Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
titik terang keberadaan Almira


__ADS_3

Setelah menyantap beberapa hidangan Dodit mencuci tangan dan mukanya Di dalam Toilet, sesaat ia mendengar dua orang petugas bersih-bersih tengah berbicara di depan pintu Toilet Samar-samar ia mendengar dua orang itu menyebutkan nama Almira, dengan cepat Dodit pun masuk kedalam salah satu bilik Toilet itu dan berusaha mendengarkan percakapan petugas itu.


Terlihat salah satu orang itu menarik masuk kedalam toilet tersebut.


"Hei, kau jangan asal menyebut nama Ibu Almira di sembarangan tempat, kalau ada yang dengar bagaimana?" Tutur salah satu cleaning servis tersebut.


"Maaf aku lupa, aku hanya tidak tega saat masuk ke lantai paling atas dan membersihkan ruangan itu, aku melihat ibu Almira benar-benar sudah sangat tidak berdaya, tubuhnya memar semua, aku yakin Tuan Jo benar-benar menyiksanya" Tutur wanita itu.


"Sudah tutup mulut mu, memangnya hanya kau yang merasa kasihan, sudah jangan di bahas lagi terlebih ibu Almira Larasati kan seorang artis terkenal, lebih baik kita lanjut bekerja saja, jangan membahas hal itu, ayo kita keluar" Ajak salah satunya itu yang langsung keluar dari ruang toilet pria itu.


"Almira Larasati? Almira? Almira?" Dodit berusaha mengingat-ingat nama itu, karena ia seperti mengenal nama itu.


"Artis terkenal Almira Larasati?" Deeeeeeggg mata Dodit membulat.


"I...ibunya Naya?" Ia pun bergegas keluar dari Toilet itu.


'Aku pernah dengar dari Naya kalau ibunya Naya ada di Singapura?' gumamnya dalam hati ia pun meraih ponselnya dan membuka situs pencarian tentang Almira, disana terdapat topik Almira dan Suami, ia segera menyentuh judul Artikel itu dan melihat foto suami dari Almira.


"Jo.... Jhonatan?" Ia pun mulai mencari artikel-artikel lain tentang vakumnya Almira Larasati dari dunia hiburan dan tentang kabar sakitnya Artis Almira Larasati,


Dodit menatap ke depan dengan pandangan kosong, mengingat pembicaraan dua cleaning servis tadi.


'Apa yang sebenarnya terjadi?' ia pun melangkahkan kakinya mendekati lift itu lalu berdiri sesaat di depannya.


'Kalau aku gegabah masuk mungkin aku akan mendapatkan masalah besar' gumam Dodit.


'Tapi? Jika aku tidak mengeceknya langsung, aku tidak akan pernah mendapatkan jawabannya' hingga akhirnya ia pun memutuskan tetap menekan tombol buka itu dan mulai masuk kedalam lift, dengan perasaan ragu ia mulai menekan tombol lantai teratas di lift itu.


Ia menanti dari satu persatu lantai ia berharap akan menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Tiiiiiiiing pintu lift itu terbuka.

__ADS_1


"Gelap sekali?" Di depan pintu lift itu ia di kejutkan dengan tulisan yang terpampang besar di hadapannya (lantai ini sudah tidak di gunakan lagi, harap untuk kembali turun ke lantai bawah).


Dodit mengerutkan dahinya, jika di fikir-fikir, khusus lantai ini memang terlihat gelap namun tetap rapih dan bersih, ia pun mulai melangkah menyusuri lorong yang terdapat banyak pintu di sisi kiri dan kanannya itu. Dengan sangat hati-hati ia mengintip sejenak sebelum berbelok dan kembali melanjutkan langkahnya, sampai pada akhirnya ia melihat satu kamar yang terdapat dua orang penjaga bertubuh besar di depan pintu tersebut.


"Apa mungkin itu kamar yang di maksud? Tapi nomor berapa ya? Tidak terlalu jelas kalau di lihat dari sini" Dodit masih berusaha menyipitkan matanya.


Sesaat sepasang mata yang berjaga itu seperti menoleh ke arahnya,


"Woy siapa di sana!" Seru seorang penjaga itu sehingga membuat Dodit segera berlari, menyadari ada seseorang yang menyusup, salah satu penjaga itu pun mengejar Dodit, dengan sekuat tenaga ia segera melarikan diri dari kejaran pria bertubuh besar di belakangnya itu menuju pintu Lift dihadapannya , Dodit terus menekan-nekan tombol buka itu.


"Berhenti di sana penyusup!!" Teriaknya.


