
Sesampai di hotel, Juna melenggang lebih dulu setelah membuang muka pada Naya sebelumnya, dengan perasaan sedih Naya terus mengikuti Arjuna di belakangnya.
Juna pun menekan-nekan kode lock pintu hotel tersebut dan membukanya tanpa menunggu Naya ia masuk begitu saja sesaat pintu itu tertutup tepat sebelum Naya masuk kedalam kamar itu.
Naya pun tertegun di depan kamarnya itu, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
Yang bisa Naya lakukan hanya mondar mandir di depan pintu kamarnya sedangkan Juna mengintip nya dari lubang kecil yang ada di pintu itu, sebenarnya ada perasaan kasihan namun ia harus menghukum Naya terlebih dulu karena berniat pergi begitu saja tanpa seijinnya.
Sudah hampir satu jam Naya berdiri di sana tanpa melakukan apapun ia pun mulai lelah dan memutuskan untuk berjongkok di depan pintu kamar itu lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelfon Arjuna, saat mendengar ponselnya berdering ia pun meraihnya.
"Oh... Sayang maafkan suami mu ini ya" Piiiick Juna menolak panggilan telepon itu.
Mendapati penolakan dari Arjuna Naya pun berusaha lagi menelfon nya, namun kali ini di tolak lagi sehingga membuatnya ingin menangis.
Akhirnya Naya pun memutuskan untuk mengirim pesan pada Arjuna.
(Juna... Suami ku, setega itukah dirimu membiarkan ku di luar seperti ini?)
Naya pun mengirimnya, dengan cepat Arjuna membukanya.
"Sebenarnya tidak sayang" Gumam Arjuna saat membaca pesan itu sembari menggigit dasinya, ia masih terus mengintip Naya dari pintu kamarnya itu.
Melihat pesannya hanya di baca oleh Arjuna Naya pun semakin sedih.
(Juna... Ku mohon pada mu tolong buka pintunya, aku sedih Juna, aku menyesal)
Naya kembali mengirim pesan itu, namun lagi-lagi tidak di balas oleh Arjuna, sungguh saat ini matanya sudah berkaca-kaca, Naya berfikir kalau Arjuna akan kembali dingin padanya seperti dulu.
Cklaaaaaaaaaaakkkk Naya terkejut saat pintu di bagian depan kamarnya mereka di sisi kanan itu terbuka, saat itu juga seorang pria bertubuh tinggi kekar kemungkinan usiannya masih sekitar 20an itu keluar dari kamar hotelnya, wajahnya yang sedikit oriental itu terlihat jelas tengah merasa bingung dan iba melihat seorang wanita sedang berjongkok di depan pintu sebuah kamar, di sana ia pun menghampiri Naya dan mengulurkan tangannya sembari tersenyum.
"Anda tidak apa-apa Nona? Mari ku bantu berdiri" Ucapnya halus menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1
Naya yang masih mematung itu hanya bisa mendongak menatap ke atas, bukan karena ia menatap dengan penuh kekaguman hanya saja, Naya tidak mengerti apa yang pria itu katakan.
Cklaaaaaaaaa dengan cepat Arjuna membuka pintu kamar itu saat tau ada pria lain yang tengah mendekati istrinya itu.
"Honey, ayo masuk" Arjuna tersenyum sembari mengangkat tubuh Naya bangun dan melingkari tangannya di pinggang Naya.
"Maaf,Apa wanita ini pasangan anda?" Tanya pria itu.
"Iya, lebih tepatnya dia istri saya, ada apa?" Tanya Juna pada pria itu.
"Ahh tidak, bagaimana bisa Anda membiarkan istri Anda di luar seperti ini? Aku hampir saja membawanya masuk ke kamar ku karena kasihan" Ucapnya sembari tersenyum.
"Cecunguk ini!" Gumamnya lirih.
"Maaf apakah Anda tengah mengumpat pada saya?" Tanya pria itu.
"Tidak, hanya berkata kasar!" Jawab Arjuna ketus yang langsung membawa Naya masuk dan menutup pintu kamarnya itu dengan sedikit membanting.
"Haaah malangnya wanita itu memiliki suami bertabiat buruk" Pria itu menggeleng pelan ia pun melenggang pergi menuju lift.
