Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
sang pria hujan


__ADS_3

Hari yang melelahkan untuk Juna setelah melakukan kerja bakti untuk yang pertama kali membuatnya terus menggerutu kesal, itu lah yang membuat Raihan selalu terkekeh.


Siang itu Juna dan Raihan berjalan santai menuju rumah mereka setelah tugas kerja bakti itu selesai.


"Apa-apaan ini aku membersihkan gorong-gorong?" Arjuna mengendus tubuhnya sendiri.


"Astaga bau gorong-gorong ini benar-benar menyengat sekali" Runtuknya lagi.


"Tapi seru kan Tuan?" Tanya Raihan,


"Ya...ya sedikit" Jawab Arjuna


"Naya? Pasti bangga pada Anda" Ucap Raihan, yang lantas membuat Arjuna menoleh kearah Raihan.


"Kau? Bisa mengimbangi Naya, bahkan mau melakukan semua ini, walau kau terus menggerutu tapi kau tetap melakukannya" Lanjut Raihan, Diam-diam Juna tersenyum.


"Raihan?" Panggil Juna lirih.


"Emmm?" Jawab Raihan singkat.

__ADS_1


"Sejak kapan kau menyukai Naya?" Tanya Arjuna membuat Raihan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Juna.


"Kenapa Anda menanyakan hal itu?" Tanya Raihan.


"Katakan saja, aku ingin tau" Jawab Juna, Raihan mendesah pelan.


"Sejak dulu, sudah sangat lama bahkan saat aku masih mengenakan seragam putih Abu-Abu" Mendengar itu Arjuna tertegun. "Naya itu gadis kecil yang centil dan selalu mengganggu hari-hari ku, aku? Termaksud pria rumahan yang tidak pernah bergaul karena hari-hari ku sibuk dengan belajar setiap hari, sikap kekanak-kanakan Naya selalu sukses membuat ku mampu menghilangkan rasa jenuh ku yang harus berkutat dengan buku-buku pelajaran" Raihan tersenyum ringan kala mengingat masa itu, ia pun menoleh ke arah Arjuna.


"Kau beruntung Tuan memiliki istri sepertinya, aku dulu pernah bermimpi akan menikahi Nayaka saat kita sudah sama-sama dewasa, saat aku sudah memiliki pekerjaan, namun? Nyatanya aku tidak bisa menyatakan perasaan ku sampai akhirnya ia di nikahi oleh Anda" Tutur Raihan, Arjuna sama sekali tidak bersuara, ia masih fokus mendengarkan omongan Raihan itu.


"Dari dulu, semenjak ibunya pergi meninggalkannya lalu di susul ayah Naya yang pergi mengakhiri hidupnya sendiri, hidup Naya benar-benar susah, ia berusaha keras bekerja sambilan sepulang sekolah walau aku terus melarangnya tapi ia tetap bersikukuh berdagang kue brownies dan pekerjaan lainya, ia juga tidak malu jika harus di suruh menyetrika pakaian para warga lain yang membutuhkan tenaganya, semua ia lakukan demi bisa tetap menjalani pengobatan Nenek nya dan mencukupi biaya hidupnya, bahkan Naya? Sampai tidak bisa lagi menjemput cita-citanya karena ia hanya bisa sekolah sampai lulus sekolah menengah atas saja, dia sudah terluka sejak dulu Tuan itu sebabnya saat aku mendengar Naya di nikahi oleh mu?aku sedikit menaruh harapan pada mu agar kau bisa membuat Naya bahagia, sampai akhirnya aku mendengar tentang pernikahannya yang hanya sebuah pernikahan kontrak, terlebih saat aku melihatmu bersama seorang wanita di belakang Naya, itulah yang membuatku sangat marah pada Anda Tuan" Arjuna menitikkan Air matanya.


'Jadi Selama ini aku hanya menambah penderitaannya? Aku lah, yang menambah luka di hatinya, Naya ku, maafkan aku sayang, aku benar-benar pria lakn*t! Yang tidak punya hati' gumam Arjuna dalam hati saat mengingat semua hal yang pernah ia lakukan pada Naya. Raihan menyentuh bahu Arjuna dengan satu tangannya membuat Arjuna menoleh.


