arjuna beranjak menuju kamar mandi dan menutupnya.
Saat itu juga Naya berlari keluar menuju loteng. Ia menyentuh dadanya yang sedari tadi berdegup kencang, ia juga menghela nafas berkali-kali.
"Apa yang terjadi, kenapa Tuan Arjuna terlihat tampan sekali tadi? Naya sadar lah... Sadar lah Naya" Gumamnya terus wajahnya merona saat mengingat Arjuna tidur di pangkuannya, ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan jatuh cinta padanya... Jangan jatuh cinta padanya... Ku mohon Naya jangan... Jangan" Naya kalang kabut sendiri.
Disisi lain di dalam kamar mandi Arjuna mencuci mukanya, pipinya pun merona membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
"Astaga...Naya kau benar-benar membuat ku gemas, aku harus apa?" Juna pun mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Dua minggu terakhir ini aku akan membuatnya bahagia dan terkesan" Tuturnya merasa senang.
"besok aku akan cuti sehari dan membawa Naya berjalan-jalan seharian, semoga saja ia mau" lanjut Arjuna semangat.