"Dia tampan ya?" Tanya Arjuna.
"Iya.. Eh—" Jawab Naya tanpa sadar dan kembali tersadar saat Arjuna membulatkan bola matanya "maksudku tidak Juna, jelas lebih tampan diri mu hehe" Naya mengusap-usap dada bidang Arjuna.
"Tidak usah pegang-pegang aku!" Seru Arjuna.
"Juna, sudah yah jangan marah lagi, aku kan sudah minta maaf pada mu berkali-kali" Ucap Naya.
"Tidak semudah itu Naya" Ucap Juna masih ketus.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Naya.
__ADS_1
"Pikir saja sendiri" Ucap Juna sembari melenggang pergi.
'Ayo Naya bujuk aku' Gumam Arjuna dalam hati.
Alih-alih membujuknya Naya malah justru masih terdiam di dekat pintu itu, Juna yang sudah berdiri di dekat ranjang pun masih menunggu Naya untuk berusaha membujuknya.
'Kenapa dia tidak menghampiri ku sih, peluk atau cium aku begitu? Benar-benar tidak peka sekali' gerutu Arjuna sembari melepaskan jasnya. Ia pun meletakan jas itu di atas ranjang di hadapannya, sesaat senyumnya tersungging saat Naya mulai mendekatinya, ia pun berdeham sesaat.
"Tidak usah membujuk ku karena apapun yang akan kau lakukan itu tidak akan membuat ku luluh" Ucap Juna. Sesaat tangan Naya melewati tangannya yang tergantung itu dan meraih Jas di atas ranjangnya. Sehingga membuat Juna melebarkan matanya.
"Ya sudah jika kau tidak mau memaafkan ku" Tutur Naya yang kini juga ikut bernada ketus sembari meletakan Jas Arjuna pada tempatnya lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"A... Apa? Dia sama sekali tidak ingin berusaha membujuk ku?" Juna pun berjalan cepat ke depan pintu kamar mandi itu tangannya terangkat hendak mengetuk nya namun tertahan.
"Tidak... Tidak... Aku harus menahan diri, aku tidak boleh kalah" Ia berdiri di depan pintu kamar mandi itu hingga Naya keluar dari bilik itu ia pun terkejut saat mendapati Naya keluar menggunakan piyama tidur berwarna hitam itu, sebuah lingerie yang sangat membuat Naya terlihat seksi, Arjuna pun menelan ludah masih terus menatap tubuh bagus istrinya itu.
"Ehmmm a.. Aku bisa memaafkan mu, a... asal kau mau membujuk ku sekali lagi" Ucap Arjuna tanpa melihat ke arah Naya.
"Tidak perlu Juna, ada keuntungannya untuk ku jika kau terus marah pada ku" Tutur Naya.
"Ma... Maksudnya?" Tanya Juna.
"Ya, aku tidak perlu melayani mu kan, itu artinya malam ini kau tak mendapatkan jatah mu Juna" Naya tersenyum sinis lalu meninggalkan Arjuna yang tengah mematung itu.
"Na... Naya... Tunggu" Seru Arjuna yang lantas mengejar Naya yang sudah naik ke ranjang mereka. "Na... Naya aku kasih keringanan, kau hanya perlu mengatakan aku mencintaimu Juna, aku sudah memaafkan mu kok" Ucap Juna membujuk Naya yang sudah menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Tidak usah Juna, marah saja sana terus tidak apa kok" Jawab Naya yang tengah memejamkan matanya dengan posisi membelakangi Arjuna, rasanya puas kini posisinya terbalik, ya dia tau suaminya tidak bisa stop melakukan itu dalam satu malam saja.
"Naya...? Aku bisa merana jika tidak melakukannya malam ini" Juna mengusap bahu Naya.
"Ohh nyamannya malam ini aku bisa tidur dengan tenang tanpa melayani mu lebih dulu" Gumam Naya lagi sembari tersenyum.
__ADS_1
'Tau rasa kau Tuan Arjuna' lanjut Naya dalam hati, sedangkan Arjuna mulai uring-uringan karena tidak mendapat jatahnya malam ini.
Yah begitulah sepanjang malam Arjuna terus membujuk Naya nya kini gantian dialah yang meminta maaf berkali-kali pada Naya dan memohon agar diberikan jatah malamnya itu.