Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
spesial momen Dodit, Lifia (extra part 3)


__ADS_3

Pagi berselang Dodit Dan teman-temannya sudah bersiap untuk checkout, sembari berkaca Dodit memakai kacamata, bibirnya terus tersungging sembari menatap wajahnya sendiri.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Raihan.


"Apa lagi? Mengamati ciptaan Tuhan yang sangat indah ini" Tutur Dodit bangga pada bayangan dirinya sendiri.


"Wajah seperti sendal jepit saja di pandangi terus" Gumam Raihan sembari berlalu.


"Cihh....iri kau pasti kan karena aku lebih tampan dari mu" seru Dodit sebal.


"Misi" Rian mendorong tubuh Dodit yang terlalu lama di depan kaca.


"Haduh Tuan, Anda mengganggu kesenangan ku saja sih" runtuk Dodit, sembari berlalu.


"Kesenangan apanya, yang ada aku khawatir kaca ini akan retak jika terlalu lama berhadapan dengan mu" Seru Rian, yang lantas kembali menatap ke cermin.


"Haahhh sudah jelas aku yang paling tampan di antara kalian" Tuturnya bangga.


"Awas retak itu Tuan" Seru Dodit.


"Wajah mu itu retak!!" Pekik Rian.


Setelah semua siap mereka berempat pun ke bandara bersama.


Di bandara...


Lifia yang hari itu juga sama-sama kembali ke Indonesia pun menatap layar ponselnya, membuka Akun stagramnya dan membuka akun milik Dodit Mahardika.


"Sumpah aku benci nama akunnya, apa ini Babang tamvan Dodit" Runtuk nya.


"Dan foto-fotonya ini, tidak sesuai semua sama wajah aslinya, pasti efek kamera jahat ini, dasar raja filter" Tuturnya lagi dengan tangan yang masih menggeser-geser foto Dodit.


Sesaat matanya membulat saat melihat salah satu komentar di foto Dodit.


(Ci cantiq monic: Babang Dodit cynk, akkoh tu ngepen sama babang looooh tamvan sangat, polbek dong kak Dodit)


"Apa ini berlebihan sekali? Orang seperti Dodit punya fans? Hiiii" gumamnya ia pun beralih ke akun fake nya dan mengomentari setiap Foto Dodit, terutama kepada para fans alay Dodit di kolom komentar.


(Mrs. Lily: hey kalian itu berlebihan sekali sih, muka buluk di bilang tampan, lebih baik kalian stop ngefans padanya dari pada nyesel.


Ci cantiq monic: eehh ada haters idih pasti perawan tua tuh situh, tidak laku y?)


Lifia membulatkan matanya.


"Hiiiiiihh siapa sih wanita ini menyebalkan sekali" Lifia pun membalasnya.


(Mrs.Lily: enak saja berkata seperti itu, aku itu wanita berkelas, pria seperti Dodit itu memang tidak tampan tau, lebih baik kau stop saja jadi fansnya aku berkata benar tau, ingin mengingatkan kalian agar tidak sakit mata sebelum melihatnya langsung.


Ci cantiq monic: ewwww emang seto siapa? Ngelarang akooh ngepen sama babang Dodit)


Balasan wanita dalam sosmed itu benar-benar membuat Lifia naik pitam.


"Hiiiiiiiihhh dari mana tampannya sih si Dodit itu?" Runtuk Lifia kesal.


"Tentu saja dari ujung rambut hingga ujung kaki, Mrs. Lily" ucap seseorang di belakang Lifia, membuat Lifia menoleh dan terkejut saat mendapati pria berkaca mata di belakangnya, dengan cepat ia pun beranjak.

__ADS_1


"Ka... Kau?!" Seru Lifia.


"Hallo" Dodit melambai.


"Hey apa yang kau lakukan disini hah!" Tanya Lifia.


"Bermain monopoli!! Sudah jelas di Airports masa iya masih bertanya, kau ini bagaimana sih" Tutur Dodit santai.


"Ba... Bagaimana bisa kau ada di bisnis class?"


"Tentu saja atas kebaikan Tuan Arjuna lah, apa lagi"


"Hiiiiihhh kenapa bisa sih ada kau di sini menyebalkan sekali" Gerutu Lifia sembari melenggang pergi.


"Hmmmm Mrs. Lily aku tidak menyangka ternyata kau salah satu fans ku ya" ucap Dodit dengan tingkat ke pedean tinggi sembari terkekeh.


"Kau? Jangan kegeeran ya dasar bedebah tengik"


"Hey, siapa yang tadi stalking akun ku coba? Kau kan? Itu sama saja kau itu salah satu fans ku, mana pakai akun fake lagi" Ledek Dodit.


"Hiiiiii Bedebah" Lifia mengepalkan tangan dan memutuskan melanjutkan langkah kakinya menjauhi pria menyebalkan itu dan berharap tidak satu ruang cabin dengannya.


Di dalam ruangan cabin.


Lifia duduk di bangkunya sembari mendengarkan musik ia manggut-manggut dengan mata menatap ke jendela.


Tak lama seseorang yang baru saja duduk itu mengulurkan permen kepadanya.


"No tanks" Jawab Lifia tanpa menoleh, namun tangan itu masih terus terulur kearahnya membuatnya lantas menoleh ke arahnya.


Alangkah terkejutnya saat Lifia mendapati Dodit di sebelahnya.


"Sssstt coba latihan kecilkan volume suara mu itu penyihir, suara mu benar membuat telinga ku sakit tau" Ucap Dodit.


"Hei bedebah kenapa kau duduk disini sih...Sana tukar saja dengan sebelah mu" Lifia mendorong bahu Dodit menggunakan jari telunjuknya.