"Aahhh tolong cepat lah terbuka" Dodit mulai panik karena pria itu sudah semakin dekat. Tiiiinggg tak lama lift pun terbuka dan dengan cepat Dodit segera masuk lalu menekan tombol untuk menutup pintu liftnya, sesaat pintu itu pun mulai menutup namun sialnya pria yang mengejarnya sudah ada di depannya dan dengan segera menahan pintu itu


"Kau tidak akan bisa pergi dari sini" Ucap Penjaga itu dengan menggunakan bahasa Inggris tangannya yang terulur masuk hendak meraih Dodit dan menariknya keluar sontak membuat Dodit semakin panik, tanpa berfikir panjang Dodit sedikit melompat dengan kedua tangannya bertopang pada dinding lift di sisi kiri dan kanannya sedangkan kedua kakinya berayun dan langsung menendang dada pria kekar itu hingga terdorong keluar braaaakk pintu lift pun tertutup.


"Haaaah... Haaahh... Aku harus keluar dari sini, ku harap pria itu tak mengejar ku lagi" Gumamnya, setelah sampai di lantai dasar pintu itu pun terbuka dan membuatnya segera melenggang pergi dari tempat itu, dengan terus menoleh kebelakang, ia berjalan cepat tak lama ia merasa seperti ada orang yang mengikutinya ia pun terus mempercepat langkahnya namun orang di belakangnya itu turut mempercepat langkah kakinya.


"Aaaaaaaarrrrrrrrgghhhhhhhhhhh! Do... Dodit! Kau!" Pria itu mengerang kesakitan, yang saat itu pula sontak membuat Dodit membulatkan bola matanya.


"Tu... Tuan Rian?" Dodit panik.


"Aaarrrrhhhh punggung ku, aww... awwww... Sakit sekali, mimpi apa aku semalam sudah di Cekek Tuan Juna sekarang kau pula membanting ku" Dengan posisi masih terlentang Rian berusaha bangun.


"Maaf... Maaf Tuan sini biar ku bantu" Dodit berusaha membantunya namun tangannya itu di tepis langsung oleh Rian.


"Tidak usah! Aaarrhhh aku... Aku bisa bangun sendiri" Pria berusia 33 tahun itu pun berusaha bangun sembari memegangi punggungnya yang sakit.


"Maaf Tuan, habis kau membuat ku panik tadi, saat kau tiba-tiba menyentuh bahu ku, aku pikir orang jahat"

__ADS_1


"ORANG JAHAT BAGAIMANA? KAU PIKIR AKU TUKANG HIPNOTIS HAH!!!" Seru Rian yang merasa jengkel ia pun berjalan tertatih-tatih sembari memegangi bahunya.


"Sini biar ku bantu Tuan Rian" Ucap Dodit menawarkan diri.


"TIDAK USAH!!" Bentak Rian lagi jengkel, ia pun berjalan di depan Dodit yang tengah garuk-garuk kepala itu.


Di depan pintu kursi kemudi Juna berdiri sembari menyandar sembari menyilang kan kedua tangannya di depan dadanya, ia menatap lurus ke arah Rian yang lantas tertunduk dan berbalik posisi ke belakang Dodit yang seketika itu bingung, dengan salah tingkah ia malah justru membuka pintu mobil di bagian belakang.


"Hei kau mau apa!" Seru Arjuna sehingga membuat Rian Tersentak.


"Ma... Mau masuk Tuan kan kita, ma... Mau kembali ke tempat kita menginap" Tutur Rian.


"Kau mau duduk di sebelah istri ku? Lalu aku yang mengemudi begitu!" Bentak Juna, Rian pun tersadar dan menunjukan giginya nyengir kuda lalu kembali menutup pintu itu.


"Sebenarnya aku ingin membukakan pintu untuk Tuan Kok" Rian masih cengengesan. Juna pun menghela nafas dan segera beranjak dari posisi menyender nya itu lalu menjauh dari pintu depan itu, matanya pun beralih pandang pandang pada Dodit.


"Dodit terimakasih telah memberitahukan ku soal Naya" Ucap Juna.


"Sama-sama Tuan, aku hanya tidak sengaja melihat Lifia akan menjebak mu juga, dan saat itu juga aku melihat Naya yang pergi bersama Tuan Jo" Tuturnya, Juna pun mengerutkan dahi.


"Lifia?" Tanya Juna,


"Iya" Dodit pun mengeluarkan kertas tadi dan menyerahkannya pada Juna, yang saat itu juga di raihnya. Terlihat perubahan raut wajah Juna yang kesal saat membaca tulisan pada kertas itu lalu meremas nya.


"Brengsek!" Gumam Juna.


"Tapi Tuan, masalahnya bukan hanya itu, baru saja aku mendapatkan sesuatu yang berkaitan dengan Ibunya Naya" Ucap Dodit mendengar itu Juna pun meletakan jari telunjuknya di bibirnya.


"Jangan katakan itu disini, sebaiknya kita kembali dulu ke hotel tempat kita menginap" Tutur Arjuna yang lantas membuat Dodit mengangguk mereka pun melangkah menuju mobil itu dan masuk kedalam mobil tersebut.

__ADS_1


Dengan kecepatan sedang mobil pun mulai keluar dari area parkir tersebut dan melaju pergi menyusuri jalan kota guna kembali ke hotel mereka.


__ADS_2