
Di rumah sederhana itu, Arya dan Naya baru saja pulang dari acara pameran itu.
Arya menata kanvas nya dan Naya tengah di dapur menyiapkan makanan untuk makan malam, pada saat ini Naya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas dua.
"Arya?" Panggil wanita tua dari dalam kamarnya.
"Iya bu?" Sambut ayah Naya mendekati ibunya itu.
"Ada apa bu, ibu membutuhkan sesuatu?" Tanya ayah Naya.
"Almira belum pulang?" tanya ibunya itu.
"Belum bu, mungkin sebentar lagi, memangnya ada apa?" tanya ayah Naya.
"Tidak, ibu hanya ingin melihat Almira saja, ibu hanya merasa selama ini Almira bekerja keras untuk keluarga kita" Tuturnya, Arya pun menunduk.
"Kenapa kau tidak mencoba mencari pekerjaan saja Arya? Melukis itu tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan mu se hari-hari, biar Almira di rumah kau yang bekerja saja" Tutur ibunya itu.
"Arya juga maunya seperti itu bu, Namun? Kalau aku kerja ibu sama siapa? Naya kan sekolah, dan jika aku menyetop Almira untuk berhenti menyanyi dia pasti sangat sedih pasalnya dulu aku yang tengah menghancurkan masa depannya, aku yang menghamili nya" Tutur Arya.
Ya singkat cerita Arya bekerja sebagai tim lighting di salah satu studio TV, ia bertemu Almira saat Almira mengikuti Audisi menyanyi di sana, saat itu usia Almira masih berumur sembilan belas tahun dan dirinya sudah berusia 23 tahun, ia melihat Almira yang sangat gigih berlatih di ruang tunggu, sikapnya yang ceria dan ramah sangat membuatnya tertarik.
Sampai suatu ketika ia di panggil untuk masuk ke ruang audisi, namun karena nasib belum memihaknya ia pun gagal di audisi tahap awal itu, Arya melihat wanita itu berjalan lunglai keluar area audisi.
"Jeki? Pegang ini aku keluar dulu ya?" Tuturnya ia pun berlari menyusul Almira.
Ia mengamati Almira tengah menangis sesegukan di belakang gedung itu, dengan sedikit ragu pria jangkung itu mendekati Almira.
"Maaf, boleh saya duduk di sebelah mu" Ucap Arya membuat Almira mendongak, ia pun menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
"Silahkan mas" Ucap Almira halus, Arya pun duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Kau pasti gagal Audisi ya?" Tanya Arya, Almira pun mengangguk.
"Suara mu itu bagus kok, cuman nasib saja belum memihak mu, mungin musim selanjutnya kau bisa ikut lagi, jadi jangan patah semangat ya?" Ucap Arya yang sedikit membuat Almira terhibur.
"Terimakasih ya mas?" Ucap Almira, Arya pun mengangguk pelan, ia mengulurkan tangannya.
"Siapa nama mu?" tanya Arya, Almira pun meraih tangan itu.
"Almira mas" Jawabnya.
"Nama yang bagus, aku Arya" Tuturnya sembari tersenyum, pria ber kaos hitam dengan topi di kepalanya membuat Almira sedikit terkagum, ia sangat baik dan tampangnya juga tampan.
"Mau bertukar nomor telfon? Jangan salah paham ya?? Kali saja kalau ada audisi lagi aku bisa mengabari mu" Ucap Arya sembari garuk-garuk kepala gugup, Almira terkekeh.
"Kosong, delapan, satu, tiga?" Tuturnya membuat Arya terperanjat dengan cepat ia mengeluarkan telfon genggamnya dari sakunya dan segera menekan nomor-nomor yang tengah di sebutkan Almira itu, setelahnya ia mencoba menelfon ke nomor itu, telfon genggam Almira pun berdering.
"Sudah masuk kan? Simpan nomor ku ya? Aku kembali kerja dulu" Ucapnya yang lantas mengusap kepala Almira dan beranjak. Almira pun tersenyum ia mengetik Nama Mas Arya pada ponselnya dan menghela nafas lega.
"Bagaimana ini, bajumu basah kan?" Tanya Almira, ia pun menyerahkan teh hangat pada Arya yang sudah bertelanjang dada di hadapannya.
"Tidak apa-apa sayang"
"Mas, aku tidak ada baju ganti untuk mu, kau pakai handuk dulu ya biar tidak terlalu dingin" ucap Almira, ia pun mengangguk. Tangan Arya menyentuh pipi Almira.