"Kau mau bersebelahan dengan pria di sebelah ku?" Dodit pun menepi agar Lifia bisa melihat seseorang yang ada di sebelahnya.


Matanya membulat saat mendapati pria bertubuh besar berkulit hitam yang terlihat mengerikan.


"Mau? Kita tukeran nih" Dodit berniat bangun namun di tahan.


"Ya sudah, dengan sangat terpaksa, kita duduk bersebelahan" Ucap Lifia sebal, sementara Dodit pun terkekeh.


"Hey tapi ingat ya, jangan coba-coba cari kesempatan dalam kesempitan, walaupun kita duduk bersebelahan kau tetap harus jaga jarak dari ku, atau bogem mentah ku ini akan mendarat di wajah mu lagi" Tutur Lifia ketus sembari membuang muka menatap ke arah jendela.


"Ckckck... Wanita rubah ini benar-benar ya"


Beberapa jam kemudian, keduanya tertidur, kepala Dodit menyandar lurus di sandaran nya, sesaat ia terkejut dan terjaga saat kepala Lifia tiba-tiba bersandar di bahunya dengan tangan yang melingkar di perut Dodit.


"Eh... Dia tidur sembari memeluk ku, Apa-apaan ini?" Dodit menekan kening Lifia dengan jari telunjuknya lalu mendorong pelan, namun terhenti sejenak saat mendapati wajah yang tengah terpejam itu.


"Sungguh kau ini cantik Nona Lifia, namun sikap brutal mu itu benar-benar membuat ku selalu sakit badan" Gumam Dodit lirih masih mengamati wajah Lifia yang terpejam itu.


"Hei babang tamvan jangan pergi, sini peluk aku saja lagi, pelukan mu benar-benar nyaman" Gumam Lifia mengigau.

__ADS_1


"Pffffffttt apa katanya?" Dodit terkekeh, ia pun meraih ponselnya dan merekam vidio wajah Lifia itu.


"Tengil, sook, jelek, pria berkacama itu, sialan tapi dia tampan"


"Ohhooo begitu ya? Lalu apa lagi" Tanya Dodit terkekeh jail.


Tak lama mata Lifia pun terbuka, membuat Dodit kelabakan dan langsung mendorong kepala Lifia.


"Aaaawwwhhhh" Seru Lifia,


Dodit pun memejamkan matanya pura-pura tidur. Sedangkan Lifia tersadar kalau tangannya tengah melingkar di perut Dodit membuatnya segera mengangkat tangannya cepat.


"Hhaaaaahhh apa yang ku lakukan? Untung saja pria bodoh ini tidak bangun, kalau bangun bisa-bisa dia ke geeran" Gumamnya ia pun bertopang dagu kembali menatap ke jendela.


'Munafik sekali wanita ini, lihat saja kau nanti hehehehe' Gumam Dodit dalam hati masih dalam posisi pura-pura tidurnya itu.


Di bandara soekarno-hatta Dodit berdiri di belakang Lifia.


"Mrs.Lily? Apa anda mau di bantu oleh Babang ini?" Tanya Dodit.


"Cih.... Enyah sana, kau sedang apa masih di sini sih? Teman-teman mu sudah pada pergi tuh" Tutur Lifia ketus.


"Aku melihat mu dengan barang bawaan seperti ini, aku kan ingin berbaik hati membantu mu Nona"


"Tidak perlu! Minggir kau" Lifia mendorong troli kopernya sedangkan Dodit masih mengikutinya.


"Hiiiiiiihhhh kau itu mau apa sih!"


"Tidak mau apa-apa, hanya ingin mengajak mu makan malam, malam ini bisa?" Tanya Dodit.


"Tidak! Aku sibuk!" Jawab Lifia ketus.


"Hey... Hey... Mrs. Lily?" Panggil Dodit namun seketika itu Lifia mencengkram baju Dodit.


"Berhenti memanggil ku dengan sebutan itu, AKU PUNYA NAMA TAU!!!" Pekik Lifia.


"Loh itu kan nama akun mu kan?"


"Hiiiiiihhhh diam kau bedebah, ku pukul juga kau ya?" Lifia benar-benar naik pitam.


"Tunggu-tunggu aku punya sesuatu yang harus kau lihat Nona Lifia"


"Apa lagi sih, aku itu lelah bodoh!" Seru Lifia, mendengar itu Dodit pun mengeluarkan ponselnya dan memutar Vidio di pesawat tadi lalu menunjukannya pada Lifia, yang saat itu juga membuat mata Lifia membulat.


"Ha... Hapus tidak! Itu pasti bukan aku!" Lifia berniat merebut ponsel Dodit namun di tahan.


"Aku akan menghapusnya asal kau mau Dinner dengan ku hehehe" Tutur Dodit.


"Dasar licik, bisa-bisanya kau memanfatkan itu"


"Kenapa? Ini tuh kartu As mu, jadi jawab saja kau mau tidak? Jika tidak aku unggah di akun sosial media ku dan ku tag namamu bagaimana?" Ucap Dodit jail.


Lifia menghela nafas panjang "Okay, baiklah baiklah, hanya malam ini saja, setelah itu kau harus janji menghapus vidio aib ku itu" Ucap Lifia.


"Okay, sini come to Daddy, kau suka pelukan ku kan?" Ucap Dodit sembari merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Buuaaaaaaaaaakkkk "makan tuh pelukan" Tutur Lifia sesaat setelah meninju wajah Dodit dan melenggang pergi.


"Huuuu entah mengapa aku suka pukulan mu itu wanita rubah" Gumam Dodit sembari terkekeh, ia pun melenggang pergi dari tempatnya berdiri.


__ADS_2