"Ayo Tuan kita lanjutkan perjalan kita, gerimis mulai turun" Raihan memalingkan wajahnya menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Arjuna yang masih terdiam, walau Raihan menyebalkan baginya namun ia menyukai sikapnya itu.


Perlahan ia pun melanjutkan langkah kakinya, dan saat itu juga hujan semakin deras namun Arjuna dan Raihan tetap berjalan santai dengan Raihan yang berjalan di depannya sedangkan Arjuna berjalan di belakang, saat sudah sampai di pelataran rumah Naya dan Raihan, mata Raihan tertuju pada Naya yang sedang berdiri di depan rumah dengan payung di tangannya, dan melangkahkan kakinya mendekat kearahnya namun ia hanya melewati Raihan yang sudah basah kuyup itu menghampiri Arjuna lalu memayunginya.


Ia pun menoleh ke belakang dan melihat saat itu Naya terlihat khawatir pada Arjuna, sedangkan Arjuna yang saat itu langsung memeluk tubuh Naya membuat Naya terkejut.

__ADS_1


"Aahhh Juna, jangan memeluk ku seperti itu, sebaiknya kau mandi ya baju mu basah semua kenapa tidak berteduh sih?" Tutur Naya.


"Naya? Aku mencintaimu, Aku berjanji pada mu akan membuat mu bahagia setelah ini sayang? Sekali lagi maafkan semua kesalahan ku ya? Aku benar-benar menyesal" Ucap Arjuna yang masih memeluknya di tengah hujan itu. Naya yang hanya terpaku pun mulai menyunggingkan bibirnya senang.


"Iya suami ku" Jawab Naya lirih matanya terpejam merasakan hangatnya dekapan Arjuna.


Raihan melipat kedua tangannya, sebenarnya kala itu ia juga menitikkan air matanya, namun karena wajahnya basah tersiram air hujan membuat tangisnya itu tertutupi oleh air hujan itu.


'Naya? Kau pernah bilang padaku kan? Kau ingin sosok pria yang gagah seperti ayah mu, kau juga pernah bilang pada ku, kau ingin pangeran yang tampan yang akan mencintai mu, hari ini? Semua mimpi mu itu terwujud sayang, aku sempat berharap pangeran impian mu itu aku? Tapi tidak apa, Arjuna lebih segala-galanya dari pada aku, doa ku menyertai kalian, Arjuna Nayaka' Gumamnya dalam hati Raihan pun melangkah masuk ke dalam rumahnya, di dalam rumahnya itu ia menyandar di balik pintu dan menyentuh dadanya.


"Aku sakit? Hahaha, aku sakit Naya, sungguh sakit, tapi aku yakin semua akan lekas sembuh dengan sendirinya setelah aku menemukan cinta baru" Raihan kembali menitikkan air mata namun dengan cepat ia mengusapnya dan melenggang masuk menuju kamar mandinya.


***


Di Sore hari itu...


Sebuah mobil berhenti di depan sevel, Kinara membuka kaca mobil itu dan menunggu hampir satu jam di depan sevel itu tanpa melakukan apa-apa.


"Kenapa aku setiap hari malah kesini?" Gumamnya pelan.

__ADS_1


Ia tengah menanti sosok pria yang memberikannya tissue malam itu, saat dirinya sedang merasa sedih karena Arjuna yang sudah kembali pada Naya, setiap hari di sore hari hingga langit menggelap ia rela berjam-jam menunggu pria itu, demi bisa mengucapkan terimakasih kasih, walaupun malam itu mereka tidak mengobrol apapun namun adanya pria itu membuatnya merasa tidak sendirian lagi.


Kinara mendesah "aku sedang melakukan apa sih? Setiap hari datang kesini demi pria hujan itu?" Gumamnya ia pun menutup kaca mobilnya dan menyalakan mesinnya lalu melenggang pergi.


__ADS_2