Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
mengerjai Lifia


__ADS_3

Sebelumnya, Dodit yang tengah mengambil gelas air di salah satu meja yang terdapat banyak gelas minuman tidak sengaja melihat Lifia tengah memberikan kertas pada seorang pelayan, saat mendapati jari Lifia menunjuk ke arah Juna ia pun paham kalau Lifia tengah merencanakan sesuatu, saat itu pula ia berjalan ke tengah niat hati ingin menjegal pelayan tersebut namun yang ia dapatkan justru melihat Nayaka tengah mengobrol dengan Jhonatan.


"Haduuuhhh ada apa dengan dua orang itu?" Tuturnya malas, melihat Naya dan Jo pergi keluar ruangan pesta itu ia pun segera menghampiri Juna setelah mendapatkan kertas dari pelayan tadi, dan memberitahukan pada Arjuna tentang Naya setelahnya ia pun berjalan keluar.


Di depan pintu 303, ia terdiam cukup lama dan berfikir sejenak, pasalnya Dodit agak sedikit khawatir jika sebenarnya Lifia telah merencanakan sesuatu yang buruk yang akan mencederai dirinya, dengan menepis pikiran buruk itu, ia pun membuka pintu kamar tersebut dengan sangat hati-hati.


'Tidak di kunci?' Gumamnya dalam hati ia pun mulai melangkah masuk menuju kedalam kamar itu dan sedikit bingung saat mendapati kamar yang sangat gelap, dengan sedikit meraba dinding ia berjalan terus memasuki kamar tersebut dan mendapati seorang wanita tengah duduk membelakangi nya, ia pun berjalan menghampiri wanita itu yang ia yakini adalah Lifia dan berdiri di belakangnya.


Lifia menoleh dengan bibir yang tersungging saat merasa rencananya telah berhasil, dan yakin dari postur tubuh pria di belakangnya itu kalau dia adalah Arjuna, tanpa pikir panjang dengan cepat Lifia beranjak dan mendorong pria dihadapannya itu, menjatuhkannya ke atas ranjang.


Sedikit gelagapan Dodit berusaha tidak bersuara saat Lifia tiba-tiba naik ke atasnya, .


'ma...mati aku, dia menduduki area itu, oh junior ku tetaplah terlelap kau nak, jangan bangun Dady tidak akan sanggup' gumam Dodit yang mulai ketar ketir.


Terlebih dengan tangan Lifia itu yang tengah meraba halus, dan perlahan mulai membuka kancing bajunya.


"Juna, malam ini kau milik ku" Bisik nya dengan suara sedikit mendesah.


'Sialan! aku terjebak dalam permainan wanita penyihir ini' tutur Dodit dalam hati hawa panas mulai menyerang tubuhnya.


'kuatkan hamba oh Tuhan' Dodit menangis dalam hati.


tanpa basa basi lagi Lifia mulai menurunkan wajahnya dan mencium bibir pria di bawahnya itu, mata Dodit melebar saat bibirnya itu mulai tersentuh.


'Astaga! Bibir ku ternodai lampir ini!' gumamnya dalam hati sesaat bibir Lifia mulai bermain,namun seketika Lifia pun tersadar saat ada kacamata di wajah pria itu.


"Ju...juna? Sejak kapan kau berkacamata?" Tanya Lifia yang langsung menarik tubuhnya Naik.


"Sejak usia ku dua belas tahun Nona" Jawab Dodit sembari terkekeh yang saat itu juga membuat Lifia terperanjat dan langsung bangkit dari posisi duduknya itu.

__ADS_1


"Si...siapa kau? Ja... Jangan-jangan?" Lifia pun menyalakan lampunya.


"Hai!" Sapa Dodit datar yang sudah merubah posisinya yang kini telah duduk di bibir ranjang itu sesaat saat lampu itu mulai menyala.


"Be...brengsek! Apa yang... Yang kau lakukan hah!!" Tanya Lifia panik.


"Apa? Memang aku melakukan apa? Bukannya kau yang mencium ku Nona? Aku kan hanya diam saja" Jawab Dodit santai.


"Hiiiiisssss menjijikkan sekali siiih" Lifia mengusap bibirnya berkali-kali. Merasa kesal ia pun meraih tasnya dan beranjak pergi dengan cepat tangan itu di tahannya.