"Aku itu sangat menyayangi mu sayang, aku tidak akan menduakan mu" Tutur Arya yang lantas membuat Almira tersenyum.
"Aku percaya pada mu mas" Ucapnya, Arya pun mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Almira, hawa dingin membuat Arya kehilangan akal sehat tangannya menerobos masuk ke dalam baju Almira dan meremas bagian kenyal itu, membuat Almira menggeliat geli, ia berniat melepaskan ciuman itu namun tangan Arya menahannya, ia terus menciumi Almira dengan penuh nafsu, wajah keduanya sudah memerah, desahan kecil mulai keluar, perlahan Arya melepas ciumannya.
"Almira, aku mencintaimu" Gumamnya lirih yang mulai melepas pakaian Almira namun tangan Almira menahannya.
"Mas jangan, kita belum menikah"
__ADS_1
"Sekali saja sayang, tidak akan terjadi apa-apa kok, ya?" Arya menggendong tubuh Almira ke kamarnya dan menutup kamar itu. Disana Almira dan Arya melepas perjaka dan perawan mereka.
Arya selalu menyesali hari naas itu, andai saja ia bisa menahan nafsunya, Almira tidak akan hamil di usianya yang masih sangat muda itu, walau ia menikahinya tetap saja hidup Almira tidak bahagia terlebih dirinya di yang melakukan kesalahan sehingga di pecat dari pekerjaannya.
Selama itu pula Arya merasa depresi sehingga waktunya hanya habis untuk melukis, ia juga terkadang marah-marah pada Almira, karena Naya yang selalu bising dan menangis itu.
Ia menyesali semuanya sampa-sampai Almira berniat meninggalkannya dengan membawa Naya karena tidak tahan dengan sikap Arya yang pemarah itu.
Disana ia pun berjanji akan berubah dan bertanggung jawab atas keluarga kecilnya itu, kesana kemari ia berusaha mencari pekerjaan namun tak kunjung di dapatkan, hingga akhirnya ada tawaran menyanyi di kafe untuk istrinya itu.
"Sayang? Aku ada berita bagus, kau tau Dani kan? Ia sedang mencari penyanyi untuk masuk ke grup musiknya, grup musik mereka selalu manggung setiap hari kok di salah satu kafe tapi karena vokalis nya hengkang ia kini tidak memiliki vocalis, kau mau tidak bernyanyi lagi?" Ucap Arya pada Almira yang tengah menyusui Naya yang masih berusia satu tahun.
"Aku mau mas, cuman Naya?" Ia sedikit murung.
"Naya biar mas yang jaga, mas cuma merasa bersalah setiap kali kau menonton acara televisi tentang panggung kompetensi nyanyi kau pasti selalu sedih, jadi? Walau ini hanya panggung kafe ya, siapa tau kau beruntung dan bisa mendapatkan agency kan kau bisa debut" Ucap Arya, mata Almira berkaca-kaca, mulut kecil Naya telah terlepas membuat Almira menutup bagian dadanya dan menyelimuti putrinya itu.
Ia pun beranjak dan berdiri di depan jendela dengan air mata yang menetes.
"Aku akan menyanyi lagi?" Gumam Almira, Arya pun mendekati Almira dan mendekapnya dari belakang.
"Iya sayang, aku tidak memaksa mu jika kau tidak mau, mas hanya ingin kau bahagia dengan hobi mu itu" Tutur Arya sembari mengecup bahu istrinya itu. Almira pun membalik badanya.
"Apa kau mendukungku mas?" Tanya Almira.
"Mas selalu mendukung mu sayang, asal satu pesan mas? Jangan pernah meninggalkan mas dan Naya ya jika kau sukses nanti, karena aku akan mati jika itu terjadi" Tutur Arya.
"Iya mas, terimakasih banyak ya, aku mencintaimu" Tutur Almira yang masih menitikkan air mata itu, dengan cepat Arya menyambar bibir istrinya dan membawanya ke ranjang tidur mereka, sesaat Naya terbangun membuat Almira melepas ciuman suaminya itu, dan menoleh kearah putri kecilnya itu yang sudah kembali tertidur, keduanya pun terkekeh.
"Kita lakuin dengan cara aman saja, mas gelar kasur lantainya dulu ya? Biar tidak mengganggu tidur Nayaka" Tutur Arya, Almira pun tersenyum dan mengangguk.
Ya walau mereka hidup dalam kesederhanaan namun cinta keduanya membuat mereka tetap bahagia, terlebih sikap Arya yang sudah kembali seperti dulu pria halus dan baik yang ia kenal.
__ADS_1