"Kau mau kemana Nona? Ciuman itu nikmat sekali, ayo lakukan lagi" Buuuuuuuaaaaaaakkkkk Lifia meluncurkan bogem mentahnya ke wajah Dodit yang tengah memajukan bibirnya itu.


"Bedebah tengik!! Makan saja bogem mentah ku itu!!" Serunya ia pun melenggang pergi.


Dodit pun mengelus dada merasa lega tubuhnya tidak jadi diperkosa oleh wanita penyihir itu, tak lama ia pun mulai meringis merasakan sakit di wajahnya.


"Aaaaahhssss, luar biasa pukulannya sakit sekali, seenaknya saja wanita itu, sudah mencium ku habis itu pergi begitu saja" Runtuknya ia pun beranjak dan keluar dari kamar itu.


"Sial, aku harus maraton seperti ini" Runtuknya masih berusaha berlari kecil menuruni anak tangga itu.


"Haaaaahhhhhh! Tangganya tidak habis-habis lagi" Dodit terus menggerutu. Tak lama ia pun bertemu pintu di lantai dasar itu.


Tiiiiiiiinnggggg pintu lift itu terbuka, Lifia mencari sosok Arjuna, tak lama tangannya pun ditarik oleh Dodit.


"Haaahh... Haaaahhh tepat waktu! Kau mau kemana Nona?" Tanya Dodit ngos-ngosan.


"Hiiiihhh kau ini mau apa lagi sih, pergi sana...!" Lifia masih berusaha melepaskan tangan Dodit yang masih memegangi pergelangan tangannya.


"Jawab dulu kau mau kemana?" Tanya Dodit.

__ADS_1


"Bukan urusan mu Bedebah! Enyah kau sana" Seru Lifia yang masih berusaha melepaskan diri.


Tanpa berlama-lama lagi, Dodit pun mengangkat tubuh Lifia dan memanggulnya di bahunya, yang sontak membuat Lifia histeris.


"Hei bodoh apa yang kau lakukan, turunkan aku bodoh!!" Seru Lifia sembari meronta dan memukuli punggung Dodit.


"astaga kau pasti banyak dosanya, tubuh mu berat sekali" Gerutu Dodit ia pun membawa Lifia keluar dari gedung itu.


"Hei bedebah! Turunkan aku, kau dengar tidak! Aku bilang turunkan aku" Lifia masih meronta, yang tentu saja tidak di gubris oleh Dodit yang terus melangkah keluar area hotel tersebut.


Di bahu jalan ia terdiam menoleh ke kiri dan ke kanan tak lama ia pun mendapati taksi yang melintas dengan cepat Dodit menyetop taksi tersebut.


Dodit membuka pintu taksi tersebut dan menurunkan tubuh Lifia didalamnya lalu menutupnya.


"apa yang kau lakukan? hey! keluarkan aku dari mobil ini sialan!" seru Lifia yang tengah berusaha membuka pintu mobilnya.


Dengan tatapan aneh sopir itu bertanya pada Dodit menggunakan bahasa Inggris.


"Tuan? Di...dia mau ku antar kemana?" Tanya sopir taksi tersebut.


"Bawa saja keliling kota pak, dia itu sangat ingin berkeliling kota ini" Jawab Dodit dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Hey kau gila ya!! Stop pak jangan dengarkan dia" Seru Lifia yang masih berusaha membuka pintu taksi itu namun di tahan oleh Dodit.


"Sudah pak nurut saja apa kata ku, dia ini ingin jalan-jalan, tenang saja dia akan membayar anda dengan mahal" Tutur Dodit.


"A...apa? Dasar bedebah sialan!" Tak lama mobil pun melaju.


"hei! hentikan mobilnya!" seru Lifia namun taksi itu terus melaju, "Ku bilang Hentikan mobilnya pak, Dodit! awas kau ya, Akan ku bunuh kau Dodit—" Seru Lifia dari dalam mobil yang tengah melaju itu.

__ADS_1


"Daaaahhh" Dodit melambai, sembari tertawa terpingkal-pingkal.


"Haaahhh urusan si penyihir itu sudah selesai, saatnya kembali menikmati pesta" Ujar Dodit yang langsung melenggang masuk kedalam gedung itu lagi.


__ADS_2